• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak atas Perumahan

Dalam dokumen DAFTAR ISI DAFTAR ISI KATA PENGANTAR (Halaman 37-44)

BAB II PEMENUHAN HAK ATAS PENDIDIKAN DAN

C. Hak atas Perumahan

Hak atas perumahan sudah diakui dalam hukum

internasional. Pasal 25 ayat (1) Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) menyebutkan:

“Setiap orang berhak atas taraf hidup yang menjamin kesehatan dan kesejahteraan untuk dirinya dan keluarganya, termasuk pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatannya serta pelayanan sosial yang diperlukan, dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda, mencapai usia lanjut atau mengalami kekurangan mata pencarian yang lain karena keadaan yang berada di luar kekuasaannya.”

Hak atas perumahan juga secara eksplisit termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB). Pasal 11 ayat (1) Kovenan ini menyatakan bahwa:

“Negara peserta Kovenan ini mengakui hak setiap orang atas standar hidup yang layak bagi diri dan keluarganya, termasuk pangan, sandang dan perumahan, dan atas perbaikan kondisi hidup terus menerus. Negara Pihak akan mengambil langkah-langkah yang memadai untuk menjamin perwujudan hak ini dengan mengakui arti penting kerjasama internasional yang berdasarkan kesepakatan sukarela.”

Pasal 5 huruf (e) Konvensi Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi Rasial menyebutan bahwa Negara Peserta menjamin pelaksanaan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya, termasuk hak untuk perumahan.

Pasal 27 ayat (3) Konvensi Hak Anak menyatakan: Negara-Negara Pihak, sesuai dengan keadaan-keadaan nasional dan di dalam sarana-sarana mereka, harus

orang tua dan orang-orang lain yang bertanggung jawab atas anak itu untuk melaksanakan hak ini, dan akan memberikan bantuan material dan mendukung program-program, terutama mengenai gizi, pakaian dan perumahan.

Pasal 14 ayat (2) Konvensi Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan menyatakan bahwa Negara-Negara Peserta wajib membuat peraturan-peraturan yang tepat untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan di daerah pedesaan, dan menjamin bahwa mereka ikut serta dalam dan mengecap manfaat dari pembangunan pedesaan atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan, khususnya menjamin kepada perempuan pedesaan hak untuk menikmati kondisi hidup yang memadai, terutama yang berhubungan dengan perumahan, sanitasi, penyediaan listrik dan air, pengangkutan dan komunikasi.

Komentar Umum No. 4 Komite Ekonomi, Sosial dan Budaya juga menekankan kebutuhan akan keamanan tinggal yang menjamin perlindungan terhadap penggusuran paksa. Ini dijabarkan dalam Komentar Umum No. 7 yang difokuskan pada penggusuran paksa. Penggusuran paksa didefinisikan sebagai “pemindahan secara permanen atau sementara melawan kehendak mereka atas individu, keluarga dan/atau komunitas dari rumah dan/atau tanah yang mereka tempati, tanpa penyediaan dan akses terhadap bentuk-bentuk

42 perlindungan hukum yang tepat.

Tidak semua penggusuran prima facie melawan hukum. Penggusuran yang dilaksanakan sesuai dengan

undang-undang yang relevan dan dengan jaminan-jaminan hukum yang layak pada dasarnya tetap diperbolehkan. Penggusuran terjadi dalam berbagai bentuk dan Komite Ekonomi, Sosial dan Budaya mencatat bahwa praktik tersebut terjadi secara meluas baik di negara berkembang maupun

negara-43

negara maju. Penggusuran juga dapat terjadi di daerah urban yang penduduknya sangat padat yang berkaitan dengan pemindahan penduduk secara paksa, atau menyingkirkan penduduk secara internal dan sebagai konsekuensi atau 44 berkaitan dengan kekerasan etnis atau gerakan penggungsi. Komite juga mencatat maraknya penggusuran paksa yang mengatasnamakan pembanggunan, baik untuk pembangunan prasarana skala besar atau melalui proyek-proyek pembangunan seperti membersihkan tanah untuk pertanian, peremajaan kota atau bahkan untuk peristiwa-peristiwa global

45 seperti olimpiade atau pesta olahraga se-Asia.

Kewajiban negara dalam pemenuhan hak atas perumahan sering disalahpahami. Ini tidak berarti bahwa negara harus membangun perumahan bagi seluruh penduduknya, atau bahwa perumahan harus disediakan secara cuma-cuma bagi penduduk. Pengakuan atas hak atas perumahan berarti:

a. Negara bertekad untuk berupaya dengan segala cara untuk memastikan bahwa setiap orang mempunyai akses terhadap perumahan dan murah/terjangkau dan dapat diterima.

b. Negara akan mengambil langkah-langkah yang menunjukkan pengakuan kebijakan dan legislatif atas setiap aspek hak atas perumahan.

c. Negara akan melindungi dan meningkatkan pe r um a ha n, buka n m a l a h m e r usa k a ta u menghancurkannya.

(2) Instrumen Nasional

Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 H ayat (1) menyatakan bahwa: Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Ayat (3) berbunyi: Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun.

Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Pasal 31 ayat (1) menyatakan “Tempat kediaman siapapun tidak boleh diganggu”. Ayat (2) Menginjak atau memasuki suatu pekarangan tempat kediaman atau memasuki suatu rumah bertentangan dengan kehendak orang yang mendiaminya, hanya diperbolehkan dalam hal-hal yang telah ditetapkan oleh undang-undang.

Pasal 37 ayat (1): Pencabutan hak milik atas suatu benda demi kepentingan umum, hanya diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan segera serta pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan. Ayat (2) Apabila sesuatu benda berdasarkan ketentuan hukum demi kepentingan umum harus dimusnahkan atau tidak diberdayakan baik untuk selamanya maupun untuk sementara waktu maka hal itu dilakukan dengan mengganti kerugian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan kecuali ditentukan lain.

Pasal 40: Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak.

Ketentuan tentang hak atas perumahan yang layak juga dapat ditemukan dalam berbagai perundang-undangan dan dokumen perencanaan pembangunan nasional. Salah satu di antaranya adalah Undang Undang No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun 2000–2004, yang merumuskan tujuan dan sasaran pembangunan nasional sebagai berikut:

“terwujudnya kesejahteraan rakyat yang ditandai oleh meningkatnya kualitas kehidupan yang layak dan bermartabat serta memberi perhatian utama pada tercukupinya kebutuhan dasar yaitu pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja” Seiring dengan alinea keempat Mukadimah UUD 1945, dalam Pasal 4 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman disebutkan bahwa penataan perumahan dan permukiman bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, dalam rangka peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat:

a. mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur ;

b. memberikan arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran penduduk yang rasional;

c. menunjang pembangunan di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan bidang-bidang lainnya.

Selain itu dalam pasal 5 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman juga ditegaskan bahwa hak atas perumahan yang layak merupakan hak semua orang ”Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur (Pasal 5 ayat (1)).

Lebih lanjut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman juga mengamanatkan bahwa:

pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan selur uh masyarakat Indonesia, perumahan dan permukiman yang layak, sehat, aman, serasi dan teratur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan martabat, mutu kehidupan serta kesejahteraan rakyat dalam masyarakat yang adil dan

46 makmur.

Dengan dasar konstitusi, Undang-Undang tentang Propenas dan Undang-Undang tentang Perumahan tersebut, berdasarkan doktrin hukum hak asasi manusia, rakyat dapat

mengklaim dan mempunyai hak untuk mempertanyakan hak atas perumahan. Masyarakat dapat mengeksaminasi kebijakan pemerintah lewat mekanime dan proses hukum.

Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional juga mengungkapkan bahwa permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat miskin adalah terbatasnya akses terhadap perumahan yang sehat dan layak, rendahnya mutu lingkungan permukiman dan lemahnya perlindungan untuk mendapatkan dan menghuni perumahan yang layak dan sehat.

Selain ketentuan Peraturan Presiden tersebut, pemerintah juga telah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 54 Tahun 2005 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang mana salah satu tugasnya adalah: ”Melakukan langkah-langkah konkrit untuk mempercepat pengurangan jumlah penduduk miskin di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui koordinasi dan sinkronisasi penyusunan dan pelaksanaan penajaman kebijakan penanggulangan kemiskinan” (Pasal 2 Perpres No. 54 Tahun 2005). Dalam Perpres ini terdapat keterlibatan Menteri Negara Perumahan Rakyat, di mana dalam konteks kebijakan pemenuhan hak perumahan mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan kemiskinan.

Selain beberapa instrumen hukum di atas, ada beberapa instrumen lainnya yang digunakan dalam upaya yang

dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan perumahan bagi keluarga miskin yakni berupa Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 403/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat dan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 24/KPTS/M/2003 tentang Pengadaan Rumah Sehat Sederhana. Fasilitas subsidi perumahan merupakan beberapa upaya yang dilakukan pemerintah dalam memperluas akses layanan perumahan dan permukiman yang sehat dan layak huni bagi masyarakat miskin. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan pendekatan tridaya yaitu pendayagunaan lingkungan, pemberdayaan sosial dan pemberdayaan ekonomi. Ketiga pendekatan ini diharapkan masyarakat miskin dapat meningkatkan kapasitasnya untuk memperbaiki secara mandiri kondisi perumahan dan permukiman mereka.

(3) Indikator

Hak atas perumahan dalam disiplin hak asasi manusia seringkali dipersamakan dengan hak rakyat atas tempat untuk hidup. Karena hak ini berkaitan dengan hidup seseorang, maka rumah dalam pengertian ini mencakup makna perumahan yang memadai (adequate housing). Kata 'memadai' ini menjadi penting untuk membedakan pendefinisian kata 'rumah' menjadi tidak sekadar sebentuk bangunan persegi empat yang mempunyai atap. Dari standar internasional hak

asasi manusia, kita dapat meminjam makna rumah yang memadai, yakni ketersediaan pelayanan, material, fasilitas dan infrastruktur. Memadai juga mengandung makna adanya pemenuhan prinsip-prinsip seperti keterjangkauan biaya

(affordability), kelayakhunian (habitability), kemudahan diakses ( a c c e s s i b i l i t y ) . S e l a n j u t n y a , ' m e m a d a i ' j u g a

m e m p e r t i m b a n g k a n f a k t o r - f a k t o r y a n g w a j i b dipertimbangkan dan dipenuhi seperti faktor lokasi (location)

47 dan layak secara budaya (culturally adequate).

Dalam kaitan ini penting untuk mengemukakan prinsip-prinsip dasar yang dimuat dalam Komentar Umum No. 4 Komite Ekonomi, Sosial dan Budaya PBB yang dapat dijadikan alat ukur bagi perlindungan dan pemenuhan hak rakyat atas perumahan. Prinsip-prinsip utama dalam pemenenuhan hak rakyat atas perumahan dapat diuraikan

48 sebagai berikut:

(a) Keamanan Hukum Kepemilikan (security of legal tenure)

Pentingnya pengakuan hak atas kepemilikan tanah maupun bangunan sebagai jaminan perlindungan hukum atas kepemilikan. Negara harus memastikan adanya jaminan hukum yang dapat melindungi setiap orang dari ancaman penggusuran paksa sewenang-wenang atau gangguan dan

49

ancaman lainnya. Dengan demikian, negara diharuskan untuk mengadopsi berbagai instrumen internasional yang

mengatur jaminan hak atas perumahan ke dalam sistem hukum nasionalnya, termasuk peraturan maupun kebijakan yang mengatur soal perlindungan terhadap kepemilikan perumahan; peraturan maupun kebijakan yang menjamin perlindungan hak guna/pakai/bangunan, peraturan dan kebijakan yang menjamin hak milik atas tanah dengan mengakui semua bentuk kepemilikan termasuk kepemilikan tradisional (hak ulayat), peraturan dan kebijakan yang menjamin tidak adanya diskriminasi dalam perlindungan hak milik/pakai/guna bangunan untuk kelompok khusus, membuat program subsidi perumahan bagi masyarakat lemah-kurang beruntung, membuat lembaga yang mengawasi dan memantau keamanan kepemilikan perumahan, serta adanya program strategi perumahan yang menjamin keamanan kepemilikan perumahan (misalnya sertifikasi rumah murah).

(b) Aksesibilitas (accessibility)

Tempat tinggal yang layak harus dapat diakses oleh semua orang yang berhak atasnya. Kelompok-kelompok yang kurang beruntung seperti manula, anak-anak, penderita cacat fisik, penderita sakit stadium akhir, penderita HIV-positif, penderita sakit menahun, penderita cacat mental, korban bencana alam, penghuni kawasan rawan bencana, dan lain-lain harus diyakinkan untuk memprioritaskan lingkungan tempat tinggal mereka. Undang-undang dan

kebijakan-kebijakan (tentang masalah perumahan) harus mencakup kebutuhan kelompok-kelompok ini akan tempat tinggal. Di banyak negara, perluasan akses tanah untuk segmen-segmen masyarakat yang tidak mempunyai tanah atau dimiskinkan harus dijadikan tujuan utama kebijakan itu. Kewajiban-kewajiban pemerintah harus dikembangkan dengan sasaran untuk memperkuat hak setiap orang atas hunian yang aman untuk hidup secara damai dan bermartabat, termasuk akses

50 tanah sebagai sebuah hak.

(c) Keterjangkauan Biaya (affordability)

Harga beli atau sewa rumah harus dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian negara diharuskan untuk mengadopsi instrumen internasional yang mengatur jaminan perumahan ke dalam sistem hukum nasional, membuat peraturan dan kebijakan yang mengatur pembiayaan perumahan rakyat dan penyediaan kredit untuk rumah murah, serta adanya lembaga yang melaksanakan, memantau dan mengawasi penyediaan kredit rumah murah bagi rakyat, membuat program pinjaman lunak yang menyediakan fasilitas rumah murah untuk rakyat, program perbaikan perumahan cuma-cuma untuk penduduk yang menjadi korban bencana alam atau konflik, serta program fasilitas/insentif khusus bagi pengembang dalam membangun rumah sederhana.

(d) Layak Huni (habitalitity)

Tempat tinggal yang memadai haruslah layak dihuni, artinya dapat memberi penghuninya ruangan yang layak dan dapat melindungi mereka dari cuaca dingin, lembab, panas, hujan, angin, atau ancaman-ancaman bagi kesehatan, bahaya fisik bangunan, dan penyakit. Keamanan fisik penghuni harus pula terjamin. Komite mendorong negara untuk secara menyeluruh menerapkan Prinsip Rumah Sehat yang disusun oleh WHO yang menggolongkan tempat tinggal sebagai faktor lingkungan yang paling sering dikaitkan dengan kondisi-kondisi penimbul penyakit berdasarkan berbagai analisis epidemiologi; yaitu, tempat tinggal dan kondisi kehidupan yang tidak layak dan kurang sempurna selalu berkaitan dengan

51

tingginya tingkat kematian dan ketidaksehatan. Dengan demikian, rumah layak huni mencakup juga sarana dan prasarana perumahan seperti ketersediaan air bersih, sanitasi, listrik, drainase, jalan, keamanan, kebersihan. Sehingga pemerintah/negara diharuskan untuk membuat peraturan dan kebijakan yang mengatur ketersediaan sarana dan prasarana perumahan, membuat peraturan dan kebijakan yang mengatur standarisasi material, fasilitas, sarana dan prasarana perumahan, membuat peraturan dan kebijakan yang memuat sistem monitoring sebagai bentuk pengawasan ketersediaan sarana dan prasarana perumahan, membuat kebijakan tentang akses terhadap pelayanan sarana dan prasarana publik (air, listrik, drainase jalan, keamanan,

kebersihan, dan lain-lain), membentuk lembaga yang mengawasi dan memantau sarana dan prasarana yang tersedia bagi perumahan, membuat program yang menyediakan sarana dan prasarana perumahan, membuat peraturan maupun kebijakan yang mengatur standarisasi kelayakan perumahan rakyat, membentuk lembaga yang melaksanakan, memantau dan mengawasi kelayakan rumah bagi rakyat, membuat program perbaikan rumah-rumah untuk penduduk yang menjadi korban bencana alam atau konflik, serta membuat program tata ruang dan tata kota untuk menjamin wilayah aman bagi pembangunan rumah rakyat.

(e) Lokasi

Tempat tinggal yang layak harus berada di lokasi yang terbuka terhadap akses pekerjaan, pelayanan kesehatan, sekolah, pusat kesehatan anak, dan fasilitas-fasilitas umum lainnya. Hal ini berlaku baik di kota besar maupun kawasan pinggiran dimana tuntutan biaya temporer dan finansial untuk pergi dan dari tempat kerja dapat dinilai terlalu tinggi bagi anggaran belanja keluarga prasejahtera. Di samping itu, rumah hendaknya tidak didirik an di lokasi-lokasi yang telah atau atau akan segera terpolusi, yang mengancam hak untuk

52 hidup sehat para penghuninya.

(f) Kelayakan Budaya

Cara rumah didirikan, material bangunan yang digunakan, dan kebijakan-kebijakan yang mendukung kedua

unsur tersebut harus memungkinkan pernyataan identitas budaya dan keragaman tempat tinggal. Berbagai aktivitas yang ditujukan bagi peningkatan dan modernisasi dalam lingkungan tempat tinggal harus dapat memastikan bahwa dimensi-dimensi budaya dari tempat tinggal tidak dikorbankan, dan bahwa, fasilitas-fasilitas berteknologi modern, inter alia, juga telah dilengkapkan dengan

53 semestinya.

Selain prinsip-prinsip tersebut, konvensi-konvensi internasional juga memperkaya prinsip-prinsip pemenuhan hak atas perumahan ini, antara lain: pemenuhan hak ini mesti dilaksanakan tanpa pembedaan ras, warna kulit, atau

54

kewarganegaraan, asal muasal etnis; dipenuhi dengan 55 beralas persamaan hak atara laki-laki dan perempuan; difasilitasi dalam rangka membantu para orang tua untuk memberikan perlindungan hak anak-anak atas tempat tinggal

56 yang memadai.

Dalam dokumen DAFTAR ISI DAFTAR ISI KATA PENGANTAR (Halaman 37-44)

Dokumen terkait