• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN PENERIMAAN UANG GANTI RUGI DARI PEMBEBASAN HAK ATAS TANAH YANG SEDANG TERIKAT HAK

C. Hambatan yang di hadapi ganti rugi dari pembebasan hak Atas tanah

117

Adrian Sutedi, Op.Cit, hal 99

118

Mudakir Iskandar Syah, Op.Cit, hal 61

119

Hery Zarkasih, Pelaksanaan Prinsip Keadilan Dalam Pemberian Ganti Rugi Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum (Studi Kasus Pelebaran Jalan Raya di Kota Praya Kabupaten Lombok Tengah), Jurnal IUS/Vol III/Nomor 8/ Agustus; 2015, hal 390

Ada 2 (dua) kendala yang terdapat dalam pelaksanaan pengadaan tanah : faktor psikologis masyarakat dan faktor dana.120 Yang selama ini sering menjadi masalah dalam pelaksanaan pelepasan atau penyerahan hak lebih dikarenakan oleh faktor dana daripada faktor psikologis masyaraka.121 Ini terbukti bahwa selama ini yang menjadi permasalahan dalam pengadaan tanah bukan mengenai ada-tidaknya kesediaan pemilik tanah untuk menyerahkan tanahnya untuk kepentingan umum, melainkan karena para pemilik tanah menganggap bahwa ganti-rugi yang ditawarkan tidak sesuai dengan harga pasar setempat. Selama ini terhambatnya pelaksanaan pengadaan tanah pada umumnya disebabkan oleh ketidaksesuaian harga yang ditetapkan pemerintah dengan harga yang dikehendaki oleh masyarakat. Masyarakat selaku pemilik tanah biasanya menolak harga dari pemerintah yang menurut mereka terlalu murah. Mereka akan mematok harga lebih tinggi dari harga pasar atau paling tidak sesuai dengan harga pasar, bahkan ada masyarakat yang menetapkan harga ganti rugi itu didasarkan pada harga sekian tahun kedepan atau setelah tanahnya dibebaskan dan telah dijadikan sarana umum.122

Pemerintah dalam menetapkan besarnya ganti rugi selama ini hanya menghitung pada aspek fisik saja. Besarnya ganti rugi seharusnya juga memperhitungkan aspek non fisik terhadap warga yang terkena dampak dari pembangunan tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2006 pasal 1 ayat 11. Kebijakan mengenai pemberian ganti rugi sebenarnya

120

Ahmad Husein Hasibuan, Masalah Perkotaan Berkaitan Dengan Penyediaan Tanah, Makalah, Jakarta, 1986, hal 6-7

121

Oloan Sitorus, Pelepasan atau Penyerahan Hak Sebagai Cara Pengadaan Tanah Jakarta: Dasamedia Utama, 1995, hal. 49

122

tidaklah terbatas pada penggantian nilai tanah, bangunan, dan tanam-tanaman, tetapi juga seharusnya meliputi penilaian kerugian yang bersifat immaterial dan kerugian yang timbul, seperti kegiatan usahanya, akibat perpindahan ke tempat lain, jumlah pelanggan dan keuntungan yang berkurang.123

1. Kepedulian masyarakat untuk mengorbankan tanah untuk pembangunan kepentingan umum dinilai masih rendah. Masih ada kelompok masyarakat yang beranggapan bahwa kepemilikan tanah sampai saat kini menganut sistem kepemilikan yang bersifat mutlak, artinya kepemilikan hak atas tanah yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun termasuk diganggu gugat oleh pemerintah. Padahal kepemilikan tanah diganggu normatif mengandung fungsi sosial.

Faktor penghambat dalam pengadaan tanah untuk pembangunan kepentingan umum adalah:

2. Harga tanah semakin melangit, khususnya untuk di daerah kota besar harga tanah yang semakin tinggi akan mempengaruhi terhadap pelaksanaan pengadaan tanah, hal ini akibat tidak berkembangnya lahan pada diperkotaan, dibalik itu pembangunan berkembang terus dan kebutuhan akan tanah semakin meningkatakn hari ke hari.

3. Sulitnya cari lahan pengganti tanah bagi korban, para korban yang berdomisili di kota besar selalu kesulitan mencari tanah pengganti sebagai tenpat tinggal, akibat semakin sempitnya lahan.

4. Sistem pengadaan tanah masih ada celah untuk kelompok tertentu mengadakan penetrasi dengan tujuan mencari keuntungan pribadi atau golongan.124

5. Ekonomi

Keadaan sosial ekonomi dari para pemegang hak atas tanah, yang mana sebagian besar dari merea adalah masyarakat yang tingkat sosial ekonominya adalah menengah ke bawah (ekonomi lemah), maka dengan adanya pengadaan tanah untuk pembangunan, mereka menuntut pemberian ganti rugi dengan nilai yang lebih tinggi dari yang telah ditawarkan oleh Panitia Pengadaan Tanah.125

6. Pendidikan

123

Boedi Harsono, Masalah Kerangka Persoalan dan Pokok-pokok Kebijaksanaan Pertanahan Nasional, dalam BF Sihombing, Pergeseran Kebijakan Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Pemerintah dan Swasta (Studi Kasus Pengaturan Pemilikan, Penguasaan Tanah di Provinsi DKI Jakarta), Universitas Indonesia Press, Jakarta, 2004, hal 3

124

Mudakir Iskandar Syah, Op.Cit, hal 76

125

Kurangnya pemahaman masyarakat akan maksud dari pengadaan tanah untuk kepentingan umum, arti fungsi sosial hak atas tanah dan kurangnya pemahaman para pemegang hak atas tanah mengenai rencana dan tujuan pembangunan proyek tersebut yang sebelumnya telah dilakukan penyuluhan dari Tim Pengadaan tanah maupun Panitia Pengadaan Tanah. Hal ini disebabkan rendahnya kualifikasi pendidikan yang dimiliki oleh rata-rata pemegang hak atas tanah.126

7. Kurangnya kesadaran dari Panitia Pengadaan Tanah dalam menjalankan tugasnya, yang mengakibatkan penurunan tanggung jawab sehingga terkadang terjadi kesalahan dalam melakukan pekerjaan seperti kurang cermat dalam melakukan pengukuran, pendataan, pengisian data dan pemberian ganti kerugian.127

8. Terbatasnya personil / petugas pelaksana pemberian ganti kerugian yang mengakibatkan keterlambatan pelayanan pemberian ganti kerugian.128

9. Keterlambatan pemberian uang muka kerja / honorarium / honor yang kurang memadai yang merupakan suatu hal yang penting untuk meningkatkan kinerja dalam pelaksanaan pemberian ganti kerugian dalam pengadaan tanah.129

Hambatan yang di hadapi ganti rugi dari pembebasan hak Atas tanah sebagai berikut:

1. Persoalan besaran ganti kerugian

Dalam skala persoalan yang lebih sederhana, Panitia mempunyai kecenderungan untuk menggunakan Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan (NJOP) sebagai acuan ganti kerugian. Di lain pihak, pemilik tanah cenderung menggunakan harga pasar, atau harga jual beli, bahkan sangat sering menuntut ganti kerugian 3 atau 4 kali lebih besar dari Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan (NJOP). Celah diantara kedua kecenderungan ini, terpicu dari perencanaan penganggaran yang menggunakan basis Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan (NJOP), sedangkan pada spanding pengadaan tanah untuk ganti kerugian melebihi dari apa yang telah direncanakan. Masalah ketidaksepakatan harga tersebut, umumnya terjadi di sekelompok kecil pemilik tanah, tetapi akan berdampak pada ketidakberlanjutan proyek-proyek pembangunan. Kadangkala sulitnya membebaskan tanah masyarakat tidak sulit membebaskan tanah-tanah yang dikuasai negara. Dampaknya pembangunan kontruksi menjadi tertunda dan

126

Ibid.,

127

Achmad Rubaie, Op.Cit, hal 59

128

Ibid.,

129

berhenti sebelum persoalan harga tanah tersepakati, dan ternryata dalam perkembangannya nilai ganti kerugian semakin bertambah besar jika ketidaksepakatan tidak diselesaikan, terlebih lagi untuk proyek-proyek pembangunan yang besar, maka harga tanah setempat akan menjadi naik. 2. Persoalan penolakan masyarakat

Masyarakat menolak wilayahnya sebagai lokasi pembangunan, bahkan dibeberapa ruas jalan melakukan unjuk rasa sebagai ekpresi penolakannya. Penyebab dari persoalan tersebut sudah berhasil diidentifikasi akar masalahnya, yang hanya berkarakter ekonomi, hukum, tetapi persoalan psikososial yang lebih mendasar.

Persoalan yang sederhana yang bersifat teknis, namun dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan pengadaaan tanah, seperti para pemilik tanah sudah menyatakan persetujuan seorang atas besaran ganti kerugian, namun menjadi menolak ketika tanah sisa tidak turut dibebaskan. Persoalan yang lahir dari instansi yang memerlukan tanah yakni ketika uang ganti kerugiannya tidaka dapat direalisasikan dengan segera setelah kata sepakat tercapai. Bentuk lain yang mengganggu kesepakatan ganti kerugian yakni setelah pemilik sepakay mengenai besaran ganti kerugian dengan panitia pengadaan tanah, namun tiba-tiba diragukan, dipertanyakan, bahkan ditolak oleh panitia pengadaan tanah internal instansi yang bersangkutan.

3. Persoalan dasar hukum

Kawasan hutan dengan menyelesaikannya harus memerlukan ijin lembaga kehutanan melalui prosedur telah diatur oleh hukum kehutanan. Kebijakan yang mengharuskan penggantian atau pengambian kawasan hutan dengan tanah non kawasan hutan yang luasnya 2 atau 3 kali tanah kawasan hutan yang dikonversi. Ini akan menambah kerumitan tata kelola anggaran negara untuk ganti kerugian pengadaan tanah dan berbelitnya prosedur pelepasan atau penghapusan aset negara mengesankan lebih sulit pembebasan tanah dibandingkan dengan aset rakyat. Ketika pembangunan bersinggungan dengan tanah aset barang milik negara/daerah (BMN/BMD), tanah aset BUMN/BUMD yang menharuskan ijin dari Menteri Keuangan atau Menteri BUMN.

4. Persoalan efektifitas konsinyasi uang ganti kerugian di Pengadilan

Penitipan uang ganti kerugian ke pengadilan setempat ditujukan agar proyek pembangunan dapat dilanjutkan, tanpa terkendala ketidaksepakatan ganti kerugian pemilik tanah. Persoalan konsinyasi adanya keraguan panitia dalam menetapkan besarnya ganti kerugian yang akan dititipkan dan persoalan berikutnya setelah konsiyansi dilaksanakan dan diterima pengadilan muncul keraguan untuk melaksanakan pembangunan. Hal ini terjadi karena pengaruh konsep bahwasanya konsinyasi ganti kerugian tidak merta mengakibatkan

peralihan kepemilikan tanah kepada negara dan mengakibatkan pemilik tanah membebaskan hak atas tanahnya kepada negara, untuk itu tanahnya belum bisa dipergunakan oleh negara.

5. Persoalan administrasi pertanahan

Pada setiap simpul kegiatan pengadaan tanah tidak dapat dilepaskan dari proses administrasi pertanahan, baik tanh yang sudah bersertifikat maupun tanah yang belum bersertifikat. Pengukuran tanah akan bisa dilakukan jika kesepakatan nilai ganti kerugian tanah sudah disepakati. Hal ini petugas ukur BPN bisa melakukan pengukuran ketika sudah mendapat ijin pemilik tanah. Maka lahir persoalan, musyawarah ganti kerugian seringkali didasarkan pada peta inventarisasi tanah yang tidak bersifat mengikat (kadasteral).

6. Persoalan administratif Land Freezing

Kenyataan pengadaan tanah yang tidak lancar, yang diakibatkan spekulan melahirkan ketentuan land freezing (pemberlakuan status quo) atas tanah- tanah yang akan dibebaskan untuk pembangunan. Dengan land freezing, semua transaksi pertanahan baik yang sudah bersertifikat maupun yang belum bersertifikat akan dihentikan proses administrasinya. Jika land freezing efektif, maka pengadaan tanah akan lancar karena gerak spekulator tereduksi. Tetapi pelaksanaan land freezing tidak sepenuhnya efektif, karena disikapi dengan melakukan peralihan tanah di bawah tangan, sehingga tidak melibatkan pejabat yang diperintahkan untuk melakukan pejabat yang diperintahkan untuk melakukan pembekuan administrasi pertanahan di lokasi pembangunan.

7. Persoalan Lembaga Penilai harga tanah

Lembaga penilai harga tanah merupakan lembaga penilai independen yang perannya sangat dibutuhkan dalam mempercepat proses pengadaan tanah. Namun saat ini jumlah yang ada masih terbatas. Hal ini disebabkan karena lisensi diberikan pada provinsi tertentu dan terdapat beberapa provinsi yang hanya memiliki satu lembaga penilai sehingga menyulitkan proses pelelangan, hal ini yang membuat kegamangan pelaksana pengadaan jasa appraisal. Belum ada kejelasan mengenai pengadaan lembaga penilai harga tanah.130

D. Peran Pemerintah dalam Pemberian Ganti Rugi dari Pembebasan Hak

Dokumen terkait