• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dikmenjur dalam Prastowo (2013: 298) menyatakan, “Bahan ajar merupakan seperangkat materi atau substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis dan menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran.” Sementara itu Widodo memberikan pendapatnya mengenai bahan ajar.

“Bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka

commit to user

mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi atau subkompetensi dengan segala kompleksitasnya.” (2008: 40)

National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training dalam Majid (2008: 28) menyebutkan,“bahan ajar adalah segala bentuk yang digunakan oleh guru/instruktor untuk membantu pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas”. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis, jadi bahan ajar itu sendiri tidak selalu berupa bahan tertulis seperti yang sering dijumpai. Hal ini sejalan dengan pernyataan Prastowo (2013: 297) yang menyatakan bahwa sebuah bahan ajar disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak. Dengan adanya bahan ajar tersebut diharapkan tercipta suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.

Bahan ajar disajikan oleh guru kepada siswa atau peserta didik untuk menunjang proses pembelajaran yang berlangsung. Hal ini sejalan dengan pendapat Ismawati (2013: 35) yang mengatakan bahwa dalam proses belajar mengajar, pesan yang ingin disampaikan guru kepada siswa dapat disajikan melalui bahan ajar.Adapun penyajiannya dapat berupa bahan cetak, elektronik, maupun yang lainnya. Sejalan dengan pendapat yang telah diutarakan di atas, Lestari (2013: 2) mengemukakan pendapatnya.

“Bahan ajar adalah seperangkat materi pelajaran yang mengacu pada kurikulum yang digunakan (dalam hal ini adalah silabus perkuliahan, silabus mata pelajaran, dan/atau silabus mata diklat tergantung pada jenis pendidikan yang diselenggarakan) dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan.”

Dalam proses pembelajaran, diperlukan sebuah perencanaan sebagai langkah awal untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar yang tengah berlangsung. Majid (2008: 28) menyatakan, “bahan ajar merupakan informasi, alat, maupun teks yang diperlukan guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran di sekolah maupun tempat belajar yang lain”. Oleh karena itu diperlukan bahan ajar sebagai salah satu wujud perencanaan dalam proses pembelajaran yang disiapkan oleh guru.

commit to user

Bagi guru, bahan ajar sangat membantu guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Hal ini sejalan dengan pendapat Widodo (2008:40) yang menyatakan bahwa disadari atau tidak bahan ajar memiliki manfaat yang cukup besar bagi guru dan siswa. Seperti yang diketahui bahwasanya waktu yang disediakan dalam pembelajaran sangatlah singkat, dengan adanya bahan ajar maka alokasi waktu yang singkat tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sehingga pembelajaran akan berlangsung lebih efektif dalam hal penyampaian materi dan alokasi waktu tersebut. Selain itu guru juga akan memiliki lebih banyak waktu untuk membimbing siswa atau peserta didik dalam proses belajar mengajar.

Bahan ajar juga bermanfaat bagi siswa atau peserta didik, salah satunya yaitu siswa menjadi terbantu dalam memperoleh pengetahuan baru. Apabila biasanya sumber pengetahuan peserta didik hanya berasal dari guru, dengan adanya bahan ajar maka sumber pengetahuan siswa menjadi bertambah, yaitu dari bahan ajar sehingga ketergantungan siswa terhadap guru menjadi berkurang. Hal tersebut sesuai dengan konsep pembelajaran dewasa ini, yaitu guru hanya sebagai fasilitator, sedangkan siswa diharapkan lebih aktif dalam pembelajaran.

Berbicara mengenai manfaat dan tujuan, buku teks pelajaran dalam hal ini memiliki kriteria yang hampir sama dengan bahan ajar,Sitepu (2012: 27) mengemukakan pendapatnya.

“Buku teks pelajaran bertujuan untuk membantu siswa dalam mempelajari pengetahuan baru dan mencapai kemampuan yang ditargetkan dalam kurikulum serta membantu guru melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan dengan bermuara pada tujuan pembelajaran dalam kurikulum.”

Hanafiah (2009:31) menyatakan bahwa bahan ajar yang diberikan kepada peserta didik disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Hal ini berarti tingkat kesulitan pada bahan ajar harus sesuai kemampuan siswa karena perkembangan intelegensi siswa berbeda-beda sesuai tingkatan yang sedang ditempuhnya. Kemampuan siswa sekolah dasar berbeda dengan kemampuan siswa sekolah menengah, demikian juga kemampuan siswa sekolah menengah

commit to user

yang berbeda dengan kemampuan siswa pada perguruan tinggi atau yang sering disebut dengan mahasiswa.

Bintek KTSP 2009 dalam Bandono (2009) menyebutkan mengenai pengembangan bahan ajar, bahwasanyabahan ajar memiliki jenis yang beragam, di antaranya adalahbahan ajar pandang (visual) yang terdiri atas bahan cetak dan non cetak. Bahan ajar cetak seperti handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, sedangkan bahan ajar non cetak seperti model/maket. Yang kedua adalah bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compactdiskaudio.Selanjutnya bahan ajar pandang dengar (audiovisual) seperti videocompactdisk, film. Yang terakhir adalah bahan ajar multimedia interaktif (interactiveteachingmaterial) seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compactdisk (CD) multimedia pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web (webbasedlearningmaterials).

Bahan ajar dalam proses pembelajaran diharapkan mampu menunjang kegiatan pembelajaran sehingga dapat berlangsung secara efektif dan efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai oleh guru dan siswa sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau yang sering disebut dengan RPP. Bahan ajar yang disajikan kepada peserta didik dapat berupa bahan cetak seperti yang sering digunakan, namun dapat pula disajikan dalam jenis ataupun bentuk yang lain. Tujuannya untuk menunjang kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru dan siswa di sekolah.

b. Karakteristik Bahan Ajar

Berdasarkan pedoman penulisan modul atau bahan ajar yang dikeluarkan Direktorat Guruan Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional dalam Lestari (2013: 2) menyebutkan bahwa sebuah bahan ajar memiliki karakteristik tersendiri, di antaranya yaituself instructional, self contained, stand alone, adaptive, user friendly. Yang pertama adalah self instructionalberarti bahan ajar harus mampu membuat siswa membelajarkan diri sendiri dengan bahan ajar tersebut, self contained artinya seluruh materi pelajaran yang akan dipelajari siswa terangkum

commit to user

secara utuh, lengkap, dan runtut dalam bahan ajar sehingga memudahkan siswa untuk mempelajarinya. Yang ketiga adalahstand alone, artinya bahan ajar yang dikembangkan berdiri sendiri atau tidak bergantung pada bahan ajar lain. bahan ajar juga harus adaptive, artinya bahan ajar memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi yang tengah berkembang saat ini.

Yang terakhir bahwasanya bahan ajar harus memiliki fungsi sebagai user friendly, artinyaaegala sesuatu yang terdapat dalam bahan ajar bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, yaitu bersahabat dengan guru dan siswa sebagai pengguna bahan ajar.

Sementara itu Prastowo (2013: 313 – 314) menyebutkan bahwa karakteristik bahan ajar tematik terbagi menjadi empat macam, yaitu aktif, menarik atau menyenangkan, holistik dan autentik (memberikan pengalaman langsung).Karakteristik bahan ajar tematik sendiri pada dasarnya hampir sama dengan bahan ajar pada umumnya, yang membedakan hanya pada bahan ajar tematik didesain sedemikian rupa sebagai sarana untuk mendukung proses pembelajaran tematik. Terlepas dari hal tersebut, karakteristik bahan ajar tematik dan bahan ajar biasa memiliki garis besar yang hampir sama. Karakteristik bahan ajar tersebut antara lain adalah aktif, menarik, holistik (memuat kajian suatu fenomena dari beberapa bidang sekaligus), serta autentik, yaitu bahan ajar menekankan pada pengalaman langsung.

Berbicara mengenai karakteristik, Prastowo dalam bukunya yang lain menerangkan dalam memilih bahan ajar bagi peserta didik harus dilihat berdasarkan dua kriteria, yaitu kriteria umum dan kriteria khusus ( 2012: 61 – 62).

Kriteria umum terdiri dari ekonomis, praktis dan sederhana, mudah diperoleh, serta fleksibel. Sementara kriteria khusus terdiri dari lima hal, yaitu dapat memotivasi peserta didik, bertujuan untuk pengajaran, bertujuan untuk penelitian, bertujuan untuk memecahkan masalah, serta bertujuan untuk presentasi. Kriteria yang telah disebutkan di atas harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai guru melalui bahan ajar tersebut. apabila dilihat dari fungsinya untuk

commit to user

mencapai tujuan pembelajaran, maka pemilihan bahan ajar lebih diprioritaskan berdasarkan kriteria umum, yaitu meliputi empat hal.

“(1) Ekonomis, artinya bahan ajar tidak mahal; (2) praktis dan sederhana, artinya bahan ajar tidak memerlukan pelayanan atau pengadaan sampingan yang sulit dan langka; (3) mudah diperoleh, artinya bahan ajar dekat dan mudah dicari; dan (4) fleksibel, artinya bahan ajar bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan pembelajaran.”

Dalam menyusun bahan ajar supaya sesuai karakteristik yang dijabarkan di atas maka diperlukan langkah-langkah dalam menyusun bahan ajar,Prastowo (2012: 50)membagi tahapan dalam penyusunan bahan ajar menjadi tiga tahapan yaitu analisis terhadap kurikulum, analisis sumber belajar, dan penentuan jenis serta judul bahan ajar. Widodo (2008: 43) juga menjelaskan mengenai langkah penyusunan bahan ajar, yaitu terbagi menjadi tiga langkah yang terdiri dari penentuan standar kompetensi dan rencana kegiatan belajar mengajar, analisis kebutuhuan bahan ajar atau modul, dan penyusunan draft. Yang pertama adalah penentuan standar kompetensi dan rencana kegiatan belajar mengajar, yaitu harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Selanjutnya adalah analisis kebutuhuan bahan ajar atau modul, yaitu dengan menganalisis kompetensi untuk menentukan jumlah dan judul modul yang dibutuhkan untuk mencapai kompetensi tersebut. Yang terakhir adalah penyusunan draft, yaitu menyusun dan mengorganisasi materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi tertentu.

c. Ciri-ciri Bahan Ajar yang Baik

Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, guru memiliki peranan yang cukup besar karena ia merupakan penghunbung antara siswa dengan materi atau bahan ajar. Guru bertanggung jawab secara penuh atas materi atau bahan ajar yang disajikan. Keberhasilan seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran bergantung pada sosok guru dalam hal wawasan, pengetahuan, pemahaman, dan tingkat kreativitasnya dalam mengelola bahan ajar. Oleh karena itu, bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sebaiknya dipilih secara cermat sesuai dengan ciri bahan ajar yang baik supaya dapat mencapai tujuan kompetensi yang akan dicapai.

commit to user

Ismawati (2013: 35) menyebutkan bahwa bahan ajar yang baik dapat dilihat dari tiga aspek penting, antara lain; “(1) Bahan ajar harus spesifik, jelas, akurat, dan mutakhir; (2) bahan ajar harus memiliki makna, otentik, terpadu, berfungsi, kontekstual,dan komunikatif; (3) bahan ajar harus mencerminkan kebhinekaan dan kebersamaan, pengembangan budaya, ipteks, dan pengembangan kecerdasan berpikir, kehalusan perasaan, dan kesantunan sosial”. Sejalan dengan pendapat tersebut,Badan Standar Nasional Pendidikan Tahun 2006 juga menyebutkan bahwa materi pembelajaran yang baik –dalam hal ini dapat diseragamkan dengan bahan ajar– harus mempertimbangkan hal-hal pokok dalam sebuah materi atau bahan ajar. Tujuh hal tersebut antara lain potensi siswa atau peserta didik, relevansi dengan karakteristik daerah, tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik, bermanfaat bagi peserta didik, struktur keilmuan, aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran, dan relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan.

Berkaitan dengan ciri bahan ajar yang baik, Prastowo (2012: 56 – 57) menjelaskan tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam bahan ajar, antara lain aspek ketersediaan, kesesuaian, dan kemudahan dalam memanfaatkan bahan ajar.

Ketiga hal ini dapat menjadi tolok ukur sebuah bahan ajar, apakah ia termasuk dalam kriteria bahan ajar yang baik ataukah tidak. Aspek ketersediaan berkenaan dengan keberadaan bahan ajar di lingkungan sekitar, usahakan agar bahan ajar yang digunakan praktis dan ekonomis. Aspek kesesuaian, berkenaan dengan kesesuaian bahan ajar dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Sedangkan aspek kemudahan berkenaan tingkat kesulitan bahan ajar, hendaknyabahan ajar memliki tingkat kesulitan yang sesuai dengan tingkat intelegensi sehingga efektif membuat peserta didik menguasai kompetensi yang telah ditetapkan.

Dalam menyajikan bahan ajar kepada siswa, salah satu hal penting yang harus diperhatikan guru adalah struktur yang membangun bahan ajar. Prastowo (2012: 55) menjelaskan bahwa terdapat tujuh komponen dalam setiap bahan ajar,

commit to user

hal ini dimaksudkan untuk memperdalam pemahaman siswa terhadap bahan ajar tersebut. Tujuh komponen yang dimaksud antara lain judul, petunjuk belajar, kompetensi dasar atau materi pokok, informasi pendukung, latihan, tugas atau langkah kerja, dan penilaian. Sementara itu Majid (2008: 35) berpendapat bahwa sebuah bahan ajar yang akan disajikan kepada siswa paling tidak mencakup 3 hal, yaitu petunjuk belajar (petunjuk guru dan siswa), kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran, informasi pendukung, latihan-latihan, petunjuk kerja yang dapat berupa Lembar Kerja (LK), dan evaluasi.

Pemilihan bahan ajar perlu mempertimbangkan unsur dalam materi atau bahan ajar. Unsur dalam bahan ajar itulah yang dapat menjadi acuan apakah bahan ajar yang dimaksud termasuk dalam kategori bahan ajar yang baik atau tidak, karena seperti yang kita ketahui bahwa isi atau substansi menggambarkan kualitas suatu hal. Setiap bahan ajar pasti mengandung isi, dimana substansi dari isi tersebut menurut Prastowo (2013: 309) dapat dibedakan menjadi tiga hal,antara lain pengetahuan (fakta, konsep, prisip, dan prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.

Gambar 2.2Klasifikasi isi (materi) bahan ajar

Berbicara mengenai bahan ajar, Febriani (2012: 2) dalam sebuah jurnal menyebutkan, “Pengembangan hahan ajar harus disesuaikan konteks sosial siswa saat ini yang dapat menanamkan nilai-nilai pembentukan karakter.” Artinya bahwa isi dari bahan ajar hendaknya mengandung nilai-nilai yang bermanfaat

Prosedur Pengetahuan

Isi (Materi) Bahan Ajar

Keterampilan Sikap atau Nilai

Fakta Konsep Prinsip

commit to user

sebagai sarana membentuk karakter yang baik pada peserta didik. Seperti yang kita ketahui bahwa untuk membentuk karakter membuthkan waktu yang lama, oleh karena itu pendidikan sebagai proses yang dijalani peserta didik dalam kurun waktu yang lama harus senantiasa memberikan bahan ajar yang megandung nilai-nilai luhur.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bahan ajar harus memenuhi kriteria yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada masing-masing satuan pendidikan, memiliki manfaat baik bagi peserta didik maupun bagi lingkungannya, relevan dengan karakteristik daerah, serta sesuai dengan perkembangan kognisi peserta didik sehingga pada akhirnya dapat mencapai tujuan dari pembelajaran tersebut.

Dokumen terkait