Bab 2 Dupa, Altar, dan Sembahyang
3. Hakikat dan Makna Kebajikan
Benih-Benih Kebajikan Dalam Diri Manusia
Tuhan Yang Maha Esa telah mengaruniakan kepada setiap manusia yang terlahir ke atas dunia ini dibekali dengan watak sejati yang bersifat baik.
Tuhan dengan segala kesempurnaan-Nya memiliki sifat-sifat yang wajib kita imani dan hayati di dalam kehidupan, yakni:
1. Yuan元 :
Khalik, Pencipta Semesta alam, Mahakasih,
Prima Causa sekaligus Causa Finalis, Mula dan Akhir Semuanya.
Sifat Yuan ini merupakan kepala dari segala sifat Baik.
2. Heng 亨:
Maha besar, Maha menjalin/menembusi, Maha indah.
Sifat Heng ini merupakan berkumpulnya segala sifat Indah.
3. Li 利 :
Maha pemberkah, menjadikan tiap pelaku menuai hasil perbuatan.
Sifat Li ini merupakan sifat Harmonisnya dengan Kebenaran.
4. Zhen 侦:
Maha kuasa. Maha kokoh, Maha abadi Hukumnya.
Sifat Zhen merupakan sifat tepat beresnya segala perkara.
Sifat sifat Tuhan inilah yang kemudian memercikan benih-benih kebajikan dalam diri manusia yang kemudian di dalam diri manusia menjadi:
Ren (仁) yaitu Cinta Kasih, Yi (义) yaitu Kebenaran, Li (礼) yaitu Kesusilaan, Zhi (知) yaitu Kebijaksanaan.
Kenyataan bahwa Tian Yang Maha sempurna tidak bisa diterima dengan panca indera, tetapi kita wajib menumbuhkan Iman atas karunia yang telah Tian berikan atas hidup manusia tersebut. Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa tersebut akan senantiasa hidup dan berkembang di dalam diri manusia, sehingga menjadi jalinan, jembatan yang menghubungi manusia dengan
Sejati memang merupakan karunia Frman-Nya, yang dengannya tiap insan memiliki kewajiban dan kemampuan kodratinya untuk mengembangkannya, sebagai pernyataan Satya kepada Tian serta Tepasalira kepada sesama makhluk hidup lainnya.
Dalam Kitab Mengzi: 21: 4 “Keempat Benih Kebajikan inilah yang merupakan Firman Tian didalam diri manusia, yang menjadikan kodrat kemanusiaan dari manusia itu sendiri.”
Oleh karena benih kebajikan inilah manusia menjadi mahluk mulia, dan utama serta dengannyalah manusia mengabdi kepada Tian, Siapakah yang dapat lari dari ini dan memungkiri kodratnya?
Ren,Yi, Li, Zhi (rén ì lĭ cë 仁義禮智/仁义礼智) inilah yang memuliakan Manusia, Cinta Kasih, Kebenaran, Susila, Bijaksana inilah yang menjadikan kelebihan manusia dari makhluk lain yang diciptakan Tian.
Kebajikan Tuhan yang dipancarkan di dalam diri manusia akan menjadi Kebajikan Manusia, yang menjadi Nilai-Nilai Luhur Kemanusiaan. Hal ini telah tersurat di dalam Kitab Mengzi Bab VIA: 16, “Ada kemuliaan Karunia Tuhan dan ada kemuliaan pemberian manusia. Cinta Kasih, Kebenaran, Satya, Dapat Dipercaya dan Gemar akan Kebaikan dengan tidak merasa jemu, itulah kemuliaan Karunia Tuhan Yang Maha Esa. Kedudukan Rajamuda, Menteri dan Pembesar itulah kemuliaan pemberian manusia.”
Di dalam Kitab Mengzi Bab VIIA: 21 tersurat: “Yang di dalam Watak Sejati ialah Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan.” Maka mengge-milangkan Kebajikan serta mengamalkannya di dalam kehidupan itulah tugas suci dan tujuan hidup yang wajib dicapai tiap insan, seperti tersurat di da-lam Kitab Daxue (tà süé 大學/大学)) (Ajaran Besar), Bab Utama: 1, “Adapun Jalan Suci yang dibawakan Ajaran Besar itu ialah menggemilangkan Keba-jikan Yang Bercahaya, Mengasihi Rakyat dan Berhenti pada Puncak Kebai-kan.” Jadi Ajaran Besar atau ajaran agama itu ialah membimbing manusia dalam menumbuhkan, mengembangkan benih-benih Kebajikan yang hidup di dalam Rohaninya,mengendalikan nafsu-nafsu untuk dipulangkan kepa-da fungsinya yang benar, sebagai sarana kepa-dan kekuatan yang mendukung kehidupan jasmani dipulangkan kepada kepada nilai-nilai yang indah dan susila. Menggemilangkan Kebajikan itu tidak hanya sekedar hening, cemer-lang meliputi kehidupan rohani pribadi saja, melainkan diamalkan dalam
perbuatan nyata demi kesejahteraan dan kebahagiaan sesama umat manu-sia, sesama mahluk serta lestarinya lingkungan. Sebagai pernyataan Satya dan Hormat melaksanakan Firman Tuhan, itulah wajib tekun diusahakan dengan sabar dan ulet, sehingga boleh mencapai puncak baik sesuai ke-mampuan masing-masing. Kebajikan ialah pohon segala rakhmat, sumber segala kemampuan manusia. Kebajikan ialah cahaya, kuasa dan kemuliaan Tuhan Yang Maha Esa. Maka sungguh hanya satu saja: Kebajikan, menjadi penghubung jalinan indah manusia kepada khalik-Nya maupun sesamanya menjadi rumah selamat, rumah sentosa untuk kediaman roh insani; menjadi jalan lurus untuk menempuh Jalan Suci. Oleh karena itu, agama Khonghucu menekankan agar umat manusia senantiasa wajib melaksanakan kebajikan, sebagai perwujudan pengembangan daripada Firman Tuhan Yang Maha Esa di dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kemantapan iman di dalam dirinya semakin kuat. Mari kita Renungkan hal-hal berikut :
1. CINTA KASIH (Ren/仁 ) :
Dengan ini manusia menjadi Manusiawi ( ber-Moral) 2. KEBENARAN ( Yi /义 ) :
Dengan ini Manusia dapat bermasyarakat/ bernegara (ber-Hukum) 3. KESUSILAAN (Li/礼 ) :
Dengan ini manusia menjadi maklhuk beradab ( ber-Budaya) 4. KEBIJAKSANAAN (Zhi/知 ) :
Dengan ini manusia mengenal akan akal serta kemampuan mengatasi problema hidupnya ( ber-Ilmu ).
Bukankah dengan Moral, Hukum, Budaya, dan Ilmu manusia unggul terhadap semua ciptaan-Nya?, dan tentu dengan keunggulan ini manusia akhirnya akan mengenal nilai kehidupan rohani yang menjurus kepada pengabdian sebagai rasa Satya terhadap Tian penciptanya (Zhong Ie Tian ).
Disinlah mengapa dikatakan bahwa Firman Tian yang berupa Watak Sejati kodrati manusia selain suatu karunia juga merupakan kewajiban manusia.
Dengannya manusia mempunyai kemampuan iman untuk membuka tabir akan-Nya dengan segala aspeknya dan dari sanalah nilai kemanusiaan berasal dan dengan itulah pertanggungjawaban manusia terhadap Tian. Selain itu
hidup manusia, yakni “Nafsu” sebagai mana tertulis dalam kitab Zhongyong (cūng yūng 中庸)Bab utama :4 “ Gembira (Xi/ 喜), Marah (Nu/怒), Sedih (Ai/哀), Senang (Le/ 樂),yang merupakan daya hidup lahiriah manusia didunia”. Maka berbeda dengan nafsu lainnyaseperti Benci, Dengki, Iri, Tamak, dan lainnya, boleh atau bisa lenyap , namun yang ini (Gembira (Xi/
喜), Marah (Nu/怒), Sedih (Ai/哀), Senang (Le/ 樂)), jelas tidak mungkin atau tak boleh lenyap , karena hidup ini perlu akannya.
Maka disebutkan dalam Zhongyong (cūng yūng 中庸)Bab utama: 4 , bahwa keempat sifat ini bila belum timbul dinamai masih dibatas Tengah (Zhong/忠), dan bila setelah timbul namun setelah timbul tetap masih dalam batas tengah itulah dinamai Harmonis (He / 和). Dan untuk mengharmoniskannya memang hanya dengan Cinta Kasih, Kebenaran, Susila, Bijaksana (Ren, Yi, Li, Zhi (rén ì lĭ cë 仁義禮智/仁义礼智)) hukumnya. Maka Cinta Kasih, Kebenaran, Susila, Bijaksana (Ren, Yi, Li, Zhi (rén ì lĭ cë 仁義禮智/仁义礼 智)) inilah yang harus dikembangkan, dan Gembira (Xi/ 喜), Marah (Nu/怒), Sedih (Ai/哀), Senang (Le/ 樂) inilah yang harus dikendalikan.
Maka dengan menyeimbangkan kedua hal ini antara Watak Sejati (Xing (sìng 性)) dan Nafsu dapat tercipta keharmonisan, secara lebih sederhana dapat dikatakan sebagai berikut :
1. Bagaimana manusia Gembira Bahagia dalam Cinta Kasih.
2. Bagaimana manusia Marah dengan dasar Kebenaran 3. Bagaimana manusia Sedih dengan cara yang Susila 4. Bagaimana manusia Senang dengan Bijaksana.
Semakin jelaslah bahwasanya manusia dijadikan Tian dengan suatu kodrat yang unik namun justru itulah harkat kemanusiaannya. Semakin jelaslah mengapa kita manusia beragama, tak lain agar mendapatkan penerangan/
bimbingan/tuntunan dalam mewujudkan nilai suci kemanusiaannya, dengan menyelaraskan dengan keharmonisan, walau bagaimanapun setelah beragama manusia tetaplah harus menyadari bahwa ia tetap dituntut konsekuensinya sebagai pengemban firman yang merupakan karunia dan kewajiban itu, dengan menegakkan diri menempuh jalan suci.