Skema Pola pembelian Hak Siar Liga Inggris 2007-2010
Ringkasan Keputusan KPPU
Atas terjadinya siaran eksklusif tersebut, Indovision, Telkomvision, dan IndosatM2, serta beberapa kelompok masyarakat melaporkan dugaan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat kepada KPPU. Setelah melalui tahapan klarifikasi dan pemberkasan, KPPU menduga terdapat pelanggaran Pasal 16 dan Pasal 19 huruf a dan c UU No 5 Tahun 1999. KPPU kemudian melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait, saksi, ahli, surat dokumen alat bukti lainnya, serta mendengarkan keterangan dari Pemerintah.
Terkait dengan Pelanggaran Pasal 16 UU No 5 Tahun 1999
Majelis Komisi menegaskan bahwa perjanjian eksklusif saja tidak bertentangan dengan hukum persaingan. Namun Majelis Komisi menilai bahwa perjanjian antara ESS dengan AAMN merupakan tindakan yang anti-persaingan dalam hal tindakan tersebut dapat menimbulkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat pada industri Televisi berbayar di Indonesia. Pemeriksaan menununjukkan bahwa Liga Inggris merupakan konten penting untuk industri Televisi berbayar namun perjanjian eksklusif tidak melalui proses yang kompetitif. Akibat dari perjanjian esklusif siaran Liga Inggris di Televisi berbayar “Astro” berdampak pada meningkatnya persaingan antara Televisi berbayar dalam jangka pendek. Namun Majelis Komisi dengan
mempertimbangkan perkembangan terakhir dengan berpindahnya kembali tayangan Liga Inggris secara eksklusif kepada Televisi berbayar “AORA” memandang terdapat dampak negatif pada persaingan industri Televisi berbayar dan mengakibatkan kerugian konsumen. Sehingga Majelis Komisi menyatakan terdapat pelanggaran terhadap Pasal 16 UU No 5 Tahun 1999 yang dilakukan oleh ESS dan AAMN. Sedangkan AAAN dan PTDV berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak berperan dalam proses melahirkan perjanjian tersebut.
Terkait dengan Pelanggaran Pasal 19 huruf a dan c UU No 5 Tahun 1999
Dugaan bahwa AAAN, AAMN, dan PTDV (Astro Group) menggunakan kekuatan monopolinya di Malaysia guna menekan ESS untuk menyerahkan hak siar Liga Inggris wilayah Indonesia, kepada AAMN tidak terbukti. Hal ini ditunjukkan dengan tidak ditemukannya bukti-bukti yang menunjukkan penggunaan kekuatan monopoli oleh Astro Group, baik selama proses negosiasi antara Astro Group dengan ESS maupun dari perbandingan nilai pembelian hak siar Liga Inggris untuk wilayah Malaysia dan wilayah Indonesia. Oleh karena itu Majelis Komisi menyatakan tidak terdapat pelanggaran Pasal 19 huruf a dan c UU No 5 Tahun 1999 yang dilakukan oleh AAAN, AAMN, dan PTDV.
Berdasarkan rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan oleh Tim Pemeriksa, Pertimbangan Majelis Komisi Sebelum Menjatuhkan Amar Putusan adalah: • Bahwa Majelis Komisi memandang perlu untuk menerapkan prinsip-prinsip
persaingan usaha yang sehat dalam upaya memperoleh dan mengeksploitasi hak siar premium content yang akan disiarkan oleh operator Televisi di Indonesia. • Bahwa Majelis Komisi menilai untuk menghilangkan praktek monopoli dan
atau persaingan usaha tidak sehat pada perkara ini, dapat dilakukan melalui pembatalan perjanjian atau perbaikan perjanjian antara ESS dan AAMN terkait dengan pengelolaan dan penempatan hak siar Liga Inggris musim 2007-2010 agar pengelolaan dan penempatan hak siar BPL musim 2007-2010 dilakukan melalui proses yang kompetitif di antara operator Televisi di Indonesia
• Bahwa Majelis Komisi berdasarkan Pasal 47 ayat (2) huruf g UU No 5 Tahun 1999 berwenang untuk mengenakan denda terhadap AAMN, namun demikian mengingat bahwa industri Televisi berbayar di Indonesia masih dalam tahap awal pertumbuhan sehingga Majelis Komisi tidak mengenakan denda dalam perkara ini.
• Bahwa Majelis Komisi memandang perlu untuk melindungi hak-hak dari pelanggan Televisi berbayar di Indonesia terutama pelanggan PTDV untuk tetap
dapat menikmati siaran yang harus dilakukan oleh AAMN bersama-sama Astro Group sebagai satu entitas ekonomi.
Menimbang bahwa sebagaimana tugas Komisi yang dimaksud dalam Pasal 35 huruf e UU No. 5/1999, Majelis Komisi merekomendasikan kepada Komisi untuk memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah dan Pihak Terkait, sebagai berikut:
• Membuat ketentuan umum mengenai standar dan kualifikasi konten yang penting (premium content) dalam bidang penyiaran.
• Membuat regulasi yang mewajibkan peralihan konten yang penting (premium content) melalui proses yang kompetitif dan transparan untuk disiarkan oleh operator Televisi di wilayah Indonesia.
• Membuat regulasi terhadap konten-konten yang tidak boleh disiarkan secara eksklusif oleh operator Televisi berbayar.
Berdasarkan alat bukti, fakta serta kesimpulan dan mengingat Pasal 43 ayat (3) UU No. 5/1999, pada 29 Agustus 2008 Majelis Komisi memutuskan:
1. Menyatakan bahwa Terlapor III: ESPN STAR Sports dan Terlapor IV: All Asia Multimedia Networks, FZ-LLC terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 16 UU No 5 Tahun 1999;
2. Menyatakan bahwa Terlapor I: PT Direct Vision dan Terlapor II: Astro All Asia Networks, Plc, tidak terbukti melanggar Pasal 16 UU No 5 Tahun 1999 3. Menyatakan bahwa Terlapor I: PT Direct Vision, Terlapor II: Astro All Asia
Networks, Plc, dan Terlapor IV: All Asia Multimedia Networks, FZ-LLC tidak terbukti melanggar Pasal 19 huruf a dan c UU No 5 Tahun 1999;
4. Menetapkan pembatalan perjanjian antara Terlapor III: ESPN STAR Sports dengan Terlapor IV: All Asia Multimedia Networks, FZ-LLC terkait dengan pengendalian dan penempatan hak siar Barclays Premiere League musim 2007-2010 atau Terlapor IV: All Asia Multimedia Networks, FZ-LLC memperbaiki perjanjian dengan Terlapor III: ESPN STAR Sports terkait dengan pengendalian dan penempatan hak siar Barclays Premiere League musim 2007-2010 agar dilakukan melalui proses yang kompetitif di antara operator TV di Indonesia;
5. Memerintahkan Terlapor IV: All Asia Multimedia Networks, FZ-LLC untuk menjaga dan melindungi kepentingan konsumen TV berbayar di Indonesia dengan tetap mempertahankan kelangsungan hubungan usaha dengan PT Direct Vision dan tidak menghentikan seluruh pelayanan kepada pelanggan sampai adanya penyelesaian hukum mengenai status kepemilikan PT Direct Vision;
Penutup
bab III
PENUTUP
P
ERKARA-PERKARA yang telah diputus KPPU di atas merupakan cerminan terkini persaingan usaha di Indonesia. Beberapa dari putusan tersebut menindak perkara yang berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa baik di badan pemerintah maupun perusahaan swasta. Hal tersebut menunjukkan bahwa KPPU tidak pernah pandang bulu dalam menindak setiap perkara persaingan usaha tidak sehat dan bahwa kita semua masih perlu banyak berbenah dalam hal pelaksanaan pengadaan barang dan jasa.Perkara lain yang ditangani KPPU menyangkut beberapa sektor vital dalam kehidupan masyarakat Indonesia, antara lain sektor transportasi, telekomunikasi, asuransi, dan ritel. Sektor-sektor tersebut bersentuhan langsung dengan kehidupan sehingga persaingan usaha yang tidak sehat di dalamnya juga akan membawa dampak langsung kepada masyarakat. Contohnya pada sektor ritel, dimana para supplier tertindas oleh retailer besar yang memberikan persyaratan yang menyulitkan dalam pemasokan barang, serta tergerusnya pasar tradisional oleh pendirian hypermarket dan minimarket waralaba yang dibangun berdekatan dengan warung-warung tradisional. Putusan KPPU yang berkaitan dengan sektor-sektor tersebut memang tidak bekerja secara instan, melainkan berupaya melakukan perbaikan secara
berkesinambungan dan tentunya tetap membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik badan hukum, pemerintah maupun dukungan dari pihak pelaku usaha yang bersangkutan.
Berkaitan dengan pemenuhan sanksi yang dilakukan para pelaku usaha setelah dikeluarkannya putusan KPPU, pada tahun 2007 terdapat 3 (tiga) pelaku usaha yang memenuhi sanksi pembayaran dendanya kepada KPPU. Pelaku usaha tersebut adalah PT. Carrefour Indonesia yang membayar hukuman denda sebesar Rp. 1.500.000.000,- (satu miliar lima ratus juta Rupiah) kepada Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta I pada tanggal 8 Juni 2007, kemudian tanggal 23 Juli 2007 PT. Garuda Indonesia membayar denda sebesar Rp 1.000.000.000,- (satu milyar Rupiah) ke Kas Negara sebagai penerimaan negara bukan pajak, dan pada tanggal 26 Juli 2007 Terlapor dari perkara RSUD Pematang Siantar membayar ganti rugi sebesar Rp. 127.146.666,67, ganti rugi tersebut terkait dengan persekongkolan dalam pengadaan alat kesehatan RSUD Pematang Siantar.
Sanksi yang dijatuhkan KPPU terhadap pelaku usaha yang melanggar Undang-Undang No. 5/1999 sebenarnya tidak hanya berupa saksi denda namun juga sanksi administratif berupa perubahan perilaku. Contohnya pada kasus pemblokiran SLI oleh Telkom, dimana pihak Telkom diminta untuk mengamandemen seluruh perjanjiannya dengan pihak wartel yang masih melakukan diskriminasi SLI terhadap SLI provider lain. Sanksi perubahan perilaku tersebut biasanya juga ditujukan bagi pelaku usaha yang melakukan persekongkolan tender, dimana mereka diminta untuk mengulangi tender dengan menggunakan proses tender yang benar atau diminta untuk membatalkan pemenang tender. Baik pemenuhan sanksi denda maupun sanksi administratif berupa perubahan perilaku memerlukan kerjasama dan niat baik para pelaku usaha untuk bersama-sama menumbuhkan dan menegakkan budaya persaingan usaha yang sehat di tanah air tercinta.
KPPU
KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA REPUBLIK INDONESIA
Gedung KPPU, Jl. Ir. H. Juanda No. 36 Jakarta Pusat 10120 Telp.: 62-21-3507015, 3507016, 3507043 Faks.: 62-21-3507008 www.kppu.go.id n e-mail : [email protected]
Kantor Perwakilan Daerah KPPU
SURABAYA
Bumi Mandiri, Jl. Basuki Rahmat No. 129-137 Surabaya 60271 - JAWA TIMUR
Telp.: 62-31-5454146, Faks : 62-31-5454146 e-mail: [email protected]
MEDAN
Jl. Ir. H. Juanda No. 9A Medan - SUMATERA UTARA Telp.: 62-61-4148603, Fax. : 62-61-4148603 e-mail: [email protected]
BALIKPAPAN
Gedung BRI Lantai 8, Jl. Sudirman No. 37 Balikpapan 76112 - KALIMANTAN TIMUR Telp.: 62-542-730373, Faks: 62-542-730773 e-mail: [email protected]
MAKASSAR
Menara Makassar Lt. 1, Jl. Nusantara No. 1 Makassar - SULAWESI SELATAN
Telp.: 62-411-310733, Faks. : 62-411-310733 e-mail: [email protected]
BATAM
Gedung Graha Pena Lt. 3A,
Jl. Raya Batam Center Teluk Teriring, Nongsa Batam 29461 - KEPULAUAN RIAU
Telp.: 62-778-469433, Faks.: 62-778-469433 e-mail: [email protected]