• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Metode Pembelajaran Kooperatif

Dalam dokumen LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN TESIS (Halaman 54-73)

BAB II : LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN

A. Deskripsi Teori

3. Hakikat Metode Pembelajaran Kooperatif

Menurut Slavin, Coperative Learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok- kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. Pembelajaran kooperatif atau Cooperative Learning merupakan strategi belajar dengan siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran.

Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif menurut Lungdren, sebagaimana dikutip Isjoni dalam bukunya, antara lain:

(1) siswa dalam kelompoknya harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”, (2) Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi, (3) Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama, (4) Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompok, (5) Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan berpengaruh terhadap evaluasi kelompok, (6) Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar, (7) Setiap siswa akan diminta untuk mempertanggung- jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak- tidaknya tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Beberapa ahli berpendapat bahwa pembelajaran ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para ahli telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.

Pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun siswa kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam.

Pembelajaran kooperatif memiliki efek penting dalam penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan maupun ketidakmampuan. Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.

Tujuan penting selanjutnya adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi. Keterampilan ini sangat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat dimana banyak kerja orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain.

Pada dasarnya pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok, oleh sebab itu banyak guru yang menyatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam pembelajaran kelompok, karena mereka menganggap telah terbiasa melakukannya. Walaupun pembelajaran kooperatif terjadi dalam bentuk kerja kelompok, tetapi tidak setiap kerja kelompok dikatakan pembelajaran kooperatif.

Bennet seperti dikutip Isjoni (2007:42), menyatakan ada lima unsur yang membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok, yaitu:

Positive Interdependence, Interaction face to face, adanya tanggung jawab pribadi mengenai mengenai materi plajaran dalam anggota kelompok, membutuhkan keluwesan, meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecah-kan masalah (proses kelompok).

1) Positive Interdependence, yaitu hubungan timbal balik yang didasari adanya kepentingan yang sama di antara anggota kelompok dimana keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain pula atau sebaliknya.

2) Interaction face to face, yaitu interaksi yang langsung terjadi antar siswa tanpa adanya perantara.

3) Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok sehingga siswa termotivasi untuk membantu temannya.

4) Membutuhkan keluwesan, yaitu menciptakan hubungan antar- pribadi, mengembangkan kemampuan kelompok, dan memelihara hubungan kerja yang efektif.

5) Meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah (proses kelompok), yaitu tujuan terpenting yang diharapkan dapat dicapai dalam pembelajaran kooperatif adalah siswa belajar keterampilan bekerjasama dan berhubungan ini adalah keterampilan yang penting dan sangat diperlukan di masyarakat.

Dalam pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa atau peserta didik juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan membangun tugas anggota kelompok selama kegiatan.

Metode pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan toeri belajar Gestlat melalui insightful learning theori (M. Ali, 2002;69).

Dimana belajar dirumuskan sebagai hasil interaksi langsung dari siswa dengan lingkungannya. Belajar tidak hanya menghafal informasi dan konsep atau merespon stimulus tetapi belajar merupakan kegiatan aktif untuk mencari dan menemukan konsep baru yang bermanfaat bagi siswa secara pribadi maupun manfaat bagi kelompok, dalam hal ini belajar lebih mengarah pada proses (learning by proses).

Dalam pembelajaran kooperatif ada 6 langkah. Pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Langkah ini diikuti dengan penyajian informasi. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Langkah terakhir meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Secara singkat langkah-langkah model pembelajaran kooperatif menurut Widyantini (2008:6) nampak pada tabel berikut :

Tabel 2.1 6 Langkah Pembelajaran Kooperatif

Langkah Indikator Tingkah Laku Guru

Langkah 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan Mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.

informasi kepada siswa. Langkah 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Guru menginformasikan pengelompokan siswa. Langkah 4 Membimbing

kelompok bekerja dan belajar

Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa untuk materi pembelajaran dalam kelompok-

kelompok belajar.

Langkah 5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil

belajar tentang materi pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Langkah 6 Memberikan

penghargaan

Guru memberi

penghargaan hasil belajar individual dan kelompok.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif dapat membangun kemampuan yang merata diantara sesama siswa, karena siswa memiliki kesempatan berinteraksi dengan sesama anggota. Selanjutnya setiap anggota akan bertanggung jawab untuk mem-bantu anggota kelompok lain yang kurang mampu menguasaai materi pelajaran yang sedang dipelajari.

Dan pembelajaran kooperatif, dapat mengubah peran guru dari peran berpusat pada gurunya kepengelolaan siswa dalam kelompok kecil. Selain itu juga dalam model pembelajaran kooperatif tugas penilaian mengutamakan pendekatan kooperatif secara tradisional dengan penghargaan perorangan dan penghargaan perkelompok, walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, tetapi terdapat beberapa variasi dari metode tersebut diantaranya adalah metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD dan Jigsaw.

b. Pembelajaran kooperatif tipe STAD

Disadari bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda- beda dalam menerima pelajaran yang dijelaskan oleh guru. Untuk meminimalkan perbedaaan tersebut, maka dibentuk secara berkelompok agar siswa dapat saling mengisi, saling melengkapi, serta bekerja sama dalam menyelesaikan soal-soal atau tugas yang diberikan oleh guru.

Dengan demikian tujuan pengajaran dapat tercapai dan hasil belajar siswapun dapat ditingkatkan. Pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD memungkinkan guru dapat memberikan perhatian terhadap siswa. Hubungan yang lebih akrab akan terjadi antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa. Ada kalanya siswa lebih mudah belajar dari temannya sendiri, adapula siswa yang lebih mudah belajar karena harus mengajari atau melatih temannya sendiri. Dalam hal ini pengajaran kooperatif dengan pendekatan STAD dalam pelaksanaannya mengacu kepada belajar kelompok siswa. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan memungkinkan siswa belajar lebih aktif, mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, berkembangnya daya kreatif, serta dapat memenuhi kebutuhan siswa secara optimal.

Penetapan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan salah satu tipe pembelajaran

kooperatif yang menekankan struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan isi akademik.

Tipe ini dikembangkan oleh Slavin (dalam Nur, 2000;32) dan merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi di antara siswa untuk saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

Menurut Slavin (dalam Isjoni, 2007;51) pada proses pem- belajarannya, belajar kooperatif tipe STAD melalui 5 tahapan yang meliputi :

1) tahap penyajian materi, 2) tahap kegiatan kelompok, 3) tahap tes individual,

4) tahap penghitungan skor individu, dan 5) tahap pemberian penghargaan kelompok.

STAD (student Teams Achievement Division) merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa dimana setiap minggu guru menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-

laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

1) Kelebihan dan Kelemahan Metode STAD (Student Teams Achievement Division).

Berdasarkan karakteristiknya sebuah metode pasti memiliki kelebihan dan kelemahannya. Uraian secara rinci kelebihan metode ini adalah :

a) Setiap siswa memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi yang subtansial kepada kelompoknya, dan posisi anggota kelompok adalah setara, Allport ( dalam Slavin, 2005:103)

b) Menggalakkan interaksi secara aktif dan positif dan kerjasama anggota kelompok menjadi lebih baik (Slavin, 2005:105) dan (Ahmadi, 2011:65).

c) Membantu siswa untuk memperoleh hubungan pertemanan lintas rasial yang lebih banyak (Slavin, 2005:105).

d) Melatih siswa dalam mengembangkan aspek kecakapan sosial di samping kecakapan kognitif (Isjoni, 2010:72). e) Peran guru juga menjadi lebih aktif dan lebih terfokus

sebagai fasilitator, mediator, motivator dan evluator (Isjono, 2010:62).

f) Dalam metode ini, siswa memiliki dua bentuk tanggung jawab belajar. Yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan

membantu sesama anggota kelompok untuk belajar (Rusman, 2011:203).

g) Dalam metode ini, siswa saling membelajarkan sesama siswa lainnya atau pembelajaran oleh rekan sebaya (peerteaching) yang lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru (Rusman, 2011:204).

h) Pengelompokan siswa secara heterogen membuat kompetensi yang terjadi di kelas menjadi lebih hidup. i) Prestasi dan hasil belajar yang baik bisa didapatkan oleh

semua anggota kelompok.

j) Kuis yang terdapat pada langkah pembelajaran membuat siswa lebih termotivasi.

k) Kuis tersebut juga meningkatkan tanggung jawab individu karena nilai akhir kelompok dipengaruhi nilai kuis yang dikerjakan secara individu.

l) Adanya penghargaan dari guru, sehingga siswa lebih termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran.

m) Anggota kelompok dengan prestasi dan hasil belajar rendah memiliki tanggung jawab besar agar nilai yang didapatkan tidak rendah supaya nilai kelompok baik.

Selain berbagai kelebihan, metode STAD ini juga memiliki kelemahan. Semua metode pembelajaran memang diciptakan untuk memberi manfaat yang baik atau positif pada pembelajaran, tidak

terkecuali metode STAD ini. Namun, terkadang pada sudut pandang tertentu, langkah-langkah metode tersebut tidak menutup kemungkinan terbukanya sebuah kelemahan, seperti yang dipaparkan di bawah ini. Menurut Slavin (dalam Nurasma 2006) yaitu :

a) Konstribusi dari siswa berprestasi rendah menjadi kurang dan

b) Siswa berprestasi tinggi akan mengarah pada kekecewaan karena peran anggota yang pandai lebih dominan.

Pengetesan pembelajaran kooperatif tipe STAD, guru meminta siswa menjawab kuis tentang bahan pelajaran. Butir-butir tes pada kuis ini harus merupakan suatu jenis tes obyektif tertulis (paper-and-pencil), sehingga butir-butir itu dapat diskor di kelas atau segera setelah tes itu diberikan. Laporan atau presentasi kelompok dapat digunakan sebagai salah satu dasar evaluasi dan siswa hendaknya diberi penghargaan perannya secara individual dan hasil kolektif.

Dalam pembelajaran kooperatif, guru harus hati-hati dengan cara menilai yang diterapkan di luar sistem penilaian harian atau mingguan, konsisten dengan konsep struktur penghargaan kooperatif, adalah penting bagi guru untuk menghargai hasil kelompok berupa hasil akhir maupun perilaku kooperatif yang menghasilkan hasil akhir itu. Bagaimanapun juga, tugas penilaian

ganda ini dapat menyulitkan guru pada saat guru mencoba menentukan nilai individual untuk suatu hasil kelompok.

2) Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division).

Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagaimana diuraikan oleh Widyantini (2008:7) adalah sebagai berikut :

(1) Guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Guru dapat menggunakan berbagai pilihan dalam menyampaikan materi pembelajaran ini kepada siswa. Misal, antara lain dengan metode penemuan terbimbing atau metode ceramah. Langkah ini tidak harus dilakukan dalam satu kali pertemuan, tetapi dapat lebih dari satu. (2) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu sehingga akan diperoleh nilai awal kemampuan siswa. (3) Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4–5 anggota, dimana anggota kelompok mempunyai kemampuan akademik yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari budaya atau suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. (4) Guru memberikan tugas kepada kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan, mendiskusikannya secara bersama- sama, saling membantu antaranggota lain, serta membahas jawaban tugas yang diberikan guru. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap kelompok dapat menguasai konsep dan materi. Bahan tugas untuk kelompok dipersiapkan oleh guru agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai. (5). Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu. (6) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. (7) Guru memberi penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari nilai awal ke nilai kuis berikutnya.

Mengacu kepada uraian di atas maka langkah-langkah untuk mengantarkan siswa kepada pembelajaran STAD sesuai dengan

kebutuhan pelaksanaan penelitian ini, dapat dijelaskan sebagai berikut:

Langkah 1 : Persiapan.

Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pembelajaran dengan membuat skenario pembelajaran, dan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division(STAD).

Langkah 2 :Pembentukan Kelompok.

Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu guru membagi siswa ke dalam kelompok atau tim yang beranggotakan 4 hingga 5 orang, kelompok-kelompok ini terdiri dari siswa yang berkemampuan heterogen selain itu diperhitungkan kriteria heterogenitas lainnya seperti nilai prestasi beragam jenis kelamin dan ras serta tidak ada ketua kelompok.

Langkah 3 : Diskusi Masalah.

Dalam kerja kelompok guru membagikan LKS pada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari, dalam kerja kelompok bahwa setiap siswa berpikir bersama menggambarkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.

Langkah 4 : Membimbing siswa bekerja dan belajar secara kelompok.

Kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut: Membagikan LKS atau materi pelajaran (dua set) untuk tiap tim. Menganjurkan agar siswa tiap-tiap tim bekerja dalam berpasangan, apabila mereka sedang mengerjakan soal, kemudian saling mengecek kerjaannya diantara teman pasangannya. Apabila siswa tidak dapat mengerjakan soal itu, teman satu tim siswa memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan soal tersebut. Memberi penekanan pada siswa bahwa mereka tidak boleh mengakhiri kegiatan belajar mengajar sampai mereka yakin bahwa seluruh anggota tim mereka dapat menjawab 100% benar soal-soal kuis tersebut. Memastikan siswa memahami bahwa LKS itu untuk belajar bukan untuk isi atau dikumpulkan. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling menjelaskan jawaban mereka tidak hanya saling mencocokkan jawaban mereka dengan lembaran kunci jawaban. Apabila siswa memiliki pertanyaan, guru meminta mereka mengajukan pertanyaan itu pada rekan satu timnya sebelum mengajukan kepada guru. Pada saat siswa sedang bekerja dalam tim, guru hendaklah berkeliling dalam kelas dan memberikan pujian pada tim yang bekerja dengan baik dan secara bergantian duduk bersama tim untuk memperhatikan anggota-anggota tim itu bekerja.

Guru menghitung skor tim dengan menjumlahkan poin peningkatan yang diperoleh tiap anggota tim dan membagi jumlah itu dengan jumlah anggota tim yang mengerjakan kuis.

Langkah 6 : Pengakuan pada Prestasi Tim.

Guru hendaknya mempersiapkan semacam pengakuan kepada setiap tim yang mencapai skor tinggi yang berupa pujian untuk memotivasi siswa agar lebih giat dalam menyelesaikan tugas yang diberikan dan dilaksanakan sebelum proses pembelajaran dimulai.

c. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

1) Pengertian

Metode Jigsaw adalah suatu teknik pembelajaran metode kooperatif yang memilki kesamaan dengan “pertukaran antar kelompok” tetapi menuntut tanggung jawab besar dari siswa dalam pembelajaran.

Arends (1997) mengemukakan pengrtian metode jigsaw secara rinci seperti berikut. Model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen, bekerjasama dan saling ketergantungan yang positif serta bertanggung jawab terhadap ketuntasan bagian pelajaran yang harus dipelajari atau dikuasai kemudian menyampaikan materi yang telah dikuasainya tersebut kepada kelompok yang lain

Senada dengan Isjoni (2007:54) pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Dalam model belajar ini terdapat tahap-tahap dalam penyelenggaraannya. Pada kegiatan ini keterlibatan guru dalam proses belajar mengajar semakin berkurang dalam arti guru menjadi pusat kegiatan kelas, guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan dan memotivasi siswa untuk belajar mandiri serta menumbuhkan rasa tanggung jawab serta siswa akan merasa senang berdiskusi tentang matematika dalam kelompoknya. Mereka dapat berinteraksi dengan teman sebayanya dan juga dengan gurunya sebagai pembimbing.

2) Tujuan Metode Jigsaw

Metode yang dikemukakan oleh Elliot Aronson dkk. dari universitas Texas yang kemudian diadaptasi oleh Slavin dkk ini mempunyai tujuan:

(a) Mengembangkan kerja sama tim ( kelompok) (b) Mewngasah ketrampilan belajar kooperatif

(c) Menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak bisa diperoleh jika mempelajarinya sendirian

Menurut Arends (1997:111) langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw dilakukan dengan prosedur berikut;

2) Siswa dibagi ke dalam kelompok belajar kooperatif (kelompok awal) yang terdiri dari 4-6 orang siswa dan setiap anggotanya bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik- baiknya.

3) Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggung jawab terhadap subtopik yang sama kemudian berpindah ke “kelompok jigsaw”. Dimana anggotanya berasal dari kelompok lain yang telah menguasai bagian tugas yang berbeda.

4) Di dalam kelompok jigsaw ini, para siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: (a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya.(b) Merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula.

5) Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing (kelompok awal) sebagai ”ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi atau pengetahuan yang baru mereka pelajari dalam kelompok ”jigsaw” tadi kepada temannya.

6) Ahli di dalam subtopik lainnya juga berbuat sama sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan

penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru.

Langkah utama dari pembelajaran ini adalah menugaskan anggota kelompok untuk menguasai bidang tertentu dengan berkolaborasi dari anggota kelompok lain dan menyampaikan pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh kepada sesama anggota kelompok awal.

Penerapan metode belajar Jigsaw memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan, menurut Ibrahim dkk (2000) mengemukakan kelebihan dari metode jigsaw sebagai berikut di antaranya ;

1) Dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif.

2) Menjalin atau mempererat hubungan yang lebih baik antar siswa.

3) Dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa.

4) Siswa lebih banyak belajar dari teman mereka dalam belajar kooperatif dari pada guru.

Sementara itu Ratumanan (2002) menyatakan bahwa interaksi yang terjadi dalam bentuk kooperatif dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual. Kelemahan metode Jigsaw, di antaranya :

1) Guru dan siswa kurang terbiasa dengan metode ini karena masih terbawa kebiasaan menggunakan metode konven- sional, dimana pemberian materi terjadi secara satu arah. 2) Memerlukan waktu yang relatif lama.

3) Tidak efektif untuk siswa yang banyak.

4) Memerlukan perhatian dan pengawasan ekstra ketat dari guru

5) Memerlukan persiapan yang matang.

Dan ada beberapa hal lagi yang bisa menjadi kendala aplikasi model ini dilapangan yang harus kita cari jalan keluarnya, menurut Roy Killen (1996), adalah:

1). Prinsip utama pola pembelajaran ini adalah ‘peer teaching” pembelajaran oleh teman sendiri, akan menjadi kendala karena perbedaan persepsi dalam memahami suatu konsep yang akan didiskusikan bersama dengan siswa lain.

2). Dirasa sulit meyakinkan siswa untuk mampu berdiskusi menyampaikan materi pada teman, jika siswa tidak memiliki rasa kepercayaan diri.

3). Rekod siswa tentang nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah dimiliki oleh pendidik dan ini biasanya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenali tipe- tipe siswa dalam kelompok tersebut.

4). Awal penggunaan metode ini biasanya sulit dikendalikan, biasanya membutuhkan waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik.

5). Aplikasi metode ini pada kelas yang besar ( lebih dari 40 siswa) sangatlah sulit, tapi bisa diatasi dengan model team teaching.

Berdasarkan strategi belajar melalui metode kooperatif tipe Jigsaw, diharapkan siswa akan saling membantu teman satu kelompok untuk dapat menguasaai materi sesuai dengan keahlian

Dalam dokumen LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN TESIS (Halaman 54-73)

Dokumen terkait