• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hambatan dan Tantangan KH Hamam Dja’far dalam menghidupkan

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Pembahasan

1. Hambatan dan Tantangan KH Hamam Dja’far dalam menghidupkan

menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan

Sejak awal berdiri Pondok Pesantren Pabelan mengalami perubahan dalam sistem pendidikan. Pondok Pesantren Pabelan tidak berbeda dengan institusi lainnya, dalam sejarah dan perkembangannya. Ada masa-masa berjaya dengan jumlah santri dan prestasi yang diaraih dan ada masa-masa vakum tidak melaksanakan aktivitas pendidikan. Pondok Pesantren Pabelan pada awalnya tidak berbeda dengan pesantren saat itu yang ada di Indonesia.

Pondok Pesantren Pabelan beberapa kali mati suri, dan keadaan masyarakat desa Pabelan pada tahun 1962-1965 mengalami keterbelakangan dalam berbagai bidang. Hal ini membuat hati KH.

Hamam Dja’far tergerak, beliau memiliki cita-cita untuk meningkatkan ekonomi, sosial, dan pendidikan desa Pabelan. Untuk mewujudkan cita-

citanya, KH. Hamam Dja’far memilih jalur pendidikan. KH. Hamam

Dja’far menghidupkan kembali Pondok Pesantren Pabelan dengan

memperbaharui sistem pendidikan dari berbagai aspek.

105Moh. Amaluddin, “Kiai Hamam Pemimpin Pondok Pabelan”, dalam Ajip Rosidi (ed.),

Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian Santri, Kerabat, dan Sahabat, ibid., h. 399

106

Untuk mewujudkan cita-citanya beliau menghadapi berbagai hambatan dan tantangan yang harus dihadapi, seperti memberikan pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan, kemudian beliau berusaha memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa kita adalah Islam yang harus bersatu demi desa Pabelan yang maju, karena pada waktu itu desa terpecah belah dalam beberapa golongan.

Kemudian keadaan ekonomi yang sangat rendah adalah masalah yang harus KH. Hamam hadapi. Beliau menyelesaikan masalah dengan cara berdiskusi dengan masyarakat, pemuda, dan tokoh-tokoh desa Pabelan, tidak hanya itu KH. Hamam mendidik masyarakat dengan memberikan contoh dari aspek pertanian, penambangan pasir, dan penghijauan lingkungan. KH. Hamam mengajak warga Pabelan yang putus sekolah untuk melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren Pabelan dengan gratis. Sebenarnya masalah yang dihadapi desa Pabelan adalah rendahnya sumber daya manusia.

Jika pendidikan diperbaiki maka keadaan ekonomi, sosial, pendidikan akan meningkat. Tidak dapat disangkal pula bahwa maju atau mundurnya suatu negara tergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Terbukti seperti negara Jepang dan Singapura menjadi negara maju karena memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia suatu negara. Hal ini sejalan dengan pengertian pendidikan yang dikemukakan oleh Abuddin Nata bahwa pendidikan merupakan segenap usaha menumbuhkan segenap potensi, psikis, bakat, minat, talenta dan lain sebagainya yang dimiliki manusia.107 Dengan mengembangkan yang ada didalam diri manusia maka kualitas sumber daya manusiapun meningkat.

Hambatan dan tantangan yang dihadapi KH. Hamam tidak berhenti begitu saja, ketika pondok resmi berdiri dengan menerima santri putra. Munculah masalah baru yaitu para tokoh dan kiai yang ada di desa

107

Pabelan ada beberapa diantara mereka memiliki anak putri, mereka meminta agar anak-anak mereka bisa didik juga, kemudian dengan pemikiran yang matang KH. Hamam memutuskan berdirilah pondok dengan santri putra dan putri.

Keadaan desa dan Pondok Pesantren Pabelan mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang, pada masa kepemimpinan KH. Hamam

Dja’far, terbukti dengan perekonomian semakin meningkat, keadaan desa

Pebelan tertata dengan rapi dan bersih, kemudian warga memiliki WC dan sumur. Tidak hanya itu masyarakat menjadi bersatu tanpa ada perpecahan karena golongan, masyarakat sholat di satu masjid yang sama walau berbeda (NU, Muhammadiah, Persis, Masyumi dan lain sebagainya).

Pada masa KH. Hamam tamu hilir mudik datang ke Pondok Pesantren Pabelan contohnya tokoh-tokoh cendikiawan muslim seperti Nurcholis Madjid, Dawam Raharjo, Asep Fathudin, Zamroni, dan lain sebagainya. Kemudian pelatihan untuk mayarakat dilakukan di desa Pabelan dengan pelaksanaannya di komplek Pondok Pesantren Pabelan, seperti pelatihan untuk santri dan masyarakat maupun pesantren di seluruh Indonesia. Dalam pelatihan tenaga pengembangan masyarakat berkerja sama dengan LP3ES (Lembaga Pelatihan, Pendidikan, dan Perkembangan Ekonomi dan Sosial) Jakarta, yang bertujuan agar seluruh pondok pesantren mampu mengembangkan dirinya ke arah perubahan yang kongkret, pelatihan ini berlangsung selama enam bulan dengan pola kegiatan berbentuk studi dan praktek pengembangan masyarakat di lapangan.

Tidak hanya LP3ES, tapi KH. Hamam Dja’far juga membangun

kerja sama dengan berbagai lembaga baik pemerintah maupun non- pemerintah (LSM). Pesantren berulang kali dijadikan ajang berbagai pelatihan. Tahun 1970 diadakan latihan pertukangan kayu dan batu selama delapan bulan bekerja sama dengan LP3ES dan PLKI Yogyakarta. Tahun 1976 diadakan latihan kerajinan bambu bekerja sama

dengan LP3ES, SPIK Yogyakarta dan Pusat Kerajinan Bambu RIDAKA Pekalongan. Kemudian tahun 1987 diadakan latihan kader kesehatan bekerja sama dengan dinas kesehatan Kabupaten Magelang. Pada tahun 1979 diadakan latihan teknologi tepat guna (TTG) bekerja sama dengan LP3ES, Yayasan Mandiri ITB. Tahun 1980 diadakan lagi latihan teknologi tepat guna (TTG) berkerja sama dengan LP3ES, Yayasan Mandiri, dan Yayasan Dian Desa Yogyakarta.108

2. Usaha-Usaha KH. Hamam Dja’far dalam Menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan

Adapun usaha-usaha yang dilakukan oleh KH. Hamam Dja’far di Pondok Pesantren Pabelan dalam aspek sistem pendidikan yaitu sebagai berikut:

a. Tujuan

Pondok Pesantren Pabelan tumbuh dan berkembang dengan bersama munculnya desa Pabelan, Pondok telah memberikan corak nilai kehidupan masyarakat Pabelan. Pada dasarnya tujuan pendidikan di Pondok Pesantren Pabelan pada masa sebelum KH. Hamam memimpin, tidaklah berbeda dengan pesantren umumnya di Indonesia.

Sebagaimaan yang dikutip oleh Hasbullah bahwa tujuan pondok pesantren yaitu membimbing santri untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam, dengan ilmu agamanya dan mengembangkan penguasaan ilmu agama agar dapat menjadi muslim yang menyadari dan menunaikan hak dan kewajiban sebagai umat Islam.109

Untuk mewujudkan ide-idenya, KH. Hamam memilih menghidupkan kembali Pondok Pesantren Pabelan yang telah lama

108Zainal Arifin Ahmad, “KH. Hamam Dja’far dan Manajemen Pendidikan Berbasis

Masyarakat”, dalam Ajip Rosidi (ed.), Kiai Hamam Ja’far Dan Pondok Pabelan: Kesaksian

Santri, Kerabat, dan Sahabat, op. cit. 109

Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2001), cet. 4, h. 24-25

vakum. Pondok Pesantren Pabelan yang KH. Hamam hidupkan kembali ini dibangun di atas tanah 5,5 hektar yang diintegrasikan dengan sistem dan metode pendidikan modern. Dalam artian idealisme, jiwa dan sistem asramanya tetap mengacu pada dunia pesantren, namun penyelenggaraannya dilakukan secara efektif dan efisien dengan metode pendidikan modern. Untuk mewujudkan ide- idenya KH. Hamam merumuskan visi dan misi yang telah penulis tuangkan pada pembahasan sebelumnya.

Kemudian KH. Hamam menanamkan pada santri nilai-nilai dasar yang digunakan Pondok Gontor Jawa Timur yang tertuang dalam Panca Jiwa Pondok Pesantren, yaitu:

1) Panca Jiwa Pondok

Nilai-nilai yang ditanamkan dalam panca jiwa pondok pesantren, yaitu:

a) Jiwa Keihlasan.

Yang dimaksud disini jiwa keikhlasan berarti sepi ing pamprih, yakni berbuat sesuatu itu bukan karena keinginan memperoleh keuntungan tertentu, namun segala pekerjaan dilakukan dengan niat semata-mata ibadah, lillah. Semua gerak pesantren harus didasari jiwa keikhlasan, baik kiai, ustadz, santri, maupun masyarakat harus memiliki jiwa ini, yaitu tulus dalam melaksanakan tugasnya masing-masing. Kiai ikhlas dalam mendidik, kemudian santri ikhlas dididik dan mendidik diri sendiri, para pembantu kiai ikhlas mambantu kiai dalam menjalankan proses pendidikan dan para masyarakat harus tulus dan ikhlas dalam memondokkan anaknya.

KH. Hamam dalam setiap nasehatnya selalu menekankan pentingnya bersikap ikhlas dalam segala hal. KH. Hamam mengajarkan pada kita bahwa semua kerjaan itu landasannya lilllah ikhlas karena ketika mengerjakan

sesuatu hanya karna Allah justru kita pasti akan berbuat yang terbaik bukan sekedar gugur kewajibannya, itu terbukti dengan apa yang dilakukan KH. Hamam mendapat penghargaan Aga khan tingkat dunia, kemudian kalpataru. b) Jiwa Kesederhanaan.

Kehidupan di pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan, berarti hidup apa adanya tanpa dibuat-buat, tanpa dilebih-lebihkan. Sederhana disini bukan hanya pasif atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat. Kesederhanaan itu berarti sesuai dengan kebutuhan dan kewajaran.

Salah satu wujud implementasi dari kesederhanaan di Pondok Pesantren Pabelan adalah pendidikan dilaksanakan dengan kederhanaan, kiai, ustadz, santri tampil dengan sederhana, fasilitas pendidikan ditampilkan dengan sederhana, tetapi semangat dan motivasi tetap harus tinggi. Cermin kesederhanaan Pondok Pabelan terlihat pada bangun-banguna asrama dan kelas yang sangat sederhana, disesuaikan dengan lingkungan pedesaan yang jauh dari kemewahan.

Alasan kesederhanaan menjadi nilai yang mewarnai pendidikan, hal ini sejalan dengan yang ditulis Umi Musyarofah bahwa, dengan kesederhanaan para santri dan semua guru tidak berorientasi kepada materi, melainkan karya, dengan sederhana tetap bisa menjadi pemimpin dan orang yang terhormat. Tetapi kesederhanaan bukan berarti miskin. Boleh saja kaya, bahkan dianjurkan untuk kaya asal sikap dan prilaku tetap wajar dan memberi manfaat pada sesama.110

110

Dengan penanaman nilai ini santri akan mengedepankan nilai subtansi, bukan materi. Dalam kehidupan dunia modern yang begitu kuat dan dikuasai oleh kepentingan materi, dalam kondisi saat ini, hal tersebut sangat relevan untuk ditanamkan.

c) Jiwa Ukhuwwah Islamiyah.

Bentuk soladaritas antara antar sesama umat Islam, kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan, segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan persuadaraan sebagai sesama muslim.

Kuatnya nilai persaudaraan ini, Pondok Pesantren Pabelan terkenal dengan pondok non-sektarian. KH. Hamam langsung memberikan contoh kepada santri-santri dan masyarakat tentang pentingnya nilai persaudaraan bagi kehidupan umat manusia. Jangan pernah lupa bahwa Islam itu rohamatan lil aa’lamin bukan rohmatan lil muslimin. KH. Hamam bergaul dengan seluruh lapisan masyarakat, golongan, dan agama.

Tamu-tamu yang berkunjung ke Pondok Pesantren Pabelan demikian banyak dan beragam, birokrat, pedagang, politikus, sampai artis. Contohnya Affandi, Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Sutjipto Wirosardjono, Djohan Effendi, Aswab Mahasin, Romo Mangunwijaya, dan masih banyak lagi.

Di Pondok Pesantren Pabelan diajarkan kerukunan beragama, di asrama para santri dikondisikan untuk tidak menonjolkan golongan, partai, etnis, bahkan orangtuanya. Semua bergaul dengan kesetaraan dan kerukanan. Karena pada dasarnya masyarakat terdiri dari berbagai macam agama dan golongan yang harus santri hadapi, bahkan ada guru non-Islam di Pondok Pesantren Pabelan.

d) Jiwa Berdikari.

Kesanggupan menolong diri sendiri tidak saja dalam arti santri sanggup belajar dan berlatih smengurus segala kepentingannya sendiri. Hal ini tidak kalah penting, berdiri diatas kaki sendiri. Tidak hanya santri yang berdikari namun pondok pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan juga harus mampu berdikari, sehingga ia tidak menyandarkan kelangsungan hidupnya kepada bantuan atau belas kasih pihak lain.

KH. Hamam selalu menanamkan pada santri bahwa harus mampu hidup sendiri tetapi tidak indiviualistik, karena itu kemampuan berorganisasi menjadi penting di Pondok Pesantren Pabelan. Kemandirian dibiasakan pada santri dengan melalui organisasi, dan hidup di asrama terlepas dari campur tangan orangtua dan guru.

e) Jiwa Bebas.

Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar. Kebebasan ini bukan berarti bebas sebebasnya, bebas tetap berpegang pada al-Qur’an dan sunnah tidak hanya itu bebas bukan berarti kehilangan tujuan dan prinsip.

Dalam berkreasi santri diberikan kebebasan didalamnya, dan kebebasan berpikir, KH. Hamam ketika memberikan nasehat dan khutbah berisi tentang keberhasilan orang-orang yang besar yang berskala nasional dan global, kemudian para santri diberikan fasilitas oleh KH. Hamam untuk bertemu para pemikir, para santri diajak berkelana dalam pikiran dan dilatih untuk bebas berfikir, tetapi tidak melupakan pijakan.

Nilai-nilai yang ditanamkan dalam panca jiwa pondok pesantren, yaitu:

a) Berbudi Tinggi.

Hal ini merupakan inti dan tujuan utama dari seluruh proses pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan pesantren. Dengan berbudi tinggi akan menghasilkan akhlak karimah.

KH. Hamam mengajarkan kesantunan kepada seluruh santrinya. KH. Hamam sangat marah ketika santrinya berkata bohong atau tidak jujur. Ada beberapa sikap yang beliau tidak sukai dan sering diutarakan dihadapan santri dalam segala hal, seperti kemayu (bersikap seolah-olah ayu atau cantik padahal tidak), kemaki (seolah-olah bijak dan pintar padahal tidak), kementus (bersikap seolah-olah jagoan atau pemberani padahal tidak).

b) Berbadan Sehat.

Seseorang haruslah sehat jasmani, disamping itu juga sehat rohani, dengan tubuh yang sehat seseorang akan dapat menjalankan tugas, peran, dan fungsinya dengan baik. Agar hidup dapat terus berlangsung maka tubuh harus sehat. Keberlangsungan hidup masa yang akan datang berkaitan dengan keadaan tubuh masa kini.

KH. Hamam sangat menekankan kesehatan tubuh. Maka dari itu olah raga menjadi aktivitas wajib bagi santri Pabelan. Beliau pula sebagai pelopor lingkungan, dengan penghijauan kembali maka udara bersih dan segar akan

selalu ada. Beliau selalu mengemukakan “jiwa yang sehat

terdapat di dalam tubuh yang sehat dan demikian

sebaliknya”.

Para santri dibekali dengan berbagai pengetahuan untuk menjadi bekal hidup mereka. Dengan bekal pengetahuan yang luas seseorang akan menjadi lebih arif dalam bersikap. Tetapi harus tetap diperhatikan bahwa berpengetahuan luas itu tidak boleh lepas dari berbudi luhur. Beberapa nasehat KH. Hamam menggambarkan orang yang berpengetahuan luas, tidak hanya itu beliau mencontohkan dengan menerima tamu-tamu dari bermacam-macam bidang dan berdikusi semalaman suntuk.

d) Berpikir Bebas.

KH. Hamam berarti memiliki sikap terbuka dan bertanggung jawab dalam menghadapi persoalan apapun, bebas disini bukan berarti tidak ada batasannya. Seorang santri bebas untuk memilih lapangan perjuangannya di masyarakat. Penerapan jiwa bebas ini dilandasi dengan budi tinggi dan didasarkan pada ajaran-ajaran Islam yang benar yang didasarkan kepada kitab dan sunnah.

b. Pendidik

Berdirinya Pondok Pesantren Pabelan bermula dari seorang kiai yang piawai dalam segala hal. Pondok Pesantren Pabelan sebelum KH. Hamam memimpin tidaklah berbeda dengan pesantren tradisional yang lainnya. Kiai yang mengajarkan kitab-kitab klasik kepada santri-santrinya. Dan santri-santri yang sudah sampai pada tinggkat kitab yang tinggi maka akan membantu kiai mengajarkan kitab klasik untuk pemula.

Secara intelektual, yang dikutib oleh Muljono dari Abudin Nata mengemukan bahwa seorang kiai haruslah memenuhi persyaratan akademik yaitu menguasai ilmu agama secara mendalam, ilmunya diakui masyarakat, menguasai kitab kuning dengan baik, taat beribadah, mandiri dalam bersikap, tidak mau mendatangi penguasa,

mempunyai genealogi dengan kiai-kiai lain, dan mempunyai atau memperoleh ilham.111

KH. Hamam menghidupkan Pondok Pabelan dibantu dengan beberapa tenaga pendidik, pada awalnya guru-guru hanyalah orang- orang disekitar KH. Hamam, syarat mengajar hanya ikhlas dan menguasi yang diajarkan. Setiap ustadz mendapat tugas mengajar satu atau dua mata pelajaran tertentu. Saat itu guru-guru yang mengajar yang sudah sarjana belum ada, kemudian pada tahun 1981 jumlah guru mulai banyak, para guru mengajar berasal dari lingkungan pondok, alumni Pondok Pabelan, alumni Pondok Gontor, bahkan ada guru non-Islam di Pondok Pesantren Pabelan beliau mengajar mata pelajaran bahasa inggris karena beliau berasal dari Amerika dan ada beberapa guru non-Islam yang mengajar ekstrakulikuler seperti pramuka.

KH. Hamam merupakan kiai dan guru yang ideal, beliau selalu memotivasi santri-santrinya dengan mengatakan: “anak-anakku, kalian semua adalah bintang, ketika bintang bertemu bintang tidak nampak sinarnya, tapi kelak setelah kalian meninggalkan pondok ini dan kembali kemasyarakat, akan tampak kalian diantara batu-batu kebanyakan”.112 Tidak hanya memotivasi namun beliau mendidik masyarakat dengan cara memberikan contoh salah satunya menanam pohon langka di lingkungan pondok, kemudian KH. Hamam merubah rumah dengan memiliki jendela, kebun kecil yang berguna dan terawat, tempat penyerap jamban yang jaraknya dari sumur diatur, dan di mana-mana ditanam pohon baru sehingga desa-desa sekitar pesantren terkesan higienis.

c. Peserta Didik

111

Muljono Damopolii, op. cit., h. 76 112

Sebelum KH. Hamam memimpin santri-santrinya awalnya warga desa, karena pada awalnya pondok didirikan masih tanah kosong, jadi pondok berdiri diikuti dengan berdirinya desa Pabelan. Kemudian berkembang dan santrinya berdatangan dari berbagai daerah, namun sangat disayangkan santri-santri pondok mulai tidak ada ketika ditingga meninggal kiai.

Hal ini sejalan dengan yang ditulis oleh Samsul Nizar bahwa berdirinya pondok pesantren bermula dari seorang kiai yang menetap di suatu tempat. Kemudian datanglah santri yang ingin belajar kepadanya dan turut pula bermukim datanglah santri yang ingin belajar kepadanya dan turut pula bermukim ditempat itu.113 Kemudian menurut Amin Haidari bahwa kiai memegang peranan penting dalam mengendalikan dan mengatur sebuah pondok pesantren.114

Usaha KH. Hamam dalam menghidupkan Pondok Pesantren Pabelan beliau memilih untuk memiliki dua macam santri yaitu santri mukim (santri yang tinggal di asrama) dan santri kalong ( para santri yang berasal dari desa Pabelan). KH. Hamam menghadirkan Pesantren Pabelan dengan co-education (campuran), dengan adanya santri putra dan putri tanpa ada batas seperti tembok yang tinggi, bahkan jarak antara asrama putra dan putri hanya berkisar 15 meter. Pada tahun 1980-an, KH. Hamam pernah menyinggung tentang pentingnya membuka wawasan santri. tentang lawan jenis atau yang saat ini marak dengan wawasan gender, di Pondok Pabelan sudah digalakkan dari awal Pondok Pabelan berdiri kembali.

Menurut KH. Hamam mendidik pria itu hanya mendidik dia seorang. Tetapi kalau mendidik perempuan di samping mendidiknya, juga mendidik suami, anak serta keluarga. Karena seorang ibu merupakan ujung tombak sebuah keluarga dan negara, jika para ibu

113

Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasullulah Sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2011), cet. 4, h. 288

114

pandai maka jika kelak memiliki anak maka anaknya akan didik dengan benar dan baik.

Menurut KH. Hamam santri kelas V dan VI berusia cukup matang untuk mengenal satu sama lain agar kelak jika selesai dari pondok mereka tidak canggung dalam pergaulan sosial. Tetapi KH. Hamam tetap memberikan rambu-rambu pergaulan antara santri putri dan putra ibarat hubungan bibi dan keponakannya. Untuk santri putra, kiai selalu berpesan bahwa jodoh mereka sekarang duduk di bangku SD, dan pesan kiai untuk santri putri adalah jodoh mereka sekarang ada di bangku perguruan tinggi.

KH. Hamam menghidupkan Pondok, santri diwajibkan tinggal di asrama untuk santri yang berasal dari luar desa Pabelan tetapi untuk santri yang asal desa Pabelan tidak tinggal di asrama. Kehidupan santri diatur selama 24 jam dan diprogramkan dalam kegiatan-kegiatan yang produktif dan kondusif untuk pencapaian tujuan yang telah dirancang. Para santri mendapatkan pendidikan kemasyarakatan, kepemimpinan, dan sosial. Penempatan santri di asrama tidak didasarkan strata sosial, daerah, kelas, atau prestasi. Penempatan tidak bersifat permanen, setiap satu semester selalu diadakan perpindahan kamar. Jadwal kegiatan santri di Pondok Pabelan yaitu sebagai berikut:

1) Harian

NO JAM KEGIATAN

1. 04.00-05.00  Bangun tidur

 Sholat subuh berjamaah

 Olah raga (senam pagi, voli, bulu tangkis, atau tenis meja)

2. 05.00-17.25  Makan pagi

 Persiapan masuk kelas 3. 09.00-12.30  Masuk kelas pagi

4. 12.30-14.00  Keluar kelas

 Sholat zhuhur

 Makan siang

 Persiapan masuk kelas 5. 14.00-15.30  Masuk kelas siang 6. 15.30-16.00  Sholat ashar berjamaah

 Persiapan untuk olah raga

7. 16.00-17.30  Aktivitas pengembangan minat dan bakat dalam bentuk olah raga voli, bulu tangkis, tenis meja, atau berenang.

 Mandi dan persiapan ke masjid untuk jamaah magrib

8. 17.30-1815  Membaca al-Qur’an

 Shalat jamaah magrib

 Membaca al-Qur’an 9. 18.30-19.00  Makan malam

10. 19.00-20.00  Sholat isya berjamaah 11. 20.00-22.00  Belajar malam terbimbing 12. 22.00-04.00  Istirahat dan tidur

2) Mingguan

NO HARI KETERANGAN

1. Sabtu Tidak ada perubahan jadwal

2. Ahad Pagi hari seperti jadwal harian, malam

hari setelah jama’ah isya ada latihan

pidato (muhadarah).

3. Senin Tidak terdapat perubahan dari jadwal harian

harian

5. Rabu Pagi hari, setelah jama’ah subuh, latihan percakapan bahasa Arab atau Inggris. 6. Kamis Pagi hari sampai siang kegiatan di kelas,

krida dan prakarya, pada sore hari kegiatan pramuka, malam hari latihan pidato (muhadarah).

7. Jum’at Libur, dan kerja bakti pembersihan lingkungan.

Dengan kegiatan yang diatur selama 24 jam berdampak sampai saat ini. Sepanjang lima tahun 2003-2008 santri Pabelan berhasil menjadi duta pendidikan Indonesia ke Amaerika Serikat (AS) dalam program Youth Exchange and Study (YES), kemudian tahun 1977 Bahtiar Effendi santri Pabelan lolos dalam program sejenis dengan nama American Field Service (AFS). Beasiswa untuk santri Pabelan lebih banyak berasal dari luar negeri. Tidak hanya itu di Pondok