2. Bakteremia dengan Lesi Fokal
3.4 Batang Gram Negatif
3.4.3 Haemophilus influenzae
Haemophilus infuenzae ditemukan pada selaput mukosa saluran napas bagian atas pada manusia. Bakteri ini merupakan penyebab meningitis yang penting pada anak-anak dan kadang-kadang menyebabkan infeksi saluran napas pada anak-anak dan orang dewasa.
a. Morfologi dan Identifikasi
Ciri Khas Orgnisme
Pada bahan pemeriksaan dari infeksi akut, organisme ini terlihat sebagai kokobasil pendek (1,5 µm), kadang-kadang berbentuk rantai pendek. Pada biakan, morfologinya bergantung pada umur dan perbenihan. Setelah 6-8 jam dalamperbenihan diperkaya, bentuk kokobasil ditemukan terbanyak. Kemudian
didapatkan batang yang lebih panjang, bakteri yang mengalami lisis, dan bentuk yang sangat pleomorfik.
Organisme pada biakan muda (6-18 jam) pada perbenihan diperkaya mempunyai simpai yang nyata. Tes pembengkakan simpai dipergunakan untuk “menggolongkan” H infuenzae.
Biakan
Pada agar infusi otak-jantung dengan darah, dalam 24 jam timbul koloni kecil, bulat, konveks dan sangat iridesens. Pada agar ”cokelat” (darah yang dipanaskan), diperlukan waktu 36-48 jam untuk membentuk koloni bergaris tengah 1 mm. Iso VitaleX dalam pembenihan dapat membantu pertumbuhan. Tidak terdapat hemolisis. Di sekitar koloni Staphylococcus (atau lainnya), koloni H. infuenzae tumbuh jauh lebih besar (”fenomena satelit”).
Sifat-sifat Pertumbuhan
Identifikasi organisme kelompok Haemophilus sebagian bergantung pada adanya kebutuhan akan faktor pertumbuhan tertentu yang dinamakan factor X dan V. Faktor X secara
fisiologik berperan sebagai hemin; faktor V dapat diganti oleh nukleotida nikotinamid adenin (NAD) atau koenzim-koenzim lainnya. Kebutuhan akan faktor X dan V dari berbagai spesies Haemophilus tercantum dalam Tabel 8. Karbohidrat diragikan dengan jelek dan secara tidak teratur.
Variasi
Selain variasi morfologi, H. infuenzae cenderung kehilangan simpai dan sifat tipe yang berhubungan dengan simpai itu. Koloni varian yang tidak bersimpai tidak beriridesens.
Transformasi
Dalam situasi percobaan yang sesuai, DNA yang diekstrak dari H. infuenzae mampu memindahkan sifat tipe khasnya ke sel-sel lain (transformasi). Resistensi terhadap ampisilin dan kloramfenikol diatur oleh gen pada plasmid yang dapat dipindahkan.
H. infuenzae yang bersimpai mengandung salah satu dari enam tipe (a-f) polisakarida simpai (BM > 150.000). Antigen simpai tipe b adalah poliribosa-ribitol-fosfat (PRP). H. infuenzae bersimpai dapat digolongkan dengan tes pembengkakan simpai menggunakan antiserum spesifik; tes ini analog dengan tes quelling untuk Pneumococcus. penentuan tipe dapat juga dilakukan dengan imunofluopresensi.
c. Patogenesis
H. influenzae tidak menghasilkan eksotoksin, dan peranan antigen somatik toksiknya pada penyakit alamiah belum dimengerti dengan jelas. Organisme yang tidak bersimpai adalah anggota tetap flora normal saluran napas manusia. Simpai bersifat antifagositik bila tidak ada antibodi antisimpati khusus. Bentuk H. influenzae yang bersimpai, khususnya tipe b, menyebabkan infeksi pernapasan supuratif (sinusitis, laringotrakeitis, epiglotitis, otitis), dan pada anak-anak kecil, meningitis. Darah dari kebanyakan orang yang berumur lebih dari 3-5 tahun mempunyai daya bakterisidal kuat terhadap H. influenzae, dan infeksi klinik lebih jarang terjadi pada orang itu. Namun akhir-akhir ini, antibodi bakterisidal tidak terdapat pada 25% orang dewasa di AS, dan infeksi klinik lebih sering terjadi pada orang dewasa. H influenzae
yang tidak dapat digolongkan atau tidak bersimpai tipe b umumnya menyebabkan otitis media; mekanisme patogenik infeksi ini tidak jelas.
d. Gambaran Klinik
H. influenzae tipe b masuk melalui saluran pernapasan. Tipe lain jarang menimbulkan penyakit. Mungkin terjadi perluasan lokal yang mengenai sinus-sinus atau telinga tengah. H. influenzae tipe b dan pneumokokus merupakan dua bakteri penyebab paling sering pada otitis media bakterial dan sinusitis akut. Organisasi ini dapat mencapai aliran darah dan dibawa ke selaput otak atau, jarang, dapat menetap dalam sendi-sendi dan menyebabkan artritis septik. H. influenzae sekarang merupakan penyebab tersering meningitis bakteri pada anak-anak berusia 5 bulan sampai 5 tahun di AS. Secara klinik, penyakit ini mirip dengan bentuk meningitis masa kanak-kanak yang lain, dan diagnosis ditegakkan dengan penemuan organisme secara bakteriologik.
Kadang-kadang, pada bayi timbul laringotrakeitis obstruksif yang hebat, dengan epiglotis yang membengkak dan berwarna merah anggur; keadaan ini memerlukan trakeostomi atau intubasi segera untuk menyelematkan hidup. Penumonitis dan epiglotitis akibat H. influenzae dapat terjadi setelah infeksi saluran
pernapasan bagian atas pada anak-anak kecil dan pada orang tua atau orang yang lemah. Orang dewasa dapat menderita bronkitis atau penumonia akibat H. influenzae.
e. Tes Diagnosis Laboratorium
Bahan
Bahan pemeriksaan terdiri atas usap nasofaring, nanah, darah, dan cairan spinal untuk pemeriksaan mikroskopik dan pembiakan.
Identifikasi Langsung
Bila terdapat organisme dalam jumlah besar dalam bahan pemeriksaan, kuman ini dapat diidentifikasi dengan cara imunofluoresensi atau dapat dicampur langsung dengan antiserum spesifik kelinci (tipe b) untuk tes pembengkakan simpai. Tersedia perangkat komersial untuk mendeteksi secara imunologik antigen H. influenzae dalam cairan spinal. Tes yang positif menandakan bahwa cairan tersebut mengandung polisakarida spesifik dari H. influenzae tipe b dengan kadar tinggi.
Bahan ditanam pada agar coklat yang diperkaya dengan Iso VitaleX sampai koloni-koloni yang khas tampak (dalam 36-48 jam). H. influenzae dibedakan dari bakteri gram-negatif yang serumpun berdasarkan kebutuhannya akan faktor X dan V, dan tiadanya hemolisis pada agar darah.
f. Imunitas
Bayi di bawah umur 3 bulan dapat mengandung antibodi dalam serum yang diperoleh dari ibunya. Selama masa ini infeksi H .infuenzae jarang terjadi, tetapi kemudian antibodi ini akan hilang. Anak-anak sering mendapatkan infeksi H. infuenzae yang biasanya asimtomatik tetapi dapat dalam bentuk penyakit pernapasan atau meningitis (H. infuenzae adalah penyebab paling sering dari meningitis bacterial pada anak-anak dari umur 5 bulan sampai 5 tahun). Pada umur 3-5 tahun, banyak anak memiliki antibodi PRP yang membantu pembunuhan bakteri dengan bantuan komplemen dan fagositosis. Imunisasi pada anak-anak dengan vaksin konjugat H. infuenzae tipe b menimbulkan antibodi yang sama.
Terdapat korelasi antara adanya antibodi bakteri sidal dan resistensi terhadap infeksi H. infuenzae tipe b. Namun, tidak diketahui apakah antibodi ini saja yang memberikan imunitas.
Pneumonia atau arthritis akibat H. infuenzae masih dapat timbul pada orang dewasa yang memiliki antibodi ini.
g. Pengobatan
Angka kematian meningitis H. infuenzae yang tidak diobati dapat mencapai 90%. Banyak strain H. infuenzae tipe b peka terhadap ampisilin, tetapi 25% strain resisten karena membentuk β-laktamase dibawah kendaliu plasmid yang dapat dipindahkan. Kebanyakan strain masih peka terhadap kloramfenikol, dan praktis semua strain peka terhadap sefalosporin baru. Sefotaksim, 150-200 mg/kg/hari secara intravena, memberi hasil amat baik. Diagnosis dan pemberian obat antimikroba secara cepat penting untuk mengurangi sekuele gangguan neurologik dan intelektual. Komplikasi lanjut yang menonjol pada meningitis influenza adalah timbulnya penimbunan cairan subdural yang memerlukan drainase melalui pembedahan.
h. Epidemiologi, Pencegahan, &
Pengendalian
H. infuenzae tipe b bersimpai ditularkan dari orang ke orang melalui jalur pernapasan. Penyakit akibat H. infuenzae tipe b dapat dicegah dengan pemberian vaksin konjugat Haemophilus b pada
anak-anak. Anak-anak berusia 2 bulan atau lebih dapat diimunisasi dengan vaksin konjugat H. infuenzae tipe b dengan satu dari dua pembawa (HbOC dengan protein membawa protein toksin CRM197
mutan Corynebacterium diphteriae; atau kompleks selaput luar Neisseria meningitides) dengan dosis boster yang diperlukan sesuai anjuran standard. Anak-anak berusia 15 bulan atau lebih dapat menerima vaksin konjugat H. infuenzae tipe b dengan toksoid difteri (yang tidak bersifat imunogenik pada anak-anak yang lebih muda). Vaksin tidak mencegah timbulnya pembawa untuk H. infuenzae. Penggunaan vaksin H. infuenzae tipe b secara luas telah sangat menurunkan kejadian meningitis H. infuenzae pada anak-anak.
Kontak dengan pasien yang menderita infeksi klinik H. infuenzae memberi risiko kecil bagi orang dewasa, tetapi memberi risiko nyata bagi saudara kandung yang nonimun dan anak-anak nonimun lain yang berusia di bawah 4 tahun yang berkontak erat. Profilaksis dengan rifampin dianjurkan bagi anak-anak tersebut.