BAB II: KAJIAN PUSTAKA
B. Peserta Didik dalam Pendidikan Islam
3. Hakikat Pendidikan Islam
76
Ali bin Abi Thalib memberikan syarat bagi peserta didik dengan enam macam, yang merupakan kompetensi mutlak dan dibutuhkan demi tercapainya tujuan pendidikan. Syarat yang dimaksud sebagaimana dalam syairnya yang dituliskan oleh Syekh al-Islam Burhanuddin Al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq al-Ta’allum, yaitu:
“Ingatlah! Engkau tidak akan bisa memperoleh ilmu kecuali karena enam syarat: aku akan menjelaskan keenam syarat itu padamu, yaitu:kecerdasan, hasrat atau motivasi yang keras, sabar, modal (sarana), petunjuk guru, dan masa yang panjang (kontinu) ”
Dari syair tersebut dapat dipahami bahwa syarat-syarat para pencari ilmu, yang juga merupakan etika peserta didik adalah mencakup enam hal, yaitu: Memiliki kecerdasan (dzaka’), Memiliki Hasrat (hirsh), Bersabar dan Tabah, Mempunyai seperangkat modal dan sarana (bulghah), Petunjuk pendidik (irsyad ustadz) dan masa yang panjang (thuwl al-zaman).
Nadham tersebut juga dituliskan dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim Tariq al-Ta’allum oleh Burhanuddin al-Zarnuji.75
3. Hakikat Pendidikan Islam
Pendidikan Islam pada dasarnya adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani. Menumbuh suburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia, dan alam semesta. Potensi jasmaniah manusia adalah yang berkenaan
75
77
dengan seluruh organ-organ fisik manusia. Sedangkan potensi rohaniah manusia meliputi kekuatan yang terdapat di dalam batin manusia, yakni akal, nafsu, roh, fitrah.
Asy-Syaibani menyatakan bahwa manusia itu memiliki potensi yang meliputi badan, akal dan roh, ketiga-tiganya persis seperti segitiga yang sama panjang sisi-sisinya.76 Sedangkan Hasan Langgulung menyebutkan potensi manusia itu meliputi fitrah, roh, kemauan bebas, dan akal.77 Potensi ini semua ada pada batin manusia sejak manusia itu lahir ke dunia dan telah
build in alam pribadi manusia.
Secara garis besar Pendidikan Islam merupakan suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran–ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammmad melalui proses di mana individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi sehingga ia mampu menunaikan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi, yang dalam rangka lebih lanjut mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat.78 Tegasnya, sebagaimana yang dikemukakan Ahmad D.Mariba bahwa Pendidikan Islam
adalah bimbingan jasmani dan rohani menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.79
76
Ibid, hlm. 3. Lihat Asy-Syaibani, Umar Muhammad at-Taumy, Falsafah at Tarbiyah al-Islamiyah, (Tabulus: Asy-Syirkah al-Ammah, 1975).
77
Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Menghadapi Abad Ke-21, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988) hlm, 58-59.
78
Hasan Langgulung. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam (Bandung: Al-Ma'arif, 1980) Hal 94.
79
Ahmad D. Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Al-Ma'arif, 1980) hal. 23.
78
M.Kanal Hasan sebagaimana dikutip Syamsul Nizar mendefinisikan
pendidikan Islam adalah ”suatu proses yang komprehensif dari pengembangan kepribadian manusia secara keseluruhan yang meliputi aspek intelektual, spiritual, emosi, dan fisik. Sehingga seorang muslim disiapkan dengan baik untuk melaksanakan tujuan kehadirannya di sisi Allah sebagai
’abd dan khalifah-Nya dimuka bumi.80
Atas dasar itulah, apabila dikaitkan hakikat pendidikan yang berperan untuk mengembangkan potensi manusia maka sudah pada tempatnyalah seluruh potensi manusia itu dikembangkan semaksimal mungkin. Bertolak dari potensi manusia tersebut di atas maka paling tidak ada beberapa aspek pendidikan yang perlu dididikkan kepada manusia yaitu aspek pendidikan ketuhanan dan akhlak, pendidikan akal dan ilmu pengetahuan, pendidikan kejasmanian, kemasyarakatan, kejiwaan, keindahan, dan keterampilan. Kesemuanya diaplikasikan secara seimbang.
Seluruh aspek yang perlu diajarkan pada peserta didik tersebut di atas, sesungguhnya mengaju pada pembelajaran dan ajaran-ajaran pada masa Rasulullah saw., yang dapat menciptakan masyarakat Madani. Menurut Nurcholis, masyarakat madani itu adalah masyarakat yang mengacu kepada masyarakat Madinah yang berada di bawah pimpinan Rasulullah saw., ketika Rasulullah saw., hijrah ke Madinah. Beliau membangun tatanan kehidupan masyarakat yang berperadapan. Jika masyarakat Madinah di bawah pimpinan Rasulullah saw., yang menjadi acunan dari keinginan
80
79
pendidikan untuk kembali menciptakan generasi yang dapat menciptakan negara madani, maka perlulah diketahui beberapa ciri-ciri dari masyarakat Madinah tersebut.
Pertama, masyarakat Rabbaniyah, semangat berketuhanan dilandasi
tiga pilar, yaitu aqidah, syari’ah dan akhlak. Ketiga pilar menyatu menjadi satu ibarat tali berpilin tiga yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain dan saling memengaruhi antara satu dengan yang lainnya pula. Di zaman Rasulullah saw., setiap pribadi muslim memanisfestasikannya dalam pribadi masing-masing.
Kedua, Masyarakat yang demokratis, di mana Rasullullah saw., dan
para sahabatnya mentradisikan musyarawah dalam segala persoalan dan Rasullullah saw., tidak berkeberatan menarik pendapatnya apabila ada pendapat yang lebih baik. Masyarakat egalitarian, memandang sama manusia di depan hukum, bahkan beliau pernah bersabda ”Seandainya Fatimah mencuri, niscaya akan kupotong tangannya”. Masyarakat demokrasi dan egalitarian itu juga tercermin dalam sikap kaum muslimin, dicerminkan dengan pemilihan khalifah yang tidak berdasarkan kepada sistem monarki, tetapi lebih condong kepada sistem demokrasi yang dilakukan oleh negara-negara modern sekarang, termasuk Indonesia.
Ketiga, masyarakat yang toleran, masyarakat Madinah adalah
masyarakat yang plural, dari segi suku mereka terdiri dari berbagai etnik. Qabilah Auz dan Khazraj adalah suku guru dari kelompok Ansor, sedangkan suku Quraish yang berasal dari Makkah adalah orang-orang Muhajirin. Dari
80
sisi agama, selain dari Islam ada juga Yahudi dan lain sebagainya. Kehidupan toleran itu diikat oleh Rasulullah saw., dalam satu ikatan yang disebut dengan Constitution of Madinah (Piagam Madinah atau Mistaqul
Madinah). Piagam ini mengatur tanggung jawab seluruh warga Madinah
untuk terciptanya persatuan dan kesatuan di kalangan mereka. Beberapa isi terpenting Piagam Madinah adalah:
a. Nabi Muhammad pemimpin bagi semua penduduk Madinah b. Semua penduduk Madinah tidak boleh bermusuhan
c. Semua penduduk Madinah bebas mengamalkan agamanya masing-masing
d. Semua penduduk Madinah hendaknya bekerja sama dalam bidang ekonomi dan pertahanan
e. Keselamatan orang Yahudi terjamin selagi mereka taat kepada perjanjian yang tercatat pada Piagam Madinah.
Keempat, Berkeadilan, Al-Qur’an dalam banyak tempat menjelaskan
tentang keadilan. Karena begitu pentingnya keadilan sampai-sampai Al-Qur’an menjelaskan bahwa keadilan itu mendekati takwa, firman-Nya dalam Q.S. Al-Maidah: 8.
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu
81
lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Kelima, masyarakat berilmu, ilmu merupakan salah satu pilar yang
ditegakkan Rasulullah saw., dalam membangun mayarakat Madinah. Penerapan masyarakat berilmu ini telah dimulai oleh Rasulullah saw., dengan memberantas buta aksara di kalangan kaum muslimin dengan cara membebaskan tawanan perang yang mampu mengajari kaum muslimin menulis dan membaca sebagai tebusannya.
Semangat keilmuwan ini pulalah yang mendorong kaum muslimin yang terdiri dari sahabat-sahabat Rasul untuk menimba ilmu aqliyah (IPTEK) tatkala mereka menaklukkan wilayah-wilayah yang menjadi pusat-pusat peradaan Yunani di Asia, yakni wilayah Syam, (Syiria), Irak, dan Iran.81
Dengan semangat Rasulullah saw., tersebut, dan peradaban yang telah dibangun oleh Rasullullah saw., pada masa kenabiannya, maka sesungguhnya hakikat dari pendidikan Islam adalah mencetak generasi-generasi Muslim untuk kembali bisa seperti pada masa Rasulullah saw., dengan cara memberikan fasilitas yang memadai dan mendukung untuk perkembangan seluruh potensi yang telah dimiliki oleh anak didik.
4. Tugas dan Fungsi Pendidikan