• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KAJIAN TEORETIS

B. Kajian Teoretis

3. Hakikat Gender dalam Feminisme

Menurut Tong (Setyorini, 14: 2014) feminis gender (kadang-kadang diacu sebagai feminis kultural) cenderung berpendapat bahwa mungkin cenderung ada perbedaan secara biologis dan juga perbedaan secara psikologis, atau penjelasan kultural atas maskulinitas laki-laki dan feminitas perempuan. Mereka juga menekankan bahwa nilai-nilai yang secara tradisional dihubungkan dengan perempuan (kelembutan, kesederhanaan, rasa malu, sifat mendukung, empati, kepedulian, kehati-hatian, sifat merawat, intuisi, sensitivitas, dan ketidakegoisan) secara moral lebih baik daripada kelebihan dari nilai-nilai yang secara tradisional dihubungkan dengan laki-laki (kekerasan hati, ambisi, keberanian, kemandirian, ketegasan, ketahanan fisik, rasionalitas, dan kendali emosi).

Karena itu, feminis gender menyimpulkan bahwa perempuan harus berpegang teguh pada feminitas dan bahwa laki-laki harus melepaskan paling tidak bentuk ekstrim dari maskulinitasnya. Menurut mereka, suatu etika kepedulian (ethics of care) feminis harus menggantikan etika keadilan (ethics of justice) maskulin.

b. Pengertian Gender

Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan teori analisis gender yang dikembangkan oleh Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Fakih (2013: 7) menyatakan bahwa masih

terdapat ketidakjelasan, kesalahpahaman tentang apa yang dimaksud dengan konsep gender dan kaitannya dengan usaha emansipasi kaum perempuan. Secara umum, pengertian gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Menurut Mose (Setyorini, 15: 2014), secara mendasar gender berbeda dari jenis kelamin biologis. Jenis kelamin biologis merupakan pemberanian; manusia dilahirkan sebagai seorang laki-laki atau perempuan tetapi, jalan yang menjadikan manusia menjadikan maskulin atau feminisme adalah gabungan blok-blok bangunan biologis dasar dan interprestasi biologis oleh kultur kita.

Setidak-tidaknya ada penyebab terjadinya ketidakjelasan tersebut.

Kata genderdalam bahasa Indonesia dipinjam dari bahasa Inggris. Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan sex (jenis kelamin). Pengertian jenis kelamin merupakan penytifatan atau pembagian jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Dengan demikian, secara biologis sifat yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Dengan demikian, secara biologis sifat yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan tersebut tidak dapat dipertukarkan. Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan

biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau kodrat Tuhan.

Berbeda dengan jenis kelamin, gender merupakan sifat yang melekat pada diri laki-laki atau perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Gender dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan.

Sejarah perbedaan gender (gender differences) antara manusia jenis laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Oleh karena itu, terbentuknya perbedaan-perbedaan gender disebabkan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat melalui ajaran keagamaan ataupun Negara.

Gender melekat dan mempengaruhi penampilan setiap orang, sehingga nantinya akan muncul semacam sikap otoriter pada penampilan pesona-pesona tersebut. Saat ini adalah ketika sex dan gender menyatu, yaitu melalui pandangan masyarakat yang mencoba memadupadankan cara bertindak dengan kodrat biologis. Kelamin merupakan penggolongan biologis yang didasarkan pada sifat reproduksi potensial. Sementara itu, Sugihastuti (2010: 10) menyatakan bahwa dengan cara apapun orang mengaitkan gender dengan fakta biologis, tetap saja konsep ini tidak begitu saja dari dalam tubuh manusia. Gender merupakan dampak proses dikotomis yang dibuahkan dari peniadaan persamaan dan perbedaan. Jika benar-benar ada perbedaan biologis kemunculannya terlampau sering dilebih-lebihkan.

Gender tidak akan menjadi masalah jika tidak menimbulkan ketidakadilan dan diskriminasi, tetapi karena terjadi pembedaan terhadap

gender telah melahirkan peran gender. Selanjutnya, peran gender menimbulkan ketidakadilan dan diskriminasi gender. Fakih berpendapat bahwa, perbedaan gender ternyata telah mengakibatkan lahirnya sifat dan stereotipe yang oleh masyarakat dianggap sebagai ketentuan kodrati atau bahkan ketentuan Tuhan (Skripsi Rizka Amalia, 2014: 23-24). Sifat dan stereotipe yang sebetulnya merupakan konstruksi atau rekayasa sosial terkukuhkan menjadi kodrat cultural, dalam proses yang panjang telah mengakibatkan terkondisikannya beberapa posisi perempuan, antara lain:

a) Perbedaan dan pembagian gender yang mengakibatkan, termanifestasi dalam, posisi subordinasi kaum perempuan di hadapan laki-laki;

b) Secara ekonomis, perbedaan dan pembagian gender juga melahirkan proses marginalisasi perempuan;

c) Perbedaan dan pembagian gender juga membentuk penandaan atau stereotipe terhadap kaum perempuan yang berakibat pada penindasan terhadap mereka;

d) Perbedaan dan pembagian gender juga membuat kaum perempuan bekerja lebih keras dan memeras keringat lebih panjang;

e) Perbedaan gender juga melahirkan kekerasan dan penyiksaan terhadap kaum perempuan baik secara fisik maupun secara mental;

f) Perbedaan dan pembagian gender dengan segenap manifestasinya di atas menyebabkan tersosialisasinya citra posisi, kodrat, dan penerimaan nasib perempuan yang ada.

Sementara itu, Setyorini (16: 2014) mendefinisikan bahwa gender adalah perbedaan-perbedaan sifat, peranan, fungsi, dan status antara laki-laki dan perempuan bukan berdasarkan pada perbedaan biologis, tetapi berdasarkan relasi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang lebih luas.

Akhirnya, peneliti menyimpulkan bahwa antaragender dan sex (jenis kelamin) jelas berbeda. Gender menyaran pada sifat yang dimiliki atau dominan pada laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, penyifatan itu sama sekali bukan kodrat Tuhan, karena sifat tersebut dapat dipertukarkan.

Sementara sex (jenis kelamin) merupakan sifat biologis yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Sifat biologis ini tidak dapat dipertukarkan.

c. Ketidakadilan Gender

Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak menimbulkan ketidakadilan. Akan tetapi, yang terjadi persoanalan, ternyata perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki maupun kaum perempuan. Dalam setyorini (17:

2014), perbedaan gender yang mengakibatkan ketidakadilan gender ini mengakibatkan asumsi masyarakat bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang sudah menjadi kodrat manusia bahwa perempuan itu lebih lemah, sedang laki-laki lebih kuat. Hal seperti inilah yang mengakibatkan posisi perempuan dikondisikannya. Untuk memahami bagaimana perbedaan gender menyebabkan ketidakadilan gender, dapat dilihat melalui berbagai

manifestasi ketidakadilan yang ada. Fakih (2013: 12) menjelaskan bahwa ketidakadilan gendertermanifestasikan dalam beberapa bentuk ketidakadilan.

Dokumen terkait