• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Stilistika a. Pengertian Stilistika

A. Kajian Teori

2. Hakikat Stilistika a. Pengertian Stilistika

Secara etimologis stylistics berhubungan dengan kata style yang berarti gaya, sedangkan stilistics sendiri dapat diterjemahkan sebagai ilmu tentang gaya. Stilistika adalah ilmu pemanfaatan bahasa dalam sebuah karya sastra (Endraswara, 2003: 72). Sehubungan dengan hal tersebut, Ratna (2009) menyatakan, “Stilistika adalah ilmu tentang gaya, sedangkan style

commit to user

secara umum adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu sehingga tujuan yang dimaksudkan tersebut dapat tercapai dengan baik” (hlm. 3).

Lecch & Short (1981) mengatakan bahwa stilistika menyaran pada pengertian studi tentang style, kajian terhadap wujud performansi kebahasaan, khususnya yang terdapat di dalam sebuah karya sastra (Nurgiyantoro, 2002: 279). Sementara itu, Chapman (1973) menyatakan bahwa kajian stilistika sendiri sebenarnya dapat ditujukan terhadap berbagai ragam penggunaan bahasa dan tidak hanya terbatas dalam karya sastra saja, namun biasanya stilistika memang lebih sering dikaitkan dengan bahasa dalam sastra (Nurgiyantoro, 2002: 279).

Sudjiman menjelaskan, “Stilistika merupakan ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam sebuah karya sastra”

(1986: l71). Lebih jauh, Ratna (2007: 236) mengemukakan beberapa definisi tentang stilistika, yaitu: 1) ilmu tentang gaya bahasa, 2) ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan, 3) penerapan kaidah-kaidah linguistik dalam penelitian gaya bahasa, 4) ilmu yang menyelidiki mengenai pemakaian bahasa dalam karya sastra, dan 5) ilmu yang menyelidiki tentang pemakaian bahasa dalam karya sastra, dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya.

Stilistika sebagai bahasa khas sastra, akan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan bahasa komunikasi sehari-hari. Stilistika adalah bahasa yang telah dicipta dan bahkan direkayasa untuk mewakili ide sastrawan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Wellek dan Warren (1989) bahwa stilistika adalah bagian dari ilmu sastra dan akan menjadi penting, karena melalui metode ini akan terjabarkan ciri-ciri khusus sebuah karya sastra (Endraswara, 2003: 75).

Aminuddin (1995) menyatakan, “Kajian stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan obyektif. Dikatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian stilistik merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan sistem tanda

commit to user

dalam sebuah karya sastra” (hlm. 52). Bertolak dari pemahaman ciri penggunaan sistem tanda setelah dihubungkan dengan gambaran makna yang diembannya, lebih lanjut ditafsirkan cara yang digunakan pengarang di dalam memaparkan gagasannya.

Stilistika seringkali memperlihatkan persamaan dengan retorika, tetapi tanpa aspek normatifnya yang meneliti pemakaian bahasa yang khas atau istimewa, yang merupakan ciri khas seorang penulis, aliran sastra, dan yang menyimpang dari bahasa sehari-hari atau dari bahasa yang dianggap normal.

Stilistika berusaha dan berhasil menetapkan keistimewaan pemakaian bahasa secara insidental (Teeuw, 1984: 72). Di samping itu, stilistika dapat pula merupakan sarana yang dipakai pengarang untuk mencapai tujuan, karena stilistika merupakan cara untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, jiwa, dan kepribadian pengarang dengan cara khasnya (Fananie, 2002: 26).

Zhang berpendapat, “Stilistika kesusastraan merupakan disiplin ilmu antara linguistik dan kritik sastra yang menyelidiki estetika dan nilai-nilai yang dihasilkan oleh bentuk-bentuk linguistik, untuk menyampaikan tujuan, sikap, atau karakter pengarang guna meningkatkan kekuatan dan keefektifan dari pesan yang berkontribusi pada karakterisasi dan membuat fungsi realitas fiksi menjadi efektif dalam kesatuan tematik” (2002: 155).

Sementara itu, Al-Ma’ruf (2009) menyatakan, “Stilistika adalah ilmu yang mengkaji gaya bahasa yakni wujud performansi bahasa dalam sastra setelah melalui pemberdayaan segenap potensi bahasa yang unik dan khas meliputi bunyi, diksi, kalimat, wacana, bahasa figuratif dan citraan” (hlm. 312).

Al-Ma’ruf menambahkan bahwa kajian stilistika karya sastra dan fungsinya dalam pemaknaan karya sastra perlu dikembangkan. Selain bermanfaat bagi kritik sastra, hasil kajian stilistika dalam sebuah karya sastra dapat memberikan sumbangan penting bagi kajian linguistik (2009: 311). Kajian stilistika karya sastra menerapkan prinsip-prinsip linguistik dalam memerikan berbagai fenomena kebahasaan sebuah karya sastra yang berperan dalam pemahaman maknanya.

commit to user

Menurut Abrams (1981) stilistika kesusastraan merupakan metode analisis dalam sebuah karya sastra. Abrams juga menjelaskan bahwa fitur stilistika adalah fonologi, sintaksis, leksikal, dan retorika yang meliputi karakteristik penggunaan bahasa figuratif, pencitraan, dan lain sebagainya (Al-Ma’ruf, 2009: 19). Adapun Leech dan Short (1981) mengatakan bahwa unsur-unsur stilistika meliputi unsur leksikal, gramatikal, figure of speech, konteks, dan kohesi (Nurgiyantoro, 2002: 289).

Dapat dikatakan bahwa stilistika adalah proses menganalisis karya sastra dengan mengkaji unsur-unsur bahasa sebagai medium karya sastra yang digunakan sastrawan sehingga terlihat bagaimana perlakuan sastrawan terhadap bahasa dalam rangka menuangkan gagasannya. Oleh sebab itu, Cuddon (1979) menyatakan bahwa semua proses yang berhubungan dengan analisis bahasa dalam karya sastra dikerahkan untuk mengungkapkan aspek kebahasaan seperti diksi, kalimat, penggunaan bahasa figuratif, bentuk-bentuk wacana, dan sarana retorika yang lain (Al-Ma’ruf, 2009: 10).

Menurut Muhammad (1988) penelitian stilistika hendaknya sampai pada tingkat makna gaya bahasa sastra. Makna tersebut ada dua hal, yaitu denotasi (makna lugas) dan makna konotasi (makna kias). Kedua makna ini akan saling berhubungan satu sama lain. Pemaknaan keduanya perlu memperhatikan deskripsi mental dan deskripsi fisikal gaya bahasa (Endraswara, 2003: 73). Deskripsi ini akan tampak melalui pilihan kata, yaitu ketepatan dan kesesuaian kosakata. Pemakaian kosakata yang tepat tentu akan mendukung keindahan karya sastra.

Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa stilistika merupakan ilmu yang mengkaji wujud pemakaian bahasa dalam sebuah karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya yang meliputi keunikan dan kekhasan bahasa yang digunakan, pemanfaatan bahasa figuratif, pemilihan kata, pencitraan, dan sebagainya sehingga tujuan yang dimaksudkan dapat tercapai dengan maksimal.

commit to user b. Pengertian Gaya Bahasa

Istilah gaya diangkat dari istilah style yang berasal dari bahasa Latin stilus dan mengandung arti semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin (Keraf, 2008: 112). Dalam perkembangan selanjutnya, stilus juga memiliki arti khusus mendeskripsikan tentang penulisan dan kritik terhadap kualitas dari sebuah tulisan atau karangan. Keraf juga menjelaskan bahwa gaya bahasa adalah cara atau teknik mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur yaitu kejujuran, sopan-santun, dan menarik. Mengkaji gaya bahasa memungkinkan dapat menilai pribadi, karakter, dan kemampuan pengarang dalam menggunakan bahasa.

Menurut Aminuddin (1995: 4) style diartikan sebagai teknik serta bentuk gaya bahasa seseorang dalam memaparkan gagasan sesuai dengan ide dan norma yang digunakan sebagaimana ciri pribadi pemakainya.

Sebelum memiliki stilistika, bahasa dalam karya sastra memang telah memiliki gaya. Endraswara (2003: 71) menjelaskan bahwa gaya adalah segala sesuatu yang “menyimpang” dari pemakaian biasa. Penyimpangan tersebut bertujuan untuk keindahan. Keindahan ini banyak muncul dalam karya sastra, karena sastra memang sarat dengan unsur estetik. Segala unsur estetik ini menimbulkan manipulasi bahasa, plastik bahasa, dan kado bahasa sehingga mampu membungkus rapi gagasan penulis.

Sementara itu, Ratna (2007) berpendapat, “Gaya (bahasa) adalah keseluruhan cara pemakaian (bahasa) oleh pengarang dalam karyanya.

Hakikat style adalah teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang diungkapkan” (hlm. 232). Sedangkan, makna gaya menurut Lecch & Short (1981) merupakan cara penggunaan bahasa dalam konteks tertentu, untuk tujuan tertentu, dan lain sebagainya (Nurgiyantoro, 2002: 276). Dengan demikian, style dapat bermacam-macam sifatnya, tergantung pada konteks di mana dipergunakan, selera pengarang, namun juga tergantung apa tujuan dari penuturan itu sendiri.

commit to user

Gaya pada hakikatnya merupakan teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan oleh pengarang. Teknik itu sendiri merupakan bentuk pilihan yang dapat dilihat pada bentuk ungkapan suatu bahasa seperti yang dipergunakan dalam sebuah karya sastra. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Abrams (1981) yang menyatakan bahwa gaya merupakan cara pengucapan bahasa dalam prosa, atau bagaimana pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2002: 276).

Aminuddin (1995) mengatakan, “Gaya dapat diartikan sebagai cara menyusun dan menggambarkan sesuatu secara tepat dan mendalam hingga dapat menampilkan nilai keindahan tertentu sesuai dengan impresi dan tujuan pemaparnya” (hlm. 9). Jadi dapat dikatakan bahwa gaya sebagai cara penggunaan sistem tanda yang mengandung ide, gagasan, dan nilai estetis tertentu. Sementara itu, Pateda juga berpendapat, “Gaya bahasa memang banyak dan biasanya dibicarakan dalam bidang sastra” (2001: 234).

Sebenarnya bukan soal gaya bahasa yang dipentingkan, tetapi makna atau kalimat yang menggunakan gaya bahasa tersebut yang perlu dibicarakan.

Kemudian, Ratna (2009) juga berpendapat, “Gaya merupakan tindakan untuk melahirkan sesuatu atau hal baru yang bertujuan untuk mencapai kepuasan. Meskipun demikian gaya tidak harus dilakukan di luar batas kebiasaan sehingga melanggar norma, gaya tidak boleh berlebihan”

(hlm. 7). Lebih jauh, menurut Ratna (mengutip simpulan Hough 1969) gaya dianggap sebagai ciri khas seorang pengarang dalam menggunakan bahasa.

Gaya merupakan pilihan kata dalam berbagai eksistensinya, pilihan citra, dan imajinasi dalam berbagai manifestasinya (2007: 242).

Menurut Pradopo (mengutip simpulan Slametmuljana, 1966) gaya bahasa adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu (2007: 93). Lebih jauh, Fananie (2002: 26) menjelaskan bahwa aspek-aspek yang memengaruhi gaya seorang pengarang di antaranya meliputi penggunaan bahasa, lingkungan sosial, ekspresi, aliran, ideologi,

commit to user

dan sebagainya. Dari aspek-aspek tersebut maka gaya bahasa merupakan ungkapan yang paling menonjol, karena aspek inilah yang merupakan media utama sebuah karya sastra.

Moti menyatakan, “Gaya dalam pengertian modern adalah cara khas yang digunakan oleh pengarang untuk berekspresi melalui bahasa sebagai media utamanya dan untuk mempelajari ciri khas dalam bahasa dengan cara yang lebih objektif” (2010: 152). Selanjutnya, Sudjiman (1986: 31) mengemukakan bahwa istilah gaya sendiri memiliki beberapa pengertian antara lain: 1) cara penyampaian pikiran dan perasaan dengan menggunakan kata-kata, 2) cara khas penyusunan dan penyampaian pikiran atau perasaan dalam bentuk tulisan dan lisan, dan 3) ciri-ciri suatu kelompok karya sastra berdasarkan bentuk pernyataannya (ekspresinya) dan bukan kandungan isinya, gaya terutama ditentukan oleh diksi dan struktur kalimat.

Sementara itu, Warriner (1977) menyatakan bahwa gaya bahasa merupakan cara mempergunakan bahasa secara imajinatif, bukan dalam pengertian yang benar-benar secara alamiah saja (Tarigan, 1985: 5). Senada dengan hal tersebut, Aminuddin (2003: 25) menyebutkan bahwa berhadapan dengan kompleksitas makna dalam karya sastra, pembaca yang ingin memahami karya sastra secara sungguh-sungguh dan benar tentunya juga harus memahami ilmu tentang makna sebagai bekal awal dalam upaya memahami teks sastra.

Ratna (mengutip simpulan Sukada, 1987) mendefinisikan istilah gaya bahasa dalam sejumlah butir pernyataan, yaitu: 1) gaya bahasa adalah bahasa itu sendiri, 2) yang dipilih berdasarkan struktur tertentu, 3) digunakan dengan cara yang wajar, 4) tetapi tetap memiliki ciri personal, 5) sehingga tetap memiliki ciri-ciri personal, 6) sebab lahir dari diri pribadi penulisnya yang diungkapkan dengan penuh kejujuran, 7) disusun secara sengaja agar menimbulkan efek tertentu dalam diri pembaca, dan 8) isinya adalah persatuan antara unsur keindahan dan kebenaran (2009: 12).

commit to user

Sehubungan dengan pengertian tersebut, Kridalaksana (2008) mengemukakan, “Gaya bahasa adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, pemakaian ragam bahasa tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, dan keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra” (hlm. 70). Sementara itu, Sudjiman (1995) mengartikan style sebagai gaya bahasa yang mencakup diksi (pilihan kata atau leksikal), struktur kalimat, majas, citraan, pola rima, serta matra yang digunakan oleh seorang pengarang yang terdapat dalam sebuah karya sastra (Al-Ma’ruf, 2009: 20).

Zaimar menyatakan, “Pemakaian gaya bahasa yang tepat (sesuai dengan waktu dan penerima yang menjadi sasaran) dapat menarik perhatian penerima. Sebaliknya, bila penggunaannya tidak tepat, maka penggunaan gaya bahasa akan sia-sia belaka, bahkan mengganggu pembaca” (2002: 45).

Misalnya apabila dalam novel remaja masa kini terdapat banyak gaya bahasa dari masa sebelum kemerdekaan, maka pesan tidak sampai dan novel remaja itu tidak akan disukai pembacanya. Pemakaian gaya bahasa juga dapat menghidupkan apa yang dikemukakan dalam teks, karena gaya bahasa dapat mengemukakan gagasan yang penuh makna dengan singkat.

Abrams (1981) mengatakan bahwa gaya bahasa adalah cara pemakaian bahasa dalam karangan, atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan (Al-Ma’ruf, 2009: 7).

Senada dengan Abrams, Suyadi San (2005) menyatakan bahwa gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pengarang (Al-Ma’ruf, 2009: 9).

Selanjutnya, Dale (1971) juga menyatakan bahwa gaya bahasa adalah bahasa yang indah, yang dipergunakan pengarang untuk meningkatkan efek dengan jalan memerkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum (Tarigan, 1985: 5).

Pendek kata penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu.

commit to user

Sementara itu, Endaswara (mengutip pendapat Enkvist, 1964) memberikan enam pengertian tentang gaya bahasa, yaitu: 1) bungkus yang membungkus inti pemikiran atau pernyataan yang telah ada sebelumnya;

2) pilihan di antara banyak pernyataan yang mungkin; 3) sekumpulan ciri pribadi; 4) penyimpangan dari norma atau kaidah; 5) sekumpulan ciri-ciri kolektif; dan 6) hubungan antara satuan bahasa yang dinyatakan dalam teks lebih luas daripada sebuah kalimat. Terpenting yang harus dipahami bahwa gaya bahasa adalah style as choise, style as meaning, dan style as tension between meaning and form (2003: 72).

Namun, hakikatnya dapatlah dipahami bahwa style merupakan gaya bahasa termasuk di dalamnya pilihan gaya pengekspresian pengarang untuk menuangkan apa yang dimaksudkan yang bersifat individual dan kolektif (Sutejo, 2010: 5). Gaya bahasa pada dasarnya juga dapat dikaitkan dengan proses kreatif pengarang terhadap berbagai macam fenomena kehidupan manusia (Umami, 2009: 206). Lebih lanjut, menurut Yeibo (2012: 180) studi mengenai gaya secara umum berkaitan dengan pemakaian bahasa figuratif yang berfungsi untuk menghasilkan efek estetika.

Gaya bahasa merupakan seni dalam karya sastra yang dipengaruhi oleh hati nurani. Hal ini dikarenakan gaya bahasa sebagai pembungkus ide yang dapat menghaluskan teks sastra (Endraswara, 2003: 73). Sedangkan Pradopo (1991) menyatakan bahwa nilai seni sastra ditentukan oleh gaya bahasanya. Gaya bahasa dapat dikatakan sebagai keahlian pengarang dalam mengolah kata-kata (Endraswara, 2003: 72). Gaya bahasa menghidupkan kalimat dan memberi gerak pada kalimat. Gaya bahasa untuk menimbulkan reaksi tertentu, dan untuk menimbulkan tanggapan pikiran kepada pembaca.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah cara mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan untuk mencapai efek estetik dalam sebuah karya sastra, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca melalui bahasa yang khas sesuai dengan kreativitas, keunikan, dan karakter yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian dari pengarang tersebut.

commit to user c. Pengertian Retorika

Istilah retorika berasal dari bahasa Yunani rhetor yang berarti orator atau ahli pidato (Tarigan, 1985: 5). Pada masa Yunani kuna retorika merupakan bagian penting dari suatu pendidikan karena itu berbagai aneka ragam gaya bahasa sangat penting dan harus benar-benar dikuasai. Dengan ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg, masalah keahlian berbicara atau berpidato pun akhirnya berpindah menjadi keahlian menulis sehingga retorika modern adalah retorika bahasa tulis. Dengan kata lain, retorika modern adalah stilistika itu sendiri (Ratna, 2007: 235).

Retorika membahas masalah-masalah gaya bertutur dan gaya bahasa agar menjadi lebih efektif. Dalam pemakaian bahasa, retorika selalu menganjurkan penutur untuk memilih materi bahasa yang tepat, menatanya menjadi kalimat-kalimat yang retoris, dan menampilkan dengan gaya tutur yang meyakinkan. Untuk menekankan gagasan sehingga lebih persuasif perlu digunakan cara tertentu. Penggunaan cara tersebut dapat menyangkut manipulasi penggunaan bahasa maupun teknik pemaparannya.

Aminuddin (1995) menyatakan, “Istilah retorika sendiri tersebut lazim diartikan sebagai seni dalam menekankan gagasan dan memberikan efek tertentu bagi penanggapnya” (hlm. 4). Sehubungan dengan hal tersebut, Fananie mengatakan, “Retorika tidak dapat dilepaskan dari masalah seni walaupun pada awalnya seni dalam retorika adalah seni berbicara untuk menarik minat para pendengar” (2002: 26). Itulah sebabnya pemakaian bahasa dalam retorika tidak jauh berbeda dengan bahasa sastra, karena keduanya sama-sama menonjolkan bahasa untuk memengaruhi, meyakinkan, dan menarik minat baik pembaca maupun pendengar.

Menurut Oka (mengutip pendapat Whatley, 1969) retorika adalah seni yang mengajarkan orang kaidah dasar pemakaian bahasa yang efektif (1976: 32). Sejalan dengan hal tersebut, Steinmann (1967) menyatakan bahwa retorika membahas tentang pemilihan yang efektif terhadap bentuk cara-cara pengungkapan yang sinonim (Oka, 1976: 32). Dikatakan bahwa

bahasa menyediakan materi dan kemungkinan susunan yang banyak

commit to user

sinonim antara yang satu dengan yang lainnya, maka retorikalah yang mengajarkan orang memilih salah satu di antaranya sebagai bentuk cara pengungkapan yang persuasif.

Kridalaksana (2008) menyatakan, “Retorika merupakan sistem dan penyelidikan mengenai alat-alat stilistis ragam bahasa resmi” (hlm. 210).

Sedangkan Sudjiman berpendapat, “Retorika adalah suatu keterampilan dalam pemakaian bahasa secara efektif, studi tentang pemakaian bahasa secara efektif dalam karang-mengarang, dan kadang-kadang berkonotasi dengan bahasa yang melangit atau tidak jujur yang penuh dengan kata yang muluk-muluk” (1986: 64).

Bryant (1967) mengatakan bahwa retorika sebagai suatu tutur yang mempersuasi dan memberikan informasi yang rasionil kepada pihak lain (Oka, 1976: 32). Sedangkan Burke (1967) memandang bahwa retorika sebagai ilmu yang mengajarkan orang untuk mengidentifikasi dalam arti yang seluas-luasnya, termasuk di dalamnya mengidentifikasi diri, masalah yang akan dituturkan, bahasa yang dipakai, penanggap tutur, dan hasil yang diharapkan. Setiap tindakan identifikasi tersebut merupakan tindak retorik (Oka, 1976: 32).

Retorika lebih dikenal dengan studi sastra dalam rangka mempelajari sastra. Hal tersebut dikarenakan mengingat penghargaan orang yang berlebih-lebihan terhadap sastra. Segala kebaikan, kemuliaan, dan keluhuran dianggap tersimpan sepenuhnya dalam sastra. Bahasa sastra dan cara-cara bertutur yang biasa digunakan oleh para sastrawan dipandang sebagai bahasa yang baik. Oleh sebab itu, jika orang ingin menguasai bahasa yang baik, ingin mampu bertutur dengan baik, maka dia harus mempelajari sastra, dan ilmu yang dianggap bisa membantu keinginan ini adalah retorika.

Nurgiyantoro mengemukakan, “Retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis yang diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa, yaitu bagaimana pengarang menyiasati bahasa sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasannya” (2002: 295).

Retorika pada dasarnya berkaitan dengan pembicaraan tentang dasar-dasar

commit to user

penyusunan sebuah wacana yang efektif. Sedangkan, Beckett (1966) mengatakan bahwa retorika merupakan seni untuk mengafeksi pihak lain dengan tutur, yaitu dengan cara memanipulasi unsur-unsur tutur tersebut dan respon pendengar (Oka, 1976: 32).

Menurut Keraf (2008: 18) retorika modern bertolak dari beberapa macam prinsip, diantaranya mengenal dan menguasai bermacam-macam gaya bahasa, mampu menciptakan gaya yang hidup dan baru untuk lebih menarik perhatian pembaca dan lebih memudahkan penyampaian pikiran penulis. Proses penciptaan karya sastra terkait dengan upaya pengolahan gagasan yang jernih dan kaya melalui bentuk pengungkapan yang padat, utuh, dan imajinatif. Setiap pengarang memanfaatkan retorika berdasarkan kemampuannya masing-masing. Menurut Oka (1976: 24) implikasi pengertian retorika merujuk pada bahasa yang baik, tutur yang menarik, cara bertutur yang memikat, beberan yang mantap, dan lain sebagainya.

Setiap pengarang mempunyai gaya bahasa sendiri. Hal ini sesuai dengan sifat dan kegemaran masing-masing pengarang. Meskipun setiap pengarang mempunyai gaya dan cara sendiri dalam melahirkan pikiran, namun ada sekumpulan bentuk atau beberapa macam bentuk yang biasa dipergunakan. Jenis-jenis bentuk ini biasa disebut dengan istilah sarana retorika. Pada umumnya sarana retorika ini menimbulkan ketegangan puitis karena pembaca harus memikirkan efek apa yang ditimbulkan dan dimaksudkan oleh pengarang (Pradopo, 2007: 93)

Retorika bertujuan memengaruhi sikap dan perasaan seseorang dengan mempergunakan semua unsur yang bertalian dengan kaidah-kaidah keefektifan dan keindahan gaya bahasa, misalnya ketepatan pengungkapan, keefektifan struktur kalimat, penggunaan bahasa kiasan yang serasi, penampilan yang sesuai dengan situasi, dan sebagainya (Keraf, 2008: 3).

Selain itu, Keraf juga menambahkan bahwa retorika modern lebih mengutamakan bahasa tertulis, dengan tidak mengabaikan bahasa lisan.

commit to user

Retorika adalah suatu istilah yang secara tradisional diberikan pada suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun dengan baik. Ada dua aspek yang perlu diketahui seseorang dalam retorika, yaitu pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik, dan kedua pengetahuan mengenai obyek tertentu yang akan disampaikan dengan bahasa tersebut. Jadi, dapat disimpulkan bahwa retorika merupakan suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni baik lisan maupun tertulis, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun dengan baik (Keraf, 2008: 3).

Dalam wawasan retorika, style memegang peranan penting untuk memilih gaya bahasa yang mampu memikat perhatian penanggap tutur (Oka, 1976: 57). Style bukan hanya dihubungkan dengan penggunaan bahasa nan indah tetapi juga merujuk pada isi yang diembannya. Ukuran keberhasilan seseorang dalam berbahasa tersebut ditentukan berdasarkan kemampuan, keluwesan, dan kefasihannya dalam berbahasa sesuai dengan tingkatan gaya yang harus digunakan. Dalam karya sastra, style dipakai pengarang sebagai sarana retorika dengan mengeksploitasi, memanipulasi, dan memanfaatkan segenap potensi bahasa.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa retorika merupakan suatu cara atau teknik pemakaian bahasa sebagai seni dalam karya sastra untuk menekankan ide, gagasan, pikiran, dan perasaan guna memperoleh efek estetis yang bertujuan untuk memengaruhi sikap dan perasaan seseorang dengan mempergunakan semua unsur-unsur yang berkaitan dengan keindahan gaya bahasa.

d. Bentuk - bentuk Retorika

Gaya bahasa merupakan bentuk retorika, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis yang bertujuan untuk meyakinkan atau memengaruhi pembaca dan pendengar (Tarigan, 1985: 5). Jadi, gaya bahasa tersebut berfungsi sebagai alat dan sarana untuk meyakinkan atau memengaruhi pikiran dan perasaan pendengar atau pembaca.