• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Kajian Teori

1. Hakikat Karya Sastra Dalam Pendidikan a.Hakikat Karya Sastra

Sastra adalah satu bentuk sistem tanda karya seni yang

menggunakan media bahasa (Kurikulum 2004 : 314). Ia merupakan

refleksi pengarang tentang hidup dan kehidupan yang dipadu dengan

daya imajinasi dan kreasi yang didukung oleh pengalaman dan

pengamatannya atas kehidupan tersebut.

Karya sastra mempunyai dua aspek, yaitu aspek bentuk dan

aspek isi. Aspek bentuk adalah hal – hal yang menyangkut objek atau

isi karya sastra, yaitu pengalaman hidup manusia, seperti sosial budaya,

kesenian, cara berpikir suatu masyarakat, dan sebagainya. Aspek isi

inilah sebenarnya yang paling hakiki, sebab bahasa hanya sebagai

wadah atau medianya saja.

Karya sastra tidak menawarkan analisis yang cerdas, tetapi

pilihan – pilihan yang mungkin terhadap struktur kompleks kehidupan.

Melalui sastra sering diketahui keadaan, cuplikan – cuplikan kehidupan

masyarakat seperti dialami, dicermati, ditangkap, dan direka oleh

dihayati dengan membaca sebuah novel atau sebiji sajak daripada

membaca sesuatu laporan penelitian yang ilmiah. Seringkali karya

sastra lebih mudah dan cepat sampai di hati, dirasa penikmatnya

(pembacanya) daipada suatu laporan ilmiah.

(http://www.geocities.com/paris/parc/2713/esai4.html), diakses 22

Agustus 2006.

Menurut Atar Semi (1988 : 8) dikatakan bahwa hakikat sastra

adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya

adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai

mediumnya. Dengan demikian, sastra sebagai karya kreatif harus

mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan

kebutuhan – kebutuhan keindahan manusia. Sastra harus pula menjadi

wadah penyanpaian ide – ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh

sastrawan tentang kehidupan manusia.

Dengan batasan seperti di atas, maka jelaslah bahwa sastra

mempunyai peranan yang amat penting bagi kehidupan manusia,

terutama kehidupan rohani. Segala sesuatu yang menyangkut kehidupan

manusia sampai dengan yang paling kompleks sekali pun dapat

diungkapkan dalam sastra tersebut.

Karya sastra mempunyai peranan atau misi bagi kehidupan

manusia itu sendiri dalam masyarakat. Misi sastra yang pertama adalah,

sebagai alat untuk menggerakkan pemikiran pembaca kepada kenyataan

masalah. Misi yang kedua adalah, menjadikan dirinya sebagai suatu

tempat di mana nilai kemanusiaan mendapat tempat yang sewajarnya

dipertahankan, dan disebarluaskan, terutama di tengah – tengah

kehidupan modern yang ditandai dengan menggebu – gebunya

kemajuan sains dan teknologi. Jadi, sastra dapat menjadi pengimbang

sains dan teknologi yang kehadirannya tidak dapat ditolak. Misi yang

ketiga adalah, untuk meneruskan tradisi suatu bangsa kepada

masyarakat sezamannya dan kepada masyarakat yang akan datang

terutama cara berpikir, kepercayaan, kebiasaan, pengalaman sejarah,

rasa keindahan, bahasa, serta bentuk – bentuk kebudayaan (Atar Semi,

1988 : 20 – 21).

Di dalam karya sastra akan banyak menggunakan kehidupan

manusia, namun proses penciptaannya melalui daya imajinasi dan

kreativitas yang tinggi dari para sastrawan. Sebelum membuat karya

sastra, pengarang menghayati segala persoalan kehidupan manusia

dengan penuh kesungguhan lebih dulu, kemudian mengungkapkannya

kembali melalui sarana fiksi (bisa dalam bentuk puisi, cerita pendek,

novel, atau drama, sastra ajaran / sasana). Dalam proses penciptaannya

itu, kreativitas sastrawan dapat bersifat “tak terbatas”. Pengarang dapat

mengkreasi, memanipulasi, dan menyiasati berbagai masalah kehidupan

yang dialami dan diamatinya menjadi berbagai kemungkinan kebenaran

yang hakiki dan universal dalam karya fiksinya. Pengarang dapat

walau secara faktual tidak pernah terjadi. Maka dengan cara itu karya

fiksi tersebut dapat mengubah hal – hal yang terasa pahit dan sakit jika

dijalani dan dirasakan pada dunia yang nyata, namun menjadi

menyenangkan untuk direnungkan dalam karya sastra (Burhan

Nurgiyantoro, 1998 : 6). Oleh karena itu, melalui sastra secara tidak

langsung pembaca akan mendapatkan suatu kesempatan belajar

memahami dan menghayati berbagai persoalan kehidupan manusia yang

sengaja diungkapkan oleh pengarang. Dengan demikian sastra dapat

mengajak pembaca untuk bersikap yang lebih arif.

Sastra merupakan hasil karya salah satu cabang kebudayaan,

yakni kesenian. Seperti hasil kesenian pada umumnya, sastra

mengandung unsur keindahan yang menimbulkan rasa senang, nikmat,

terharu, menarik perhatian, dan dapat menyegarkan perasaan

penikmatnya. Sastra adalah budaya bangsa dengan bahasa sebagai

medianya. Sastra dengan segala bentuknya, yaitu puisi, prosa, drama,

sastra ajaran, dan lain – lain berisi curahan pengarangnya. Isi jiwa ini

merupakan kekayaan rohaniah dari bangsa yang memilikinya.

Kekayaan rohaniah itu bagi pengarangnya merupakan keterampilan dan

prestasi di alam pemikiran yang mengandung pesan spiritual yang dapat

disampaikan kepada masyarakat pembacanya dari masa ke masa. Dari

sudut pembacanya, kekayaan rohaniah yang tersimpan di dalam karya

sastra merupakan sumber informasi, sumber kekuatan yang tidak ada

b. Hakikat Pendidikan

Pendidik, karena kedudukannya, adalah seorang pengambil

keputusan. Setiap hari, pada waktu melaksanakan proses pendidikan,

pendidik dihadapkan kepada tugas mengambil keputusan tentang

bagaimana merencanakan pengalaman belajar, mengajar membimbing

mahasiswa, mengorganisasi sistem sekolah, dan banyak lagi hal – hal

yang lain.

Berbeda dengan para pekerja kasar yang perlu diberi tahu apa

yang harus dikerjakan, dan bagaimana cara mengerjakan sesuatu, para

ahli harus membuat rencana untuk diri sendiri. Mereka dianggap telah

mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk

mengambil keputusan – keputusan sahih tentang apa yang harus

dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Namun, bagaimana para

pendidik dapat mengetahui jawaban yang tepat dalam keadaan tertentu.

Kendati ada sumber – sumber pengetahuan lain, seperti pengalaman,

otoritas, dan tradisi, hanya pengetahuan ilmiah tentang proses

pendidikanlah yang memberikan sumbangan paling berharga dalam

pengambilan keputusan di bidang pendidikan. Para pendidik dapat

memanfaatkan sumber – sumber ini guna memperoleh informasi dan

saran – saran yang dapat dijadikan pedoman dalam pengambilan

keputusan. Khasanah pengetahuan ini tersedia bagi pendidik sebagai

Sampai sekarang pendidikan belum sepenuhnya dipengaruhi

oleh hasil – hasil penyelidikan yang cermat dan sistematis semacam itu.

Bahkan dapat dikatakan bahwa perkembangan ilmu pendidikan masih

berada pada tahap yang relatif awal.

Dalam ketentuan umum Undang – Undang Sistem Pendidikan

Nasional Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 dikemukakan bahwa :

“ Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela jaran agar peserta aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Dari definisi tersebut dapatlah diungkapkan bahwa pada

dasarnya pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran dalam

bentuk aktualisasi potensi dari peserta didik diubah menjadi suatu

kemampuan atau kompetensi. Kemampuan yang harus dimiliki oleh

peserta didik adalah, pertama kekuatan spiritual keagamaan atau nilai –

nilai keagamaan yang terlukis dalam kemampuannya untuk

mengendalikan diri dan pembentukan kepribadian yang dapat

diwujudkan dalam bentuk akhlak yang mulia sebagai bentuk

perwujudan dari potensi emosionalnya. Kedua, kompetensi akademik

sebagai perwujudan dari potensi intelektual, dan ketiga kompetensi

Konsep pendidikan dalam undang – undang tersebut juga

mengandung pengertian bahwa pada dasarnya pendidikan adalah suatu

usaha sadar dan terencana dalam rangka mewujudkan terjadinya proses

pembelajaran sebagai wujud proses aktualisasi potensi peserta didik

menjadi sebuah komptensi yang diperlukan olehnya bagi pengembangan

dirinya dengan akhlak yang mulia. Sebagai sebuah proses maka dapat

pula diungkapkan bahwa pendidikan juga merupakan suatu proses

pembudayaan belajar dalam rangka mewujudkan potensi peserta didik

menjadi sebuah kompetensi yang dapat dimanfaatkannya dalam

kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Menurut Bapak

pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara, konsep pendidikan yang

berkebudayaan adalah bahwa pendidikan berazaskan garis – garis hidup

dari bangsanya (kultur nasional) yang ditujukan untuk keperluan peri

kehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar

dapat bersama – sama dengan lain – lain bangsa untuk kemuliaan

segenap manusia di seluruh dunia (H.A.R. Tilaar, 2000 : 68).

Umar Tirtaraharjo (1994 : 34) berpendapat bahwa pendidikan

merupakan suatu proses transformasi budaya. Sedangkan Mohammad

Bandi (1997 : 4) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan suatu

proses humanisasi melalui pola – pola kebudayaan yang ikut

membentuk sikap dan tingkah laku individu dan kelompok.

Pendidikan dalam arti luas memegang peranan sangat strategis

penuh dalam kaitannya dengan aspek – aspek kehidupan yang lain.

Pada dasarnya masyarakat dan pendidikan itu saling merefleksi.

Masyarakat memiliki keteraturannya yang diikat oleh sistem nilai yang

hidup dalam kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu. Masyarakat

memiliki kebudayaan, maka kebudayaan pun akan merefleksi terhadap

pendidikan. Masyarakat selalu berubah, maka kebudayaan pun juga

berubah. Perubahan tersebut menuju ke arah perkembangan yang

menuntut juga peranan pendidikan.

Menurut HAR.Tilaar (2000 : 7) kebudayaan adalah suatu

kekuatan vital suatu masyarakat, karena didukung oleh pribadi – pribadi

yang dinamis sebagai aktor – aktor kebudayaan. Aktor – aktor tersebut

dimungkinkan berkembang oleh pembinaan dalam proses pendidikan.

Pendidikan juga merupakan proses humanisasi melalui pola – pola

kebudayaan yang ikut membentuk sikap dan tingkah laku individu atau

kelompok. Proses humanisasi itu diartikan, bahwa masing – masing

lingkungan pendidikan dapat saling mengisi secara harmonis, menjaga

keselarasan, keserasian, dan keseimbangan tanpa mengabaikan rasa

kasih sayang antara pendidik dan peserta didik. Lingkungan pendidikan

tersebut, yaitu dalam rumah, dalam masyarakat, dan lingkungan

sekolah.

Ruth Benedict (dalam Soerjono Soekamto, 2001 : 17)

menyatakan bahwa kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis,

tingkah laku manusia bukanlah diturunkan sebagaimana naluri binatang,

tetapi yang harus dipelajari kembali berulang – ulang dari orang dewasa

di dalam suatu generasi. Di sini dapat diamati, betapa pentingnya

peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.

Awal munculnya perhatian terhadap pendidikan dalam

kebudayaan dikemukakan oleh kaum behaviorist dan phsychoanalyst.

Para pakar psikologi behaviorisme melihat kelakuan manusia sebagai

suatu reaksi dari rangsangan sekitarnya. Di sini peranan pendidikan

penting dalam pembentukan kelakuan manusia. Sedangkan kaum

psikolog aliran psikoanalisa menganggap kelakuan manusia ditentukan

oleh dorongan – dorongan yang sadar maupun yang tidak sadar,

ditentukan antara lain oleh kebudayaan di mana pribadi itu hidup.

Betapa pentingnya peranan pendidikan di dalam kebudayaan

menurut Ki Hajar Dewantara (dalam HAR. Tilaar, 2000 : 27) dapat

dilihat dalam sistem among yang berisi mengajar dan mendidik. Tugas

lembaga pendidikan bukan hanya mentransformasikan ilmu, yang

diimplementasikan dalam proses pembelajaran, untuk mencetak

manusia cerdas, berpengetahuan tetapi mendidik berarti menuntun

tumbuhnya budi pekerti dalam kehidupan agar kelak menjadi manusia

berpribadi yang beradab dan bersusila. Lebih lanjut dikatakannya,

bahwa manusia adalah makhluk yang beradab dan berbudaya. Sebagai

sesuatu yang bercorak luhur dan indah, yaitu yang disebut hidup

batinnya selalu menampakkan sifat – sifat luhur, halus, dan indah.

Dengan demikian dapatlah diungkapkan bahwa pendidikan tidak

dapat dipisahkan dari kebudayaan. Proses pendidikan adalah proses

pembudayaan, dan proses pembudayaan adalah proses pendidikan.

Menggugurkan pendidikan dari proses pembudayaan berarti

menjauhkan diri dari perwujudan nilai – nilai moral di dalam kehidupan

manusia. Kebudayaan adalah alas atau dasar pendidikan. Dengan

demikian proses pendidikan harus berjiwakan kebudayaan nasional.

Hal ini berarti kesenian (termasuk di dalamnya sastra), budi pekerti,

religius, harus dapat diwujudkan secara efektif.

c. Kebudayaan dalam Pendidikan

Soerjanto Puspowardoyo (dalam Soerjono Soekamto, 2001 : 37)

menyatakan, bahwa kebudayaan mempunyai fungsi sosialnya yaitu

merupakan usaha manusia untuk mencapai kesempurnaan sebagai

manusia. Dalam kaitan ini kebudayaan di satu sisi bersifat

membebaskan manusia dari keterbelakangan dan kemelaratan. Di sisi

yang lain kebudayaan mengisi arti kebebasan manusia dengan

meningkatkan taraf dan mutu kehidupannya. Dengan demikian

pendidikan sebagai unsur kebudayaan merupakan pelaksanaan dari

proses humanisasi.

Dalam undang – undang pendidikan Nasional tahun 1989,

mempunyai fungsi untuk memberikan kontribusi terwujudnya

masyarakat Indonesia yang maju, adil, makmur, yang berakar pada

kebudayaan nasional dan persatuan Indonesia berdasarkan Pancasila dan

Undang – undang Dasar Republik Indonesia 1945 (UU Sisdiknas, 1995

: 3).

Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan dan dikembangkan

melalui pendidikan. Sekolah merupakan pusat penggodokan bagi

penerus kebudayaan bangsa, harus mampu mewujudkan transmisi

maupun transformasi kebudayaan. Pendidikan formal dirancang untuk

mengarahkan perkembangan tingkah laku anak didik. Dalam hal ini

sekolah tidak dapat berjalan melaksanakan pendidikan tanpa dukungan

keluarga dan masyarakat. Perubahan – perubahan yang akan terjadi

disesuaikan dengan kondisi baru yang diinginkan masyarakat, sehingga

terbentuklah tingkah laku, nilai – nilai dan norma – norma baru yang

sesuai dengan perkembangan masyarakat (H.A.R. Tilaar, 2000 : 56). Ini

adalah salah satu cara pembudayaan dan lebih jauh lagi sebagai salah

satu cara mewariskan kebudayaan.

Ada tiga cara untuk mewariskan budaya yaitu : (1) cara informal,

terjadi dalam keluarga, (2) non formal dalam masyarakat yang

berkelanjutan, berlangsung dalam kehidupan sehari – hari, dan (3) cara

formal, melibatkan lembaga khusus yang dibentuk untuk tujuan

Melani Budianta mengutip pendapat Grossberg yang

menyatakan bahwa kajian budaya sangat dibutuhkan pada akhir abad

21, antara lain kajian terciptanya ekonomi global, penyebaran budaya

masa ke seluruh dunia, munculnya bentuk – bentuk migrasi baru

berdasarkan motivasi ekonomi dan ideologi dan bangkitnya kembali

nasionalisme. Globalisasi dalam berbagai bentuk ini bersifat

sedemikian kompleks, sehingga kurang bisa dijelaskan secara

memuaskan oleh kajian sastra, politik, ideologi atau sosiologi secara

terpisah – pisah. Secara lebih khusus kajian budaya ini lebih pas jika

datang dari bidang humaniora (http://kunci.or.id/asia/Melani.htm),

diakses tanggal 21 Agustus 2006.

Lebih jauh diungkapkan oleh Muhammad Bandi (1997 : 10),

bahwa timbulnya pendidikan formal tidak akan mengubah posisi orang

tua sebagai pemegang tanggung jawab terhadap anak. Orang tua yang

diberi tanggung jawab oleh Tuhan sebagai perantara kelahiran anak,

tetap mengemban tanggung jawab dan kewajibannya untuk

mengantarkan anak dari kelahiran sampai usia dewasa, sehingga ia

mampu berdiri sendiri. Dalam konteks ini sekolah dan masyarakat

membantu orang tua untuk mendidik anaknya sampai dewasa, dan

sekolah menjadi perantara keluarga dengan masyarakat.

Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa antara sekolah, keluarga,

dan masyarakat dalam proses pembudayaan dan pewarisan kebudayaan

terpisah – pisah. Proses ini dapat terwujud, sesuai dengan tindakan dan

sistem yang terpadu.

d. Pentingnya Pembelajaran Sastra Ajaran dalam Pendidikan

Salah satu masalah yang mendorong HLB.Moody menyusun

buku yang berjudul The Teaching of Literature adalah keyakinannya

terhadap manfaat studi sastra. Diyakininya bahwa studi sastra benar –

benar telah mampu memberikan andil yang besar dalam masyarakat

modern yang setiap saat berhadapan dnegan problem – problem

kehidupan yang nyata dan keras (HLB. Moody, 2000 : 6). Pernyataan

tersebut mengandung pengertian bahwa sastra benar – benar

memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, sastra tidak dapat

dilepaskan dari kehidupan manusia. Dengan kata lain dapatlah

dikatakan dalam kehidupan manusia akan selalu ada sastra. Sastra

memberikan pengertian yang dalam tentang manusia dan memberikan

interpretasi serta penilaian terhadap peristiwa – peristiwa dalam

kehidupan (Saleh Saad, 1975 : 591 – 592).

Norman Podhorez (dalam S. Suharianto, 1994 : 8) menyatakan

bahwa sastra dapat memberi pengaruh yang sangat besar terhadap cara

berpikir seseorang mengenai hidup, mengenai baik buruk, mengenai

salah benar, mengenai cara hidup itu sendiri dan bangsanya. Sastra

merangsang kita untuk lebh memahami, menghayati kehidupan. Sastra

bukan merumuskan dan mengabstraksikan kehidupan kepada kita, tetapi

Pendek kata melalui sastra kita dapat meluaskan dimensi

kehidupan dengan pengalaman – pengalaman baru sehingga kehidupan

kita pun menjadi lebih “kaya”. Semua karya sastra yang baik tentu

relevan bagi masyarkat beserta masalahnya, hanya saja relevansi ini

muncul secara tidak langsung (Soeminto A. Sayuti, 1994 : 5).

Tujuan pendidikan secara umum dapat dirumuskan secara sederhana yaitu membentuk dan memajukan individu menjadi a fully functioning person, seorang manusia yang paripurna yang memiliki unsur – unsur hakiki yang seimbang. Unsur – unsur hakiki manusia ini meliputi cipta, rasa, dan karya (dominan kognitif, afektif, dan psikomotorik). Dari sisi ini jelas bahwa dalam pengajaran sastra banyak kita dapatkan dimensi – dimensi kemanusiaan yang penting yang menyangkut hal – hal tersebut. Kiranya dapatlah dikatakan bahwa ada hubungan yang tak terpisahkan antara manusia, sastra, dan pendidikan (Soeminto A. Sayuti, 1994 : 6).

Pembelajaran sastra merupakan sebagian dari kegiatan

pendidikan. Menurut Soeminto A. Sayuti (dalam Jabrohim, 1994 : 12),

pembelajaran lebih menekankan usaha pemindahan (pewarisan)

pengetahuan, kecakapan, dan pembinaan keterampilan kepada anak,

sedang pendidikan lebih menekankan usaha pembentukan nilai – nilai

hidup, sikap pribadi anak didik. Setiap kegiatan pembelajaran harus

merupakan bagian dari usaha pendidikan dalam arti bahwa kegiatan

pengajaran tidak terlepas kaitannya dengan usaha pembentukan pribadi

anak. Oleh karena itu sebenarnya dalam artinya yang paling luas

pengertian pendidikan mencakup pembelajaran juga. Faktor – faktor

pembelajaran yang ideal sejalan juga dengan faktor – faktor pendidikan

Tiga macam fungsi pembelajaran sastra, yaitu ideologis, fungsi

kultural, dan fungsi praktis. Fungsi ideologis merupakan fungsi yang

utama yaitu sebagai salah satu sarana untuk pembinaan jiwa Pancasila.

Tujuan Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila adalah

meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan,

keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan

mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia –

manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri bersama

tanggung jawab atas pembangunan bangsa. Sedangkan fungsi kultural

yaitu memindahkan milik kebudayaan dari satu generasi kepada

generasi berikutnya. Fungsi praktis, bertujuan membekali para siswa

dengan bahan – bahan yang mungkin berguna untuk terjun di tengah

kancah masyarakat.

Sastra mempunyai relevansi dengan masalah – masalah dunia

nyata, maka pembelajaran sastra harus dipandang sebagai suatu yang

penting yang patut menduduki tempat yang selayaknya. Jika

pembelajaran sastra dilakukan dengan cara tepat maka pembelajaran

sastra dapat juga memberi sumbangan yang besar untk memecahkan

masalah – masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam

masyarakat.

Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam

dengan keseluruhannya. Setiap karya sastra selalu menghadirkan

benar akan semakin menambah pengetahuan orang yang

menghayatinya. Lebih jauh B. Rahmanto (1998 : 18) mengungkapkan

bahwa suatu bentuk pengetahuan khusus yang harus selalu dipupuk

dalam masyarakat adalah pengetahuan tentang budaya. Setiap sistem

pendidikan kiranya perlu disertai usaha untuk menanamkan wawasan

pemahaman budaya bagi setiap anak didik. Pemahaman budaya dapat

menumbuhkan rasa bangga, rasa percaya diri, dan rasa ikut memilki.

Lebih jauh dikatakannya bahwa dalam hal pembelajaran sastra kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indera, yang bersifat penalaran, yang bersifat afektif, dan yang bersifat sosial, serta dapat ditambah lagi yang bersifat religius. Dapat ditegaskan pembelajaran sastra yang dilakukan dengan benar akan dapat menyediakan kesempatan untuk mengembangkan kecakapan, sehingga pembelajaran sastra dapat lebih mendekati arah dan tujuan pembelajaran dalam arti yang sesungguhnya (B. Rahmanto, 1998 : 19).

Banyak aspek pendidikan dapat diperoleh melalui pembelajaran

sastra ajaran, misalnya aspek pendidikan moral, keagamaan,

kemasyarakatan, sosial, keindahan, kebahasaan, dan budi pekerti.

Tetapi sesuai dengan hakikat sastra itu sendiri, ada dua tujuan pokok

yang harus diusahakan dapat tercapai dengan pembelajaran sastra, ialah

dihasilkannya subjek didik yang memiliki apresiasi dan pengetahuan

sastra yang memadai. Dengan istilah apresiasi dimaksudkan ialah

kemampuan merasakan atau menikmati keindahan yang terdapat di

dalam karya sastra, baik puisi, prosa, maupun drama (S. Suharianto

Pembelajaran sastra di Indonesia mempunyai tujuan akhir

mengapresiasi karya sastra, mempunyai sumbangan yang besar dalam

mengembangkan rasio dan emosi siswa (Yus Rusyana, 1991 : 14). Hal

itu terjadi karena dalam mengapresiasi karya sastra siswa berhadapan

langsung dengan karya sastra. Berhadapan dengan pembelajaran sastra

berarti motivasi belajar siswa tidak hanya memberikan kekuatan pada

upaya belajar saja, tetapi juga memberikan arah belajar yang jelas.

Belajar juga ditandai oleh kualitas keterlibatan dan komitmen individu

dalam proses belajar (Carole Ames, 1990 dalam

http://ed.gov/databases/ERIC Didest/ed370200.html) akses : 21

Agustus 2006.

Pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan

kemampuan mengapresiasi karya sastra. Kegiatan apresiasi karya sastra

berkaitan erat dengan latihan mempertajam perasaan, penalaran, dan

daya imajinasi serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan

lingkungan hidup.

Hakikat pembelajaran sastra, yaitu belajar berbahasa adalah

belajar berkomunikasi dan “belajar sastra adalah belajar menghargai

manusia dan nilai – nilai kemanusiaannya”. Oleh karena itu belajar

bahasa dan sastra diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa

untuk berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Standar

kompetensi dimaksudkan agar siswa siap mengakses situasi dan

perkembangan multiglobal dan lokal yang berorientasi pada keterbukaan

Diharapkan mereka dapat menyaring hal – hal yang berguna,

belajar menjadi diri sendiri, dan menyadari akan eksistensi budayanya

sehingga tidak tercabut dan lingkungannya.

Oleh karena itu tidak salah apabila HLB. Moody (1996 : 15 – 24), Menyebutkan bahwa pembelajaran sastra dapat (1) membantu keterampilan berbahasa anak, (2) meningkatkan pengetahuan budaya, (3) mengembangkan cipta, rasa, dan (4) menunjang pembentukan watak. Dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa sastra merupakan sumber berbagai cita rasa di antaranya cita rasa moral dan sosial. Sastra sangat layak untuk menjadi sumber pembelajaran bagi para siswa. Siswa yang belajar sastra diharapkan

Dokumen terkait