• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

B. Konsep Remaja yang Menikah Dini 1 Pengertian Remaja

2. Hakekat Perkembangan Remaja yang Belum Menikah dan yang Sudah Menikah

a. Perkembangan dari segi fisik

Menurut Papalia dan Olds: 2001 (dalam Jahja, 2011: 220), perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris, dan keterampilan motorik. Masa remaja ditandai dengan adanya perubahan baik dari segi fisik dan psikologis. Perubahan fisik atau tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Perubahan pada otak meliputi struktur otak yang semakin sempurna untuk meningkatkan kemampuan kognitif (Jahja, 2011: 221). Santrock (2003: 90), dalam bukunya Adolescence lebih jelas lagi mengungkapkan bahwa perkembangan fisik remaja laki-laki meliputi bertambahnya ukuran penis, tumbuhnya rambut kemaluan, sedikit perubahan suara, ejakulasi pertama, pertumbuhan rambut ketiak, dan

pertumbuhan rambut diwajah. Pada remaja perempuan ditandai dengan payudara membesar, tumbuhnya rambut pada kemaluan, tumbuhnya rambut ketiak, pinggul menjadi lebar, dan menstruasi.

Seperti telah kita ketahui bahwa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Masa peralihan ini ditandai dengan perkembangan fisik dan psikologis. Bagi remaja pada umumnya, perkembangan fisik merupakan hal yang biasa, khususnya perkembangan pada organ reproduksi. Pada remaja perempuan perkembangan reproduksi ditandai dengan menstruasi, sedangkan pada remaja laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Perkembangan itu menandakan bahwa mereka akan menuju pada kedewasaan.

Namun bagi mereka yang menikah di usia remaja, perkembangan reproduksi menjadi permasalahan, khususnya bagi remaja perempuan. Berkembangnya organ reproduksi pada remaja perempuan menyebabkan mereka sudah dapat hamil. Kehamilan pada usia remaja dapat menyebabkan beberapa masalah diantaranya berat bayi lahir sangat rendah kematian pada bayi, kematian pada ibu, dan kanker serviks (Santrock, 2003: 413). Hal ini dikarenakan organ reproduksi remaja perempuan baru beralih dari bentuk organ anak-anak menjadi organ dewasa. Namun pada dasarnya organ tersebut

belum siap jika digunakan untuk kehamilan, karena secara fisik remaja memang belum siap melahirkan. (Romauli & Vindari, 2012: 110-111).

b. Perkembangan dari segi kognitif

Seperti dituliskan sebelumnya bahwa struktur otak remaja berkembang untuk menunjang perkembangan kognitifnya. Berbeda dengan anak-anak yang berpikir konkrit atau nyata, secara kognitif remaja sudah dapat berpikir abstrak. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru. Piaget (dalam Jahja, 2011: 231) menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal. Pada tahap ini remaja dianggap sudah dapat berpikir lebih tinggi, dimana remaja dapat berpikir tentang konsekuensi dari tindakannya termasuk ancaman yang mungkin akan membahayakannya.

Menurut Piaget (dalam Jahja, 2011: 232) ada satu hal perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum hilang sepenuhnya saat remaja yaitu kecenderungan cara berpikir egosentrisme. Menurut Papalia dan Olds (dalam Jahja, 2011: 233) egosentrisme adalah ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Seperti kita ketahui remaja merupakan individu yang sangat berpikir egois. Jika ia ingin

melakukan suatu hal maka ia akan melakukannya tanpa berpikir panjang kedepan (Jahja, 2011).

Seperti kita ketahui pada usia remaja perkembangan kognitif mulai memasuki tahap operasional formal. Namun perlu diingat bahwa perkembangan kognitif masa kanak- kanaknya juga belum hilang sepenuhnya, oleh karena itu remaja pada masa ini sering disebut labil. Mereka ingin disebut dewasa namun terkadang perilaku masih menunjukkan mereka masih anak-anak. Remaja yang merasa dirinya sudah dewasa terkadang melakukan tindakan yang menurutnya benar namun salah. Seperti misalnya bergaul dengan siapapun yang ia anggap benar, padahal tidak semua teman bergaulnya benar. Hal itulah yang bisa menyebabkan remaja terjerumus ke dalam hal negatif.

Bagi mereka yang telah menikah, mereka dihadapi pada hal yang nyata namun pada dasarnya mereka masih belum mampu berpikir kearah yang lebih jauh. Contohnya pada remaja pria yang sudah menikah, ia tahu bahwa ia harus bertanggungjawab terhadap wanita yang sudah dinikahinya. Sebagai kepala keluarga ia harus mencari nafkah untuk membiayai keluarga kecilnya. Namun disisi lain ia masih bingung karena mungkin belum memiliki pekerjaan tetap tetapi sudah menanggung beban yang berat. Di sisi lain juga, sebagai remaja yang masih

ingin menikmati masa muda tentu pikiran untuk berkumpul dengan teman-teman tentu masih ada, namun sekarang ia sudah terikat dan sudah tidak bisa bebas seperti dulu. Sedangkan bagi remaja perempuan dihadapi pada pemikiran bahwa ia harus mengurus suami dan anak. Remaja perempuan dipaksa untuk berpikir lebih jauh tentang mengurus keluarga walaupun mungkin sebenarnya ia belum tahu apa yang harus ia lakukan. Hal-hal inilah yang terkadang membuat remaja yang sudah menikah menjadi stres, dan stres berdampak pada kehidupan rumah tangga mereka.

c. Perkembangan dari segi kepribadian dan sosial

Perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia dan Olds, dalam Jahja: 2011: 219). Perkembangan kepribadian pada remaja umumnya dikenal sebagai pencarian identitas diri. Pencarian identitas diri adalah proses menjadi seseorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson, dalam Jahja: 2011: 219). Perkembangan sosial pada remaja melibatkan kelompok teman sebaya dibandingkan peran orangtua (Conger: 1991, dalam Jahja 2011: 234). Maka tidak heran jika remaja sering menghabiskan sebagian waktunya di luar rumah.

Remaja juga lebih senang berkumpul dengan teman sebayanya dari pada berkumpul dengan keluarga di rumah. Hal ini mereka lakukan mungkin untuk mencari sesuatu yang disebut identitas diri.

Bagi remaja yang sudah menikah, identitas diri terbentuk dari cara mereka melakukan perannya baik sebagai suami atau istri. Perkembangan sosial bagi remaja yang sudah menikah tentu mereka dihadapi pada kenyataan bahwa mereka sudah tidak dianggap sebagai remaja lagi. Mereka adalah pasangan suami istri yang tentunya juga harus bisa beradaptasi dengan pergaulan sosial, khususnya pergaulan dengan tetangga yang sudah menikah.