• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : ANALISA HAK-HAK PEREMPUAN DALAM

3.1. Hak Perpolitikan Perempuan Yang Diatur Dalam

Undang-Undang Dasar (selanjutnya ditulis UUD) 1945 merupakan konstitusi sebagai dasar pijakan penerapan hukum di Indonesia. Konstitusi mengatur hak-hak warga negara pada prinsipnya dibangun atas dasar dan asas persamaan hak, baik hak hukum (equality before the law) maupun hak politik yang sama (political equality). Berdasarkan prinsip equality before

the law, semua warga negara berhak mendapat perlakuan yang sama di

bawah hukum. Untuk itu, hak mendapat perlakuan yang sama di mata hukum tidak diartikan sempit, melainkan berlaku umum, termasuk hak yang diakui oleh hukum mendapatkan hak politik, hak perlindungan hukum, dan lainnya.1 Sementara itu, prinsip pilitical equality dimaksudkan semua warga memiliki hak yang sama dalam soal politik, baik hak berorganisasi (right of association), berbicara (speech), maupun hak memilih maupuh dipilih (the right to vote and the right to he candidate).2

Prinsip political equality secara khusus sejalan dengan konstitusi Indonesia dalam memberi peluang bagi setiap warga negara yang memiliki keinginan dan kemampuan berpartisipasi membangun negara menjadi lebih baik. Hak politik secara khusus tidak hanya diperuntukkan bagi

1Lihat, Abdul Manan, Mahkamah Syar’iyah Aceh dalam Politik Hukum Nasional, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2018), hlm. 49.

2M. Anwar Rachman, Hukum Perselisihan Partai Politik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2016), hlm. 52: Pengakuan hak perempuan untuk memilih dan dipilih tersebut juga telah dikuatkan oleh MK, bahwa kedua hak tersebut dijamin dalam konstitusi Indonesia. Lihat, Pranoto Iskandar, Hukum HAM Internasional: Sebuah Pengantar Kontekstual, (Tp: IMR Press, 2012), hlm. 228.

sekelompok orang tertentu, atau berdasarkan jenis kelamin, konstitusi justru mengakui semua warga, termasuk perempuan hak berpolitik, mulai dari partisipasi menjadi kepala negara, berhak mendapatkan akses yang besar terhadap proses keparlemenan, menjadi wakil-wakil rakyat, termanifestasi dalam keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), termasuk di jajaran kementerian. Dengan kata lain bahwa perempuan memiliki peluang dan hak yang sama dalam perpolitikan untuk meduduki kekuasaan legislatif maupun eksekutif. Hipotesa awal bahwa perempuan dalam kontitusi diakui. Hak perpolitikan perempuan dalam konsitusi Indonesia diketahui dari bahasa yang digunakan dalam konstitusi itu sendiri. Di mana, hak-hak yang diatur dalam konsitusi tidak menyebut jenis kelamin tertentu, yang ada hanya istilah “orang-orang”, “seluruh rakyat”, “penduduk”, “tiap-tiap warga

negara”, “segala warga negara”, “tiap-tiap orang”, dan istilah “setiap orang”. Ini menunjukkan bahwa konstitusi Indonesia sebetulnya bebas

diskriminasi, sebaliknya lebih menekankan pada persamaan yang dimiliki perempuan dengan laki-laki dalam semua aspek, termasuk dalam soal hak perpolitikan.

Sejauh amatan penulis, konstitusi atau UUD 1945 Indonesia cukup menjadi acuan bahwa perempuan memiliki hak yang kuat dan tegas dalam bidang politik, baik hak untuk dipilih menjadi bagian dari pemimpin negara, seperti presiden, wakil presiden, dan seluruh jabatan kementerian, maupun untuk dipilih menjadi wakil rakyat dalam bidang legislatif. Penulis dalam hal ini membatasi hak perpolitikan perempuan dalam konstitusi Indonesia menjadi dua bagian umum, yaitu hak politik untuk bisa berpartisipasi menjadi bagian dalam keanggotaan legislatif dan eksekutif. Karena hak politik di sini bagian dari hak perempuan turut serta dalam pemerintahan dan kekuasaan, maka termasuk di dalamnya adalah

keanggotaan legislatif maupun eksekutif. Masing-masing uraiannya disajikan dalam poin-poin berikut ini:

1. Hak Politik Bidang Legislatif

Bidang legislatif dalam ilmu tata pemerintahan adalah bidang yang sangat menentukan arah politik dan kebijakan. Dalam konteks tata negara dan pemerintahan, posisi legislatif sebetulnya sejajar dengan eksekutif dari segi kedudukannya sebagai pihak yang memegang tampuk kekuasaan negara. Mahfud dan Jimly menyebutkan legislatif bagian dari cabang kekuasaan sebagai representasi dari kedaulatan rakyat, terdiri dari DPR dan DPD.3 Karenanya, barangkali tidak berlebihan jika dinyatakan bahwa orang yang menduduki jabatan legislatif tersebut haruslah dari wakil-wakil rakyat yang dipilih dari orang-orang terbaik.

Dalam konteks hak politik untuk dapat dipilih menjadi anggota legislatif, baik DPR maupun DPD, konsitusi (UUD 1945) tidak membatasi hak perempuan. Artinya, perempuan diberi peluang yang relatif cukup lebar sebagaimana laki-laki. Di bidang jabatan DPR, Konsitusi mengaturnya tepat pada Pasal 19, BAB VII tentang DPR. Dalam pasal tersebut memang tidak mengatur secara rinci hak politik perempuan maupun hak politik laki-laki. Hanya saja, konstitusi cenderung menyebutkan garis-garis umum saja, dan kemudian ditafsirkan kembali melalui undang-undang di bawahnya. Minimal, hak politik perempuan dalam konstitusi mengacu pada dua ketentuan umum, masing-masing disebutkan dalam Pasal 19 Ayat (1) dan Ayat (2) sebagai berikut:

3Lihat, Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2017), hlm. 389: Bandingakan dengan, Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Cet. 9, (Jakarta: Rajawali Pers, 2017), hlm. 298.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dipilih melalui pemilihan umum (Ayat 1).

Susunan Dewan Perwakilan Rakyat diatur dengan undang-undang (Ayat 2).

Mencermati ketentuan umum di atas, dapat diketahui bahwa anggota DPR dipilih melalui pemilihan umum. Ini artinya, wakil-wakil rakyat yang menjadi anggota DPR bisa dari kalangan perempuan. Perempuan memiliki peluang yang sama dengan laki-laki sebagai pihak “right to the candidate”, yaitu berhak untuk dipilih melalui pemilihan umum. Hanya saja, untuk menafsirkan ketentuan di atas, dibutuhkan kembali landasan undang-undang yang mengaturnya secara lebih rinci. Undang-undang yang bicara soal susunan DPR sebagaimana maksud Pasal 19 Ayat (2) di atas diterjemahkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, tepatnya Pasal 245, jo Pasal 243, jo Pasal 241 menyebutkan bahwa keterwakilan perempuan paling sedikit 30%. Masing-masing dapat dirinci sebagai berikut:

a. Keanggotaan DPR paling sedikit 30%

b. Keanggotaan DPR Daerah Provinsi paling sedikit 30% c. Keanggotaan DPR Daerah Kabupaten atau Kota paling

sedikit 30%

Berdasarkan ketentuan di atas, perempuan diberi hak untuk ikut berparsisipasi mengisi keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat, baik di tingkat Pusat, Provinsi, maupun Kabupaten/Kota minimal 30%. Angka ini sebetulnya bentuk usaha dari pemerintah dalam memberi peluang bagi masyarakat—khususnya perempuan— memenuhi haknya, atau dalam istilah lain disebutkan kebijakan

afirmastif (affirmative action).4 Tindakan atau kebijakan afirmatif ini merupakan kebijakan yang diambil yang bertujuan agar kelompok/golongan tertentu memperoleh peluang yang setara dengan kelompok/golongan lain dalam bidang yang sama. Dalam konteks politik, tindakan afirmatif dilakukan untuk mendorong agar jumlah perempuan di lembaga legislatif lebih representatif.

Fakta dari keterwakilan perempuan dalam perpolitikan terbukti dengan data-data pada tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2004-2009, keterwakilan perempuan di DPR sebanyak 62 orang (11 %), dan tahun 2009-2014 terjadi peningkatan yang cukup signifikan, yaitu 101 perempuan (18% dari 560 anggota DPR).5

Demikian pula dalam konteks DPD, perempuan juga memiliki peluang besar untuk menduduki jabatan Dewan Perwakilan Daerah. Konsitusi Indonesia secara khusus menetapkan aturan DPD ini dalam BAB VIIA tentang Dewan Perwakilan Daerah, yaitu pada Pasal 22C sebagai berikut:

4Istilah “affirmative action” secara sederhana dimaknai sebagai langkah-tindak yang dilakukan untuk mencapai persamaan kesempatan dan perlakuan bagi perempuan dan laki-laki. Lihat, Sulistyowati Irianto, Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum yang Berperspektif Kesetaraan dan Keadilan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006), hlm. 88: Menurut Albert dan Nicholas, definisi umum tentang “affirmative action” tidak ditemukan hanya saja istilah tersebut merupakan istilah yang memberi maksud pemberian kesempatan kepada orang untuk masuk dalam perpolitikan dan tidak ada diskriminasi. Demikian pula ditemukan dalam rumusan Taylor, dikutip oleh Bernard: “affirmative action refers to specific steps beyond ending discriminatoty practices that are taken to promote equal opportunity and ensure that discrimination will not recur”, lebih kurang maknanya bahwa “affirmative action” atau kebijakan dan tindakan afirmatif merupakan langkah-langkah khusus yang dilakukan untuk mengurangi praktik diskriminasi, serta usaha untuk memberikan kesempatan yang sama dan memastikan bahwa diskriminasi tidak akan terulang kembali. Masing-masing lihat dalam, Albert G. Mosley dan Nicholas Capaldi, Affirmative Action: Social Justice Or Unfair Preference?, (London: RLP.Inc, 1996), hlm. 67: Bandingkan dengan, Ronnie Bernard Tucker, Affirmative Action, the Supreme Court, and Political Power in the Old Confederacy, (New York: University Press of America, 2000), hlm. 17.

5Jumlah tersebut dimuat dalam “PMBG Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak”. Lihat, Ida Fauziyah, Geliat Perempuan Pasca-Reformasi; Agama, Politik, Gerakan Sosial, (Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2015), hlm. 97.

“ Anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum (Ayat 1).

“ Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama dan jumlah seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (Ayat 2).

“ Dewan Perwakilan Daerah bersidang sedikitnya sekali dalam setahun (Ayat 3).

“ Susunan dan kedudukan Dewan Perwakilan Daerah diatur dengan undang-undang (Ayat 4).6

Ketentuan di atas juga memberi gambaran umum, bahwa anggota DPD dipilih melalui pemilihan umum, baik berasal dari laki-laki maupun perempuan. Tafsiran ketentuan di atas kemudian dikonfirmasi dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, tepatnya pada “Bagian Ketiga Peserta Pemilu DPD”. Ketentuannya dapat disajikan dalam rumusan berikut:

“Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPD adalah perseorangan (Pasal 181).

“ Perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 dapat menjadi Peserta Pemilu setelah memenuhi persyaratan: a. Warga Negara Indonesia yang telah berumur 21 (dua puluh

satu) tahun atau lebih.

b. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

c. Bertempat tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

d. Dapat berbicara, membaca, dan/atau menulis dalam bahasa Indonesia

e. Berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas madrasah aliyah, sekolah menengah kejuruan, madrasah aliyah kejuruan, atau sekolah lain yang sederajat

f. Setia kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika

g. Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih, kecuali secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan terpidana

h. Sehat jasmani dan rohani, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika

i. Terdaftar sebagai Pemilih j. Bersedia bekerja penuh waktu

k. Mengundurkan diri sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah, Kepala Desa dan perangkat desa, Badan Permusyawaratan Oesa, aparatur sipil negara, anggota Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada hadan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah danjatau badan usaha milik desa, atau barlan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara, yang dinyatakan dengan surat pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali

l. Bersedia untuk tidak berpraktik sebagai akuntan publik advokat, notaris, pejabat pembuat akta tanah, dan/atau tidak melakukan pekerjaan penyedia barang dan jasa yang berhubungan dengan keuangan negara serta pekerjaan lain yang dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan tugas wewenang, dan hak sebagai anggota DPD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

m. Bersedia untuk tidak merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara

n. Mencalonkan hanya untuk 1 (satu) lembaga perwakilan o. Mencalonkan hanya untuk 1 (satu) daerah pemilihan; dan p. Mendapatkan dukungan minimal dari Pemilih di daerah

pemilihan yang bersangkutan. (Pasal 182)

Syarat-syarat keanggotaan DPD RI di atas cukup jelas dipahami, di mana perempuan memiliki peluang yang sama untuk menjadi nomor 1 sebagai orang pilihan yang mewakili daerah provinsi. Ini menunjukkan, hak politik perempuan dibuka lebar dalam bidang keanggotaan legislatif, khusus dalam bidang perwakilan daerah.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat diketahuia bahwa konsitusi Indonesia menetapkan perempuan memiliki peluang dan hak yang sama seperti laki-laki dalam keikutsertaan dalam perpolitikan, khususnya dalam keanggotaan legislatif. Baik DPR RI, DPR Provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota masing-masing diberikan hak paling sedikit keterwakilan perempuan sebanyak

30%, jumlah ini tentu tidak sedikit, bahkan jumlah itu bukanlah batasan maksimal, melainkan batasan minimal. Mau tidak mau, setiap partai politik harus menyertakan keterwakilan perempuan di dalam partainya untuk kemudian usung menjadi anggota DPR. 2. Hak Politik Bidang Eksekutif

Bidang eksekutif adalah cabang kekuasaan yang memegang kewenangan administrasi pemerintahan negara yang tertinggi.7 Dalam konteks ini, eksekutif dapat pula disebut sebagai pemimpin atau kepala negara, termasuk bidang-bidang kementerian yang dibentuk oleh presiden.

Hak perempuan untuk memangku jabatan eksekutif juga diberi peluang yang cukup besar. Konstitusi Indonesia memberikan hak sepenuhkan kepada setiap warganya untuk berpartisipasi dalam urusan pemerintahan sebagaimana maksud Pasal 28D Ayat (3) UUD 1945: “Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan

yang sama dalam pemerintahan”. Perempuan dalam arti yang

khusus merupakan warga negara yang dimaksud dalam pasal tersebut, juga memiliki hak politik untuk ikut dipilih menjadi bagian dari anggota pemerintah, bahkan orang nomor 1 di Indonesia, yaitu presiden. Hal ini tentu diusung oleh partai politik tertentu sebagai representasinya.

Ketentuan konstitusi tersebut kuat dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pada Pasal 46 disebutkan:8 “Sistem pemilihan umum, kepartaian, pemilihan

7Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu..., hlm. 323.

8UU HAM dalam konsiderannya memuat UUD 1945 sebagai dasar pembentukan pasal-pasal yang memuat Hak Azazi Manusia. Ini menunjukkan UU HAM merupakan penjabaran dari ketentuan umum konstitusi (UUD 1945).

anggota badan legislatif, dan sistem pengangkatan di bidang eksekutif, yudikatif, harus menjamin keterwakilan wanita sesuai persyaratan yang ditentukan”.

Lebih jelas, syarat-syarat untuk menduduki jabatan presiden dan wakil presiden disebutkan dalam Pasal 6 UUD, yaitu:

“ Ayat (1) Calon Presiden dan calon Wakil Presiden harus seorang warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri, tidak pernah mengkhianati negara, serta mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Ayat (2) Syarat-syarat untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden diatur lebih lanjut dengan undang-undang”.

Syarat seperti tersebut dalam Ayat (1) bersifat umum. Ini menandakan bahwa siapapun warga negara, tidak menkhianati negara, mampu secara rohani dan jasmani, dapat menjadi presiden. Melalui ketentuan tersebut, perempuan dalam konteks ini juga diberi hak untuk dipilih menjadi presiden jika memenuhi syarat umum tersebut. Sementara itu, syarat yang lebih lugas dan rinci kemudian dijelaskan kembali dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum, tepatnya pada Pasal 169 sebagai berikut:9

“ Persyaratan menjadi calon Presiden dan calon Wakil Presiden adalah:

a. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

b. Warga Negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendaknya sendiri

c. Suami atau istri calon Presiden dan suami atau istri calon Wakil Presiden adalah Warga Negara Indonesia

d. Tidak pernah mengkhianati negara serta tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi dan tindak pidana berat lainnya;

e. Mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden serta bebas dari penyalahgunaan narkotika

f. Bertempat tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

g. Telah melaporkan kekayaannya kepada instansi yang berwenang memeriksa laporan kekayaan penyelenggara negara

h. Tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggung jawabnya yang merugikan keuangan negara

i. Tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan

j. Tidak pernah melakukan perbuatan tercela

k. Tidak sedang dicalonkan sebagai anggota DPR, DPD, atau DPRD

l. Terdaftar sebagai Pemilih.10

m. Memiliki nomor pokok wajib pajak dan telah melaksanakan kewajiban membayar pajak selama 5 (lima) tahun terakhir

yang dibuktikan dengan surat pemberitahuan tahunan pajak penghasilan wajib pajak orang pribadi

n. Belum pernah menjabat sebagai Presiden atau Wakil Presiden selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama

o. Setia kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika

p. Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusari pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih

q. Berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun.

r. Berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas, madrasah aliyah, sekolah menengah kejuruan, madrasah aliyah kejuruan, atau sekolah lain yang sederajat

s. Bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung dalam G.30.S/PKI; dan

t. Memiliki visi, misi, dan program dalam melaksanakan pemerintahan negara Republik Indonesia.11

Mencermati uraian di atas, tidak dibatasi presiden hanya dari laki-laki, artinya perempuan memiliki hak dan kesempatan untuk menjadi presiden mupun wakil presiden. Kuatnya kedudukan perempuan sebagai pihak yang dapat dipilih sebagai badan eksekutif, seperti presiden dan wakil presiden juga dapat dicermati dari poin huruf c di atas. Dalam redaksinya disebutkan: “Suami

atau istri calon Presiden dan suami atau istri calon Wakil Presiden adalah Warga Negara Indonesia”. Kalimat ini memberi maksud

bahwa laki-laki atau perempuan yang menjadi calon presiden adalah memiliki status sebagai warga negara. Lebih-lebih lagi, terbukti bahwa Indonesia pernah dijabat oleh seorang presiden perempuan yaitu Megawati Soekarno Putri sebagai presiden ke-5 Indonesia. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konstitusi Indonesia memberi peluang bagi setiap warga negara, tidak terkecuali perempuan, untuk ikut serta dalam pemerintahan, termasuk menjadi eksekutif, yaitu presiden dan wakil presiden. Berdasarkan dua poin pembahasan di atas, dapat diulas kembali bahwa Konstitusi Indonesia, yaitu Undang-Undang Dasar 1945 memberi hak bagi perempuan untuk ikut serta dalam perpolitikan, yaitu hak untuk dapat dipilih dan ikut serta dalam pemerintahan. Hak-hak tersebut diakui dalam undang-undang yang berada di bawahnya, yaitu undang-undang pemilu dan undang-undang hak asasi manusia. Hak perpolitikan perempuan di sini tidak sebatas menduduki jabatan legislatif, seperti DPR, DPRD Provinsi maupun kabupaten kota, atau DPD, tetapi perempuan bersamaan dengan hak yang melekat padanya untuk turut serta dan ikut dalam memimpin negara sebagai presiden.

3.2. Tinjauan Siyāsah Syar’iyyah terhadap Hak Perpolitikan

Dokumen terkait