• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERLINDUNGAN HUKUM PADA KONSUMEN SELAKU

B. Hak dan Kewajiban Konsumen Selaku Pengguna

Kegiatan pengangkutan udara terdapat dua pihak, yaitu pihak pertama adalah perusahaan maskapai sebagai pelaku usaha dan penumpang sebagai konsumen.Para pihak tersebut terikat oleh suatu perjanjian, yaitu perjanjian pengangkutan.Sebagaimana layaknya suatu perjanjian yang merupakan suatu bentuk dari hubungan hukum yang bersifat keperdataan maka didalamnya terkandung hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan dan dipenuhi.

Hukum memang memberikan hak-hak kepada penumpang.Selaku konsumen, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen memberikan banyak hak kepada penumpang pesawat.Misalnya Hak

atas keselamatan, kenyamanan, dan keamanan.70

1. Hak untuk mendapatkan keamananan (the right nto safety);

Bagi penumpang difabel dalamUndang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, sudah mengatur hak-hak yang dimiliki.Penumpang yang memiliki keterbatasan fisik atau difabel berhak mendapatkan pelayanan khusus. Pasal 134 Undang-Undang Penerbangan dijelaskan bahwa penyandang cacat, orang lanjut usia, anak-anak di bawah usia 12 tahun, dan/atau orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dari badan usaha angkutan udara niaga. Memberikan prioritas tempat duduk salah satunya.

Dengan kata lain, perlindungan konsumen sesungguhnya identikdengan perlindungan yang diberikan hukum tentang hak-hak konsumen. Secara umum dikenal ada 4 (empat) hak dasar konsumen, yaitu:

2. Hak untuk mendapatkan informasi (the right to be informed);

3. Hak untuk memilih(the right to choose);

4. Hak untuk didengar (the right ti be heard).71

Empat hak dasar ini diakui secara internasional.Dalam perkembangannya, organisasi-organisasi konsumen yang tergabun g dalam The International Organization of Consumer Union (IOCU) menambahkan lagi beberapa hak, seperti hak mendapatkan pendidikan konsumen, hak mendapatkan ganti kerugian, dan hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Hak konsumen sebagaimana tertuang dalam Pasal 4 UU No. 8 Tahun 1999 adalah sebagai berikut:

70 http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt54daa53705c6a/pahami-hak-dan-kewajiban-penumpang--sebelum-terbang (diakses pada 24 Oktober 2017)

71 Celina Tri Siwi Kristiyanti, Op.Cit., hal 30

a. Hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa;

b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

e. Hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;

f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidakdiskriminatif;

h. Hak untuk mendapatkan kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya72

Merujuk pada Undang-Undang Penerbangan, ada banyak hak penumpang yang menjadi kewajiban maskapai.Jika terjadi kecelakaan, misalnya, penumpang berhak mendapat ganti rugi.Sebaliknya, maskapai berkewajiban membayar ganti

72Ibid., hal 31-32

rugi itu menurut hukum.Kementerian Perhubungan sudah mengatur pembayaran ganti rugi kepada penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap, atau luka-luka dalam kasus kecelakaan.Rinciannya ada dalam Permenhub Nomor 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara (Permenhub 77).Pasal 3 Permenhub menjelaskan, bagi penumpang yang meninggal dunia di dalam pesawat udara, karena kecelakaan, penumpang atau ahli waris berhak mendapatkan ganti rugi sebesar Rp1,25 miliar. Ganti rugi Rp500 juta diberi kepada (ahli waris) penumpang yang meninggal dunia akibat suatu kejadian yang semata-mata ada hubungannya dengan pengangkutan udara saat proses meninggalkan ruang tunggu bandara menuju pesawat udara atau saat proses turun dari pesawat udara.73

Penumpang yang mengalami cacat tetap oleh dokter dalam jangka waktu paling lambat 60 hari kerja sejak terjadinya kecelakaan, berhak mendapatkan ganti rugi sebesar Rp1,25 miliar. Yang cacat tetap dalam jangka waktu paling lambat 60 hari sejak terjadinya kecelakaan, ganti rugi diberikan berdasarkan organ.Misalnya kehilangan pendengaran, penumpang berhak mendapatkan ganti rugi sebesar Rp150juta.Jika bagasi penumpang hilang, musnah atau hilang sebagai akibat dari kegiatan angkutan udara selama bagasi tercatat dalam pengawasan pengangkut, penumpang berhak mendapatkan ganti rugi. Pasal 5 Permenhub 77 menjelaskan kehilangan bagasi tercatat atau isi bagasi tercatat atau bagasi tercatat musnah diberikan ganti rugi sebesar Rp. 200ribu per kilogram dan paling banyak Rp. 4 juta per penumpang.Disamping itu, penumpang juga berhak mendapatkan uang

73Ibid

tunggu atas bagasi tercatat yang belum ditemukan dan belum dapat dinyatakan hilang sebesar Rp.200 ribu per hari paing lama untuk tiga hari.

Dalam kasus delay penumpang juga punya hak. Pasal 146 Undang-Undang Penerbangan mengatur pengangkut bertanggung jawab atas kerugian yang diderita karena keterlambatan pada angkutan penumpang, bagasi atau kargo, kecuali apabila pengangkut dapat membuktikan bahwa keterlambatan tersebut disebabkan oleh faktor cuaca dan teknis operasional.

Keterlambatan lebih dari empat jam, penumpang berhak mendapatkan ganti rugi sebesar Rp.300 ribu. Ganti rugi dapat dikurangi 50 persen jika maskapai penerbangan menawarkan tempat tujuan lain yang terdekat dengan tujuan penerbangan akhir penumpang. Dalam hal ini, penumpang berhak mendapatkan tiket penerbangan lanjutan atau menyediakan transportasi lain ke tempat tujuan apabila tidak terdapat angkutan udara. Dalam hal terjadinya pembatalan penerbangan, maskapai wajib menmberitahukan kepada penumpang paling lambat 7 hari sebelum pelaksanaan penerbangan.

Pasal 151 UU Penerbangan menjelaskan maskapai penerbangan wajib memberikan tiket kepada penumpang. Penumpang berhak mendapatkan tiket perseorangan atau kolektif yang memuat nomor, tempat dan tanggal penerbitan, nama penumpang dan pengangkut, tempat, tanggal, waktu pemberangkatan dan tujuan pendaratan dan pernyataan bahwa pengangkut atau maskapai penerbangan tunduk pada ketentuan dalam UU Penerbangan. Sudah pasti, setelah membeli tiket, penumpang berhak mendapatkan pas untuk masuk bandara.74

74Ibid

2. Kewajiban Konsumen/Penumpang

Penumpang berkewajiban utama membayar biaya pengangkutan dan berhak atas pelayanan pengangkutan.75

Seperti yang diketahui dan dibahas sebelumnya bahwa penumpang adalah seorang konsumen dan secara umum kewajiban konsumen adalah membayar ongkos pengangkutan yang telah ditetapkan besarnya, dan menjaga barang-barang yang berada dibawah pengawasannya, melaporkan jenis-jenis barang yang dibawa terutama barang-barang yang berkategori berbahaya. Ketentuan tersebut juga berlaku di dalam kegiatan pengangkutan atau transportasi udara, dalam hal ini pengangkut atau maskapai penerbangan berkewajiban untuk mengangkut penumpang dengan amandan selamat sampai di tempat tujuan secara tepat waktu, dan sebagai konpensasi dari pelaksanaan kewajibannya tersebut maka perusahaan penerbangan mendapatkan bayaran sebagai ongkos penyelenggaran pengangkutan dari penumpang.

Kedudukan penumpang pada pengangkutan udara ada 2 (dua) macam yaitu sebagai subjek hukum dan objek hukum.Dikatakan sebagaisubjek hukum karena penumpang merupakan orang yang mengikatkan diri kepadapihak pengangkut.Sedangkan penumpang dikatakan sebagai objek hukum karenapenumpang merupakan muatan yang diangkut oleh pihak pengangkut.

76

Dalam angkutan udara kewajiban utama penumpang adalah mematuhi seluruh aturan penerbangan.Mematikan telepon genggam adalah kewajiban yang seringkali dilanggar penumpang pesawat di Indonesia. Pramugari atau awak kabin

75 Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga, Loc.Cit, hal 60

76 Ahmad Zazili, Perlindungan Hukum Terhadap Penumpang Pada Transportasi Udara Niaga Berjadwal Nasional, 2008, hal. 11

biasanya menyampaikan permintaan mematikan hape dan alat elektonik lain sebelum pesawat take off (lepas landas). Himbauan ini mungkin sederhana tetapi beresiko bagi semua penumpang.Gara-gara perbuatan satu penumpang, seluruh penumpang dapat celaka.77

Dalam dokumen-dokumen penerbangan biasanya tertera kewajiban untuk datang check in paling lambat satu jam sebelum keberangkatan. Pelanggaran atas norma ini sering terjadi jika penumpang adalah pejabat, sehingga merugikan penumpang lain.Dalam beberapa website maskapai penerbangan, terdapat penjelasan syarat dan ketentuan antara lain tentang penggunaan tiket yang hanya boleh dipergunakan sesuai nama yang tertera di tiket, penumpang wajib menyerahkan nomor bagasi ketika akan mengambil bagasi, serta larangan membawa barang-barang atau benda-benda yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.78

a. perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan;

Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dijelaskan dalam beberapa pasal tentang kewajiban penumpang sebagai konsumen dalam angkutan udara/penerbangan yaitu:

Pasal 54

Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan dilarang melakukan:

b. pelanggaran tata tertib dalam penerbangan;

c. pengambilan atau pengrusakan peralatan pesawat udara yang dapat membahayakan keselamatan;

d. perbuatan asusila;

e. perbuatan yang mengganggu ketenteraman; atau

77Ibid.

78Ibid

f. pengoperasian peralatan elektronika yang mengganggu navigasi penerbangan.79

Pasal 126

1) Tarif angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri terdiri atas tarif angkutan penumpang dan tarif angkutan kargo.

2) Tarif angkutan penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas golongan tarif pelayanan kelas ekonomi dan non-ekonomi.

3) Tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan komponen:

a. tarif jarak;

b. pajak;

c. iuran wajib asuransi; dan

d. biaya tuslah/tambahan (surcharge).80 Pasal 127

1) Hasil perhitungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 126 ayat (3) merupakan batas atas tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri.

2) Tarif batas atas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri dengan mempertimbangkan aspek perlindungan konsumen dan badan usaha angkutan udara niaga berjadwal dari persaingan tidak sehat.

3) Tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri yang ditetapkan oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dipublikasikan kepada konsumen.81

Pasal 151

2) Tiket penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:

a. nomor, tempat, dan tanggal penerbitan;

b. nama penumpang dan nama pengangkut;

c. tempat, tanggal, waktu pemberangkatan, dan tujuan pendaratan;

d. nomor penerbangan;

e. tempat pendaratan yang direncanakan antara tempat f. pemberangkatan dan tempat tujuan, apabila ada; dan

g. pernyataan bahwa pengangkut tunduk pada ketentuan dalam undang-undang ini.

3) Yang berhak menggunakan tiket penumpang adalah orang yang namanya tercantum dalam tiket yang dibuktikan dengan dokumen identitas diri yang sah.

79 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, Pasal 54

80Ibid, Pasal 126

81Ibid, Pasal 127

4) Dalam hal tiket tidak diisi keterangan-keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau tidak diberikan oleh pengangkut, pengangkut tidak berhak menggunakan ketentuan dalam undang-undang ini untuk membatasi tanggung jawabnya.82

Pasal 174

1) Klaim atas kerusakan bagasi tercatat harus diajukan pada saat bagasi tercatat diambil oleh penumpang.

2) Klaim atas keterlambatan atau tidak diterimanya bagasi tercatat harus diajukan pada saat bagasi tercatat seharusnya diambil oleh penumpang.

3) Bagasi tercatat dinyatakan hilang setelah 14 (empat belas) hari kalender terhitung sejak tiba di tempat tujuan.

4) Klaim atas kehilangan bagasi tercatat diajukan setelah jangka waktu 14 (empat belas) hari kalender sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terlampaui.83

Pasal 412

1) Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan melakukan perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

2) Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan melakukan perbuatan yang melanggar tata tertib dalam penerbangan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

3) Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan mengambil atau merusak peralatan pesawat udara yang membahayakan keselamatan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf c dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

4) Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan mengganggu ketenteraman, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf e dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

5) Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan mengoperasikan peralatan elektronika yang mengganggu navigasi penerbangan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf f dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).84

82Ibid, Pasal 151

83Ibid, Pasal 174

84Ibid, Pasal 142

Beberapa maskapai penerbangan juga menjelaskan ketentuan refund yang wajib dipatuhi oleh penumpang, misalnya refund di atas 48 jam sebelum keberangkatan dikenakan refund fee sebesar 50 persen dari basic farea publish per-penumpang, dalam 48 jam sampai 2 jam sebelum keberangkatan dikenakan refundfee sebesar 80 persen dari basic fare publish per-penumpang, kurang dari 2 jam sebelum keberangkatan atau setelah proses checkin dikenakan refundfee sebesar 90 persen. Sementara refund 100 persen hanya dapat dilakukan jika ada pembatalan sepihak oleh maskapai.

C. Pihak-Pihak Dalam Perjanjian Pengangkutan

Salah satu pokok dalam bidang Hukum Udara Perdata adalah masalah Perjanjian Angkutan Udara; antara lain karena erat berhubungan dengan suatu masalah lain, yang sejak permulaan pertumbuhan Hukum Udara mendapatkan perhatian yang besar dari para ahli hukum udara, yaitu masalah tanggung jawab pengangkut udara.85 Perjanjian merupakan suatu perbuatan satu atau lebih pelaku usaha untuk mengikatkan dirin terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik tertulis maupun tidak tertulis.86

Suatu perjanjian pengangkutan pada dasarnya merupakan suatu perjanjian biasa, yang dengan sendirinya tunduk pada ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk suatu perjanjian pada umumnya, yaitu tunduk pada ketentuan yang terdapat dalam Buku Ke III KUHPerdata tentang Perikatan, selama tidak ada pengaturan

85 E. Suherman, Aneka Masalah Hukum Kedirgantaraan, Bandung: Mandar Maju, 2000, hal. 36.

86 Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

khusus tentang perjanjian pengangkutan dalam peraturan perundang-undangan di bidang angkutan.87

Pihak-pihak dalam pengangkutan adalah para subjek hukum sebagai pendukung hak dan kewajiban dalam hubungan hukum pengangkutan. Mengenai siapa saja yang menjadi pihak-pihak dalam pengangkutan ada beberapa pendapat yang dikemukakan para ahli antara lain: Wihoho Soedjono menjelaskan bahwa di dalam pengangkutan di laut terutama mengenai pengangkutan di laut terutama mengenai pengangkutan barang, maka perlu diperhatikan adanya tiga unsur yaitu pihak pengirim barang, pihak penerima barang dan barangnya itu sendiri.88

Pihak-pihak yang terdapat dalam perjanjian pengangkutan adalah pengangkut danpengirim.Adapun sifat perjanjian pengangkutan adalah timbal balik, artinya kedua belah pihak, baik pengangkut maupun pengirim masing-masing mempunyai kewajiban.Kewajibanpengangkut adalah menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari suatu tempatke tempat tujuan tertentu dengan selamat, sedangkan kewajiban pengirim adalah membayar uang angkutan sebagai kontra prestasi dari penyelenggaraan pengangkutan yang dilakukan oleh pengangkut.89

Menurut H.M.N Purwosutjipto, pihak-pihak dalam pengangkutan yaitu pengangkut dan pengirim. Pengangkut adalah orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari suatu tempat ke

87 Siti Nurbaiti, Hukum Pengangkutan Darat, Jakarta: Universitas Trisakti, 2009, hal. 13

88 Wiwoho Soedjono, Hukum Dagang. Suatu Tinjauan tentang Ruang Lingkup dan Masalah yang Berkembang dalam Hukum Pengangkutan di Laut Bagi Indonesia, Jakarta: Bina Aksara, 1982, hal. 38

89 Sution Usman Adji dkk, Hukum Pengangkutan di Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004, hal. 1

tempat tujuan tertentu dengan selamat. Lawan dari pihak pengangkut ialah pengirim yaitu pihak yang mengikatkan dari untuk membayar uang angkutan, dimaksudkan juga ia memberikan muatan.90

Menurut Abdulkadir Muhammad, subjek hukum pengangkutan adalah

“pendukung kewajiban dan hak dalam hubungan hukum pengangkutan, yaitu pihak-pihak yang terlibat secara langsung dalam proses perjanjian sebagai pihak dalam perjanjian pengangkutan”. Mereka itu adalah pengangkut, pengirim, penumpang, penerima, ekspeditur, agen perjalanan, pengusaha muat bongkar, dan pengusaha pergudangan.Subjek hukum pengangkutan dapat berstatus badan hukum, persekutuan bukan badan hukum, dan perseorangan.91

1. Pengangkut

Pengangkutan udara pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian pengangkutan yaitu :

Secara umum, di dalam KUHD tidakdijumpai defenisi pengangkut, kecuali dalam pengangkutan laut.Definisipengangkut pada pengangkutan kapal dilihat dalam Pasal 466 KUHD berisipengangkut adalah barangsiapa yang baik dengan perjanjian carter menurut waktuatau carter menurut perjalanan, maupun dengan perjanjian jenis lain, mengikatkandiri untuk meyelenggarakan pengangkutan barang atau orang (Pasal 521 KUHD), yang seluruhnya atau sebagian melalui laut.92

90 H.M.N Purwosutjipto, Op.Cit., hal. 58.

91Abdulkadir Muhammad, Hukum Pngangkutan Niaga Bandung: Citra Aditya Bhakti, 2013, hal. 79.

92 H.M.N Purwosutjipto, (2)Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia 5 Hukum Pelayaran laut dan Perairan Darat, Jakarta: Djambatan, 1983, hlm 187-188

Jika, dilihat dari pihak dalam perjanjian pengangkutan, pengangkut adalah pihak yang mengikatkan diri

untukmenyelenggarakan pengangkutan orang (penumpang) dan/atau barang.

Secara umum hak pengangkut adalah menerima pembayaran ongkos angkutan dari penumpang atau pengirim barang atas jasa angkutan yang telah diberikan,dan juga hak untuk menolak pelaksanaan atau mengangkut penumpang yang tidakjelas identitasnya. Hal tersebut dapat ditemukan di dalam tiket pesawat yangmenyatakan bahwa hak pengangkut untuk menyerahkan penyelenggaraan ataupelaksanaan perjanjian angkutan kepada perusahaan penerbangan lain, sertamengubah tempat-tempat pemberhentian yang telah disetujui.Secara umum kewajiban pengangkut adalah menyelenggarakan pengangkutanbarang atau penumpang beserta bagasinya dan menjaganya dengan sebaik-baiknyahingga sampai di tempat tujuan.

2. Penumpang

Penumpang adalah pihak dalam perjanjian pengangkutan penumpang.

Penumpang mempunyai dua kedudukan, yaitu sebagai subyek pengangkutan karena ia adalah pihak dalam perjanjian, dan penumpang juga sebagai objek pengangkutan karena ia adalah muatan yang diangkut.

Sebagai pihak dalam perjanjian pengangkutan, penumpang harus sudah dewasa atau mampu melakukan perbuatan hukum atau mampu membuat perjanjian (Pasal 1320 KUHPerdata).93

93 Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Darat, Laut, dan Udara, Banudng:

Citra Aditya Bakti, 1994, hal.35

Penumpang berkewajiban utama membayar biaya pengangkutan dan berhak atas pelayanan pengangkutan.94

94 Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga, Op.Cit., hal 60

Kedudukan penumpang pada pengangkutan udara ada 2 (dua) macam yaitu sebagai subjek hukum dan objek hukum.Dikatakan sebagai subjek hukum karena penumpang merupakan orang yang mengikatkan diri kepada pihak pengangkut.Sedangkan penumpang dikatakan sebagai objek hukum karena penumpang merupakan muatan yang diangkut oleh pihak pengangkut.

A. Hal-hal dapat Menimbulkan Risiko dalam Perjanjian Pengangkutan Udara

Berkembangnya teknologi di bidang industri penerbangan dewasa ini, maka keberadaan dan peranan penerbangan komersialdi Indonesia semakin diperhitungkan, hal terpenting adalah penyediaan sarana keselamatan dalam penerbangan yang bermanfaat untuk melindungi pemakai jasa angkutan dan juga menghindari terjadinya hal-hal yang berdampak negatif atau hal-hal yang tidak diharapkan oleh perusahaan itu sendiri kemudian menimbulkan kerugian yang besar baginya.95

95Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Hukum Pertanggungan Dan Perkembangannya, Seksi Hukum Dagang Yogyakarta, Fak. Hukum UGM, 1990, hal.151.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam transportasi udara adalah segala macam risiko terhadap penumpang, karena pengangkutan udara ini merupakan alat transportasi yang mengandung banyak risiko.

Proses pengangkutan tentu semua memiliki risiko baik dalam pengangkutan darat, udara maupun laut. Tentu saja hal-hal tersebut sudah diperkirakan semuanya oleh pelaku pengangkutan dan pemerintah, kemudian dari perkiraan-perkiraan yang ada kemudian pemerintah akan melindungi dan mengatur secara menyeluruh mengenai kemungkinan terjadinya resiko yang telah diperkirakan dan semuanya akan diwujudkan dalam pembentuak suatu aturan oleh pemerintah.

Perjanjian pengangkutan udara secara umum mengacu pada KUHPerdata, Undang Undang nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan dan secara khusus mengacu pada ketentuan ketentuan yang tercantum dalam surat muatan udara . Menurut ketentuan tersebut perjanjian angkutan udara bersifat timbal balik artinya kedua belah pihak saling mempunyai hak dan kewajiban. Kewajiban pengangkut adalah mengangkut penumpang dan atau barang dari satu tempat ke tempat yang lain dengan selamat dan berhak atas sejumlah pembayaran sesuai dengan perjanjian. Sebaliknya pengguna jasa angkutan atau disebut juga dengan konsumen berkewajiban untuk membayar sejumlah pembayaran yang telah ditentukan dan berhak atas pengangkutan dan hak hak yang lain berdasarkan UU No.1 tahun 2009 tentang penerbangan dan secara khusus berdasarkan UU No.8 tahun 1999 Pasal 4 a dan (h) konsumen berhak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan atau jasa, hak untuk mendapatkan kompensasi ganti rugi dan atau penggantian apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau sebagaimana mestinya.96

1. Manajemen airline yang meliputi, keterlambatan pilot, co pilot dan awak kabin, keterlambatan jasa boga (catering), keterlambatan penanganan di darat, menunggu penumpang baik yang baru melapor (check in), pindah pesawat (transit) dan/atau penerbangan lanjutan (connecting flight) dan ketidaksiapan pesawat udara.

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara faktor sering menjadi keterlambatan penerbangan, yaitu

96 Suprapt, Tanggung Jawab Perusahaan Angkutan Udara Terhadap Pengiriman Kargo Melalui Udara, Jurnal Manajemen Dirgantara Vol.9 Desember 2016, hal 37

2. Teknis operasional, disebabkan kondisi bandar udara pada saat keberangkatan atau kedatangan meliputi bandara untuk keberangkatan dan tujuan tidak dapat digunakan operasional pesawat udara, lingkungan menuju bandara atau landasan terganggu fungsinya seperti retak, banjir atau kebakaran. Penyebab lainnya adalah terjadinya antrian pesawat udara lepas landas (take off) mendarat (landing), atau alokasi waktu keberangkatan (departure slot time) di bandara atau keterlambatan pengisian bahan bakar (refueling).

3. Cuaca meliputi, hujan lebat, banjir, petir, badai, kabut, asap, jarak pandang di bawah minimal atau kecepatan angin yang melampaui standar maksimal yang mengganggu keselamatan penerbangan.

4. Faktor lain-lain, disebabkan di luar faktor manajemen airline, teknis operasional dan cuaca antara lain, kerusuhan, dan/atau demonstrasi di wilayah bandara.97

Kompensasi keterlambatan, karena kesalahan pengangkut PT. Garuda memberikan kompensasi kepada calon penumpang dalam bentuk:

1. Keterlambatan lebih dari 30 (tiga puluh) menit sampai dengan 90 (sembilan puluh) menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman dan makanan ringan;

2. Keterlambatan lebih dari 90 (sembilan puluh) menit sampai dengan 180 (seratus delapan puluh) menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal

2. Keterlambatan lebih dari 90 (sembilan puluh) menit sampai dengan 180 (seratus delapan puluh) menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal

Dokumen terkait