• Tidak ada hasil yang ditemukan

h. Potensi dan Pemanfaatan

Dalam dokumen Studi Kerapatan Lamun Di Pulau Miangas (Halaman 24-36)

Potensi sumber daya perikanan : jenis ikan layang, hiu, cakalang, ikan karang, kepiting dan ikan demersal. Pemanfaatan untuk budidaya perikanan seperti ikan kerapu, lobster dan Ikan Hias. Potensi ekowisata Tanjung Wora, dengan terumbu karang dan wisata budaya senjata tua “ Lantaa” yang dipercaya punya kekuatan supranatural dan wisata budaya Manami/Mane’e ( penangkapan ikan tradisional ), panorama alam bahari serta olahraga bahari dan Snorkling.

18 2. Kerapatan Lamun

Jumlah jenis lamun yang didapatkan di Pulau Miangas Desa Miangas Kecamatan khusus Miangas sebanyak 1 jenis yaitu Cymodocea rotundata. Berikut hasil perhitungan kerapatan jenis lamun (Grafik 1).

Grafik 1. Rata-rata kerapan lamun (ind/m2)

Pengukuran parameter lingkungan disetiap stasiun pengamatan (Tabel 5) : Tabel 4. Parameter Lingkungan

Stasiun Suhu (oC) Salinitas (ppm) pH Arus (m/det) Oksigen terlarut (mg/I) Koordinat Stasiun 1 38 35 9 0.18 7,2-7,6 05°34'02"U 126° 34' 54" T Stasiun 2 38 34 9 0.18 7,2-7,6 Stasiun 3 39 33 8 0.18 7,2-7,6 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 1 2 3 Rat a -Rat a Ke ra p an l a m u n (i n d /m 2) Stasiun

19 B. Analisis Hasil

Pulau seluas 3,15 km2 ini memiliki tipe pantai berpasir dan memiliki pola pasang tipe jurnal, yaitu dalam satu hari terjadi dua kali pasang naik dan pasang surut, dengan fluktuasi pasang sekitar 2 meter. Dan pada pantainya banyak ditumbuhi oleh tumbuhan pantai seperti kelapa, palem dan kadang juga ditemukan pohon mangrove.

Desa Miangas kecamatan khusus Miangas memiliki hamparan padang lamun hanya pada bagian utara Pulau Miangas (gambar 6). Berdasarkan hasil yang diperoleh di lapangan terdapat 1 jenis lamun yaitu Cymodocea rotundata.

Gambar 6. Padang lamun di Pulau Miangas

Pada semua stasiun hanya ditemukan 1 jenis lamun yaitu Cymodocea

rotundata. Pada stasiun 1 memiliki rata-rata kerapatan lamun 405±59 dan pada

stasiun 2 memiliki rata-rata kerapatan 375±24 sedangkan pada stasiun 3 memiliki rata-rata kerapatan lamun 381±47.

20 Nilai kerapatan yang didapatkan pada setiap stasiun adalah adalah 387±16 ind/m2. Menurut skala kerapatan lamun Supriadi (2012), kerapatan jenis lamun

Cymodocea rotundata kurang dari 500 ind/m2 termasuk kategori kerapatan

rendah. Ini mungkin disebabkan oleh arus yang tinggi yaitu 0.18 m/det. Kurangnya jenis lamun yang ditemukan ini mungkin disebabkan oleh tingginya arus hingga tidak semua jenis lamun dapat tumbuh dengan balik. Disamping itu, pembangunan tanggul yang dilakukan pada daerah pantai secara tidak langsung juga mempengaruhi buruk pada ekositem lamun khusus kerapatan dan keragaman jenis lamun yang ada di Pulau Miangas.

Lamun yang didapatkan mempunyai ciri seperti ujung daun halus (licin) dan membulat, memiliki system venasi daun cross vein dan tulang daun sejajar (Gambar 7).

21 Hasil pengukuran parameter lingkungan, tidak terjadi perbedaan yang signifikan antara stasiun yang satu dengan yang lainnya. Rata-rata suhu sekitar 38OC dan salinitas memiliki rata-rata 34 ppm, ini sesuai dengan pendapat Hutomo (1999) bahwa lamun memiliki kemampuan toleransi yang berkisaran yang lebar yaitu 10-40 ppm. Rata-rata nilai pH setiap stasiun yaitu 8.66. Soesono (1989) mengatakan bahwa lamun memiliki kisaran pH optimal dalam suatu perairan kisaran antara 6,5 – 9.

22 V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil kegiatan Praktik Kerja Lapang di Desa Miangas Kecamatan Khusus Miangas Kabupaten Talaud dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

1. Perairan pulau Miangas Kecamatan Khusus Miangas terdapat 1 jenis lamun yaitu Cymodocea rotundata.

2. Kerapatan jenis termasuk kategori termasuk kategori rendah. B. Saran

1. Pemerintah dan masyarakat perlu menjaga kelestarian lamun yang ada di Pulau Miangas karena jenisnya sedikit dan kerapatannya rendah. 2. Pelestarian lamun dapat dilakukan memulai transplantasi, caranya

dengan mengambil lamun donor dari tempat lain kemudian menumbuhkan di Pulau Miangas.

23 DAFTAR PUSTAKA

Azkab H.,M, 2000. Struktur dan Fungsi Padang Pada Komunitas Lamun. Jurnal Oseana, Volume XXV, pp 9-17

Bengen, D.G. 2002. Sinopsis : Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut serta Prinsip Pengelolaannya. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Dahuri, R. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Terpadu. PT. Pradnya Paramita, Jakarta

Den Hartog, C., 1970. Seagrass of the world. North-Holland Publ.Co.,Amsterdam. Djais. F. H., Anzori S.,Yvonne, I.P., Pandu, P., 2002. Modul Sosialisasi dan Orientasi Penataan Ruang Laut, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Direktorat Jendral Pesisir Dan Pulau-pulau Kecil, Dinas Kelautan Dan Perikanan, Jakarta.

English, C.W dan V.Baker. 1997. Survey Manual For Tropical Marine Resources. Australia Institute of Marine Science. Australia

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FIKP, IPB. Bogor.

Hutomo, M., 1999. Proses Peningkatan Nutrien Mempengaruhi Kelangsungan Hidup Lamun. LIPI, Jakarta.

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi. PT. Gramedia pustaka utama. Jakarta.

Romimohtarto R. 2001. Biologi Laut. Pernerbit Djabatan. Jakarta.

Supriadi, 2012. Stock dan Neraca Karbon Komunitas Lamun di Pulau Barranglompo, Makassar.

Sutika, N., 1989. Ilmu Air. Universitas Padjadjarang. BUNPAD Bandung. Bandung. Soesono. 1989. Limnology. Direktorat Jenderal Perikanan. Departemen Pertanian.

24 LAMPIRAN

Lampiran 1. Jurnal Kegiatan

No. Tanggal Uraian Kegiatan

Alokasi

Waktu Paraf (Menit)

1

7 agustus 2014 Survey rencana lokasi praktik kerja lapang dengan mengelilingi pulau

7x60 2 9 agustus 2014 Konsultasi kepada dosen

pembimbing 4x60

3 10 agustus 2014 Survey lokasi praktik kerja

lapang (fix) 4x60

4 11 agustus 2014 Konsultasi kepada dosen

pembimbing 4x60

5

12 agustus 2014 Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk mengukur kerapatan lamun di pulau

Miangas

9x60

6

14 agustus 2014 Pengambilan sampel lamun dengan menggunakan metode transek 1x1 meter

7x60

7

16 agustus 2014 Identifikasi sampel dan

pengolahan data awal dilakukan dilapangan menggunakan buku identifikasi lamun

5x60

8

17 agustus 2014 Konsultasi kepada dosen pembimbing mengenai data yang sudah ada.

4x60

9

18 agustus 2014 Pengumpulan data tambahan dan pengambilan data

parameter di kantor camat. Serta pengumpulan data monografi desa Miangas.

12x60

10

19 agustus 2014 Pengukuran sampel air laut di laboratorium menggunakan handrefraktometer, kertas lakmus, thermometer.

12x60

11

20 agustus 2014 Konsultasi tentang data dan hasil data pengukuran parameter pendukung.

4x60 12 25 agustus 2014 Pembuatan laporan awal dari

data yang sudah ada. 10x60 13 08-Sep-14 Konsultasi kepada dosen

pembimbing tentang laporan 4x60 14

14 oktober 2014 Pengolahan data lanjutan serta melengkapi kelengkapan laporan.

25 15 20 oktober 2014 Konsultasi laporan PKL kepada

pembimbing tentang laporan. 4x60 16

31 oktober 2014 Sosialisasi mengenai PKL beserta jalur PKL tentang pembuatan laporan lengkap.

2x60

17

13-Nov-14 Konsultasi judul kepada pembimbing utama serta asistensi laporan awal

4x60

18

15-Nov-14 Pengumpulan sinopsis kepada panitia PKL untuk melakukan ujian PKL

1x60 19 5 desember 2014 Konsultasi data 4x60 20 6 desember 2014 Konsultasi laporan 4x60 21 8 desember 2014 Konsultasi hasil dan

pembahasan 4x60 22 12 desember 2014 Konsultasi laporan ke pembimbing anggota 4x60 23 24 desember 2014 Ujian proposal 2x60 Mengetahui, Ketua Jurusan Dr. Mahatma, ST. M.Sc NIP. 19701029 199503 1 001

26 Lampiran 2. Observasi, survey awal lapangan dan pengukuran di

laboratorium.

Melakukan perhitungan tegakkan lamun pada setiap stasiun di lokasi pengambilan data, Pulau Miangas.

Melakukan identifikasi dengan mengambil sampel lamun di lokasi pengambilan data, Pulau Miagas.

Melakukan pengukuran parameter pendukung praktisi kerja lapang di laboratorium, FIKP, Universitas Hasanuddin, Makassar.

27

Lampiran 3. Data Lapangan

Stasiun Substasiun Jenis Lamun Jumlah Individu

1 1A Cymodocea rodundata 391 1B Cymodocea rodundata 355 1C Cymodocea rodundata 470 2 2A Cymodocea rodundata 354 2B Cymodocea rodundata 401 2C Cymodocea rodundata 371 3 3A Cymodocea rodundata 353 3B Cymodocea rodundata 356 3C Cymodocea rodundata 435

Jenis Lamun Stasiun Rata-Rata

(ind/m2) 1(ind/m2) 2(ind/m2) 3(ind/m2)

28 Lampiran 4. Data Parameter Pendukung

Stasiun Suhu (oC) Salinitas (ppm) pH Arus (m/det) Oksigen terlarut (mg/I) Koordinat Stasiun 1 38 35 9 0.18 7,2-7,6 05°34'02"U 126° 34' 54" T Stasiun 2 38 34 9 0.18 7,2-7,6 Stasiun 3 39 33 8 0.18 7,2-7,6

29 Lampiran 5. Jenis Lamun yang Ditemukan

1. Cymodocea rotundata

Deskripsi :

Ujung daun halus (licin) dan membulat, memiliki system venasi daun cross vein, tulang daun sejajar, dan memiliki lingual.

Klasifikasi: Kingdom : Plantae Filum : Angiospermae Class : Liliopsida Order : Potamogetonales Family : Cymodoceaceae Genus : Cymodocea

Dalam dokumen Studi Kerapatan Lamun Di Pulau Miangas (Halaman 24-36)

Dokumen terkait