• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepastian hukum pemberian izin usaha pertambangan dikaitkan dengan hak menguasai negara berdasarkan UUPA

2. Hak-Hak Tradisional Masyarakat Hukum Adat

Pembahasan mengenai hak masyarakat hukum adat masih sangat kompleks.Pada dasarnya hubungan masyarakat adat dengan sumber daya alam, lingkungan atau wilayah kehidupannya lebih tepat dikategorikan sebagai hubugan kewajiban dari pada hak. Hubungan tersebut baru dikategorikan sebagai hak bila mereka berhubungan dengan pihak luar, baik itu komunitas lain, pengusaha bahkan dengan pemerintah. Ketika berhubungan dengan pihak luar, maka konsepsi tentang hak kemudian menjadi sesuatu yang bermuatan politis yang diperebutkan sekaligus menjadi objek peraturan di dalam hukum.

Sebelum memaparkan mengenai hak-hak tradisional masyarakat hukum adat,terdapat hak yang berkaitan yakni hak-hak Konstitusional Masyarakat Hukum Adat. Hak-hak konstitusional masyarakat hukum adat menurut Komisi Hak Asasi Manusia dan Konvensi International Labour Organization (ILO) Tahun 1986 meliputi:

• Hak untuk menentukan nasib sendiri; • hak untuk turut serta dalam pemerintahan;

• hak atas pendidikan; • hak atas pekerjaan; • hak anak;

• hak pekerja;

• hak minoritas dan masyarakat hukum adat; • hak atas tanah;

• hak atas persamaan;

• hak atas perlindungan lingkungan;

• hak atas administrasi pemerintahan yang baik; • hak atas penegakan hukum yang adil.

Hak atas tanah dan sumber daya alam merupakan salah satu hak palingpenting bagi masyarakat adat sebab keberadaan hak tersebut menjadi salah satu ukuran keberadaaan suatu komunitas masyarakat adat. Oleh karena itu, di dalam deklarasi PBB tentang hak-hak masyarakat adat, persoalan hak atas tanah dan sumber daya alam ini diatur :

Pasal 26 ayat (1)

“Masyarakat adat memiliki hak atas tanah-tanah, wilayah-wilayah dan sumber daya-sumber daya yang mereka miliki atau duduki secara tradisional atau Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi Kepaniteraan dan Sekretariat Jendral Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia 2012. sebaliknya tanah-tanah, wilayah-wilayah dan sumber daya- sumber daya yang telah digunakan atau yang telah didapatkan (Pasal 26 ayat 1 Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat)”.

Pasal 26 ayat (2)

“Mayarakat adat memiliki hak untuk memiliki, menggunakan, mengembangkan dan mengontrol tanah-tanah, wilayah-wilayah dan sumber daya-sumber daya yang mereka atas dasar kepemilikan tradisional atau penempatan dan pemanfaatan secara tradisional lainnya, juga tanah-tanah, wilayah-wilayah dan sumber daya sumber daya yang dimiliki dengan cara lain (Pasal 26 ayat 2 Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat)”.

Sedangkan Abdon Nababan menyebutkan dari sekian banyak kategori hakyang berhubungan dengan masyarakat adat, setidaknya ada empat hak masyarakat adat yang paling sering disuarakan, antara lain:

• Hak untuk “menguasai” (memiliki, mengendalikan) dan mengelola (menjada, memanfaatkan) tanah dan sumber daya alam di wilayah adatnya;

• Hak untuk mengatur diri sendiri sesuai dengan hukum adat (termasuk peradilan adat) dan aturan-aturan adat yang disepakati bersama oleh masyarakat adat;

• Hak untuk mengurus diri sendiri berdasarkan sistem kepengurusan/kelembagaan adat;

• Hak atas identitas, budaya, sistem kepercayaan (agama), sistim pengetahuan (kearifan) dan bahasa asli.

Hak-hak tradisional masyarakat hukum adat di Indonesia yang keberadaannyaditetapkan dalam beberapa peraturan perundangan:

• Hak pengelolaan dan pemanfaatan hutan

Terkait dengan masalah hutan adat di dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan pasal 5 ayat 2, 3 dan 4 dijelaskan bahwa Hutan negara ialah hutan yang berada pada tanah yang tidakdibebani hak- hak atas tanah menurut UUPA, termasuk di dalamnya hutan-hutanyang sebelumnya dikuasai masyarakat hukum adat yang disebut hutan ulayat,hutan marga, atau sebutan lainnya. Dimasukkannya hutan-hutan yang dikuasaioleh masyarakat hukum adat dalam pengertian hutan negara, adalah

sebagaikonsekuensi adanya hak menguasai dan mengurus oleh negara sebagai organisasikeluasaan seluruh rakyat dalam prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.Dengan demikian masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masihada dan diakui keberadaannya, dapat melakukan kegiatan pengelolaan hutan dan pemungutan hasil hutan.

• Hak ulayat dan penguasaan tanah ulayat

Hak ulayat masyarakat hukum adat atas sumber daya air sebagaimanayang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber DayaAir dalam Pasal 6 ayat (3) tetap diakui sepanjang masih ada dimana penguasaannegara atas sumber daya air tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah dan/ataupemerintah daerah dengan tetap mengakui dan mengormati kesatuan-kesatuanmasyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya, seperti hak ulayatmasyarakat hukum adat setempat dan hak-hak yang serupa dengan itu, sepanjangmasih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

• Hak pengelolaan atas ladang atau perkebunan

Pengelolaan hak atas tanah untuk usaha perkebunan sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan tetap harus memperhatikan hak ulayat masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan tidak bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi serta kepentingan nasional.

Dalam hal perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup diatur dalam Pasal 63 ayat (1) huruf t yang berbunyi Pemerintah bertugas dan berwenang untuk menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Kemudian di dalam Pasal 63 ayat (2) huruf n juga dinyatakan bahwa Pemerintah Provinsi bertugas dan berwenang untuk menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat provinsi. Di tingkat Kabupaten/Kota sebagaimana lingkungan hidup pada tingkat provinsi. Di tingkat Kabupaten/Kota sebagaimana yang diatur dalam Pasal 63 ayat (3) huruf k bahwa Pemerintah Kabupaten/Kota berugas dan berwenang untuk melaksanakan kebijakan mengenai tata cara pengelolaan lingkungan hiduppada tingkat Kabupaten/Kota.

• Pengelolaan wilayah pesisir

Pasal 61 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menyatakan bahwa Pemerintah mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak masyarakat tradisional, dan kearifan lokal atas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun.

Oleh karena itu semua hak tradisional masyarakat hukum adatsekaligus merupakan hak konstutusional. Dalam perkembangannya, hak-hak tradisional masyarakat hukum adatyang ada berpotensi dilanggar. Oleh karena itu, kesatuan

masyarakat hukum adatdapat menjadi Pemohon sepanjang memenuhi syaratna yang ditentukan dalamUUD 1945 maupun undang-undnag lain. Selanjutnya Mahkamah berpendapatbahwa suatu kesatuan masyarakat hukum ada beserta hak- hak tradisionalnyasesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia apabila kesatuanmasyarakat hukum adat tersebut tidak mengganggu eksistensi Negara KesatuanRepublik Indonesia sebagai sebuah kesatuan politik dan kesatuan hukum, yaitu :

• Keberadaannya tidak mengancam kedaulatan dan integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan

• Substansi norma hukum adatnya sesuai dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-perundangan.

Berikut akan dipaparkan hak-hak tradisional masyarakat hukum adat yangdikelompokaan atas dua, yakni hak atas tanah masyarakat hukum adat dan hakdiluar hak atas tanah masyarakat hukum adat:

a. Hak Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat

Tanah mempunyai kedudukan yang penting bagi masyarakat hukum adat.Hal itu dikarenakan tanah merupakan satu-satunya benda kekayaan yangmeskipun mengalami keadaan yang bagaimanapun akan tetap dalam keadaansemula, malah kadang-kadang menjadi lebih menguntungkan dari segi ekonomis umpa manya: sebidang tanah itu dibakar, diatasnya dijatuhkan bom- bom, tentutanah tersebut tidak akan lenyap; setelah api padam ataupun setelah pembomanselesai sebidang tanah tersebut, akan muncul kembali, tetap berwujud tanahseperti semula. Kalau dilanda banjir, misalnya setelah airnya surut, tanah munculkembali sebagai sebidang tanah yang lebih subur dari semula.

Selain daripada itu, tanah juga merupakan tempat tinggal keluarga danmasyarakat, tempat mencari nafkah, sekaligus merupakan tempat dimanamasyarakat yang meninggal dunia dikuburkan. Sesuai dengan kepercayaan pulamerupakan tempat tinggal dewa-dewa pelindung dan tempat roh para leluhurbersemayam.Masyarakat hukum adat sebagai kesatuan dengan tanah yang diduduk inyamemiliki hubungan yang sangat erat. Hubungan tersebut bersumber padapandangan yang bersifat religius magis. Hubungan yang bersifat religius magis ini menyebabkan masyarakat hukum memperoleh hak untuk menguasai tanah tersebut, memanfaatkan tanah itu, memungut hasil dari tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas tanah itu, juga berburu terhadap binatang-binatang yang hidup disitu. Hak masyarakat hukum adat atas tanah itu disebut hak pertuanan atau hak ulayat, dan dalam literature hak ini oleh Van Vollenhoven disebut

beschikkingsrecht.

126

Wilayah kekuasaan (beschikkingebied) persekutuan itu adalah milik persekutuan yang pada asasnya bersifat tetap, artinya perpindahan hak milik atas wilayah ini adalah tidak diperbolehkan. Dalam kenyataannya terdapat

Menurut Bushar Muhammad, istilahbeschikkingsrecht dalam bahasa Indonesia merupakan suatu pengertian yang baru. Hal tersebut karena dalam bahasa Indonesia dan dalam bahasa daerah-daerah semua istilah yang dipergunakan mengandung pengertian lingkungan kekuasaan, sedangkan beschikkingsrecht itu menggambarkan tentang hubungan antara masyarakathukum dan tanah itu sendiri. Kini lazimnya dipergunakan istilah hak ulayatsebagai terjemahan beschikkingsrecht.

126

Dominikus Rato, Hukum Adat di Indonesia (suatu pengantar),laksbang justitia Suarabaya, Surabaya, 2014. Hal.84

pengecualian-pengecualian, oleh karenanya di atas tadi ditegaskan pada dasarnya bersifat tetap.

b. Hak Lain diluar Hak Atas Tanah

Menurut Teuku Djuned, setiap persekutuan masyarakat hukum adat mempunyai kewenangan hak asal usul, yang berupa kewenangan dan hak-hak:

• Menjalankan sistem pemerintahan sendiri;

• Menguasai dan mengelola sumberdaya alam dalam wilayahnya terutama untuk kemanfaatan warganya;

• bertindak ke dalam mengatur dan mengurus warga serta lingkungannya. Ke luar bertindak atas nama persekutuan sebagai badan hukum;

• hak ikut serta dalam setiap transaksi yang menyangkut lingkungannya; • hak membentuk adat;

• hak menyelenggarakan sejenis peradilan.

Hak masyarakat hukum adat dalam bidang ekonomi menarik untuk dicermati mengingat bahwa masyarakat hukum adat Indonesia merupakan negarayang multikultural. Keanekaragaman budaya, ras, maupun agama menyebabkan munculnya pluralisme hukum. Dalam konteks ini, pluralisme hukum yang dimaksud adalah hukum nasional dan hukum adat yang berlaku di masing-masing wilayah adat. Ironisnya, hak-hak yang berlaku pada masyarakat sering kali terkikis oleh adanya pemberlakuan hukum negara yang tidak jarang mengabaikan hak-hak kaum adat (hukum adat). Hal ini disebabkan karakteristik hukum negara yang sentralistik dan memaksa. Ideologi pembangunan seperti ini dikenal sebagai adanya model pembangunan hukum yang seperti ini (sentralistik)

merupakan pengingkaran terhadap pluralisme hukum. Hal ini dapat dilihat dari ruang yang diberikan terhadap hukum adat di dalam hukum nasional kurang proposional. Implikasinya, produk-produk hukum Negara (state law) tidak memberiruang bagi pengakuan dan perlindungan atas kepentingan masyarakat lokal (adat). Salah satu contohnya adalah pengaturan dalam hukum agraria.

Secara teoritis, UUPA dikatakan berdasarkan hukum adat, akan tetapi dalamkonteks tersebut yang dikatakan “hukum adat” adalah hukum adat yang tidak bertentangan dengan dengan hukum nasional. Jadi, jika terdapat hukum adat yang bertentangan dengan orientasi hukum nasional sering kali hal ini dianggap menghambat proses pembangunan terutama pembangungan ekonomi.

Undang–undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara tidak mengatur secara eksplisit hubungan penyelesaian dengan tanah ulayatmasyarakat hukum adat. Hal ini berbeda dengan Undang-Undang mengenai sumberdaya alam lainnya yang turut mengakomodir eksistensi masyarakat hukum adat,sekalipun ketentuannya pun masih perlu dikaji dan di judicial review (UU Kehutanan,UU Sumber Daya Air, UU Perkebunan, UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dan UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup). Dalam UUNomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara pun, sebetulnyatelah diamanahkan bahwa perusahaan pertambangan memiliki kewajiban untukmenyelesaikan sengketa dengan pemegang hak atas tanah sebelum dapat melakukan kegiatan Eksplorasi.

Filosofi UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara adalah negara dalam hal ini pemerintah Indonesia, memosisikan diri lebih tinggidibanding pelaku usaha. Artinya apabila pemegang IUP, IPR, maupun

IUPKmelakukan kesalahan, negara bisa langsung mencabut izin tersebut. Hal ini berbedadengan sistem Kontrak Karya. Filosofi lainnya adalah seluruh cadangan mineralbatubara sepenuhnya dikuasai negara yang pengelolaannya diprioritaskan padaBUMN, meningkatkan nilai tambah dengan mewajibkan pengolahan bahan tambangdi dalam negeri, meningkatkan local content, dan memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.

Secara teoritis, operasi tambang dibagi menjadi dua bentuk yakni open

pit(penambangan terbuka) dan underground (penambangan bawah tanah,

termasukpengelolaan dengan model gua-gua). Bentuk-bentuk ini mempengaruhi jenis pengelolaan dan pengusahaan tambang yang pada akhirnya juga turut mempengaruhikondisi sosial secara langsung maupun tidak langsung. Kondisi sosial yangdimaksud salah satunya adalah berkaitan dengan efek yang akan dialami olehmasyarakat hukum adat serta hak ulayatnya yang berada di kawasan pertambangan.Apalagi tercatat, pertambangan menduduki peringkat ketiga sebagai konflik sumber daya alam dengan luas lahan seluas 197.365,90 ha.

Kegiatan pertambangan merupakan kegiatan dari hulu ke hilir, yang dalamPasal 1 ayat (2) menyebutkan bahwa:

“Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan,konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang”.

Tertulis diatas bahwa kegiatan pertambangan merupakan kegiatan skala nasional yang dapat mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secaraberkeadilan. Maria mengungkapkan bahwa perwujudan keadilan sosial dalam bidangpertanahan dapat dilihat pada prinsip – prinsip dasar UUPA, yakni“prinsip „negara menguasai.. merupakan prinsip penghormatan terhadap hak

atas tanah masyarakat hukum adat,asas gungsi sosial semua hak atas tanah, prinsip landreform, prinsip perencanaandalam penggunaan tanah dan upaya pelestariannya, dan prinsip nasionalitas. Keadilansosial pun harus diwujudkan manakala terdapat problematika pada sengketa hak atastanah ulayat dengan perusahaan pertambangan. Sedangkan Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi,studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutandan penjualan, serta pascatambang.

Kegiatan pertambangan tersebut merupakan kegiatan yang komprehensif dan memerlukan luas tanah yang tidak sempit. Sehingga terkait dengan kegiatan pertambangan, khususnya pada Pasal 135 sampai dengan Pasal 138 UU No 4 Tahun2009 yang menyinggung mengenai kepemilikan tanah oleh perusahaan pertambanganselama kegiatan pertambangan bukan merupakan hak milik, yakni:

Pasal 135

“Pemegang IUP Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi hanya dapat melaksanakan kegiatannya setelah mendapat persetujuan dari pemegang hak atas tanah”.

Pasal 136

“Pemegang IUP atau IUPK sebelum melakukan kegiatan operasi produksi wajib menyelesaikan hak atas tanah dengan pemegang hak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pada penjelasan Pasal 135 hanya disebutkan mengenai alasan mengapa perusahaan pertambangan harus mendapatkan persetujuan dari pemegang hak atastanah, yakni untuk menyelesaikan lahan-lahan yang terganggu oleh kegiatan eksplorasiseperti pengeboran, parit uji, dan pengambilan contoh. Tidak dijelaskan lebih lanjuthak atas tanah apa saja yang dapat dimintai persetujuan. Pasal 135 secara tidaklangsung merupakan bentuk pembiaran negara untuk masyarakat

hukum adat agarface to face atau berhadapan langsung dengan perusahaan pertambangan dalammempertahankan hak ulayatnya. Posisi masyarakat hukum adat yang lemah akan cenderung diperlakukan sewenang–wenang, seperti banyak kasus yang telah terjadi.

Melalui pasal diatas, terlihat bahwa negara Pemerintah “melepaskan” tanggung jawab dari penyelesaian sengketa tanah hak ulayat yang akan digunakanuntuk kegiatan usaha pertambangan. UU No. 4 Tahun 2009 menghendaki agarperusahaan pertambangan menyelesaikan sendiri. Secara yuridis, kedudukan hukumkeduanya sama kuat, secara historis, masyarakat hukum adat merupakan entitas yangterlebih dahulu mendiami tanah diIndonesia, namun secara implementatif, kekuatanpengusaha pertambangan seringkali lebih kuat.Selanjutnya Maria W. Sumardjono menyatakan pengakuan hak ulayatadalah wajar, karena hak ulayat beserta masyarakat hukum adat telah ada sebelumterbentuk Negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Di satu sisi kebutuhan atas tanah di kehidupan manusia menjadi sesuatu yang tidak bisa dihilangkan, namun di sisi lain tanah juga menjadi syarat wajib untukkepentingan atas nama pembangunan, kepentingan sosial, dan modernisasi. Dalamperspektif tersebut, terlihat bahwa status hukum kegiatan usaha pertambangan padakawasan hak ulayat masyarakat hukum adat memerlukan pengkajian pada tingkatanketepatan pengaturannya, termasuk ketersediaan regulasi tentang hubungan antarahak atas tanah dan penggunaan tanah ulayat untuk kegiatan pertambangan.UUPA memegang kuat konsep bahwa pemilik hak ulayat adalahmasyarakat hukum adat. Hal ini terlihat dalam Pasal 3 UUPA yang menyebutkan “Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1 dan 2

pelaksanaan Hak Ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.” Dalam pengertian ini terutarakan dengan jelas bahwa hak ulayat adalah milik masyarakat hukum adat. Pemahaman serupa juga dianut oleh UUPA dengan mengatakan bahwa masyarakat hukum adat yang memiliki hak ulayat dilarang untuk menghalang-halangi pemberian hak guna usaha (HGU) atau menolak pembukaan hutan untuk keperluan penambahan bahan makanan dan pemindahan penduduk (Penjelasan Umum II angka 3). Dengan menggunakan konsep tersebut, UUPA sekaligus mengakui keberadaan masyarakat hukum adat selaku subyek yang memiliki hak ulayat (obyek). Hak ulayat sebagai obyek tidak mungkin ada tanpa keberadaan masyarakat hukum adat sebagai subyek.

Pada pasal 135 dengan tegas telah disampaikan bahwa terdapat syarat mutlak bahwa perusahaan pertambangan baru dapat melaksanakan kegiatannya setelahmendapatkan persetujuan dari pemegang hak atas tanah. Tidak disebutkan secarajelas bagaimana persetujuan yang dimaksud, apakah persetujuan lisan saja cukupataukah melalui persetujuan tertulis pula. Namun hal ini dapat diserakan kepadamasing-masing pemegang hak atas tanah, yang terutama pada masyarakat hukumadat memiliki ketentuan masing-masing bagi orang asing yang akan menggunakan tanah ulayatnya. Pasal ini menegaskan bahwa UU Minerba memiliki keterkaitan dengan UUPA dan peraturan perundang – undangan terkait dengan tanah, sekalipun dalamkonsidrans tidak merujuk pada UUPA. Dalam

UUPA sendiri di kenal beberapa jenisHak Atas Tanah sebagaimana disebutkan dalam Pasal 16 UUPA yakni hak milik, hakguna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak sewa, hak membuka tanah, dan hakmemungut hasil hutan. Serta dalam Pasal 3 yakni hak ulayat dan hak-hak yang serupaitu dari masyarakat hukum adat. Ketentuan pada pasal–pasal diatas mengamanahkanperusahaan pertambangan untuk menyelesaikan hak atas tanah dengan para pemegang hak. Apabila hak atas tanah itu berupa hak milik, maka tidak terlalu sulitbagi perusahaan pertambangan untuk menyelesaikan secara administratif.

Namun, apabila berupa tanah ulayat yang tidak memiliki bukti administratif, pedomanpenyelesaiannya terdapat pada Peraturan Menteri Agraria/Kepada Badan PertanahanNasional Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak UlayatMasyarakat Hukum Adat yakni dengan cara pelepasan hak.

Melalui Pasal 135 UU Minerba, dapat terlihat bahwa negara cenderung membiarkan pengusaha pertambangan untuk menyelesaikan sendiri persoalansengketa hak atas tanah ulayat dengan masyarakat adat. Konsekuensinya adalahproses face to face atau berhadapan langsung antara pengusaha pertambangan denganmasyarakat hukum adat rawan menimbulkan konflik. Sekalipun secara yuridiskedudukan keduanya sama-sama diakui oleh hukum, namun secara implementasi,perusahaan pertambangan merupakan pihak yang memiliki power atau kekuatan yanglebih tinggi dibandingkan masyarakat hukum adat. Hal ini mencederai amanahkonstitusi bahwa negara berkewajiban untuk memberikan perlindungan kepadaseluruh masyarakat, termasuk masyarakat hukum adatnya. Padahal sebetulnya,Peraturan Menteri Agraria 5/1999 memberikan kewenangan kepada instansi pemerintah untuk turun tangan

menyelesaikan sengketa tanah ulayat. Selain itu,amanah keterlibatan negara juga terdapat pada TAP MPR No IX/MPR/2001 tentangPembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.

Pembiaran negara dalam penyelesaian sengketa tanah ulayat dengan perusahaan pertambangan inilah yang menjadi penyebab kedudukan hukum hak atastanah masyarakat hukum adat yang telah kuat dalam tataran yuridis, menjadi sangatlemah dalam tataran implementasi. Hal ini juga disebabkan, terdapat permasalahansaat penentuan Wilayah Pertambangan. Wilayah Pertambangan merupakan variabelpaling dasar dan awal sebelum pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikanIUP atau IUPK kepada pengusaha pertambangan.

Terkait dengan penentuan Wilayah Pertambangan, Mahkamah Konstitusi melalui putusan Nomor 32/PUU-VIII/2010 pun menentukan bahwa negara yangmana dalam hal ini dijalankan oleh Pemerintah, dalam menetapkan Wilayah Pertambangan harus memperhatikan syarat-syarat berikut:

a. menyesuaikan dengan tata ruang nasional dan berorientasi padapelestarian lingkungan hidup;

b. memastikan bahwa pembagian ketiga bentuk wilayah pertambangan yaitu WUP, WPR, dan WPN tersebut tidak boleh saling tumpang tindih, baikdalam satu wilayah administrasi pemerintahan yang sama maupunantarwilayah administrasi pemerintahan yang berbeda;

c. menentukan dan menetapkan terlebih dahulu WPR, setelah itu WPN,kemudian WUP;

d. wajib menyertakan pendapat masyarakat yang wilayah maupun tanahmiliknya akan dimasukkan ke dalam wilayah pertambangan danmasyarakat yang akan terkena dampak.

Kini telah terdeteksi sebanyak 324 daerah memiliki cakupan luas lahan sebesar 2.643.261,09 hektare (ha), yang merupakan peta wilayah adat. Tumpangtindih lahan, akan menjadi permasalahan yang tidak dapat terhindarkan. Setidaknya dalam hal pengakuan hak–hak adat atas tanah serta penyelesaian sengketa tumpangtindih lahan dalam sektor agraria dan sumber daya alam, Pasal 5 ayat (1) poin a dand, serta ayat (2) poin a s/d e TAP MPR Nomor IX/MPR/2001Ketetapan MPR No. IX/2001/MPR tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam menyebutkan:

Huruf a

“Arah kebijakan pembaruan agraria adalah melakukan pengkajian ulang terhadap berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan agraria dalam rangka sinkronisasi kebijakan antarsektor demi terwujudnya