• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERPRETASI TEORITIK

4.20 Guru sebagai evaluator dan pengelola Kelas

Pembelajaran merupakan proses belajar dan mengajar yang bersifat dinamis. Belajar dilakukan oleh peserta didik sedangkan mengajar dilakukan oleh guru. Ada interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa lain serta siswa dengan sumber belajar yang ada. Guru memegang peran sentral dalam proses pembelajaran. Semua aktivitas dalam pembelajaran dikendalikan oleh guru. Guru yang merencanakan semua aktivitas itu melalui perangkat mengajar yang telah disusun. Kemudian melaksanakan dan melakukan evaluasi.

Dalam pembelajaran, guru memiliki peran ganda. Dengan demikian guru tidak hanya mengajarkan materi pelajaran. Mentransfer semua ilmu pengetahuan dan informasi yang ada pada buku sumber. Lebih dari itu adalah menciptakan suasana bagaimana siswa belajar. Memberikan fasilitas yang memudahkan siswa untuk belajar. Oleh sebab itu dalam lingkungan pembelajaran yang aktif, guru semestinya berperan sebagai fasilitator. Guru memberikan dukungan kepada siswa pada saat mereka belajar dan mengembangkan keterampilan. Peran serta siswa dan lingkungan pembelajaran dalam hal ini merupakan dua hal yang sangat penting. Berdasarkan pada Tabel 3.54 diketahui bahwa semua responden (121 responden atau 100%) menyatakan bahwa guru melakukan evaluasi rutin terhadap siswa. Dan Berdasar Tabel 3.55 diketahui bahwa 75 responden atau 75% menyatakan bahwa evaluasi dilakukan dalam periode harian, maksud dari evaluasi harian adalah bahwa setiap tugas dan setiap pekerjaan yang diberikan pada anak

23 Linda Baker&Sonnenschein, S., Serpell, R., Scher, D., & al, e. (1996). Early literacy at home: Children's

experiences and parents' perspectives. The Reading Teacher, 50(1), 70. Retrieved from

IV-

akan di evaluasi oleh guru dan guru mengadakan penilaian. Nilai hari atau hasil evaluasi harian tersebut akan diakumulasikan setiap 1 semseter. 15 responden (15%) melakukan evaluasi mingguan, 4 responden (4%) melakukan evaluasi dalam periode bulanan dan 6 responden (6%) lainnya dalam periode semesteran. Dalam melakukan evaluasi belajar setiap tempat lokasi penelitian memang tidak sama, hal tersebut dikarenakan pemberian tugas dan pekerjaan pada siswa juga berbeda ditiap lokasi penelitian.

Guru sebagai evaluator memiliki keterkaitan dengan peran guru sebagai pengelolaan kelas, Berdasarkan Tabel 3.57 sebanyak 99 responden atau 99% menyatakan bahwa sekolah sudah melaksanakan dan merancang kurikulum pembelajaran dengan lengkap dan hanya 1 responden yang menyatakan pelaksanaan dan perancangan kurikulum baru dilaksanakan dan dirancang sebagian dan terkait perencaan dan penilaian aspek kurikulum pembelajaran Berdasarkan tabel 3.58 dapat dilihat bahwa hampir semua aspek penilaian sudah dinilai kecuali pada aspek agama dan moral ada 1 responden yang menyatakan bahwa aspek tersebut tidak dinilai dan juga pada aspek seni ada 2 responden yang menyatakan bahwa aspek tersebut tidak dinilai. Semua tempat lokasi penelitian hampir melakukan penilaian pada semua aspek. Hal ini dikarenakan hampi di semua lokasi penelitian menggunak kurikulum dari pemerintah yakni K13. K13 adalah adalah kurikulum terbaru dan menilai semua komponen aspek diatas. Kesimpulan dari analisa diatas adalah bahwa memang ada keterkaitan antara peran guru sebagai evaluator dan pengelola kelas bahwa aspek penilaian yang ada di kurikulum wajib di evaluasi oleh pengajar (guru) hal ini senada dengan teori peran yang dikemukan oleh Arina restian,24 bahwa Guru memiliki tugas untuk menilai dan mengamati perkembangan prestasi belajar peserta didik. Guru memiliki otoritas penuh dalam menilai peserta didik, namun demikian evaluasi tetap harus dilaksanakan dengan objektif. Evaluasi yang dilakukan guru harus dilakukan dengan metode dan prosedur tertentu yang telah direncanakan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, sekiranya kelas belum tercapai pada situasi yang

diinginkan makan guru bergerak sebagai learning manager yakni mengarahkan kelas agar tercapai situasi yang diinginkan. Oleh karena Guru merupakan titik sentral, yaitu sebagai ujung tombak dilapangan dalam pengembangan kurikukulum. Keberhasilan belajar mengajar antara lain ditentukan oleh kemampuan professional dan pribadi guru. Dikarenakan pengembangan kurikulum bertitik tolak dari dalam kelas, guru hendaknya mengusahakan gagasan kreatif dan melakukan uji coba kurikulum dikelasnya. Ini merupakan suatu fase penting dalam upaya pengembangan kurikulum, disamping sebagai unsur penunjang admistrasi secara keseluruhan. Guru sebagai pelaksana kurikulum disini dijelaskan, bahwa seorang guru pada saat dilapangan dialah yang menentukan implementasi kurikulum. Implemantasi kurikulum disini hampir semuanya bergantung pada kreativitas dan ketekunan seorang guru, karena dialah mengetahui situasi dan kondisi pada saat dilapangan. Guru hendaknya mampu memilih dan melaksanakan metode mengajar yang sesuai dengan kemampuan siswa. Bahan pelajaran dan banyak mengajarkan siswa guru hendaknya mampu memilih, menyusun dan melaksanakan evaluasi baik untuk mengevaluasi perkembangan atau hasil belajar untuk menilai efesiensi pelaksanaan kurikulum tersebut. Disini dijelaskan guru sebagai penentu kuntitas dan kualitas pembelajaran dimana mereka (guru) harus mampu menjabarkan secara rinci setiap kompotensi rumpun pembelajaran yaitu merumuskan tujuan, metode, langkah-langkah dan mampu memotivasi siswa untuk proaktif dalam mendapatkan pengetahuan. Dengan pengetahuan tentang pengembangan kurikulum guru dapat menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang kondisif. Dalam hal ini guru menuyusun kurikulum dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun, satu semester, beberapa minggu ataupun beberapa hari saja. Jadi tugas guru ialah menyusun dan merumuskan tujuan yang tepat memilih dan menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhan minat dan tahap perkembangan anak. 4.21 Peran Guru dalam menumbuhkan Print motivation

Berbeda dengan peran orang tua yang tidak terlalu mampu untuk mengendalikan anak dalam mengembangkan dan menumbuhkan kemampuan

IV-

awal pada Literasi dini, peran guru disini dapat di deskripsikan mampu sebagai

imposer atau pengendali dari kegiatan menumbuh- kembangkan kemampuan awal literasi anak, sesuai dengan teori Imposed Query25, guru disini dapat dikatakan sangat mengendalikan sepenuhnya kegiatan disekolah, dimana dikatakan dalam teori imposed query, Premis dasar dari model ini adalah bahwa berbagai pertanyaan pada dasarnya tergolong menjadi dua jenis: alami karena diri sendiri dan yang dipaksa. Pertanyaan dari diri sendiri ada karena konteks kehidupan seseorang dan juga didukung oleh seseorang yang menanyakan pertanyaan itu. Pertanyaan terpaksa terjadi saat seseorang yang membuat pertanyaan meminta orang lain melakukannya untuk dirinya. Pertanyaan yang dipaksakan dan dilakukan oleh seorang agen kemungkinan bisa berubah-ubah dari awal maksudnya selama masa waktu tertentu. Secara ringkas melisa gross dalam teori mengatakan bahwa guru adalah sebgai imposer dan murid adalah sebagai agent.

Jadi guru disini melakukan pengendalian terhadap tugas / kegiatan sekolah (kegiatan menumbuhkan kemapuan awal literasi dini) yang di berikan pada agent

(siswa).

Seperti hal nya dirumah, kegiatan membaca bersama anak disekolah yang dilakukan oleh guru juga sangat penting dalam mengembangkan literasi dini, Berdasarkan table 3.59 dapat diketahui bahwa dari 100 responden guru terdapat 22 guru atau 19% menyatakan sangat sering melakukan kegiatan membaca bersama didalam kelas, 62 guru atau 62% menyatakan sering melakukan membaca bersama didalam kelas, disekolah aktivitas ini mutlak dilakukan, guru di sidoarjo sudah melakukan kegiatan ini secara rutin setiap pertemuan kelas. Disamping itu aktivitas ini dipengaruhi oleh ketersedian buku di sekolah. dan 19 guru atau 19% menyatakan jarang melakukan kegiatan membaca bersama didalam kelas, hal ini disebabkan 19% sekolah tidak mempunyai buku yang sesuai untuk anak, ketersediaan buku juga terbatas disana. Sebagai salah seorang responden guru dari kecamatan tarik “ buku-bukunya sudah lama semua mbak, jadi kalaupun membaca bersama ya jarang soalnya bukunya lama’. Kemudian

25

Gross, Melissa (2001) "Imposed information seeking in public libraries and school library media centres: a common behaviour?". Information Research, 6(2)

terkait dengan buku apa yang paling sering di baca, Berdasarkan tabel 3.60 dapat diketahui bahwa dari 100 responden guru terdapat 86 guru atau 86% menyatakan bacaan yang paling sering dibacakan didepan anak adalah buku cerita, 12 guru atau 12% menyatakan bacaan yang paling sering dibacakan didepan anak adalah Majalah anak, dan 2 guru atau 2% menyatakan bacaan yang paling sering dibacakan didepan anak adalah Koran. Kesimpulannya adalah berdasarkan tabel analisa pada bab tiga tersebut menunjukan guru sudah berperan dalam menumbuhkan print motivation sebab sesuai dengan riset yang dilakukan oleh Adam (1996) dan Goswani dan Bryant (1990) yang mengatakan bahwa anak usia 3-5 tahun yang memiliki kesadaran grafemis, kesadaran graffofonemis lebih awal akan memiliki kemajuan membaca yang baik dari pada yang tidak26. Selain itu

Literasi dini juga termasuk di dalamnya mengenalkan apa itu media cetak seperti buku, koran, majalah. Menurut Suherman (2013) Membaca adalah salah satu bentuk Literasi Dini. Yang dimaksud membaca disini adalah membaca sebuah konsep dalam buku, koran, dan majalah.

Berdasarkan table 3.61 diatas dapat diketahui bahwa dari 100 responden guru terdapat 60 guru atau 60% menyatakan sangat sering melakukan aktivitas membaca dengan suara lantang didepan anak, 35 guru atau 35% guru menyatakan melakukan aktivitas membaca dengan suara lantang didepan anak didepan anak, hasil probing menyatakan bahwa jika guru tidak menyampaikan dengan suara lantang, maka informasi dari guru ke anak tidak tersampaikan, selain itu juga dengan suara lantang anak akan mengenal kosakata baru dan kata baru sehingga dia dapat belajar menambah kosakata mereka. Sebgaimana pernyataaan ibu lasianah dari krembung “ anak anak jumlahnya banyak mbak, lagipula kalau suara gurunya keras nantik anak anak bisa dapat kosakata baru dari kami “ dan 5 guru atau 5% guru menyatakan melakukan aktivitas membaca dengan suara lantang didepan anak didepan anak. Peneliti menyimpulkan bahwa guru dengan suara lantang saat menyampaikan materi merupakan metode dalam pentrasfer ilmu, sehingga dalam prosenya anak akan terstimulasi untuk aktif