• Tidak ada hasil yang ditemukan

 Sebagai praktisi dan juga sebagai pengamat daripada konstruksi dan infrastruktur, melihat dampak daripada penarikan pajak pada alat berat pada dunia konstruksi maupun program prioritas bangunan infrastruktur pemerintah.

 Bahwa dalam dunia konstruksi umumnya mengelompokkan dalam dua tipe bangunan besar, di situ bisa dilihat dalam kelompok yang berwarna hijau di sini adalah bangunan kelompok gedung dan yang kedua adalah yang dikelompokkan dalam lingkaran biru adalah bangunan kelompok sipil, yaitu antara lain pelabuhan udara, pelabuhan laut, jembatan, jalan terowongan, bendungan, pembangkit listrik, dan lain-lain. Di mana untuk bangunan gedung dalam praktisi konstruksi itu bisa dikatakan juga bahwa cenderung digunakan padat manusia, dibandingkan dengan bangunan sipil yang cenderung digunakan padat alat, atau alat berat khususnya. Jadi, perlu kita garis bawahi bahwa kelompok bangunan sipil ini juga dikenal sebagai bangunan yang bersifat infrastruktur.

 Bahwa membangun bangunan infrastruktur saat ini menjadi prioritas utama pemerintah, mengacu pada data presentasi Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas yaitu prioritas bangunan infrastruktur dan energi tahun 2012, maka terlihat jelas tingginya keseriusan pemerintah dalam memprogramkan pembangunan infrastruktur yang khususnya dibagi dalam empat kelompok. Yang pertama adalah infrastruktur jalan, infrastruktur perhubungan infrastruktur energi, dan irigasi. Dan itu dibagi dalam programlegalitas.org

enam koridor. Kita lihat ini adalah koridor pertama adalah di Sumatera.

Koridor Jawa-Bali yang terlihat adalah data di infrastruktur jalan saja, tetapi sebetulnya lembar setelahnya memberikan gambaran tentang infrastruktur perhubungan energi dan irigasi, tetapi ini hanya memberikan gambaran saja. Ini adalah koridor Kalimantan, Koridor Sulawesi, Koridor Bali dan Nusa Tenggara, dan koridor Maluku dan Papua.

 Rencana pada infrastruktur jalan dan di situ juga dijelaskan bagaimana rencana infrastruktur daripada perhubungan, energi, dan irigasi direncanakan. Keseriusan Pemerintah dalam memprioritaskan pembangunan infrastruktur ini tidak lepas dari kesadaran pemerintah dalam memahami bahwa keterbatasan fasilitas infrastruktur adalah salah satu faktor dominan menyebabkan mundurnya atau rendahnya pengembangan bisnis di suatu negara.

 Ini adalah salah satu pengelompokan daripada lingkup infrastruktur, ada hard infrastruktur, ada soft infrastruktur, dimana memang kelompok daripada yang kita maksud ada di jalur hard infrastruktur ekonomi, khususnya di kelompok transportasi, kawasan, dan telematika, serta energi.

Di kelompok merah itu adalah yang memang sekarang menjadi skala prioritas Pemerintah.

 Bahwa pemerintah sangat sadar bahwa infrastruktur merupakan bagian penting untuk meningkatkan daya saing negeri ini, daya saing Indonesia.

Inilah data dari World Economics Forum 2009, yang menunjukkan ranking 2, itu adalah dua ranking pertama bisa dibilang sangat dominan itu dikuasai oleh birokrasi Pemerintah yang efisien dituntut dan kedua adalah keberadaan infrastruktur yang proper atau memadai.

 Mengacu pada peringkat daya saing infrastruktur Indonesia pada tahun 2009 dan 2010, terhadap 133 negara, ini mengacu kepada 2009-2010 The Global Competitive Report. Maka terlihat bahwa overall infrastruktur Indonesia itu terletak pada posisi yang sangat terbelakang, yaitu di posisi 96 dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara yang lain seperti kalau kita lihat adalah Singapore di posisi kedua, Malaysia di posisi ke-27, Thailand bahkan 41, dan Brunei 37, hanya 2 negara yang berada di belakang kita, yaitu Philippine di 98 dan Vietnam di 111. Dan kalau kita memperhatikan detail daripada infrastrukturnya ada tiga tipe infrastruktur

yang bahkan ranking di bawah 90 yaitu jalan, pelabuhan (port), dan electro city untuk pembangkit listrik. Dan yang lainnya bukan berarti rankingnya baik, juga masih di atas 60, jadi di sini bisa terlihat bahwa betapa posisi kita sangat begitu jelas tertinggal.

 Di sini juga terlihat bahwa kebutuhan pembangunan infrastruktur Indonesia 2010-2014 adalah sebesar Rp1429,3 trilliun dimana alokasi anggaran infrastruktur yang ideal adalah 5% sampai 6% dari PDB dan saat ini Indonesia memiliki anggaran infrastruktur sebesar sekitar 3,25% dari PDB, dimana alokasi anggaran ini diharapkan akan meningkat secara gradual (bertahap) hingga mencapai 5% pada Tahun 2014. Dengan mengacu anggaran yang dimiliki pemerintah tersebut, maka terjadi gap yang sangat besar antara tuntutan biaya pembangunan infrastruktur dengan kapasitas yang dimiliki pemerintah, yaitu di situ tercatat hanya sekitar 31% atau Rp451 trilliun dan itu mengapa untuk mengatasi gap ini pemerintah mengadakan program kerja sama dengan pihak investor swasta untuk ikut membangun infrastruktur Indonesia salah satunya melalui program Kerja Sama Pemerintah Swasta (KPS). Untuk itu sangat penting untuk membuat kebijakan pemerintah yang kondusif bagi dunia investasi sehingga memacu investor swasta berkualitas untuk berpatisipasi tinggi dalam program ini.

 Kemudian yang kedua, antara investor dan kontraktor ini juga berkaitan utamanya terkait dengan biaya kontruksi dan risiko daripada pelaksanaan.

dan antara masyarakat dan konsultan kontraktor itu ada tuntutan untuk membangun dengan kepedulian lingkungan dan kepedulian kepada masyarakat serta pemberdayaan masyarakat dan juga berkaitan dengan Pemerintah dan masyarakat di sini juga terkait dengan kewajaran dari suatu kompensasi, dan, dukungan lahan, serta dukungan bisnis.

 Ini adalah analisa kami terhadap kesuksesan suatu interaksi di antara stakeholder untuk membangun infrastruktur. Kalau kami berasumsi ada suatu kebijakan yang menyebabkan kenaikan biaya konstruksi, kemudian juga menyebabkan kenaikan biaya investasi, tentunya posisi investor menjadi posisi yang sangat tidak diuntungkan dalam posisi ini, artinya kalau kita lihat harga daripada investasi itu lebih tinggi daripada yang direncanakan, maka kapasitas pemerintah masih sama sehingga ini akan

memberi penambahan besarnya gap. Jadi tentunya ini yang menyebabkan effort yang dilakukan pemerintah akan menjadi jauh lebih besar.

 Di sisi lain juga harus diperhitungkan bahwa ketika biaya pengenaan pajak pada alat berat yang ditetapkan sebetulnya ini juga memberikan suatu iklim yang “Kurang ideal” buat para praktisi di jasa konstruksi. bahwa kebijakan mendukung menjadi bisnis konstruksi yang sehat menjadi sangat penting.

Kami mencoba membuka struktur biaya pada dunia konstruksi, kalau Bapak-Bapak perhatikan di sini adalah kita ambil dari rata-rata BUMN karya, kita lihat earning after tax yang di bawah, jadi penjualannya katakanlah omset 100% dengan biaya produksi proyek yang oke 90% katakanlah, namun sejak Tahun 2008 sudah ada kebijakan baru tentang PPH Final untung-rugi kena pajak 3%. Ini juga sudah cukup memberatkan, setelah itu menjadi 7% saja, kemudian apabila kena overhead perusahaan dan bunga bank sehingga sisa di earning after tax di bawah 22,5%.

 Apabila ada penetapan pajak, tentunya akan berpengaruh kepada biaya produksi proyek yang naik dari 90% menjadi lebih besar dari 90% dan tentunya akan menurunkan di bawah. Dan itu mengapa banyak sekarang para kontraktor atau khususnya BUMN Karya itu mulai bergerak di bidang developer karena mereka untuk bermain di pasar middle low dan middle up karena itu jauh lebih menguntungkan buat mereka daripada berjibaku di dunia konstruksi itu sendiri yang penuh risiko.

 Bahwa pajak pada alat berat apabila itu terjadi tentunya akan menaikkan biaya konstruksi. Pertanyaannya adalah menjadi beban investor atau kontraktor? kontraktor dalam posisi tidak akan terlibat, tidak akan mau menerima itu tentunya menjadi tanggung jawab investor. Ketika menaikkan biaya investasi akibat investor menanggung itu, investor dan pemerintah dalam posisi berseberangan dalam posisi saling menekan atau saling menaikkan biaya sehingga tentunya katakanlah investor tidak mau mengambil alih posisi itu menjadi beban pemerintah dan tentunya menurunkan, berakibat kepada menurunkan kapasitas pembangunan infrastruktur Indonesia.

 Sering melihat adanya suatu kebijakan-kebijakan yang salah satunya di sini adanya kontra produktif antara satu kebijakan, di satu sisi untuk menggenjot tumbuhnya pertumbuhan infrastruktur Indonesia, tetapi di sisi lain kondisi

bisnis atau kondisi kesehatan bisnis Indonesia kurang didukung. Kalau saya sedikit boleh menambahkan bahwa saya sempat mengikuti sidang pertama dimana ada satu statement bahwa penarikan pajak alat berat salah satu untuk me-recovery program akibat dampak buruk aktivitas pertambangan, ini menurut kami juga kurang tepat karena memang sebetulnya malah alat berat dominasinya justru bukan di pertambangan tetetapi ada di konstruksi.

 Yang menarik bahwa semua kontraktor sekarang cenderung ketika melaksanakan suatu konstruksi dia harus bertanggung jawab kepada kerusakan akibat daripadanya. Jadi kita harus juga memperbaiki jalan yang rusak dan segala macam. Kalau ditarik lagi dari alat berat, kami berpikir ada sesuatu yang sifatnya ganda.