BAB IV PENYAJIAN DATA
4.8. Hambatan Usaha Kecil dan Menengah
Dalam melaksanakan Undang-Undang No. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, terdapat beberapa hambatan-hambatan yang dihadapi Usaha Kecil dan Menengah di Kota Medan dari mulai adanya usaha untuk meningkatkan produktivitas dan kemampuannya memanfaatkan secara optimal sumber alam dan daya produksi lainnya yang dapat menjadi penghambat perkembangan Usaha Kecil dan Menengah.
Sehubungan dengan hal tersebut peneliti juga menanyakan tentang hambatan-hambatan apa saja yang dialami pelaku usaha yang ada di Kota Medan, khususnya di Kecamatan Medan Tembung kepada Bapak Ir. Nurdin Asyari,M. Si. Apa hambatan bagi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan dalam memberdayakan pelaku UKM, Khusunya di Kecamatan Medan Tembung ?
Salah satu hambatannya itu adalah si pelaku usaha tidak kreatif. Dalam artian setelah kita buat pelatihan kepada mereka tetapi mereka menghilang begitu saja. Banyak pelaku UKM kita yang seperti itu. Tidak innovatif mereka, dan mereka maunya di boyong dan digendong terus oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan, sementara itukan tidak mungkin karena Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan sendiri pun punya keterbatasan dalam melakukan hal demikian.
Melihat kondisi para pelaku usaha yang ada di Kecamatan Medan Tembung, apa yang menjadi hambatan bagi para pelaku UKM dalam mengembangkan produksinya ?
Sampai pada saat ini yang menjadi hambatan yang Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan amati memang pada utamanya adalah modal dan pemasaran. Karena produk kita kalah bersaing dengan produk cina misalnya. Baik desain dan mutunya. Makanya pelaku UKM kita di tuntut untuk lebih kreatif dan kualitas barangnya harus lebih di tingkatkan. Innovasinya harus maju dan kreatif, jangan separuh jalan.
Jadi pak dari berbagai hambatan tersebut, bagaimana Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan menanggapinya ?
Nah itu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan tanggapi dengan terus tidak ada bosannya untuk mengadakan pelatihan-pelatihan dan pameran, tidak menyerah dan pantang putus asa. Tapi memang itu juga sudah menjadi program dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan.
Bagaimana cara Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan memberikan perhatiannya kepada para pelaku UKM ?
Khusus di bidang saya, bidang pembinaaan dan pengembangan perhatinya, saya selalu sebagai contoh, salah satunya itu saya kepada pelaku UKM itu saya ikutkan mereka itu pameran karena itu sudah pasti. Kita kenalkan produk mereka itu melalui brosur-brosur yang Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan buat, sehinnga walaupun mereka belum mempunyai kesempatan untuk ikut ke pameran, namun nama dan produknya sudah ada di brosur yang akan kita bagikan nantinya.
Apa harapan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan kepada para pelaku UKM, khusunya yang ada di Kecamatan Medan Tembung ?
Harapan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan kepada mereka agar supaya lebih kreatif dan lebih innovatif dalam mengembangkan keterampilan yang ia sudah miliki, jangan sampai hanya sebatas selesai pelatihan itu ya selesai sampai disitu juga semangatnya, tapi terus dikembangkan.
Apa saran bapak selaku kepala bidang pembinaan dan pengembangan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan untuk para pelaku UKM, khusunya yang ada di Kecamata Medan Tembung ?
Saran Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan itu tadi agar lebih kreatif, innovatif dan kualitasnya harus di jaga. Dan mereka harus lebih berani untuk menonjolkan hasil karyanya, jangan hanya di kecamatan saja, harus berani mandiri jangan menunggu dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan sajakalau seperti itu tidak akan bisa berkembang.
Ada juga juga hasil wawancara bersama Bapak M. Taufik selaku Bendahara Umum UKM CENTER SUMUT.
Menurut bapak apa saja hambatan yang dialami oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan dalam melakukan pengembangan dan pemberdayaan bagi pelaku Usaha Kecil Menengah ?
Mungkin kalau hambatannya di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan ini rasa saya data-data para pelaku Usaha Kecil Menengah. Karena mereka kurang menguasai data. Karenakan mereka tidak terjun langsung jadi mereka mengambil perantara ke kami (UKM CENTER SUMUT). Kami yang terjun langsung membina jadi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan ini kita katakan dia sebagai pemodal. Macam kami kan (UKM CENTER SUMUT) untuk membina anggota bagaimana biar bisa buat seminar nyewa gedung kami gak punya uang nah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan punya modal, terus
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan minta bantuan oke kami setujuin kami panggillah anggota. Seperti pelatihan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan, kami gak punya modal terus seperti tadilah. Kerjasamalah intinya.
Sumber lain yang juga berbicara tentang hal tersebut diatas adalah Lembaga UKM CENTER SUMUT melalui wawancara peneliti bersama Bapak Ir. Deni Mirza, MM sebagai berikut ;
Hambatan apa sajakah yang abang ketahui yang terdapat pada pelaku Usaha Kecil Menengah ?
Pertama dari sisi penggunaan teknologi. Penggunaan teknologi di kalangan pelaku Usaha Kecil Menengah di Sumatera Utara itu sangat-sangat terbatas. Mereka cenderung menggunakan teknologi yang sangat sederhana, sehingga mereka tidak bisa bersaing sebegitu ketat dengan pelaku usaha yang ada di Jawa. Di Jawa sudah jauh lebih baik pemahama dan penggunaannnya tentang teknologi. Teknik- teknik misalnya membatik teknik di Jawa itu sudah menguasai, baik teknik pewarnaan yang ada di Jawa sudah menggunakan pewarnaan menggunakan bahan non kimia. Sedangkan kita masih dalam tahap pembinaan dan pengembangan membatik, sehingga kita masih menggunakan pewarnaan dari bahan kimia. Padahal penggunaan bahan kimia dengan jumlah yang sangat besar sangat mempengaruhi polusi di perairan, makanya batik itu tidak bisa di tengah kota. Yang kedua adalah keterbatasan pelaku UKM dari sisi permodalan. Hari ini keterbatasan permodalan itu sangat luar biasa. Kenapa ?
sosialisasi permodalan, baik dana BUMN yang ada di seluruh BUMN itu tidak sampai sepenuhnya kepada masyarakat kecil. Masyarakat masih awam mendengarkan dana PKPL dan tidak tahu bagaimana proses mendapatkannya apalagi mendapatkannya. Kemudia informasi tentang KUR ini juga Bank punya keterbatasan. Tidak semua UKM itu butuh modal dan Bank punya modal tapi belum tentu tahu UKM tentang apa itu KUR. Dan bagaimana proses kemudahan pelaku usaha untuk mendapatkan pinjaman KUR. Sedangkan itu pemerintah menciptakan program KUR untuk membantu pemberdayaan UKM, khususnya mikro kecil. Ini sosialisasi tentang permodalan itu yang sangat minim. Permodalan, keterbatasan permodalan itu sangat mempengaruhi secara signifikan. Produktifitas usaha, produksifitas itu sangat signifikan untuk mempengaruhi tingkat kesejahteraan pelaku usaha. Yang ketiga adalah sektor pemasaran, pelaku kita masih bersifat konvensional maksudnya pemasaran itu dilakukan sebatas pemasaran otodidak, pengetahuan yang turun-temurun, kurangnya pemahaman tentang bagaimana pemasaran dengan menggunakan teknologi internet. Mereka hanya tahu produksi dan menjual secara door to door, atau ke pasar tradisional. Proses pemasaran menggunakan jaringan pasar modern, itu masih sangat sedikit. Kenapa? Satu hal UKM kita tidak tahu bagaimana proses terjadinya transaksi di pasar modern. Karena begitu ketatnya persyaratan pasar modern untuk menerima produk UKM. Ketat dari sisi pembayaran dan ketat dari sisi birokrasi serta ketat dari sisi waktu yang digunakan untuk membayar semua produk yang terjual. Sisi pemasaran ini sangat mempengaruhi sekali
terhadap barang-barang pasca produksi. Batik bisa di cetak, tapi bagaimana cara memasarkannya? Agak capek ibu Nur Cahaya itu untuk memasarkan batiknya. Dia harus keseluruh daerah untuk membawa produksi batiknya sendiri. Dia merasa kurang puas dengan sambutan Batik motif Medan. Kenapa? Tingginya harga Batik Medan dibandingkan dengan Batik Jawa. Karena kurang fahamnya penggunaan teknologi. Itu yang menjadi hambatan dari sisi pemasaran, setelah permodalan tadi. Kemudian jaringan Networking, UKM kita belum memperdulikan betapa pentingnya jaringan kerjasama. Karena tidak punya waktu yang banyak dia untuk bersilaturrahim sesama pelaku usaha dan sesama stakeholder. Jadi jaringan Networking ini sangat minim. Itulah semua peran keterbatasan UKM itu menjadi peran tanggung jawab pemerintah dan lembaga-lembaga seperti UKM CENTER SUMUT. Kenapa? Untuk Bangsa tidak cukup hanya pemerintah tapi harus ada masyarakat yang membantu masyarakat melalui sebuah lembaga. Namun banyak lembaga yang notabeni hanya mementingkan kepentingan lembaganya saja dan pribadi ketuanya saja. Sehingga lembaga itu tidak begitu kuat konsentrasinya untuk masyarakat luas. Mereka hanya sebatas mendirikan lembaga untuk proyek-proyek saja. Dan proyek itu cenderung proyek musiman. Habis musimnya maka habislah dia. Jadi Networking itu adalah hal yang mutlak di zaman masyarakat ekonomi asia kini. Tanpa ada jaringan yang kuat, maka tidak bisa terbentuk kerjasama yang kuat. Kerjasama yang kuat bisa terbentuk oleh karena dari visi dan misi yang sama. Ini yang menjadi hal terpenting bagi kita. Kemudian yang terakhir permasalahan UKM kita adalah pendidikan,
karena pendidikan itu mempengaruhi karakter, karakter itu mempengaruhi etitut. Pendidikan itu penting, bukan sebatas pendidikan formal, notabennya SD, SMP, SMA, dan Sarjana, tetapi ada pendidikan non formal itu yang sangat membantu UKM. Apa itu? Pelatihan-pelatihan, kegiatan-kegiatan pelatihan, life skill, kecakapan hidup itu adalah salah bentuk pendidikan non formal. Dan itu sangat membentuk wawasan dari masyarakat kita dan berupaya menumbuhkan semangat berwirausaha. Semangat wirausaha itulah yang menjadi jantung kami bagi lembaga ini. Abang sudah mengatakan berulang kepada kawan-kawan. Lembaga UKM CENTER SUMUT ini pribadinya saya sendiri, akan menjadi faktor penyebar virus interprenius. Kita harus siap menjadi faktor atau serangga, alat yang berupaya menyebarkan virus-virus interprenius. Diri kita harus berperan menjadi virus penyebar interprenius. Artinya apa ? semangat wirausaha itu harus kita yang mengembangkan kemana-mana. Itulah virus. Kenapa ? karena interprenius itu memang harus kita kembangkan, kita tularkan kepada orang lain. Supaya orang itu bisa hidup sejahtera, tidak berpatokan dengan istilah dulu, kerja gak kerja Rp 1500, pergi pagi pulang sore tiap bulan terima gaji. Tapi bagaimana kita bisa tumbuhkan ada potensial diri kita yang bisa lebih besar yang kita yang kita dapatkan ketimbang gaji tetap. Satu perbandingan misalnya, disini abang di gaji UISU Rp 1.5 juta kalau abang buka usaha dengan gaji tadi mungkin abang bisa dapat Rp 15 juta/ bulan. Artinya abang sudah menikmati usaha abang itu berpenghasilan kepada abang Rp 15 juta setiap bulan. Betapa senangnya abang berwirausaha dibandingkan abang menerima gaji tetap tadi. Karena
aabang sudah menjadi pengusaha abang akan sampaikan betapa senangnya menjadi pengusaha. Kira-kira seperti itu.
Bagaimana UKM CENTER SUMUT menanggapi tentang hambatan-hambatan tersebut ?
UKM CENTER SUMUT tidak bisa berjalan sendiri, UKM CENTER SUMUT akan terus-menerus turun ke masyarakat, membina masyarakat, bersosialisasi kepada masyarakat, dan bekerjasama dengan seluruh stakeholder-stakeholder UKM. Salah satunya pemerintah, perbankan, BUMN, perusahaan swasta dan lain sebagainya. Dan itulah upaya kita menjadi kekuatan yang luar biasa untuk membantu kesejahteraan para pelaku UKM. Kami terus bekerjasama dengan pemerintah, dengan perbankan supaya perbankan pun yang punya modal besar, yang punya laba perusahaan bisa membantu pelaku UKM itu, bisa melihat betapa pentingnya kerjasama itu, tanpa kerjasama sulitlah kita untuk bisa membantu orang banyak itu yang kiranya menjadi dorongan abang. Dan abang sudah berniat segala yang abang berikan itu untuk nama UKM, abang niatkan untuk ibadah. Jadi kita tidak merasa menjadi letih dan sakit tapi hasilnya tidak ada. Tapi abang bercakap ini abang sudah niatkan ini yang kita lakukan memberikan konsultasi kepada orang, memberikan pemahaman dan wawasan kita niatkan ibadah dan kita bekerja dengan sebaik-baiknya.
Peneliti juga bertanya langsung kepada pelaku usaha Batik Motif Sumatera Utara yaitu Ibu Dra. Nur Cahaya mengenai hambatan apa saja yang ia alami.
Menurut ibu hambatan apa saja yang terdapat dalam mengembangkan produksi usaha ibu ini ?
Rasanya untuk hambatan yang berat itu tidak ada walau memang ada tapi masih bisa ditanggulangi, Alhamdulillah untuk dana masih bisa ditanggulangi. Kami secukupnya untuk belanja jadi masih cukup dengan uang sendiri.untuk pemasaran karena kan bukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan sajakan, Koperasi juga ada yang membantu kami. Namun tadi kalau ada dibilangkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan jangan marah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan memang tidak ada mereka ngajak kami malah kami yang mengajukan ikutlah kami ke Bali misalnya mereka pilih yang lain kami tinggal, bukan apa kalau sampai kepada merka tapi itulah kenyataannya, tapi kalu koperasi memang mereka bawa kami hampir keseluruh Indonesia. Sejauh ini untuk hambatan ? untuk karyawan kami ada, untuk pemasaran kami di bantu Koperasi, untuk dana masih bs di tanggulangi dengan uang sendirin kalau pun nanti ada masalah di dana paling kami pinjamkan dari CSR dan lain-lain.
Apa harapan ibu untuk Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan dalam usaha ibu ini ?
Memang dulunya bagus tapi sepertinya sekarang kurang bagus dalam artian tidak berkelanjutan terus seperti mungkin diikutkannya kita dalam event-event gitu, ntahlah kiranya barangkali di tawarkannya kita dan di berangkatkannya kita ketempat yang memang belum pernah kita memperkenalkan hasil produksi kita ini dan kenalilah batik ini di dalam maupun luar negeri. Nah barang kali itulah harapan ibu kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan.
BAB V
ANALISIS DATA
5.1. Pengertian Analisis Data
Analisi data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Analisis data yang diperoleh dari hasil penelitian dan memberikan interpretasi atas masalah permasalahan yang diteliti. Dalam analisis data diatas peneliti menggunakan teknik analisis data kualitatif yaitu analisa terhadap data yang diperoleh dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul, menyusunnya dalam satu-kesatuan dan kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya serta memeriksa keabsahan dan menafsirkannya dengan analisis berdasarkan kemampuan nalar peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian.
Melalui teknik analisa data, peneliti menguji kemampuan nalar dalam menghubungkan fakta data dan informasi yang diperoleh. Dan selanjutnya akan dianalisis sehingga peneliti dapat memperoleh informasi dan kebenaran dari setiap permasalahan yang ada dalam penelitian.
5.2. Peranan Pemerintah Daerah
Seperti yang telah dikatakan Sjaifudin 1995:66-75 dalam bukunya, Strategi dan Agenda Pengembangan Usaha Kecil, peranan pemerintah disini yang akan diterapkan dalam upaya pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) adalah Peningkatan Kemampuan finansial, pengembangan pemasaran, pengembangan sumber daya manusia, strategi pengaturan dan pengendalian.
Sehubungan dengan teori diatas, peranan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan dalam memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah di Kecamatan Medan Tembung berdasarkan dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti bersama Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan dalam ini yang di Wakili oleh Bapak Ir. Nurdin Asyari, M. Si selaku Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan dan Juga Bapak Zulfikar selaku Kepala Seksi Sarana serta dari Lembaga UKM CENTER SUMUT, ini menunjukkan bahwa peranan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan dalam memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah di Kecamatan Medan Tembung belum cukup objektif dan masih terdapat kekurangan-kekurangan dan batasan-batasan yang dimiliki oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan. Hal ini mungkin disebabkan karena leading sector yang berbeda. Leading sector yang berbeda ini sangat mempengaruhi kinerja dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan dalam memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah yang ada di Kota Medan khususnya di Kecamatan Medan Tembung. Dalam hal ini, sebenarnya leading sector yang dimiliki oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan adalah Industri Kecil dan Menengah bukan lagi Usaha Kecil dan menengah. Jadi Usaha Kecil dan Menengah ini adalah leading sectornya Dinas Koperasi.
Perbedaan antara Industri Kecil dan Menengah dengan Usaha Kecil dan Menengah terletak pada prosesnya dan permodalannya. Dilihat dari sisi prosesnya, kalau pada Industri Kecil dan Menengah, ini bukan lagi berbicara bagaimana memulai usahanya namun sudah kepada hal pengembangan hasil produksinya secara besar. Sedangkan Usaha Kecil dan Menengah, ini masih
berbicara tentang permulaan bagi pelaku usaha dalam mengembangkan minatnya dalam berwirausaha. Dilihat dari permodalannya kalau Industri Kecil dan Menengah itu harus memiliki modal yang besar dibandingkan dengan Usaha Kecil dan Menengah. Namun dalam demikian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan juga ikut turut serta dalam melakukan pemberdayaan dan pengembangan usaha bagi Usaha Kecil dan Menengah. Hal ini terlihat pada program tahunan yang dimiliki oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan, namun dalam menjalankan program-program tersebut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan memiliki keterbatasan. Salah satu dari keterbatasan itu adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan dalam menjalankan program-programnya sebatas anggaran APBD yang ada.
Keiikut sertaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan dalam melakukan pengembangan dan pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah ini terjadi karena ada mitra atau hubungan kerjasama antara Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan dengan Dinas Koperasi. Ini terlihat dari pameran-pameran dan pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan dan Dinas Koperasi Kota Medan secara bersama-sama. Salah satu contohnya adalah Ibu Dra. Nur Cahaya selaku pelaku Usaha Kecil dan Menengah yang ada di Kecamatan Medan Tembung dalam membuat Batik Sumatera Utara atau Batik Motif Medan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Dinas Koperasi Kota Medan saling bekerjasama dalam memberdayakan dan mengembangkan produksi Batik Tersebut.
5.3. Proses Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah
Dalam peraturan pemerintah nomor 20 tahun 2005 ditetapkan kewenangan pemerintah di bidang perkoperasian bertujuan untuk memfasilitasi sistem distribusi bagi pengusaha kecil dan menengah serta memfasilitasi kerjasama bagi pengusaha kecil dengan badan usaha lain. Dilihat dari pengertian pemberdayaan, maka pemberdayaan Usaha kecil dan Menengah (UKM) adalah upaya untuk meningkatkan produktivitas potensi yang sudah dimiliki sendiri oleh Usaha kecil dan Menengah (UKM) itu sendiri.
Dalam peraturan pemerintah nomor 20 tahun 2005 diatas, sudah mulai tampak jelas bahwa leading sector atau yang berwenang dalam memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah itu adalah bidang perkoperasian atau Dinas Koperasi bukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan. Namun karena sudah ada masuk dalam program tahunan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan, maka Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan juga melakukan proses pemberdayaannya.
Proses pemberdayaan yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan adalah seperti mengadakan pelatihan-pelatihan, pameran, membuat izin usaha dan mengikut sertakan pelaku Usah Kecil dan Menengah itu ke pameran-pameran baik di dalam maupun ke luar negeri. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan biasa diadakan pada tiap-tiap kecamatan di Kota Medan. Pelatihan-pelatihan itu di lakukan 4-6 kali dalam setahun. Proses pemberdayaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan juga telah melakukan pengenalan
hasil produk Usaha Kecil dan Menengah Kota Medan khususnya Kecamatan Medan Tembung kepada masyarakat dunia. Dan proses pemberdayaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan ini sudah dirasakan langsung oleh Ibu Dra. Nur Cahaya selaku pelaku usaha Batik Sumatera Utara atau Batik Motif Medan. Izin usahanya sudah ada dan barang hasil produksi Batik Sumatera Utara atau Batik Motif Medan ibu Nur Cahaya sudah di perkenalkan hampir keseluruh wilayah Indonesia. Dan Ibu Nur Cahaya juga memenangkan penghargaan atas hasil karya produksinya.
5.4. Pemberdayaan Melalui Kemitraan
Dalam upaya mewujudkan pembangunan nasional dan daerah yang tangguh, tantangan yang dihadapi semakin berat. Sistem ekonomi yang sangat terbuka menyebabkan persaingan bukan saja datang dari sektor domestik tapi datang juga dari sektor luar negeri. Oleh karena itu berbagai komponen perlu bekerja sama untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Salah satu strategi ke arah itu adalah pengembangan kemitraan.
Dalam pernyataan diatas untuk mewujudkan pembangunan Nasional dan daerah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan ikut bertanggung jawab atas pelaku usaha kecil dan menengah. Dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan melakukan hubungan kerjasama Dinas Koperasi Kota Medan dengan melakukan pelatihan-pelatihan dan pameran secara bersama-sama dan saling mengisi kelemahan yang ada. Misalnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan yang menyediakan standnya dan pelaku usahanya dari Dinas Koperasi atau juga sebaliknya. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota
Medan juga melakukan hubungan kerjasama dengan pihak bank seperti Bank