KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teoretik
1. Hakikat Pembelajaran Bahasa Asing
KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teoretik
1. Hakikat Pembelajaran Bahasa Asing
Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang yang disebabkan pengalaman baik secara sengaja atau tidak sengaja yang akan membawa perubahan pada diri seorang anak baik secara akademik maupun non akademik. Seperti halnya pendapat Slameto (2010: 2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Sementara Gagne (dalam Suprijono, 2009: 2) mendefinisikan bahwa belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan melalui aktivitas. Suprijono (2009: 2) menambahkan bahwa belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku.
Berdasarkan pengertian tentang belajar yang dikemukakan oleh beberapa ahli pada intinya bahwa belajar merupakan suatu proses yang dilakukan oleh seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya dan terjadinya perubahan perilaku yang ditunjukkan dari hasil belajar itu.
Gintings (dalam Zamroni, 2010: 34) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah memotivasi dan menyediakan fasilitas agar terjadi proses belajar pada diri si pelajar. Sedangkan menurut Brown (2007: 8) pembelajaran adalah penguasaan atau pemerolehan pengetahuan tentang suatu subjek atau sebuah keterampilan dengan belajar, pengalaman, atau intruksi.
Pembelajaran menurut Dananjaya (2012: 27) adalah merupakan proses aktif peserta didik yang mengembangkan potensi dirinya. Peserta didik dilibatkan ke dalam pengalaman yang difasilitasi oleh guru sehingga pelajar mengalir dalam pengalaman melibatkan pikiran, emosi, terjalin dalam kegiatan yang menyenangkan dan menantang serta mendorong prakarsa peserta didik. Berdasarkan beberapa teori tentang pembelajaran, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan proses belajar tersebut, pembelajar dimotivasi dan fasilitas disediakan untuk memperoleh pemahaman semaksimal mungkin.
Dalam penyelenggaraan pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal seperti tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 19 Ayat (1) tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik.
Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran haruslah dilaksanakan dengan efektif. Pembelajaran dapat dikatakan efektif apabila peserta
didik dapat memahami makna yang disampaikan oleh pendidik. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat mencapai tujuan pembelajarannya. Sebab, tujuan dari pembelajaran tidak lain adalah membuat peserta didik mengerti dan memahami materi yang disampaikan pendidik serta dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran itu sendiri meliputi empat kelompok bidang studi, yaitu: matematika dan ilmu alam, seni dan olahraga, sosial, dan bahasa.
Bahasa merupakan sarana komunikasi untuk menyampaikan ide, gagasan, pikiran dan perasaan seseorang. Bahasa digunakan untuk mengungkapkan kembali berbagai macam informasi yang diterima dari seseorang kepada orang lain.
Di era global sekarang ini, kita tidak hanya dituntut menguasai bahasa nasional, tetapi dituntut juga menguasai bahasa asing. Bahasa asing merupakan bahasa yang memiliki peranan penting dalam komunikasi internasional. Pengertian bahasa asing yang dikemukakan oleh Parera (1993: 16) adalah bahasa yang dipelajari oleh orang peserta didik di samping bahasa peserta didik sendiri. Sementara Bauer (1997: 13) berpendapat bahwa “Sprache Mittel menschlichen Handels miteinander zum Zwecke Vermittlung der Kommunikation.” Kutipan tersebut mengandung arti bahwa bahasa merupakan alat yang disepakati masyarakat satu sama lain yang berguna sebagai sarana komunikasi.
Brown (2000: 1) menyatakan bahwa “learning a second language is a long and complex undertaking. Your whole person is affected as you struggle to
reach beyond the confines of your first language and into a new language, a new culture, a new way of thinking feeling and acting.” Teori tersebut mengandung arti bahwa mempelajari bahasa kedua adalah usaha yang kompleks dan membutuhkan waktu yang panjang. Seseorang yang mempelajari bahasa asing akan memperoleh pengetahuan bahasa yang melebihi batas-batas dari bahasa pertama mereka. Diharapkan pada bahasa yang baru, budaya yang baru, cara yang baru untuk bertindak. Mempelajari bahasa asing memang rumit dan membutuhkan waktu yang lama, dalam mempelajari bahasa asing seseorang dapat menambah wawasan akan budaya yang baru yaitu budaya asing.
Sementara pembelajaran bahasa asing menurut Ghazali (2000: 11) adalah proses mempelajari suatu bahasa yang tidak dipergunakan dilingkungan seseorang yang mempelajari bahasa tersebut. Dalam hal ini bahasa asing seperti bahasa Inggris, Jerman, Jepang, dan bahasa asing lainnya hanya dipelajari di sekolah terutama SMA. Pembelajaran bahasa asing mengacu pada penguasaan empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan di atas sangat penting untuk menunjang kemampuan berbahasa asing.
Richards and Smidt (2002: 206) mengemukakan “ foreign language’ as a language which is not the native language of large numbers of people in a particular country of region, is not used as a medium of instruction in schools and is not widely used as medium of communication in goverment, media ets. They not that foreign language are typically taught as school subjects for the purpose of
communicating with foreigners or for reading printed materials in the language.” Dari teori di atas dapat diartikan bahwa bahasa asing sebagai bahasa yang mana bukan bahasa asli sejumlah orang dalam suatu bagian dari negara atau wilayah, tidak digunakan sebagai intruksi media pengajaran di sekolah dan tidak banyak digunakan sebagai media komunikasi dalam pemerintahan. Mereka mencatat bahwa bahasa asing biasanya diajarkan sebagai mata pelajaran sekolah untuk tujuan berkomunikasi dengan orang asing atau bahan-bahan bacaan yang dicetak dalam bahasa.
Tujuan dari pengajaran bahasa asing yaitu diarahkan ke pengembangan keterampilan menggunakan bahasa asing yang dipelajari sesuai dengan tingkat dan taraf yang ditentukan oleh kurikulum yang berlaku (Hardjono, 1988: 78). Jadi bahasa asing yang dipelajari di sekolah bisa dipakai peserta didik sebagai alat untuk tukar menukar pengalaman dan pikiran sebagai dasar untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya sendiri.
Dari beberapa teori di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam pembelajaran bahasa asing seseorang dituntut tidak hanya menguasai satu bahasa asing saja demi meraih keberhasilan diberbagai bidang. Bahkan sekarang di Sekolah Menengah Atas pembelajaran bahasa asing tidak cukup hanya diajarkan satu bahasa asing saja yaitu bahasa inggris, namun ada tambahan mata pelajaran bahasa asing lain. Tentu saja dengan adanya tambahan pelajaran bahasa asing itu sangat bermanfaat, karena dengan mempelajari bahasa asing peserta didik dapat bekomunikasi dan mempelajari kebudayaan dari pemilik bahasa asing tersebut.
Selain itu juga agar masyarakat Indonesia tidak tertinggal dengan informasi yang berasal dari luar negeri terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk memperoleh pencapaian pembelajaran bahasa asing yang maksimal maka diperlukan, metode, media dan pendekatan tertentu yang sesuai dengan pembelajaran bahasa tersebut. Proses pembelajaran dengan metode, media, dan pendekatan yang sesuai akan memudahkan materi yang disampaikan terserap dengan baik oleh peserta didik.