BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Hakikat Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Di lihat dari tahapan perkembangan, siswa usia SMP adalah siswa yang memasuki usia remaja. Masa remaja merupakan tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa yang ditandai oleh perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial (Hurlock, 2004). Perubahan fisik mencakup organ seksual yaitu alat-alat reproduksi sudah mencapai kematangan dan mulai berfungsi dengan baik. Sedangkan perubahan psikologis yang terjadi pada remaja mencakup intelektual, emosi, dan kehidupan sosial (Sarwono, 2006).
Hurlock (2004) membagi fase remaja menjadi masa remaja awal dengan usia antara 13-17 tahun dan masa remaja akhir dari usia antara 17-18 tahun. Masa remaja awal dan akhir memiliki karakteristik yang berbeda dikarenakan pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati dewasa.
Menurut Golinko (Putro, 2005), kata “remaja” berasal dari bahasa Latin adolescene berarti to grow atau to grow maturity. Masa remaja adalah fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak-anak ke
masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial yang berlangsung pada dekade kedua masa kehidupan (Pardede, 2008). Pada masa ini remaja ingin mencari identitas dirinya dan lepas dari ketergantungan dengan orang tuanya, menuju pribadi yang mandiri (Gunarsa, 2006). Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khas dan perannya yang menentukan kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa (Syamsu, 2014).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa siswa SMP merupakan individu yang memiliki usia masa peralihan dari usia anak-anak ke usia remaja. Perilaku yang disebabkan oleh masa peralihan ini menimbulkan berbagai keadaan dimana siswa SMP labil dalam pengendalian emosi. Keingintahuan pada hal-hal baru yang belum pernah ditemui sebelumnya mengakibatkan munculnya perilaku-perilaku yang mulai memunculkan karakter diri. . 2. Karakteristik Remaja
Menurut Hurlock (2004) karakteristik masa remaja adalah sebagai berikut:
a. Masa remaja sebagai periode yang penting, karena perkembangan fisik, mental yang cepat merupakan suatu hal yang penting diperhatikan khususnya untuk penyesuaian mental serta perlunya membentuk sikap, nilai, dan minat baru.
b. Masa remaja sebagai periode peralihan, adanya suatu perubahan sikap dan perilaku dari anak-anak menuju dewasa.
c. Masa remaja sebagai periode perubahan, karena ada 5 perubahan yang bersifat universal yaitu perubahan emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan perubahan nilai.
d. Masa remaja sebagai usia bermasalah, karena pada masa kanak-kanak masalah-masalahnya sebagian besar diselesikan oleh guru dan orang tua sehingga kebanyakan remaja kurang berpengalaman dalam mengatasi masalah.
e. Masa remaja sebagai periode mencari identitas, karena remaja berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya.
f. Masa remaja sebagai periode usia yang menimbulkan ketakutan, karena adanya anggapan stereotip budaya bahwa remaja suka berbuat semaunya sendiri atau “semau gue”, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja yang takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.
g. Masa remaja sebagai periode masa yang tidak realistik, karena remaja cenderung memandang dirinya dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan, dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal harapan dan cita-cita. Harapan dan cita-cita yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan teman-temannya, menyebabkan meningginya emosi yang merupakan ciri dari awal masa remaja.
h. Masa remaja sebagai periode ambang masa dewasa, karena remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks bebas yang cukup meresahkan. Mereka menganggap bahwa perilaku yang seperti ini akan memberikan citra yang sesuai dengan yang diharapkan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya memahami karakteristik remaja agar kita dapat memberikan pendampingan yang tepat untuk mengarahkan remaja pada proses perkembangan yang selanjutnya.
3. Tugas Perkembangan Remaja
Tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Havighurst (Hurlock, 2004), yaitu:
a. Mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya yang berbeda jenis kelamin sesuai dengan keyakinan dan etika moral yang berlaku di masyarakat.
b. Mencapai peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin, selaras dengan tuntutan sosial dan kultural masyarakatnya.
c. Menerima kesatuan organ-organ tubuh/keadaan fisiknya sebagai pria/wanita dan menggunakannya secara efektif sesuai dengan kodratnya masing-masing .
d. Menerima dan mencapai tingkah laku sosial tertentu yang bertanggung jawab di tengah-tengah masyarakatnya.
e. Mencapai kebebasan emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya dan mulai menjadi “diri sendiri.”
f. Mempersiapkan diri untuk mencapai karir (jabatan dan profesi) tertentu dalam bidang kehidupan ekonomi.
g. Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkawinan dan kehidupan berkeluarga.
h. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman bertingkah laku dan mengembangkan ideologi untuk keperluan kehidupan kewarganegaraannya.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tugas perkembangan remaja sangat berkaitan erat dengan perkembangan kematangan karakter yang meliputi kematangan berpikir, merasa, dan bertindak. Dengan memiliki kematangan karakter, remaja dapat melakukan interaksinya dengan baik di masyarakat sekitarnya dan melaksanakan tugas perkembangan yang selanjutnya.
4. Pentingnya Pendidikan Karakter bagi Siswa SMP
Dari uraian penjelasan karakteristik dan tugas perkembangan remaja, sangat diperlukan usaha pendampingan untuk membantu remaja dalam memenuhi tugas-tugas perkembangannya dengan baik. Usaha pendampingan tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan karakter.
Pendidikan karakter merupakan pembinaan yang baik bagi remaja sebagai generasi yang diandalkan dalam pembangunan negara. Masa remaja merupakan masa yang sangat rentan karena cenderung lebih
menyukai dan ingin mencoba hal-hal baru tanpa mempertimbangkan baik buruknya dampak yang akan mereka rasakan. Remaja membutuhkan pembinaan berupa pendidikan karakter yang mampu mengarahkan mereka menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan sosok yang diharapkan oleh bangsa (Shidiq & Raharjo, 2018).
Pendidikan karakter pada remaja dilakukan untuk pengendalian diri supaya remaja tidak terjerumus ke dalam karakter negatif. Dengan demikian, karakter positif remaja dapat diinternalisasi menjadi karakter yang permanen (Kristiawan, 2015).
5. Remaja SMP dan Berbagai Permasalahan Kecerdasan Interpersonal Siswa SMP termasuk dalam kategori usia remaja awal. Masa remaja penuh dengan ketegangan emosi yang meninggi akibat perubahan fisik, tekanan sosial, dan selama masa kanak-kanak kurang mempersiapkan diri. Sehingga ketidakstabilan emosi berdampak pada penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.
Belum matangnya emosi pada remaja SMP menyebabkan remaja mudah terpengaruh teman sebaya atau kelompok untuk melakukan perbuatan tertentu. Menurut Chaplin (2002), pada umumnya dalam bertindak remaja menggunakan emosinya dari pada pikirannya. Jika emosinya meledak-ledak, maka remaja akan penuh semangat dan tidak mudah menyerah untuk melakukan apapun, meskipun tindakannya bertentangan dengan norma yang berlaku. Remaja akan terus berusaha
mempertahankan pendiriannya demi mencari sensasi untuk mendapatkan perhatian di lingkungan sekitarnya.
Remaja SMP yang tidak dapat menyalurkan atau mengelola emosinya yang meledak-ledak dengan tepat akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri maupun masyarakat di sekitarnya. Dengan kata lain, remaja harus mampu meningkatkan kecerdasan interpersonalnya agar mampu bersosialisasi dengan baik terhadap orang-orang di sekitarnya.
Remaja SMP yang memiliki permasalahan sosial adalah remaja yang memiliki kecerdasan sosial (kecerdasan interpersonal) yang rendah. Ada banyak permasalahan remaja yang masih berkaitan dengan rendahnya kecerdasan interpersonal remaja SMP, misalnya tawuran pelajar, bullying, klitih, merokok, meminum minuman beralkohol, terjadinya pemerkosaan, pembunuhan, pencurian, kecanduan media sosial, dan lain sebagainya. Permasalahan-permasalahan tersebut menunjukkan rendahnya kecerdasan interpersonal yang melakukan tindakan-tindakan yang merusak dan merugikan masyarakat di sekitarnya.