PERTANIAN BERKELANJUTAN
TANGGAP PENGENDALIAN LEDAKAN POPULASI HAMA PENTING TANAMAN PERKEBUNAN
9. Hama Tebu (Penggerek pucuk, penggerek batang)
a. Pengelolaan lahandengan melakukanpengembalian residu tanaman ke lahan dan menanam tanaman pupuk hijau b. Penggunaan benih bebas hama dan penanaman varietas
toleran
c. Monitoring hama dan musuh alami
d. Pengendalian hayati menggunakan parasitoid telur lalat Jatiroto Diatraeophaga sriatalis 30 pasang/ha (Soebiyakto, 2016).
e. Pengendalian berdasarkan peraturan pemerintah/ undang-undang.
PENUTUP
Salah satu kendala penting dalam budidaya tanaman perkebunan adalah adanya serangan OPT yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 40%. Beberapa jenis hama penting tanaman perkebunan yaitu C. Trifenestrata dan H. antonii pada jambu mete, Penggerek batang, Nothopeus spp. dan Hexamitodera spp., dan Carea sp. pada cengkeh, M. maculifascia pada Ylang-ylang, Batocera sp. pada pala, C. Cramerella pada kakao, O. Rhynoceros pada kelapa, L. Piperis pada lada, S. nivella dan L. Stigma padatebu, dan H. hampei pada kopi.
Populasi hama berfluktuasi dipengaruhi oleh faktor lingkungan baik biotik maupun abiotik. Terjadinya perubahan iklim yang ekstrem menyebabkan populasi hama dapat meningkat sehingga dapat menyebabkan kerusakan tanaman. Beberapa hama tanaman perkebunan populasinya juga dapat meningkat sewaktu-waktu jika terjadi perubahan iklim yang ekstrem. Untuk mengantisipasi terjadinya eksplosi hama tanaman perkebunan maka perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi pengendalian.
Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan, Perlindungan Pertanian atau perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengelolaan Hama Terpadu serta penanganan dampak perubahan iklim. Apabila terjadi serangan hama atau organisme pengganggu
tumbuhan secara ekplosif maka Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban menanggulangi bersama masyarakat. Meskipun tidak dirinci kegiatan pengendalian yang harus dilaksanakan namun sesuai dengan paradigma yang diusung dalam UU ini pengendalian tersebut harus bersifat ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan memperhatikan daya dukung ekosistem, mitigasi, dan adaptasi perubahan iklim, serta kelestarian lingkungan guna mewujudkan sistem Pertanian yang maju, efisien, tangguh, dan berkelanjutan.
Pengendalian hama tanaman perkebunan harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Cara pengendalian yang digunakan adalah cara pengendalian yang efisien, efektif dan kompatible, dan ramah lingkungan yaitu dengan mempertimbangkan keberadaan musuh alami, penyerbuk dan serangga berguna lainnya serta lingkungan sekitar. Untuk keberhasilan pengendalian tersebut perlu pemahaman petani dan semua pihak yang terlibat dan peraturan berupa kebijakan yang mendukung suksesnya pengendalian tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmed SA, Dutta LC, Sarnah MC. 2012. Bio-efficacy of some insecticides against leaf eating caterpillar Helfer (Lepidoptera: Saturniidae) infesting some Persea bombyci.
Acad J Entomol. 5(2):94-98
DOI:10.5829/idosi.aje.2012.5.2.6411.
Anonymous, 2004. Pedoman Pengembangan dan Operasional Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan. Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan. Balai Besar Peramalan OPT, Jatisari, Karawang. 83 Hal.
Anonymous, 2011. Petunjuk teknis pengendalian ulat bulu.
kementerian pertanian badan penelitian dan pengembangan pertanian. 4 hal.
Atmadja, W.R. 2003. Status Helopeltis antonii sebagai hama pada beberapa tanaman bunan dan pengendaliannya. Jurnal Litbang Pertanian 22(2): 57-63.
Bade, B. and S. Ghorpade., 2009. Life fecundity tables of sugarcane woolly aphid, Ceratovacuna lanigera Zehntner. J. Insect Sci. 22, 402–405.
Balittri. 2011. Observasi dan Identifikasi Hama dan Penyakit Tanaman Pala di Kabupaten Aceh Selatan. Laporan Kerjasama Disbunhut Kabupaten Aceh Selatan dengan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri.34 hal.
Dhaliwal, G., Jindal, V., Dhawan, A., 2010. Insect pest problems and crop losses: Changing trends. Indian J. Ecol. 37, 1–7.
Darwis, M. 2006. Upaya Pengendalian Hama Sexava spp. Secara Terpadu .Perspektif. Volume 5 Nomor 2, Desember 2006 : 98 – 110.
Deciyanto, S., M. Iskandar, dan A. Munaan. 1986. Preferensi larva penggerek batang Lophobaris spp. dan kehilangan hasilpada tanaman lada. Prosiding Temu Ilmiah Entmologi Perkebunan, Medan 22-24 April 1986.
Deciyanto S. 2005. Expert System for Pepper Stemborer control.
Journal of the Pepper Industry, Focus on Pepper, Vol. II, No 2/2005, p. 61-69 ISSN:1829-6858, International Pepper Community.
Deciyanto Soetopo. 2010. Pengendalian Hama Penggerek Batang Lada Menghadapi Isu Pembatasan Residu Pestisida. Buku Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Entomologi (Hama dan Penyakit Tanaman. Badan Litbang pertanian Bogor, 6-9-2010. ISBN. 978-602-8218-73-3.
Ditjenbun, 2020. RENCANA STRATEGIS Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia 2020 – 2024. 68 Hal.
Ditjenbun, 2018. Renstra Ditjenbun 2015-2019. Ditjenbun.196 hal.
Hosang dan Laba,2008. Efektivitas Insektisida Bisultap Terhadap Sexava nubila di Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara Meldy L.A. Hosang1 dan I Wayan Laba.. 2008. Buletin Palma. No.
34: 1-8.
Indrawanto, C.,Purwono, Siswanto, Syakir dan Rumini. 20110.
Budidaya dan Pasca Panen Tebu. ESKA Media. Jakarta. 39 hal.
Indriati, G. dan F. soesanthy 2014. Hamahelopeltis spp. dan teknik pengendaliannya pada pertanaman teh (Camellia sinensis) Helopeltis spp. and their control techniques in tea (Camellia sinensis)
Indriati G., Khaerati dan F. Soesanty, 2011. Agroinovasi. Edisi 23 Pebruari - 1 Maret 2011 No.3394 Tahun XLI Hal. 9-12.
Jaramillo, J., Borgemeister, C., & Baker, P. (2006). Coffee berry borer Hypothenemus hampei (Coleoptera: Curculionidae): searching for sustainable control strategies. Bulletin of Entomological Research, 96, 223– 233.
Kalay, A.M., Jacobus S. A. Lamerkabel, Frances J. L. Thenu. 2015.
Kerusakan tanaman pala akibat penyakit busuk buah kering dan hama penggerek batang di Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah.
Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pests of Crop in Indonesia. PT. Ichtiar Baru- Van Hoeve. Jakarta.
Kardinan A. & Sondang, S. 2012. Efektivitas pestisida nabati terhadap serangan hama pada teh sinensis L.. Bul Littro 23(2):148-152
Karmawati E. 2008. Perkembangan jambu mete dan strategi pengendalian hama utamanya. J Perspektif. 7(2):102-111.
Laba, I.W., D. Wahyuno dan M. Rizal. 2014. Peran pht, pertanian organik dan biopestisida menuju pertanian berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Prosiding Seminar Nasional Pertanian Organik, Bogor, 18 – 19 Juni 2014 . Hal. 25-34.
Laba, I.W. dan I.M. Trisawa. 2006. Pengelolaan Ekosistem Untuk Pengendalian Hama Lada. Perspektif, Volume 5 Nomor 2, Desember 2006 : 86 – 97.
Munaan, A. 1991. Preliminary study on nutmeg damage by trunk borer at Minahasa, North Sulawesi. Industrial Crops Research Jurnal 4(1):23-29
Nasrul, W. 2012.Pengembangan kelembagaan pertanian untuk peningkatan kapasitas petani terhadap pembangunan pertanian. Menara Ilmu, 3(29):66-74.
Prasad, Y.G. and M. Prabhakar.2012. Pest Monitoring and Forecasting. CAB International. Integrated Pest Management (eds D.P. Abrol and U. Shankar) .Pp. 41-57.
Prastowo, B., E. Karmawati, Rubiyo, Siswanto, C. Indrawanto, S.J.
dan Munarso. 2010. Budidaya dan Pascapanen Kopi. Pusat penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 70 hal.
Putera, A.D. 2018. Produksi kopi kita belum maksimal.
https://ekonomiSalim dan MLA. Hosang, 2014. Serangan Oryctes rhinoceros pada Kelapa Kopyor di Beberapa Sentra Produksi dan Potensi Metarhizium anisopliae sebagai Musuh Alami . B. Palma Vol. 14 No. 1, Juni 2013:47 53.
Rulianti, E. 2010. Pedoman Pengamatan dan Pengendalian OPT Penting Kelapa Sawit. Ditlinbun, Ditjenbun.4 hal.
Sambiran, W.J. dan M.Hosang. 2016. Patogenisitas Metarhizium anisopliae dari Beberapa Media Air Kelapa Terhadap Oryctes rhinoceros L. Pathogenicity of Metarhizium anisopliae from Several Coconut Water Media on Oryctes rhinoceros L. Buletin Palma No. 32, Juni 2007:1-11.
Sera, G. H., Sera, T., Ito, D. S., Filho, C. R., Villacorta, A., Kanayama, F. S., Grossi, L. D. (2010). Coffee berry borer resistance in coffee genotypes. Braz. Arch. Biol. Technol., 53, 261–268 Sharma, H.C., 2014. Climate Change Effects on Insects: Implications
for Crop Protection and Food Security. J. J. Crop Improv. 28, 229–2259.
Siswanto, R. Muhamad, D. Omar, dan E. Karmawati. 2007. Ecology and Population Biology of Helopeltis antonii or Its Cashew Host Plant. Ph.D. Thesis, Universitas Putra Malaysia.
Siswanto dan E.Karmawati, 2012. Pengendalian Hama Utama Kakao (Conopomorpha cramerella dan Helopeltis spp.) dengan Pestisida Nabati dan Agens Hayat i. Perspektif Vol. 11 No. 2 /Des 2012. Hlm 103 – 112 ISSN: 1412-8004
Siswanto, R. Muhamad, D. Omar and E. Karmawati. 2009. The effect of mating on the eggs’ fertility and fecundity of Helopeltis antonii (Heteroptera: Miridae). Tropical Life Sciences Research, 20(1): 89-97.
Siswanto, R. Muhamad, D. Omar, dan E. Karmawati. 2007. Ecology and Population Biology of Helopeltis antonii or Its Cashew Host Plant. Ph.D. Thesis, Universitas Putra Malaysia)
Siswanto, R. Muhamad, D. Omar and E. Karmawati. 2008.
Population fluctuation of Helopeltis antonii Signoret on cashew Anacardium occidentale L. in Java, Indonesia.
Pertanika Journal of Tropical Agricultural Science, 31(2): 191-196.
Siswanto dan M. Rizal. 2018. Pengelolaan komunitas serangga hama dan serangga berguna untuk peningkatan produktivitas jambu mente. Perspektif 17(1): 01-14.
Siswanto dan E. Karmawati, 2012. Pengendalian Hama Utama kakao (Conopomorpha cramerella dan Helopeltis spp.) dengan Pestisida nabati dan agens hayati. Perspektif: Review Penelitian Tanaman Industri, 11(2): 69-78.
Siswanto, Sumanto dan D. Soetopo. 2016. Uret pada tanaman tebu dan perkembangan teknologi pengendaliannya dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Perspektif Vol. 15(2):
110-123. ISSN: 1412-8004
Soebiyakto, 2016. Hama penggerek tebu dan perkembangan teknik pengendaliannya. Jurnal Litbang Pertanian Vol. 35 No. 4 Desember 2016. Pp.179-186.
Soesanthy F dan Trisawa IM. 2011. Pengelolaan serangga-serangga yang berasosiasi dengan tanaman jambu mete. J Ristri.
2(2):221-230
Sudarsono: Hama belalang kembara (Locusta migratoria manilensis) di Provinsi Lampung. . Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika 3(2), 2003. 7 hal.
Sudarsono , H., R. Hasibuan,I.G. Swibawa. 2011. Hubungan antara Curah Hujan dan Luas Serangan Belalang Kemabara J. HPT Tropika,11 (1) 1: 95 – 101.
Suprapto dan Martono. 1989. Populasi hama alami penggerek batang pada tanaman lada. Bul. Littro. 4(1):6-10.
Tarumingkeng, R.C. 1994. Dinamika Populasi.Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan. 284 hal.
Trisawa, I.M. dan I. W. Laba. 2006. Keefektifan Beauveria bassiana dan Spicaria sp. terhadap kepik renda ladaDiconocoris
hewetti(dist.) (Hemiptera: Tingidae). Bul. Littro. Vol. XVII No. 2, 2006, 99 - 106
Umasangaji, A., Patty, J.A., dan Rumakamar, A.A. 2012. Kerusakan tanaman pala akibat serangan hama penggerek batang (Batocera hercules). Agrologia 1(2):163-169
Wahyono, T. dan S.S.Saleh. 2012. Rancang Bangun Sistem
“Permadi”: Peringatan Dini Serangan Hama Tanaman Padi Berbasis Data Historis Klimatologi. JURNAL SISTEM KOMPUTER – 2 (1): 9-11.
War, A.R., Taggar, G.K., War, M.Y., Hussain, B., 2016. Impact of climate change on insect pests, plant chemical ecology, tritrophic interactions and food production. Int. J. Clin. Biol.
Sci. 1, 16–29.
Wikardi, E.A. dan Siswanto. 2002. Observasi dan identifikasi hama penggerek tanaman pala di Kabupaten Aceh Selatan.
Laporan Survei. Balittro Bogor. 21 hal.
Wiryadiputra, S. 2006. Penggunaan Perangkap Dalam Pengendalian Hama Penggerek Buah Kopi (PBKo), Hypothenemus hampei.
Pelita Perkebunan 2006, 22(2), 101—118.
Wiryadiputra, S. 2002. Evaluasi pelaksanaan sistem peringatan dini dalam pengendalian hama Helopeltis pada kakao, Kajian Pada Ketelitian Pengamat dan Penggunaan Insektisida.
Warta Pusat Penelilian Kopi dan Kakao Indonesia, 18(3):
108-117.
EPILOG
Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga dimensi atau persyaratan yaitu berkelanjutan ekonomi, keberlanjutan sosial budaya, dan keberlanjutan lingkungan . Ketiga persyaratan ini harus dipenuhi secara bersamaan (Simatupang, 2004). Dimensi Pembangunan Pertanian Berkelanjutan sudah merupakan kesepakatan negara-negara di dunia yang harus dipatuhi akibat pembangunan yang hanya memperhatikan kemajuan ekonomi tanpa memperhatikan kerusakan lingkungan dan timbulnya masalah social. Karena ketiga aspek harus dipenuhi secara bersamaan, pendekatan yang harus dilakukan adalah mensinergikan aspek ekonomi, social dan lingkungan yang memerlukan peta situasi agroekosistem kawasan termasuk rancangan pengembangan agribisnis yang akan menerima paket teknologi spesifik lokasi.
Teknologi yang dipersiapkan tentu berbeda dengan konvensional, karena ketiganya diharapkan sudah dipenuhi. Namun kesenjangan antara dunia peneliti, dunia praktisi dan dunia pengambil kebijakan selalu ada(Browson and Jones, 2009). Menurut Kingston et al.(2007), agribisnis perkebunan yang dilakukan secara rotasi atau diintegrasikan dengan tanaman pangan selalu menguntungkan dan meningkatkan produksi dan pendapatan.
Artikel yang disampaikan oleh para peneliti, seluruhnya menuju ke dimensi berkelanjutan, namun umumnya masih bersifat rekomendasi yang pendekatan yang berbeda-beda. Misalnya Penataan Varietas Unggul Tebu, perancangan agribisnisnya sudah menuju ke berkelanjutan, namun implementasinya masih memerlukan perbaikan teknologinya. Program yang telah disusun untuk mengimplementasikan teknologi perkebunan lainnya dalam rangka pemanfaatan lahan rawa, mengurangi kerusakan tanaman perkebunan karena serangan hama penyakit, mendukung program Mengembalikan Kejayaan Rempah Indonesia dan Pengentasan Kemiskinan perlu untuk direkomendasikan kembali dengan memperhatikan tiga aspek berkelanjutan yang disarankan.
INDEKS
A
abiotik, 110, 150, 153, 168, 186 adaptif, 102, 103, 109, 117 adopsi teknologi, 2, 31, 37, 49,
50, 68, 89 Batocera sp, 151, 153, 159, 186 berkelanjutan, iii, v, 1, 2, 4, 46,
curah hujan, 101, 108, 137, 138, 145, 168, 170, 175, 176 diversifikasi, 24, 28, 32, 33, 41,
44, 73, 76, 106
ekosistem, 97, 100, 144, 172, 176, 178, 187
ekspor, iii, 4, 6, 24, 25, 29, 35, 37, 38, 39, 40, 41, 43, 45, 53, 56, 59, 60, 62, 68, 151, 174