TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Paradigma Penelitian
F. Perencanaan Komunikasi Penyuluhan
2.3.4. Hambatan-hambatan dalam Strategi Komunikasi
2.3.4. Hambatan-hambatan dalam Strategi Komunikasi
Strategi Komunikasi mendekati pada pendekatan komunikasi yang menyeluruh yang akan diambil dalam rangka menghadapi tantangan yang dihadapi selama berlangsungnya proses komunikasi, pendekatan dapat dilakukan tergantung pada situasi dan kondisi, pendekatan tersebut dianggap sebagai dasar dari sebuah strategi yang berfungsi sebagai kerangka kerja dan perencanaan komunikasi selanjutnya. Dalam menjalankan suatu kegiatan tidak semua berjalan sesuai rencana, sering ditemui persoalan dan masalah yang menjadi kendala dalam suatu kegiatan.
Kegiatan komunikasi tentu tak lepas dari gangguan (noise) dalam proses penyampaiannya sehingga dapat mengurangi lancarnya proses komunikasi, gangguan atau hambatan tersebut, sehingga hambatan dapat dikelompokkan menjadi hambatan internal dan hambatan eksternal (Zuhdi, 2011:35), yaitu hambatan internal adalah hambatan yang berasal dari dalam diri individu yang terkait dengan kondisi fisik dan psikologis sedangkan hambatan eksternal adalah hambatan yang berasal dari luar diri individu yang terkait dengan lingkungan fisik, sosial dan faktor-faktor lainya.
Strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (Planning) dan manajemen (Management) untuk mencapai suatu tujuan. Strategi komunikasi memiliki fungsi ganda yakni menyebarluaskan pesan komunikasi yang bersifat informatif, persuasif, maupun instruktif untuk memperoleh hasil yang optimal. Dalam menjalankan suatu kegiatan tidak semua berjalan sesuai rencana, sering ditemui persoalan dan masalah yang menghambat jalannya kegiatan. Hambatan dalam strategi komunikasi yang dimaksud adalah :
a. Hambatan Teknis, hambatan yang bersifat teknis adalah hambatan yang disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya seperti: (1) Kurangnya sarana dan prasarana yang diperlukan dalam proses komunikasi, (2) Penguasaan teknik dan metode berkomunikasi yang tidak sesuai, (3) kondisi fisik yang tidak memungkinkan terjadinya proses komunikasi, (4) komunikan yang tidak siap menerima pesan dari komunikator.
b. Hambatan Psikologis, yaitu gangguan yang terjadi karena adanya persoalan yang timbul dalam diri individu, misalnya perasaan curiga komunikan terhadap komunikator, situasi sedang berduka atau gangguan lainnya, sehingga dalam pengiriman dan penerimaan informasi tidak sempurna (Cangara, 2013).
c. Hambatan Manusiawi merupakan hambatan jenis manusiawi yang muncul dari masalah-masalah pribadi yang dihadapi orang-orang yang terlibat dalam komunikasi, baik komunikator maupun komunikan. Ada beberapa hambatan terhadap komunikasi yang efektif, yaitu : (1) Mendengar, (2) Mengabaikan informasi yang bertentangan dengan apa yang kita ketahui, (3) Menilai sumber, (4) Persepsi yang berbeda. (5) Kata yang berarti lain bagi orang yang berbeda.
(6) Sinyal nonverbal yang tidak konsisten, (7) Pengaruh Emosi, (8) Gangguan.
DeVito (1997) dalam (Liliweri, 2010: 131) menggolongkan tiga macam gangguan, yaitu : (1) Gangguan fisik, berupa interferensi dengan transmisi fisik isyarat atau pesan lain, misalnya desingan mobil yang lewat, dengungan komputer, kaca mata, (2) Gangguan Psikologis, interferensi kognitif atau mental, misalnya prasangka dan bias pada sumber dan pikiran penerima yang sempit, (3) Gangguan Semantik, berupa pembicara dan pendengar yang memberi arti berlainan, misalnya orang berbicara dengan bahasa yang berbeda, menggunakan jargon atau istilah yang terlalu rumit dan tidak dipahami pendengar.
2.3.5. Sosialisasi
Sosialisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung pengertian proses belajar seseorang atau anggota masyarakat dalam mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dilingkungannya, dapat juga diartikan upaya untuk mengubah milik pribadi menjadi milik publik. Sosialisasi adalah proses dalam mana individu menerima kemudian menginternalisasikan atau menghayati banyak nilai sosial, kepercayaan, pola-pola prilaku dari suatu tingkah laku dari kebiasaan mereka. Menurut James W Vander Zanden, sosialisasi adalah suatu hubungan sosial dimana individu tersebut mendapatkan ilmu pengetahuan, tingkah laku untuk ikut serta dalam masyarakat secara efektif.
Banyak yang mendefinisikan sosialisasi sebagai “a process by which a child learns to be a participant member of society”-proses melalui yang mana
seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Definisi ini disajikan dalam suatu pokok bahasan berjudul society in man dari sini tergambar pandangannya bahwa melalui sosialisasi masyarakat dimasukkan ke dalam manusia. Tetapi apa yang akan terjadi jika seseorang tidak mengalami sosialisasi?, karena kemampuan seseorang untuk berperan sebagai anggota masyarakat tergantung pada sosialisasi, apabila seorang manusia tidak mengalami sosialisasi maka orang tersebut tidak dapat berinteraksi dengan orang lain.
Peran sosialisasi diajarkan dari sejumlah tokoh sosiologi, maka dirumuskan sosialisasi merupakan suatu bagian yang harus dilaksanakan dan disertai dengan fungsi yang tidak dijalankan oleh orang lain. Jika diteliti secara jelas, maka sosialisasi dijalankan antara dua pihak secara aktif. Pihak pertama adalah pihak yang memberikan pesan untuk sosialisasi kepada komunikan pada pihak pertama dengan menggunakan media, media dalam aktivitas sosialisasi yaitu keluarga, kelompok bermain, sekolah, lingkungan kerja, dan media massa.
Sosialisasi sangat erat hubungannya dengan proses komunikasi, karena untuk dapat menginternalisasikan sebuah informasi, nilai dan kepahaman kepada diri sendiri diperlukan transfer informasi dari sumber informasi kepada target sasarannya. Dalam penyampaian aktivitas tersebut biasanya menggunakan media, media yang digunakan bisa berupa keluarga, kelompok bermain, sekolah, lingkungan kerja dan media massa.
Sosialisasi merupakan suatu hal yang mendasar bagi perkembangan manusia. Dengan berinteraksi dengan orang lain, seorang individu belajar
bagaimana berpikir, mempertimbangkan dengan nalar, dan berperasaan. Hasil akhirnya ialah membentuk prilaku kita, termasuk pikiran dan emosi kita sesuai dengan budaya yang berlaku.
Sebuah informasi yang disosialisasikan oleh sebuah organisasi, lembaga pemerintahan atau bahkan individu sekali pun, pasti tujuannya untuk memberikan penyuluhan atau memberi pengetahuan kepada target sosialisasinya sesuai dengan tujuan yang telah dibuat. Untuk itu pemilihan media juga merupakan hal yang penting dalam mensosialisasikan sebuah informasi. Ruang dan kelompok yang mempengaruhi orientasi kita, konsep diri, emosi, sikap dan perilaku kita dinamakan agen sosialisasi. Agen sosialisasi terdiri dari:
a. Keluarga
b. Lingkungan hunian c. Agama
d. Sekolah
e. Kelompok sebaya f. Media Massa
2.3.6. Peraturan Program Polisi Sahabat Anak Nomor 22 Tahun 2009