BAB III : HAK PREOGRATIF PRESIDEN DALAM SISTEM
3. Hak Prerogratif Presiden Dalam Undang-Undang
Umur negara federal Republik Indonesia di bawah Konstitusi Republik Indonesia Serikat ternyata tidak dapat bertahan lama. Bangsa Indonesia kembali memilih bentuk negara kesatuan di bawah konstitusi baru, yang diberi nama “Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia”223.
Proses perubahan Konstitusi Republik Indonesia Serikat menjadi Undang-Undang Dasar Sementara itu dilakukan secara formal dengan undang-undang. Dengan Undang-Undang Federal No. 7 Tahun 1950224, ditetapkanlah perubahan Konstitusi
221 Pasal 182 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat. 222 Pasal 182 Ayat (3) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat.
223 Kembalinya negara Republik Indonesia ke dalam bentuk negara kesatuan dilukiskan oleh
sejarawan Anhar Gonggong sebagai berikut: “..walaupun hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) diterima oleh bangsa dan pemerintah republik Indonesia, namun, tampaknya hanya setengah hati. Hal ini terbukti dengan timbulnya perbedaan dan pertentangan di antara kekuatan politik yang ada di Republik Indonesia. Dua kekuatan besar saling berhadapan, yaitu yang anti Negara Federal RIS (Pendukung Negara Kesatuan Rzepublik Indonesia) dan pendukung Negara Federal RIS. Kedua belah pihak saling menuduh... Adanya sikap kuat menentang RIS itu, pastilah disebabkan oleh karena sikap Letnan Gubernur Jenderal Belanda “di Indonesia”, Van Mook, yang secara langsung melakukan kegiatan pembentukan negara-negara bagian, yang kelak akan menjadi anggota negara-negara bagian di dalam RIS yang sedang dirancangnya. Jadi, di dalam pandangan kaum nasionalis Indonesia non kooperasi, pembentukan RIS dan dimasukkan ke dalam ketentuan persetujuan KMB, merupakan “Strategi” pemerintah kolonial Belanda untuk mempertahankan kekuasaan, setidak-tidaknya pengaruhnya di negara Republik Indonesia. Golongan nasionalis non kooperasi sama sekali menolak ide federasi dalam bentuk negara RIS itu. Baca: Anhar Gonggong, Menengok Sejarah Konstitusi Indonesia, Jakarta: Ombak & Media Presindo, 2002, hal.23-24.
Republik Indonesia Serikat menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia, berdasarkan, pasal 127a, pasal 190, dan pasal 191 ayat (2) Konstitusi Republik Indonesia Serikat225.
Perubahan Konstitusi Republik Indonesia ke Undang- Undang Dasar Sementara 1950 itu mecakup perubahan mukaddimah dan bentuk negara, yaitu dari bentuk negara federal ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sungguhpun terjadi perubahan bentuk negara dan sistem pemerintahan, namun wilayah negara Republik Indonesia masih tetap utuh226.
Keluarnya Undang-Undang Federal No. 7 tersebut diawali dengan ditandatangani Piagam Persetujuan oleh Pemerintah Negara Republik Indonesia Serikat dan Pemerintah Negara Republik Indonesia pada tanggal 19 Mei 1950, untuk bersama- sama melaksanakan negara kesatuan sebagai jelmaan Negara Republik Indonesia berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945, untuk itu akan diperlakukan sebuah Undang-Undang Dasar Sementara227. Pada tanggal 15 Agustus 1950, Presiden Soekarno
mengeluarkan “Piagam Pernyataan”, yang menyatakan kepastian bahwa tanggal 17 Agustus 1950, susunan Unitaris sudah kembali meliputi seluruh wilayah Indonesia. Piagam pernyataan itu berbunyi sebagai berikut228 ;
“ Dengan ini kami beritahukan kepada rapat gabungan D.P.R. dan Senat R.I.S. bahwa rentjana undang-undang untuk mengubah Konstitusi sementara R.I.S. mendjadi undang-undang dasar sementara Republik Indonesia jang disusun oleh Pemerintah dengan persetudjuan pemerintah-
225Pasal 127 a mengatur kekuasaan perundang-undangan federal dilakukan oleh Pemerintah
bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat; pasal 190 dan pasal 191 mengatur cara perubahan konstitusi yang antara lain menyebutkan bahwa perubahan konstitusi ini harus dengan undang-undang federal, dan pengumuman resmi perubahan itu oleh pemerintah.
226Taufiqurrohman Syahuri, Hukum Konstitusi; ....,Ghalia Indonesia,hal. 126.
227 Joeniarto, Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia, Bina Aksara, Jakarta, 1984, hal. 70-71. 228Muhammad Yamin, Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Yayasan Prapanca,
pemerintah daerah-daerah bahagian R.I.S. telah diterima baik oleh D.P.R. dan Senat dalam rapatnja tanggal 14 Agustus 1950. Pada hari ini tanggal 15 Agustus naskah undang-undang tersebut telah Kami tandatangani dan ditandatangani serta oleh Perdana Menteri dan Menteri Kehakiman R.I.S. serta diumumkan oleh Menteri Kehakiman. Berdasarkan Prokla-masi Kemerdekaan Indonesia 17 Aguatus 1945 maka Kami atas noma rakjat dan tingkatan perdjuangan kemerdekaan sekarang ini menjatakan sebagai perubahan dalam negeri, terbentuknja Negara Kesatuan Republik Indonesia jang meliputi seluruh Tanah Air dan segenap bangsa Indonesia”.
Berikut beberapa hal yang mengatur tentang kekuasaan Presiden di dalam Undang-Undang Dasar Sementara 1950 ini, Presiden di beri kekuasaan untuk membentuk Kementrian- kementrian229. Presiden mengangkat seorang daripadanya
menjadi Perdana Menteri dan mengangkat menteri-menteri yang lainnya230. Pengangkatan dan pemberhentian antara
waktu Menteri-menteri begitu pula penghentian kabinet dilakukan dengan keputusan Presiden231.
Kekuasaan yang lebih besar yang terdapat pada era ini adalah dimana Presiden berhak membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah232.
Presiden juga memberikan tanda-tanda kehormatan yang diadakan dengan undang-undang233. Dalam bidang yudikatif
juga, Presiden mempunyai hak memberi garasi dari hukuman- hukuman yang dijatuhkan oleh keputusan pengadilan234. Hal
itu dilakukannya sesudah meminta nasehat dari Mahkamah Agung sekedar dengan undang-undang tidak di tunjuk pengadilan yang lain untuk memberi nasehat. Sedangkan amnesti dan abolisi hanya dapat diberikan dengan undang-
229Pasal 50 Undang-Undang Dasar Sementara 1950. 230Pasal 51 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Sementara 1950. 231Pasal 51 Ayat (5) Undang-Undang Dasar Sementara 1950. 232Pasal 84 Undang-Undang Dasar Sementara 1950. 233Pasal 87 Undang-Undang Dasar Sementara 1950. 234Pasal 107 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Sementara 1950.
undang atau pun atas kuasa undang-undang, oleh Presiden sesudah meminta nasehat dari Mahkamah Agung235.
Dalam hal hubungan luar negeri, Presiden mengadakan dan mengesahkan perjanjian (traktat) dan persetujuan dengan negara-negara lain236.
Selanjutnya, setelah menggunakan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 Republik Indonesia kembali lagi kepada Undang-Undang Dasar 1945 pada saat pendirian negara ini. Selama lebih kurang 32 tahun menggunakan Undang-Undang Dasar 1945 ini, ternyata timbul keinginan dari rakyat bangsa ini untuk melakukan amandemen atas Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu penyebab yang dirasakan adalah besarnya kekuasaan eksekutif pada masa Undang-Undang Dasar 1945 ini.
III.4. Hak Prerogratif Presiden Dalam UUD 1945 Periode