BAB II LANDASAN TEORETIS
1. Hakikat Anak Usia Dini
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Kerangka Teori
1. Hakikat anak usia dini
a. Pengertian Anak Usia Dini
Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Usia dini merupakan usia dimana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (Golden Age).1
Anak usia dini adalah anak yang berusia 0-6 tahun. Usia dini
merupakan usia dimana anak mengalami pertumbuhan dan
perkembangan yang pesat. Usia ini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar dalam sepanjang pertumbuhan serta perkembangan kehidupa manusia. Masa ini ditandai dengan berbagai periode penting yang fundamental dalam kehidupan anak selanjutnya sampai periode akhir perkembangannya. Salah satu periode yang menjadi penciri masa usia diini adalah The Golden Age atau periode keemasan.2
Anak usia dini merupakan individu yang berbeda, unik, dan emiliki karakteristik tersendiri sesuia dengan tahapan usianya. Masa awal kehidupan anak merupakan masa ini pertumbuhan otak sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat (eksplosif), begitupun
dengan perkembangan fisiknya.3
1
Khadijah, (2016). Pendidikan Prasekolah, Medan: Perdana Publishing, h. 3.
2
Novan Ardy Widyani Dan Barnawi, (2014). Format Paud, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, h. 32
3
Trianto, (2011). Desain pengembangan Pembelajaran Tematik “bagi anak Usia Dini TK/RA dan Anak Usia Awal SD/MI”. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, h. 13.
َةَزْيَزٌُ اَبَأ َّنِإَف
–
ًىع للها ىضر
–
ُّىِبَّىنا َلاَق ُثِّذَحُي َناَك
–
ًيهع للها ىهص
مهسَ
«
ََْأ ًِِواَزِّصَىُي ََْأ ًِِواَدٍَُُِّي ُياََُبَأَف ، ِةَزْطِفْنا ىَهَع ُذَنُُي َّلاِإ ٍدُُنَُْم ْهِم اَم
ًِواَسِّجَمُي
َ
‹‹
َةَزْيَزٌُ ُُبَأ ُلُُقَي َّمُث
–
ًىع للها ىضر
.Artinya: Sesungguhnya Abu Hurairah ra meriwayatkan hadits, Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah anak yang lahir itu melainkan dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nashrani atau Majusi”. (HR.
Al-bukhari).4
Sesungguhnya seorang anak secara fitrah diciptakan dalam keadaan siap untuk menerima kebaikan dan keburukan. Sebagaiman terdapat dalam Al-Quran Surah Asy-Syam (8).
Artinya : Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.5
Tiada lain hanya kedua orang tuanya yang membuatnya cenderung pada salah satu diantara keduanya. Dari hadist di atas dapat disimpulkan bahwa seorang anak yang dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah), orang tuanya yang membesarkannya, merawat dan menjaganya termasuk memberikan rangsangan pendidikan, pola asuh yang baik, makanan, dan kesehatan yang terjaga baik jasmani dan rohani, maka anak dapat menerima semuanya dengan baik dan menimbulkan potensi kebaikan pada diri anak. Akan tetapi jika terjadi sebaliknya, anak tidak
4
Jamal, Abdur Rahman, (2005). Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah Bandung: Irsyad Baitus Salam, h. 23.
5
Soenarjo, (2003). Al Qur‟an dan Terjemah, Jakarta: Departemen Agama RI, h. 595.
dihiraukan dianggap hanya menjadi beban saja, dan tidak memberikan pengajaran apapun, maka tidak lain inilah yang menjadi pemicu timbulnya potensi keburukan dalam diri anak.6
Dalam pasal 28 Undang-undang sistem pendidikan nasional No.20 tahun 2003 ayat 1, disebutkan bahwa yang termasuk anak usia dini adalah anak yang masuk dalam rentang usia 0-6 tahun. Menurut kajian rumpun ilmu PAUD dan penyelenggaraanya, dibeberapa negara PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun. Pendapat lain menyebutkan bahwa anak usia dini merupakan kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Yaitu pola pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), intelegensi, sosial emosional, bahasa, dan komunikasi yang khusus sesuia
dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. 7
Jadi dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa anak usia dini merupakan anak yang berusia 0-6 tahun yang mana dalam usia yang mencapai tahap pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik dalam pencapaian perkembangannya melalui stimulus dan pengawasan yang diberikan oleh orang terdekatnya terutama guru agar aspek perkembangan anak berkembang sesuai tahap pencapaiannya.
b. Pendidikan Anak Usia Dini
6
Hasan Nuddin dan Muhammad Ibnu Abdul Hadi Assindi, 2008, Shahih Bukhari (Lebanon: Darul Kutub Al-Ilmiah), h. 457.
7
Muhammad Fadillah, Desain Pembelajaran PAUD Tinjauan Teoritik Dan Prakktik, (Jogjakarta, Ar-Ruzz Media, 2012), h. 18.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan dengan pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani pendidikan dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Paud berfungsi membina, menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perikau dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya.
c. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini
Secara khusus pendidikan anak usia dini bertujuan untuk:
1. Membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, inovasi, mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
2. Mengembangkan potensi kecerdasan spritual, intelektual, emosional, dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.
d. Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam melaksanakan pendidikan anak usia dini hendaknya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:8
1) Berorientasi pada kebutuhan anak
Kegiatan belajar pada PAUD senantiasa berorientasi pada kebutuhan anak, anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, maupun sosial-emosi.
2) Belajar melalui bermain
Bermain merupakan sarana belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan dan mengambil kesimpulan mengenai benda disekitarnya.
3) Lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dan memperhatikan keamanan dan kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.
4) Menggunakan pembelajaran yang terpadu
Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal
8
Trianto, Desain pengembangan Pembelajaran Tematik “Bagi Anak Usia Dini TK/RA dan Anak Usia Awal SD/MI”. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 24.
berbagai konsep secara muda dan jelas sehingga pembelajaran
menjadi mudah dan bermakna bagi anak.9
5) Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggung jawab serta memiliki disiplin diri. 6) Menggunakan media edukatif dan sumber belajar
Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja yang disiapkan oleh guru atau pendidik
7) Dilaksanakan secara bertahap dan berulang-ulang
Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan-kegiatan dilakukan secara berulang.
8) Aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan
Proses pembelajaran yang akti, inovatif, kratif, dan menyenangkan dapat dilakukan oleh anak yang disapkan oleh pendidik melalui
kegiatan-kegiatan yang menarik, menyenangkan untuk
membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berfikir kritis dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran
9
Trianto, Desain pengembangan Pembelajaran Tematik “Bagi Anak Usia Dini TK/RA dan Anak Usia Awal SD/MI”. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 25.
hendaknya dialkukan secara demokratis, mengingat anak merupakan suyek dalam proses pemeblajaran.
9) Memanfaatkan teknologi
Pelaksanaan stimulasi pada anak usia dini dapat memanfaatkan teknologi untuk kelancaran kegiatan, misalnya radio, tlevisi, audio, komputer. Pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan pembelajaran dimaksudkan untuk memudahkan anak memenuhi rasa ingin tahunya.10