BAB II KAJIAN TEORI
1. Hakikat Keterampilan Menyimak
Keterampilan adalah kemampuan teknis untuk melakukan suatu perbuatan. Ia merupakan aplikasi atau penerapan dari pengetahuan teoritis yang dimiliki seseorang, seperti keterampilan bercocok tanam bagi petani, mengajar bagi guru, membuat kursi bagi tukang kayu, memotong dan menjahit baju bagi penjahit, dan lain-lain. Dengan keterampilan, seseorang dapat melakukan suatu pekerjaan secara efektif dan efisien.8
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Keterampilan berasal dari kata terampil yang berarti kecakapan, cekatan maksudnya adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas”. Keterampilan adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu.
Setiap keterampilan itu erat pula hubungannya dengan proses- proses berpikir yang mendasari bahsa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan
8 Sudarto, Keterampilan dan Nilai Sebagai Materi Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Journal Vol. 1 No. 1 Tahun 2016
dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti melatih pula keterampilan berpikir.9
b. Pengertian Keterampilan Menyimak
Keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat jenis, yaitu : keterampilan menyimak (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills) dan keterampilan menulis (writing skills). Setiap keterampilan itu erat sekali hubungannya dengan ketiga keterampilan lainnya dengan cara beraneka ragam.
Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang terakhir: mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah, sedangkan membaca dan menulis dipelajari di sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang disebut caturtunggal.10
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang - lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.11
Definisi kata „menyimak‟ dalam bahasa Indonesia memiliki kemiripan makna dengan „mendengar‟ dan
„mendengarkan‟. Oleh karena itu, ketiga istilah itu sering menimbulkan kekacauan pemahaman, bahkan sering dianggap sama sehingga dipergunakan secara bergantian. Ketiga istilah tersebut memang agak berkaitan dengan makna. Namun, tetap berbeda dalam penerapan atau penggunaannya. Moeliono
9 Henry Guntur Tarigan, Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung : Angkasa, 2013) hal. 2-3
10 Ibid.
11 Ibid. Hal. 31
menjelaskan bahwa mendengar diartikan sebagai menangkap bunyi (suara) dengan telinga. Mendengarkan berarti menagkap (bunyi) dengan sungguh-sungguh. Berbeda halnya dengan menyimak. Menyimak berarti memperhatikan baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang12
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyimak (Mendengar, memperhatikan) mempunyai makna dapat menangkap bunyi dengan telinga. Sadar atau tidak, kalau ada bunyi maka alat pendengaran kita akan menangkap atau mendengar bunyi-bunyi tersebut. Kita mendengar suara itu, tanpa unsur kesengajaan. Proses mendengar terjadi tanpa perencanaan tetapi dating secara kebetulan.
Bunyi-bunyi yang hadir di telinga itu mungkin menarik perhatian, mungkin juga tidak.
Mendengarkan atau menyimak merupakan proses menangkap pesan atau gagasan yang disajikan melalui ujaran.13 Hakekat menyimak adalah suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterprestasi, menilai dan merealisasi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan.14 Pendapat lain mengenai definisi keterampilan menyimak ialah sebagai berikut.15
“Listening is more than merely hearing words. Listening is an active process by which students receive, construct meaning from, and respond to spoken and or nonverbal messages. As such, it forms an integral part of the
12 Kundharu Saddhono, St Y Slamet, Meningkatkan Keterampilan Bahasa Indonesia, (Bandung: CV Karya Putra Darwati 2012) hal. 8
13 Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 4 (Jakarta: Depdiknas, 2008)
14 Dindin Ridwanuddin, Bahasa Indonesia, (Ciputat : UIN Press, 2015) hal. 157
15 Al-Khayyat, The Impact of Directed Listening Thinking Activity (DLTA) on Developing University Students Listening Competencies. (International Journal of English and Education. Volume:
4, Issue: 4, October 2015). Hal. 39
communication process and should not be separated from the other language arts.”
Selain itu pendapat lain mengatakan mengenai kedudukan keterampilan menyimak dengan mendengarkan sebagai berikut.16
“Listening, like reading, writing, and speaking, is a complex process best developed by consistentpractice. Listening is the vital skill providing the basis for the successful communication and successful professionalcareer, enhance the ability to learn and adapt new information, knowledge, and skills”
Berdasarkan penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa menyimak adalah proses mendengarkan dnegan penuh pemahaman, apresiasi, dan evaluasi. Menyimak merupakan kegiatan yang disengaja melalui proses mendengar untuk memahami bunyi-bunyi bahasa, sedangkan mendengar adalah kegiatan hanya sekedar tahu tetapi tidak memahami bunyi-bunyi bahasa yang di simak. Keterampilan menyimak adalah suatu kegiatan mendengerkan dimana penyimak harus mengerti dan memahami setiap detil pembicara agar menjadi suatu komunikasi yang baik dan maksimal.
c. Unsur-unsur Menyimak17 1) Pembicara.
Yang dimaksudkan dengan pembicara ialah orang yang
menyampaikan pesan yang berupa informasi yang dibutuhkan oleh penyimak. Dalam komunikasi lisan, pembicara ialah narasumber
Hal. 89
16 Liubiniene, Developing Listening Skills in CLIL. (Jurnal Kalbo Studijos, Volume 15, 2009)
17 Isah Cahyani, Kemampuan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, (Bandung : UPI PRESS, 2007) hal. 33
pembawa pesan, sedang lawan bicara ialah orang yang menerima pesan. Dalam aktivitasnya, seorang penyimak sering melakukan kegiatan menulis dengan mencatat hal-hal penting selama melakukan kegiatan menyimak.
2) Penyimak.
Penyimak yang baik ialah penyimak yang memilik
pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas. Jika penyimak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas, ia dapat melakukan kegiatan menyimak dengan baik. Selain itu, penyimak yang baik ialah penyimak yang dapat melakukan menyimak dengan intensif.
3) Bahan simakan.
Bahan simakan merupakan unsur terpenting dalam komunikasi lisan, terutama dalam menyimak. Yang dimaksudkan dengan bahan simakan ialah pesan yang disampaikan pembicara kepada penyimak.
Bahan simakan itu dapat berupa konsep, gagasan, atau informasi. Jika pembicara tidak dapat menyampaikan bahan simakan dengan baik, pesan itu tidak dapat diserap oleh penyimak yang mengakibatkan terjadinya kegagalan dalam komunikasi.
d. Proses Menyimak
Terdapat 5 tahap-tahap proses menyimak18 :
1) Tahap Mendengar, dalam tahap ini kita baru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atas pembicaraannya. Jadi, kita masih berada dalam tahap hearing.
2) Tahap Memahami, setelah kita mendengar maka keinginan bagi kita untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang
18 Henry Guntur Tarigan, Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung:
Angkasa, 2013) hal. 63
disampaikan oleh pembicara. Kemudian, sampailah kita dalam tahap understanding.
3) Tahap Menginterpretasi, penyimak baik, yang cermat dan teliti, belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara, dia ingin menafsirkan atau menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam ujaran itu, dengan demikian sang penyimak telah tiba pada tahap interpreting.
4) Tahap Mengevaluasi, setelah memahami serta menafsir atau menginterpretasikan isi pembicaraan, penyimak pun mulailah menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan pembicara mengenai keunggulan dan kelemahan serta kebaikan dan kekurangan pembicara, dengan demikian sudah sampai pada tahap evaluating.
5) Tahap Menanggapi, tahap ini merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak. Penyimak menyambut, mencamkan, dan menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya. Lalu penyimak pun sampailah pada tahap menanggapi (responding).
e. Tujuan Menyimak
Menurut Henry Guntur Tarigan terdapat 8 tujuan menyimak diantaranya adalah:
1) Menyimak untuk belajar 2) Menyimak untuk menikmati 3) Menyimak untuk mengevaluasi 4) Menyimak untuk mengapresiasi
5) Menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide 6) Menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi 7) Menyimak untuk memecahkan masalah 8) Menyimak untuk meyakinkan
Para ahli komunikasi yang dikutip oleh Thompkins & Hoskisson menggolongkan dalam lima hal yang spesifik antara lain sebagai berikut19 :
1) Menyimak diskriminatif
Dalam kegiatan menyimak diskriminatif, orang-orang membeda- bedakan suara-suara dan mengembangkan kepekaan terhadap komunikasi nonverbal.
2) Mendengarkan estetik
Dalam kegiatan menyimak dipergunakan untuk kesenangan. Ketika kita menyimak seseorang yang membaca cerita –cerita dengan suara yang keras atau deklamasi syair merupakan kegiatan (hal) yang menyenangkan.
3) Mendengarkan bertujuan
Dalam kegiatan menyimak jenis ini memiliki tujuan untuk mendapatkan informasi dari apa yang didengar dan disimak.
4) Mendengarkan kritikal
Orang-orang mendengarkan untuk mendapatkan informasi dan lalu melakukan evaluasi pesan tersebut.
5) Mendengarkan terapetik
Orang-orang mendengarkan untuk mengikuti penutur (pembicara) berbicara mengenai suatu masalah.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan mendengarkan yaitu mendengarkan estetik (untuk kesenangan), mendengarkan bertujuan (untuk informasi), dan mendengarkan bertujuan (untuk informasi) dan mendengarkan kritikal (untuk mengevaluasi).
19 Thompkins & Hoskisson, Language Arts: Content and Teaching Strategies, (New Jersey:
Prentice Hall Inc, 1995) Hal. 84
f. Jenis-Jenis Menyimak
Henry Guntur Tarigan menggolongkan beberapa jenis keterampilan menyimak dibedakan berdasarkan kriteria tertentu sebagai berikut20 :
1) Menyimak Ekstensif
Menyimak ekstensif adalah sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari seorang guru.
Kegiatan menyimak ekstensif dapat dibagi empat, yaitu sebagai berikut :
a) Menyimak Sekunder
Menyimak sekunder adalah sejenis mendengar secara kebetulan, maksudnya dilakukan sambil mengerjakan sesuatu.
b) Menyimak Estetik
Dalam menyimak esetetik secara imajinatif penyimak ikut merasakan karakter dari setiap pelaku dengan tujuan memperoleh kesenangan.
c) Menyimak Pasif
Menyimak pasif merupakan penyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya penyimak pada saat belajar dengan teliti.
d) Menyimak Sosial
Menyimak tipe ini berlangsung dalam situasi social dan memberikan respond dan perhatian terhadap hal yang disampaikan oleh orang lain.
2) Menyimak Intensif
20 Henry Guntur Tarigan, Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung : Angkasa , 2013) hal. 62
Menyimak intensif lebih diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap suatu hal tertentu. Pada menyimak intensif, penyimak memahami isi simakan secara terinci, teliti, cermat, dan mendalam terhadap bahan yang disimaknya. Bagian- bagian dari menyimak intensif adalah sebagai berikut :
a) Menyimak Kritis
Menyimak kritis bertujuan untuk memperoleh fakta yang diperlukan. Penyimak menilai gagasan, ide, dan informasi dari pembicara.
b) Menyimak Konsentratif
Menyimak konsentratif merupakan kegiatan untuk menelaah pembicaraan/ hal yang disimaknya.
c) Menyimak Kreatif
menyimak kreatif mempunyai hubungan erat dengan imajinasi seseorang.
d) Menyimak Interogatif
Menyimak interogatif merupakan kegiatan menyimak yang menuntut konsentrasi dan selektivitas, pemusatan perhatian.
e) Menyimak Eksploratori
Menyimak eksploratori atau menyimak penyelidikan adalah sejenis menyimak dengan tujuan menemukan berbagai hal informasi atau pesan.
Berdasarkan penjelasan di atas, akan difokuskan perhatian pada tipe-tipe dari tujuan menyimak kebanyakan pas atau cocok/ sesuai untuk siswa-siswa jenjang sekolah dasar, yaitu : menyimak dalam hal untuk kesenangan, menyimak untuk memperoleh informasi yang diperoleh.
Para siswa memiliki banyak tujuan dalam mempelajari keterampilan menyimak selain tuntutan kurikulum di sekolah.
g. Karakteristik Perkembangan Keterampilan Berbahasa pada Anak-Anak Usia Sekolah Dasar
Anak-anak yang berusia pada jenjang sekolah dasar memiliki rentang umur antara 6-12 tahun yang banyak mengalami perubahan sangat drastis baik mental maupun fisik. Pada masa ini, perkembangan keterampilan berbahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata yang dimiliki oleh anak-anak juga meningkat dan cara-cara yang dilakukan oleh anak-anak dalam menggunakan kata-kata dan kalimat bertambah kompleks serta lebih menyerupai bahasa orang dewasa.
Ketika anak-anak masuk kelas satu sekolah dasar diperkirakan jumlah perbendahraan kosa kata mereka sekitar 20.000 hingga 24.000 kata. Saat mereka berada pada kelas enam, jumlah perbendaharaan kosa kata mereka sekitar 50.000 kata atau lebih.21 Pada masa anak-anak antara 6 hingga 7 tahun merupakan saat yang baik dalam mengajarkan keterampilan membaca dan menulis lewat kegiatan menyimak. Hal ini disampaikan dalam penjelasan yang lengkap yakni22:
“children are between 6 and 7 yearsold when they are taught to lsiten, read and write, because that is good time.
Articulation has developed, so that children can hear and say the sounds of a language”
Pengelompokkan perkembangan dasar-dasar keterampilan berbahasa sesuai perkembangan psikologi yang disesuaikan dengan
21 Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 2005) Hal. 68
22 Bruce dan Spratt, Essentials of Literacy From 0-7 Years 2nd edition, (London: SAGE Publications, 2011) Hal. 14
teori Piaget dalam dua kelomok yaitu kelas bawah yang terdiri dari kelas 1-4 dan kelas atas 5-6 yang dijelaskan sebagai berikut23 :
1) “Lower primary school (concrete operations) 7-11 years standard I, II, III and IV : The two basic objectives for a curriculum at this stage are: a) the child should be able to learn fundamental skills in reading, writing and calculating arithmetic problems. b) the child should be able to accept his own aptitude forschool
2) Upper primary (formal operations) 11-15 years: standards V, VI, VII and VIII At this stage the child shifts from the level of concrete operations to the final stage of formal operations. He is cap able of considering the ideas of others and communicating with them, since he is well into the socialized speech phase of language development.”
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pada anak-anak usia sekolah dasar (6-12 tahun) mengalami perkembangan keterampilan berbahasa yang cukup drastis. Mereka dapat melihat dan mendengar ataupun menyimak berbagai sumber informasi di sekitar mereka yang akan dijadikan bahan perbendaharaan kosa kata dan kalimat mereka untuk berinteraksi dengan diri sendiri serta dengan orang lain.
h. Kemampuan Menyimak Siswa Sekolah Dasar
Khusus mengenai kemampuan menyimak siswa sekolah dasar yang telah meninggalkan mas ataman kanak-kanaknya adalah sebagai berikut24:
23 Simatwa, Piaget’s Theory of Intellectual Development and It’s Implication for Instructional Management at Presecondary School Level, (Educational Research and Reviews Academic Journals, Vol. 5 (7) July 2010) Hal 366-371)
24 Henry Guntur Tarigan, Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung : Angkasa , 2013) hal. 63
1) Anak-anak akan mampu menyimak dengan baik, apabila suatu cerita dibacakan dengan nyaring.
2) Anak-anak akan senang dan mampu menyimak dengan baik, apabila seorang
pembicara menceritakan suatu pengalaman sejati.
3) Anak-anak dapat menyimak bunyi-bunyi dan nada-nada yang berbeda, terlebih kalau nada, terlebih kalau intonasi sang pembicara sangat jelas dan baik.
4) Anak-anak dapat menyimak persamaan-persamaan dan perbedaan- perbedaan yang terdapat dalam ujaran.
5) Anak-anak mampu dan senang menyimak ritme-ritme dan rima-rima dalam suatu pembacaan puisi atau drama.
6) Anak-anak mampu menyimak dan menangkap ide-ide yang terdapat dalam ujaran atau pembicaraan.
Berdasarkan pernyataan tersebut dalam proses pembelajaran menyimak dibutuhkan kekreatifan dari seorang guru dalam menyajikan bahan simakan bagi siswa, sehingga siswa bukan hanya menyimak dengan baik namun siswa senang karena merasa terhibur.
Tulare Country Schools pada tahun 1949 selesai menyusun sebuah buku petunjuk mengenai keterampilan berbahasa yang berjudul
“Tulare Country Cooperative Language Arts Guide”. Dalam Tarigan yaitu :
1) Taman kanak-kanak (4 ½ - 6 tahun) :
a) Menyimak pada teman sebaya dalam kelompok-kelompok bermain;
b) Mengembangkan waktu perhatian yang amat panjang terhadap cerita atau dongeng;
c) Dapat mengingat petunjuk-petunjuk dan pesan-pesan yang sederhana.
2) Kelas satu (5 ½ - 7 tahun) :
a) Menyimak untuk menjelaskan atau menjernihkan pikiran atau untuk mendapatkan jawaban-jawaban bagi pertanyaan- pertanyaan;
b) Dapat mengulangi secara tepat sesuatu yang telah didengarnya;
c) Menyimak bunyi-bunyi tertentu pada kata-kata dan lingkungan.
3) Kelas dua (6 ½ - 8 tahun) :
a) Menyimak dengan kemampuan memilih dan mengingat;
b) Membuat saran-saran, usul-usul, dan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan untuk mengecek pengertiannya;
c) Sadar akan situasi, kapan sebaiknya menyimak, kapan pula sebaliknya tidak usah menyimak.
4) Kelas tiga dan empat (7 ½ - 10 tahun) :
a) Sungguh-sungguh sadar akan nilai menyimak sebagai sumber informasi dan sumber kesenangan;
b) Menyimak pada laporan orang lain, pita rekaman laporan mereka sendiri, dan siaran-siaran radio dengan maksud tertentu serta dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersangkutan dengan hal itu;
c) Memperlihatkan keangkuhan dengan kata-kata atau ekpresi- ekpresi yang tidak mereka pahami maknanya
d) Menyimak secara kritis terhadap kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan dan propaganda-propaganda, dan petunjuk-petunjuk yang keliru;
e) Menyimak pada aneka ragam cerita puisi, rima dan kata-kata, dan memperoleh kesenangan dalam menemui tipe-tipe baru.
i. Indikator Kemampuan Menyimak
Menyimak menyangkut proses dan interpretasi terhadap
informasi yang datang. Jadi, dalam menyimak diperlukan konsentrasi, perhatian yang sungguh-sungguh, kesengajaan, pemahaman, kesengajaan dan kehati-hatian.25
1) Konsentrasi siswa saat menyimak
Konsentrasi berarti mampu memusatkan perhatian.
Ada tiga tujuan menyimak, yaitu melatih konsentrasi siswa, melatih daya paham, dan melatih daya kreatif siswa.
Menyimak seharusnya diorentasikan agar siswa benar-benar mampu memusatkan perhatian terhadap bahan simakan yang diperdengarkan. Strategi menyimak mampu membuat siswa aktif saat menyimak dan menuntut siswa untuk selalu berkonsentrasi selama menyimak. Misalnya saat kegiatan menyimak siswa disuruh menuliskan ide pokok cerita, membuat peta konsep bahan simakan, membuat prediksi bahan simakan dan sebagainya.26
2) Daya ingat siswa terhadap bahan simakan
Apabila siswa dapat memahami apa yang disimaknya maka siswa akan dengan mudah mengingat apa yang disimaknya. Untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap apa yang disimaknya, guru harus menguasai benar strategi pemahaman saat menyimak, yaitu bertukar ide, beradu argument, menyusun respons terhadap isi bacaan, dan berbagai jenis kegiatan lainnya. Tanpa strategi tersebut siswa hanya mampu memiliki kemampuan menyimak yang semu, yaitu hanya mampu menjawab seputar bahan simakan tanpa mengerti atau memahami bahan simakan.27
Definisi daya ingat merupakan kemampuan memanggil kembali informasi yang telah dipelajarinya dan yang telah disimpan dalam otak. Daya ingat seseorang tidak terlepas dari kemampuan
25 Hermawan Herry, Keterampilan Menyimak yang Terabaikan, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2012) Hal. 33
26 Abidin Yunus, Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter, (Bandung : PT.
Refika Aditama, 2012) Hal. 96
27 Ibid, Hal. 96
otaknya untuk menyimpan informasi. Faktor yang mempengaruhi daya ingat yaitu28:
a) Faktor individu. Proses mengingat dipengaruhi diri dalam individu seperti sifat, keadaan jasmani, keadaan rohani dan umur. Mengingat akan lebih efektif apabila individu memiliki minat yang besar, motivasi yang kuat, memiliki metode tertentu dalam pengamatan dan pembelajaran, dan memiliki kondisi fisik dan kesehatan yang baik.
b) Faktor objek yang diingat. Sesuatu yang memiliki organisasi dan struktur yang jelas, mempunyai arti, mempunyai keterkaitan dengan individu, mempunyai intensitas rangsangan yang cukup kuat lebih mudah diingat oleh seseorang.
c) Faktor lingkungan. Proses mengingat akan lebih efektif apabila ada lingkungan yang menunjang dan terhindar dari adanya gangguan-gangguan.
j. Faktor-Faktor Penghambat Keterampilan Menyimak
Setiap sekolah tentunya terdapat hambatan-hambatan dalam pembelajaran menyimak tidak selalu sama, berbeda-beda. Pada sekolah tertentu hambatan tersebut dapat diminimalisir, tetapi bisa saja di sekolah lain dapat lebih kompleks atau sulit. Semakin terlihat hambatan-hambatan tersebut dalam pembelajaran menyimak sastra seperti menyimak dongeng, hal ini disebabkan berbagai faktor misalnya siswa kurang bisa memahami dongeng yang disampaikan oleh guru, atau kurangnya penggunaan media yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran, guru biasanya berbenturan dengan masalah seperti pemilihan media dan metode yang tepat. Padahal seperti
28 Ahmadi Abu, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2004)
yang kita tahu, metode dan media merupakan hal yang penting dalam pembelajaran. Pada kenyatannya guru masih menggunakan metode yang cenderung membosankan bagi siswa. Hal tersebut menyebabkan berapa permasalahan di dalam proses komunikasi terutama dunia pendidikan. Berikut ini beberapa faktor-faktor hambatan keterampilan menyimak :
1) Permasalahan tes kompetensi menyimak
Dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, pembelajaran dan tes menyimak tampak kurang mendapat perhatian sebagaimana halnya kompetensi berbahasa yang lain. Secara khusus semua guru bahasa belum tentu mempelajarkan dan sekaligus menguji kompetensi menyimak siswa dalam satu periode tertentu walaupun sebenarnya untuk mengikuti berbagai mata pelajaran kemampuan itu sangat diperlukan29.
Karena hal itu guru masih beranggapan bahwa dengan sendirinya siswa telah baik kemampuannya memahami bahasa lisan, atau karena mempersiapkan dan menyusun tes kompetensi tidak semudah dan sesederhana seperti tes-tes kompetensi yang lain.
Pada intinya, tes kompetensi menyimak memerlukan persiapan dan sarana yang telah khusus.
Tes kompetensi menyimak sesuai dengan namanya, bahan tes yang diujikan disampaikan secara lisan dan diterima siswa melalui sarana dan pendengaran. Masalah yang ditimbulkan adalah sarana apa yang harus dipergunakan, perlukah seorang guru menggunakan media rekaman, siaran langsung (televisi, radio), atau langsung
29 Burhan Nurgiyantoro, Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi, (Yogyakarta:
BPFE-Yogyakarta, 2013) hal. 353
disampaikan (dibacakan) secara lisan oleh guru sewaktu tes berlangsung.30
Kelemahan penggunaan media rekaman terutama yang bersifat teknis, misalnya seseorang harus menyediakan perangkat keras di ruang ujian. Di samping itu, berhubung belum banyak tersedia program rekaman untuk latihan atau tes dalam bahasa Indonesia, guru perlu menyiapkan sendiri. Hal ini juga merupakan pekerjaan tambahan yang tidak mudah dilakukan. Oleh karena itu, guru banyak mengalami kesulitan.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, sarana dan prasarana sangat penting digunakan untuk menunjang pembelajaran menyimak. Tapi pada kenyataannya, beberapa sekolah kurang memadai seperti tidak
Berdasarkan pendapat ahli di atas, sarana dan prasarana sangat penting digunakan untuk menunjang pembelajaran menyimak. Tapi pada kenyataannya, beberapa sekolah kurang memadai seperti tidak