LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
1. Hakikat Keterampilan Berbicara a. Pengertian Berbicara
Ditijau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan, bahasa dapat dibedakan dalam dua macam ragam bahasa, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis. Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengeskpresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian (juncture). Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, ditambah lagi dengan gerak tangan dan air muka (mimik) pembicara. Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan informasi dengan efektif, sebaiknya pembicara betul-betul memahami isi pembicaraannya, disamping juga harus dapat mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengar (MMaaiiddaarr GG.. AArrssjjaadd,, MMuukkttii UU..SS,, 11998888:: 1177))..
Henry Guntur Tarigan ( 2008: 16) mengatakan bahwa berbicara lebih daripada hanya sekadar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
Burhan Nurgiyantoro (2001: 276) mengemukakan bahwa berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan berbahasa, yaitu setelah aktivitas mendengarkan. Berdasarkan bunyi-bunyi (bahasa) yang didengarnya itulah kemudian manusia belajar mengucapkan bunyi dan akhirnya mampu untuk berbicara. Untuk dapat berbicara dalam suatu bahasa secara baik, pembicara harus menguasai lafal, struktur, dan kosakata yang bersangkutan. Di samping itu, diperlukan juga penguasaan masalah dan atau gagasan yang akan disampaikan, serta kemampuan memahami bahasa lawan bicara.
Sarwiji Suwandi dan Budhi Setiawan (2003: 7) mengemukakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Sebagai perluasan dari pengertian ini dapat kita katakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikomunikasikan.
Menurut Mulgrave (dalam Suharyanti, 1996: 5) mengatakan bahwa berbicara itu lebih daripada hanya sekadar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir secara langsung; apakah pembicara memahami atau tidak baiknya pembicaraannya maupun penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasan; apakah dia waspada serta antusias atau tidak.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka berbicara dapat didefinisikan suatu aktivitas kehidupan manusia sebagai sarana berkomunikasi antarsesama manusia untuk menyampaikan pendapat, menyampaikan maksud dan pesan, mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, perasaan dan keinginan dengan bantuan lambang-lambang yang disebut kata-kata dalam segala kondisi emosional dan lain sebagainya melalui bahasa lisan yang merupakan ekspresi dari gagasan-gagasan pribadi seseorang.
b. Tujuan Berbicara
Henry Guntur Tarigan (2008:16) mengemukakan bahwa tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Sedangkan Sarwiji Suwandi dan Budhi Setiawan (2003: 12) mengemukakan bahwa maksud dan tujuan berbicara bergantung pada apa yang dikehendaki. Suatu maksud atau tujuan selalu akan
menghendaki atau menimbulkan reaksi-reaksi tertentu pula. Pada umumnya tujuan berbicara sebagai berikut.
1) Pembicara dikatakan mendorong apabila ia berusaha memberi semangat, membangkitkan gairah atau menekankan perasaan yang kurang baik, serta menunjukkan rasa hormat dan pengabdian. Setelah pembicaraan itu berakhir, pendengar diharapkan menunjukkan reaksi yang berupa tergugahnya perasaan mereka terhadap hal yang disampaikan oleh pembicara.
2) Meyakinkan, pembicara berusaha mempengaruhi keyakinan pendengar. Setelah pembicaraan ini selesai, diharapkan terjadi persesuaian pendapat, keyakinan, dan kepercayaan antara pendengar dan pembicara. 3) Berbuat atau bertindak, seorang pembicara yang mempunyai tujuan seperti ini biasanya menghendaki adanya tindakan atau reaksi fisik dari para pendengar. Dasar tindakan tersebut adalah adanya keyakinan yang sudah dalam atau terbakar suatu emosi.
4) Memberitahu, pembicara yang bertujuan memberitahukan, biasanya pembicara bila ingin memberitahukan atau menyampaikan sesuatu kepada pendengarnya agar mereka mengerti tentang sesuatu hal.
5) Menyenangkan, mempunyai maksud untuk menggembirakan pendengar dalam suatu pertemuan.
Suharyanti (1996: 4) menjelaskan tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan secara efektif, maka seyogyanyalah pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan; dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengarnya; dan dia harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan.
Imam Syafi`ie (1993: 35) menjelaskan tujuan pengajaran keterampilan berbicara adalah agar para siswa mampu memilih dan menata gagasan dengan penalaran yang logis dan sistematis, mampu menuangkannya ke dalam bentuk-bentuk tuturan dalam bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, mampu mengucapkannya dengan jelas dan lancar, serta mampu memilih ragam bahasa Indonesia sesuai dengan konteks komunikasi.
Menurut Ochs dan Winker (dalam Henry Guntur Tarigan, 2008: 17) berpendapat bahwa pada dasarnya berbicara mempunyai tiga maksud umum, yaitu: (1) memberitahukan dan melaporkan; (2) menjamu dan menghibur; dan (3) membujuk, mengajak, mendesak dan meyakinkan.
Sri Utari Subyakto Nababan (1993: 172) menjelaskan tujuan pertama kemampuan “komunikatif” ialah untuk “menyampaikan pesan kepada orang”, yakni “untuk mampu berkomunikasi mengenai sesuatu dalam bahasa”. Tujuan kedua ialah “menyampaikan pesan kepada orang lain dalam cara yang secara sosial dapat diterima”. Tujuan pertama dapat dicapai dengan aktivitas-aktivitas yang boleh disebut “kinerja komunikatif”, sedangkan tujuan kedua dengan latihan-latihan untuk mengembangkan kemampuan komunikatif.
Berdasarkan beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan berbicara adalah menyampaikan pesan dan berkomunikasi untuk orang lain dengan prinsip-prinsip tertentu agar pembicara dan pendengar saling mengerti. Berbicara mempunyai maksud-maksud tertentu, misalnya mengajak, menghibur, meyakinkan. Berbicara berarti menuangkan ide serta gagasannya ke dalam sebuah tuturan dengan tujuan agar dimengerti orang lain.
c. Faktor-faktor Penunjang Keefektifan Berbicara
Faktor-faktor yang menentukan keefektifan berbicara, yaitu pembicara, pendengar, dan pokok pembicaraan yang dipilih. Ketiga faktor ini sangat menentukan berhasil tidaknya keberhasilan berbicara. Selain itu, faktor bahasa tentu juga sangat menentukan.
Maidar G. Arsjad, Mukti U.S (1991: 31-32) memberikan rambu-rambu agar seseorang mampu berbicara dengan baik seorang pembicara harus, di antaranya: (1) menguasai masalah yang dibicarakan; (2) mulai berbicara jika situasi sudah mengijinkan; (3) pengarahan yang tepat dan memancing perhatian pendengar; (4) berbicara harus jelas dan tidak terlalu cepat; (5) pandangan mata dan gerak-gerik yang membantu; (6) pembicara sopan, hormat, dan melibatkan rasa persaudaraan; (7) dalam komuniksi dua arah, mulai berbicara jika sudah dipersilakan; (8) kenyaringan suara; dan (9) pendengar akan lebih terkesan jika ia menyaksikan pembicara sepenuhnya.
Setidaknya ada empat faktor yang harus dimiliki oleh seorang pembicara jika ingin berhasil dalam berbicara, yaitu: (1) percaya diri; (2) kejelasan suara; (3) ekspresi/gerak mimik; dan (4) kelancaran komuniksi. Lebih lanjut Maidar G.
Arsjad, Mukti U.S (1991: 87) menjelaskan bahwa keefektifan berbicara ditunjang oleh dua faktor yaitu faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi: (1) ketepatan ucapan; (2) penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai; (3) pilihan kata (diksi); dan (4) ketepatan sasaran pembicaraan. Adapun faktor nonkebahasaan meliputi: (1) sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku; (2) mimik dan gerak badan atau pandangan; (3) penampilan; (4)menghargai pendapat orang lain; (5) kenyaringan suara; (6) penalaran; dan (7) penguasaan topik.
d. Keterampilan Berbicara
Maidar G. Arsjad, Mukti U.S (1998: 1) mengatakan bahwa kemampuan berbicara secara formal tidak dimiliki oleh semua orang. Untuk memperoleh kemampuan tersebut harus melalui segala bentuk ujian dalam bentuk latihan dan pengarahan atau bimbingan yang intensif.
Berbicara sebagai salah satu bagian keterampilan berbahasa. Kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah, berbicara mempunyai peranan penting yang turut menentukan pencapaian tujuan pembelajaran. Dijelaskan oleh Tarigan (2008: 12) bahwa tujuan utama berbicara adalah terjadinya komunikasi. Secara praktis, kegiatan komunikasi tersebut terjadi dalam setiap proses pembelajaran karena di dalamnya akan selalu terdapat interaksi melalui kegiatan menyimak dan berbicara.
Beberapa konsep mengenai keterampilan berbicara menurut Imam Syafi’ie (1993: 33) sebagai berikut.
1) Keterampilan berbicara adalah keterampilan yang sangat penting untuk berkomunikasi, dengan keterampilan berbicara dapat mengontrol komunikasi. 2) Keterampilan berbicara adalah suatu proses yang kreatif. Penyampaian keterampilan berbicara dalam menyampaikan informasi, kemauan dan keinginan, serta perasaan yang berlangsung dengan berbagai peristiwa komunikasi. Setiap peristiwa komunikasi dengan keterampilan berbicara tentu melibatkan pembicara dan pendengar yang berada dalam interaksi yang bersifat aktif dan kreatif.
3) Keterampilan berbicara adalah hasil proses belajar. Keterampilan berbicara yang baik dapat dikuasai melalui proses belajar dan berlatih secara teratur. Dalam perencanaan pengajaran keterampilan berbicara yang baik dikemukakan dengan jelas tujuan pengajaran yang hendak dicapai, materi, metode, teknik, kegiatan pembelajaran, dan menilai keberhasilan siswa. 4) Keterampilan berbicara sebagai media untuk memperluas wawasan. Dengan
keterampilan berbicara yang baik siswa dapat memperoleh informasi tentang apa, siapa, di mana, bilamana, mengapa, dan bagaimana mengenai berbagai hal yang ditemui, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
5) Keterampilan berbicara dapat dikembangkan dengan berbagai topik. Untuk mengembangkan keterampilan berbicara ini siswa perlu dirangsang dengan berbagai topik yang memungkinkan siswa dapat berbicara. Dalam hal ini guru dapat melakukan pembelajaran dan pelatihan keterampilan berbicara dengan mengambil topik dari bidang studi atau mata pelajaran lain.
Berbicara, seperti yang telah dipaparkan di atas dalam kaitannya dengan proses pembelajaran di sekolah, dapat dikatakan sebagai kegiatan yang bersifat intelektual. Berbicara bukan hanya sekadar kegiatan mengucap buny-bunyi bahasa, namun perlu didukung oleh penguasaan beberapa hal penunjang yang harus dipelajari terlebih dahulu agar bisa dikatakan terampil. Keterampilan berbicara tersebut akan terlihat manakala seorang terampil mengekspresikan ide, pikiran, perasaan, aspirasi, dan berbagai pengalaman hidup kepada orang lain secara lisan.
Berdasarkan seluruh asumsi di atas, keterampilan berbicara disimpulkan sebagai salah satu aktivitas berbahasa yang dilakukan dengan cara mengomunikasikan pesan secara lisan kepada orang lain dengan memperhatikan beberapa penunjang keterampilan berbicara tersebut.
2. Hakikat Pembelajaran Keterampilan Berbicara di SMA