TINJAUAN PUSTAKA
A. Hakikat Sastra
3. Hakikat Nilai Edukatif dalam Karya Sastra
a. Pengertian Nilai
Manusia tidak bisa lepas dari tata nilai dalam menjalankan kehidupan sehari- hari. Tata nilai menunjuk pada sikap orang terhadap suatu hal yang baik. Nilai berkaitan erat dengan kebaikan yang ada pada suatu hal, namun kebaikan itu berbeda dengan nilai. Kebaikan lebih melekat pada suatu yang berbentuk materi.
Scheler (dalam Frondizi, 2001: 125) lebih tajam menyatakan bahwa nilai merupakan satu jenis objek, yang sama sekali tidak dapat dimasuki oleh rasio. Scheler (dalam Suseno, 2002: 34) mengatakan hahwa nilai adalah kualitas atau sifat yang membuat apa yang bernilai menjadi bernilai. Misalnya, nilai “jujur” adalah sifat atau tindakan yang jujur. Jadi, nilai (weit, value) tidak sama dengan apa yang bernilai (gutter, goods). Oleh karena itu, nilai selalu menjadi ukuran dalam menentukan kebenaran dan keadilan sehingga tidak akan pernah lepas dari sumber asalnya, yaitu berupa agama, logika dan norma yang berlaku dalam masyarakat umum.
Nilai merupakan sesuatu yang abstrak, tetapi secara fungsional mempunyai ciri mampu membedakan antara yang satu dengan yang lain. Suatu nilai jika dihayati oleh seseorang, maka akan sangat berpengaruh terhadap cara berpikir, cara bersikap maupun cara bertindak dalam mencapai tujuan hidupnya Scheler (dalam Frondizi, 2001: 126) menyatakan bahwa kita menangkap nilai dengan menggunakan pengalaman emosional tentang persepsi sentimental. Urutan hierarkis nilai, sebaliknya, diungkapkan melalui “kesenangan” atau penolakan”. Scheler (dalam Frondizi, 2001: 132) mengungkapkan hahwa nilai yang terendah dan semua nilai sekaligus merupakan nilai yang pada
21
dasarnya “fana”; nilai yang lebih tinggi daripada semua nilai yang lain sekaligus merupakan nilai yang abadi. Berdasarkan beberapa definisi nilai di atas, dapat dikatakan bahwa nilai adalah suatu yang abstrak, sulit dirumuskan, dan memiliki kriteria yang beragam. Nilai tidak dapat diukur dengan hal-hal yang bersifat lahiriah, tetapi lebih bersifat batiniah. Mengingat pentingnya nilai, maka nilai oleh masyarakat mempunyai solidaritas yang tinggi dalam mempertahankan nilai-nilai milik bersama yang telah mereka sepakati. Tingkat kepuasan atas nilai masing-masing orang berbeda pula karena nilai berhubungan dengan perasaan atau hati dan bersifat relatif.
b. Jenis-jenis Nilai
Beberapa nilai yang harus dimiliki sebuah karya sastra yang baik, yaitu nilai relegi, nasionalis, gotong royong, mandiri, integritas, estetika, moral, sosial budaya, dan lain-lainnnya. Sebuah karya sastra yang baik pada dasarnya mengandung nilai-nilai yang perlu ditanamkan pada anak atau generasi muda. Sutrisno (1997: 63) menyatakan bahwa nilai-nilai dan sebuah karya sastra dapat tergambar melalui tema-tema besar mengenai siapa manusia, keberadaannya di dunia dan dalam masyarakat; apa itu kebudayaannya dan proses pendidikannya; semua ini berdasarkan fenomena eksistensi manusia dan direfleksi sebagai rentangan perjalanan di masyarakat sampai kepulangannya ke yang menciptakannya.
Sastra dan tata nilai merupakan dua fenomena sosial yang saling melengkapi dalam hakikat mereka sebagai sesuatu yang eksistensial. Sastra sebagai produk kehidupan mengandung nilai sosial, adat/tradisi, filsafat, religi, dan sebagainya baik yang bertolak dari pengungkapan kembali maupun yang mempunyai penyodoran konsep baru (Suyitno, 1996: 3). Sastra tidak hanya memasuki ruang serta nilai-nilai kehidupan personal, tetapi juga nilai-nilai kehidupan manusia dalam arti total.
22
1) Nilai Pendidikan Moral
Moral adalah istilah manusia menyebut manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Moral secara eksplisit merupakan hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak dapat melakukan proses sosialisasi.
. Menurut Hadiwardowo (1990:13), moral sebenarnya memuat dua segi yang berbeda, yakni segi bathiniah dan segi lahiriah. Orang yang baik adalah orang yang memiliki sikap batin yang baik dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik pula.
Menurut Alwi (dalam Anshari, 2011: 41) nilai moral dan etika adalah nilai manusia sebagai pribadi yang utuh, misalnya kejujuran, nilai yang berhubungan dengan akhlak, nilai yang berkaitan dengan benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan masyarakat. Di satu sisi, akal dan budi selalu mengajak untuk bertindak sesuai dengan nilai moral, di sisi lain pada manusia ada nafsu yang dapat menyeretnya kepada tindakan yang tidak baik dan merusak kemanusiaan.
2) Nilai Pendidikan Adat/Tradisi
Kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat dapat diartikan sebagai suatu adat. Adat atau tradisi dikatakan cara atau kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan sejak dahulu kala. Kebiasaan yang dimaksud seringkali sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Tradisi atau kebiasaan masa lampau yang ada dalam masyarakat seringkali masih memiliki relevansi dengan kehidupan sekarang. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam Iingkup yang cukup kompleks. Hal itu dapat berupa kebiasaan hidup, adat-istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lain yang tergolong latar spiritual. Selain itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya kalangan rendah, menengah, atau kalangan atas (Nurgiyantoro, 2002: 233-234). Adat merupakan wujud ideal dari kebudayaan (Koentjaraningrat, 1984: 10).
23
Secara lengkap, Wujud itu disebut adat tata kelakuan. Adat ini berfungsi sebagai pengatur kelakuan. Suatu contoh dari adat yang memiliki nilai sosial budaya yang tinggi adalah gotong royong. Konsepsi bahwa hal itu bernilai tinggi apabila manusia itu suka bekerja sama dengan sesamanya berdasarkan rasa solidaritas yang besar (Koentjaraningrat, 1984: 11).
3) Nilai Pendidikan Agama (Religi)
Kalangan masyarakat pada zaman dahulu atau mungkin masyarakat dimasa kini masih mempercayai adanya roh-roh kuat yang menghukum atau memberi imbalan kepada seluruh suku atau kelompok. Agama, sebagaimana biasa diyakini oleh para pendukungnya, merupakan sumber rasa kewajiban sosial (Russell, 1993: 80). Ketika seseorang berbuat hal yang tidak menyenangkan bagi para dewa, mereka cenderung menghukum tidak hanya individu yang bersalah tetapi seluruh suku hangsa itu (Russell, 1993: 80). Akibatnya, perilaku individu merupakan urusan umum, sebab perbuatan jahat individu tersebut menimbulkan malapetaka bagi semua orang. Orang-orang zaman dahulu, terutama orang-orang pedesaan, bersifat sangat religius. Sifat ini tampak atau ditandai dengan berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat (Wisadirana, 2004: 60).
Upacara-upacara keagamaan biasanya dilakukan bersamaan dengan upacara adat, yaitu berupa selamatan, melakukan sesaji untuk roh-roh penunggu atau leluhur yang telah meninggal. Religi dan kepercayaan mengandung keyakinan serta bayangan manusia tentang sifat-sifat Tuhan tentang wujud dari alam roh (supernatural); serta segala nilai, norma dan ajaran dari religi yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1984: 145). Sementara itu, sistem ritus dan upacara merupakan cara manusia untuk mencari hubungan dengan Tuhan, dewa-dewa, atau makhluk halus yang mendiami alam gaib itu (Koentjaraningrat, 1984: 145). Hal tersebut sudah terjalin erat satu dengan yang lain menjadi sebuah sistem yang terintegrasi secara bulat.
24
Beberapa uraian di atas dapat memberikan arah bahwa agama sangat penting dan memiliki fungsi-fungsi sosial yang cukup banyak. Berkaitan dengan fungsi sosial agama, Haviland (1993: 219) memberikan penjelasan sebagai berikut.
Agama memiliki beberapa fungsi sosial yang penting. Pertama, agama merupakan sanksi untuk perilaku dengan memberi pengertian tentang baik dan jahat. Kedua, agama memberi contoh-contoh dalam perbuatan- perbuatan yang direstui. Ketiga, agama membebaskan manusia dan beban untuk mengambil keputusan dan menempatkan tanggung jawabnya di tangan dewa-dewa. Keempat, agama memegang peranan penting dalam pemeliharaan solidaritas sosial. Agama sungguh penting untuk pendidikan. Upacara keagamaan memperlancar cara mempelajari adat dan pengetahuan kesukuan dan dengan demkian membantu untuk melestarikan kebudayaan yang buta aksara. Pandangan mengenai agama dan fungsi agama seperti diuraikan di atas (diyakini dan diterima oleh masyarakat. Pandangan tersebut berkembang terus menerus dan tidak mati. Masyarakat percaya bahwa agama telah menjadi satu kekuatan untuk kebaikan. Hal inilah yang menjadi bukti bahwa dalam cerita rakyat terkandung nilai pendidikan agama yang masih memiliki relevansi dengan kehidupan pada saat ini dan pada waktu-waktu mendatang.
4) Nilai Pendidikan Sosial
Kata “sosial” berarti hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat/ kepentingan umum. Nilai pendidikan sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup sosial. Perilaku sosial berupa sikap seseorang terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Nilai pendidikan sosial yang ada dalam karya seni dapat dilihat dari cerminan kehidupan masyarakat yang diinterpretasikan (Rosyadi dalam Alfan, 2013: 242). Nilai pendidikan sosial akan
25
menjadikan manusia sadar akan pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan antara satu individu dengan individu lainnya.
Masyarakat Indonesia yang sangat beraneka ragam coraknya, pengendalian diri adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut nilai sosial dapat diartikan sebagai landasan bagi masyarakat untuk merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri tersendiri, dan berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individuagar berbuat sesuai norma yang berlaku. Nilai pendidikan sosial mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah masyarakat. Bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam nilai sosial.
Kehidupan bermasyarakat sangat diperlukan; norma berisi tata tertib, aturan, petunjuk standar mengenai perilaku yang pantas dan tidak wajar yang dapat mengatur setiap keadaan dan perilaku agar tercipta keharmonisan bertetangga dan bernegara.
Ada beberapa syarat agar norma sosial dipatuhi dan dilaksanakan oleh masyarakat, di antaranya; a) norma sosial harus diketahui oleh masyarakat. b) norma sosial harus dipahami dan dimengerti. c) norma sosial dihargai karena bermanfaat. d) norma sosial harus ditaati dan dilaksanakan. Apabila syarat berlakunya norma sosial telah dilaksanakan sesuai dengan tahapannya, maka norma sosial akan berfungsi sebagai berikut :
(a) Sebagai aturan atau pedoman tingkah laku dalam masyarakat. (b) Sebagai alat untuk menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial. (c) Sebagai sistem kontrol sosial dalam masyarakat.
Adanya norma sosial maka, seseorang bisa mengerti apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Jadi, norma sosial adalah petunjuk atau patokan untuk melangsungkan hubungan sosial dalam masyarakat yang berisi perintah, larangan,
26
dan anjuran agar seseorang dapat bertingkah laku yang pantas untuk menciptakan ketertiban, keteraturan, kedamaian dalam masyarakat.
Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa bantuan dan dukungan orang lain. Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya dalam berbagai aktivitasnya.
Nilai sosial budaya yang menjadi ukuran atau penilaian pantas atau tidaknya suatu keinginan dan kebutuhan dilakukan. Nilai ini memperlihatkan sejauh mana seseorang individu dalam masyarakat. Nilai pendidikan sosial adalah penanaman perilaku untuk senantiasa hidup rukun dan saling membantu secara ikhlas dalam pergaulan sehari-hari.