• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Prestasi Belajar

KAJIAN PUSTAKA DAN TINJAUAN TEORI

A. Landasan Teori

1) Hakikat Prestasi Belajar

Prestasi pada dasarnya memiliki berbagai defenisi, yang berawal dari asal kata prestasi yaitu “prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu: Prestatie, yang kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha”.1

Adapun defenisi lain terkait dengan prestasi, Syaiful Bahri Djamarah mengartikan prestasi sebagai “hasil dari suatu kegiatan yang telah dilaksanakan, dan diciptakan, yang menenangkan hati yang diraih dengan keuletan kerja, baik secara individu maupun kelompok dalam bidang tertentu.”2

1Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional, Prinsip, Teknik, Prosedur, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1990, h. 2

2Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Surabaya: Usaha Nasional, 1994, h. 21

Dalam hal ini, prestasi sangat erat kaitanya dengan belajar, karena prestasi diraih setelah adanya proses pembelajaran. Belajar dalam konsep pandangan Al-Qur‟an memiliki dua istilah konotasi yaitu ta‟allama dan darasa. “Ta‟allama secara harfiah dapat diartikan sebagai penerimaan ilmu akibat suatu pengajaran, maka dari itu belajar dapat diartikan sebagai suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dimana aktivitas tersebut dapat memperoleh ilmu.” 3 Berkenaan dengan defenisi tersebut, hal ini telah dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah Swt. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat…

(QS.al-Baqarah [2]: 102).

Dari ayat di atas, dapat digambarkan bahwa Al-Qur‟an telah menganjurkan kepada umat manusia untuk menggali objek ilmu yang dapat memberikan dampak positif bagi kehidupannya dan menghindari hal-hal yang sekiranya bertujuan menjerumuskan serta memberi mudarat kepada manusia.

Berdasarkan pada kegiatan pencarian ilmu, maka manusia perlu melaluinya dengan proses belajar. Sejalan dengan makna

3 Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi: Pesan-pesan Al-Qur‟an tentang Pendidikan, Jakarta:

AMZAH, 2013, h. 34

tersebut, Oemar Hamalik menyatakan bahwa “belajar adalah suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan.”4 Sedangkan menurut Suparta dan Henry Noer Ali bahwa “belajar mengandung arti perubahan dalam diri seseorang yang telah melakukan perbuatan belajar.”5

Adapun bentuk aktifitas belajar yang memberikan gambaran bahwa belajar dapat memberikan pengaruh bagi peserta didik sebagaimana yang diterangkan di dalam Al-Qur‟an dapat dideskripsikan melalui skema berikut:

Gambar 2.1

Skema Kegiatan Belajar dalam Prespektif Al-Qur’an6

Dari gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa dengan melakukan aktifitas belajar akan menghasilkan penguasaan pengetahuan baik secara kognitif maupun afektif sehingga dapat

4 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2001, h. 27

5 Suparta dan Henry Noer Ali, Metode Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Amissco, 2002, h. 27

6 Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi: Pesan-Pesan Al-Qur‟an tentang Pendidikan,…, h. 47

- Al-qira‟ah (membaca) - Al-nazar (berpikir) - Ra‟a (memperhatikan) - Al-sam‟u (mendengar) - Al-dhikr (mengingat), dll Al-ta‟alum wa al-dirasah

Memperoleh ilmu

Tadhakkur (sadar atau menyadari)

memberikan efek bagi pelajar yaitu kesadaran diri sebagai makhluk Allah Swt dan mendorong untuk selalu bersyukur.

Belajar sebagai aktifitas pencarian ilmu tentunya memiliki prinsip-prinsip yang digunakan untuk mencapai hasil pembelajaran yang baik. Karena dengan adanya prinsip yang terorganisir tentunya akan memperkuat pondasi atau dasar sehingga dapat memberikan hasil maksimal sesuai dengan yang direncanakan.

Adapun prinsip-prinsip dalam belajar sebagaimana yang diungkapkan oleh Syafruddin Nurdin yaitu:

a) Hubungan dengan tujuan anak

Tujuan pelajaran hendaknya sesuai dengan tujuan yang nyata dan bermakna bagi anak, sehingga pelajaran akan memberi motivasi anak, mengembangkan inisiatif, kreativitas, dan kemandirian anak.

b) Kontinuitas perkembangan

Pelajaran yang didapat anak di sekolah dapat dikaitkan dengan kegiatan di luar sekolah demikian pula sebaliknya.

c) Keunikan kecepatan belajar

Menanggapi perbedaan akan kecepatan belajar perlu dilakukan usaha dengan memberi beragam bacaan sesuai dengan taraf kesulitannya.

d) Belajar beberapa hal sekaligus

Hasil belajar sampingan akan mempengaruhi pribadi anak.

e) Penyesuaian dengan kematangan anak

Pengaharapan akan kesiapan belajar sebelum anak mencapai kematangan akan dapat merusak anak.

f) Pengalaman sesuai dengan keadaan nyata dalam kehidupan Dibutuhkan partisipasi anak dalam memecahkan suatu masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. 7

7 Syafruddin Nurdin, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Madrasah dan PT, Jakarta: Ciputat Press, 2010, h. 25-26

Berkaitan dengan hasil dari kegiatan pembelajaran, maka hasil inilah yang memberikan gambaran berlangsungnya proses kegiatan, hasil perlu diukur sebagai upaya analisa dari kegiatan yang telah berlangsung untuk perbaikan atau penyempurnaan proses kegiatan belajar dan mengajar karena keadaan seseorang ketika sebelum dan sesudah belajar tentunya memiliki perbedaan, sebagaimana yang dijelaskan oleh W.S Winkel bahwa “perubahan hasil belajar dapat berupa sesuatu yang baru dan segera tampak dalam prilaku nyata atau yang masih tersembunyi dan mungkin hanya berupa penyempurnaan terhadap hal yang pernah dipelajari.”8

Adapun defenisi prestasi belajar terdapat beberapa makna sebagaimana yang diungkapkan oleh Raka Jhoni bahwa “prestasi belajar merupakan hal penilaian tugas-tugas yang dilakukan dalam bentuk angka-angka”.9 Sejalan dengan pendapat tersebut, terdapat pengertian lain berkenaan dengan prestasi belajar menurut Surtatih Tirtonegoro yaitu “penilaian hasil atau usaha kegiatan yang dinyatakan dalam simbol, angka, huruf maupun kalimat yang mencerminkan hasil yang dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.”10

Lebih lanjut, Menurut Nana Sudjana bahwa “prestasi belajar diartikan sebagai penguasaan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai angka yang diberikan oleh guru.”11

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan yang dicapai oleh

8 W.S. Winkel, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, Jakarta : PT. Gramedia, 1984, h. 15.

9Raka Jhoni, Pengukuran dan Penilain Pendidikan, Surabaya: Karya Anda, 1980, h. 6

10Surtatih Tirtonegoro, Anak Super Normal dan Program Pendidikanya, Jakarta: Bina Aksara, 1998, h. 43

11Nana Sudjana, Penilaian Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992, Cet. Ke-4, h. 22

seseorang setelah melakukan suatu usaha atau kegiatan dalam proses pembelajaran yang dapat diukur melalui tes tertentu.

Dokumen terkait