• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAMPA YANG MENYAKITKAN

Dalam dokumen perahu kertas (Halaman 193-200)

Sempat melintas di pikiran Kugy untuk mengejar Noni dan berbicara lebih panjang, tapi kakinya terasa kaku. Ia tak punya cukup nyali. Akhirnya Kugy masuk ke kamarnya. Ia sadar, sebuah perang dingin resmi dimulai. Dan entah kapan akan berakhir.

Pukul sepuluh malam. Lambungnya riuh rendah seolah te-ngah berlangsung pertandingan bola. Terakhir dia makan adalah tadi siang, dan tampaknya lambungnya tak akan men-dapat olahan baru sampai besok siang lagi.

Keenan menepuk-nepuk pelan perutnya, berbisik sen-dirian, “Sabar, ya. Jangan masuk angin dulu, karena saya harus lihat langit.”

Terduduklah Keenan di dekat jemuran yang bisa ia da-tangi dengan cuma membuka jendela kamar. Di sana ia bisa memandang hamparan atap rumah lain beserta pendar-pendar lampu di rimba gang yang padat ini.

Keenan menengadah. Dari tempat ia duduk, langit tam-pak berhiaskan saling-silang tali jemuran, beberapa kolor dan jins tidak kering yang tampak masih diangin-anginkan.

Tidak apa-apa, pikirnya. Memandang angkasa malam

ada-lah pelipur sederhana yang membantunya sedikit merasa lebih baik.

Sesungguhnya, Keenan tak keberatan dengan rasa lapar ini. Baginya, itulah bagian dari konsekuensi yang harus di-tanggungnya dengan mengirit setiap rupiah dari sisa uang-nya yang tak seberapa lagi. Namun, tak ada yang bisa meng-obati kekosongan jiwanya. Dan rasa kosong ini lebih menyakitkan dari apa pun.

Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia ini tidak cukup membelinya, pikir Keenan getir. Uang

me-mang tidak akan pernah bisa jadi ukuran. Rasa percaya dan uang ada di dimensi yang sama sekali lain. Kini ia yakin itu.

Ludahnya terasa memahit. Baru kali ini ia merasa pri-hatin pada dirinya sendiri. Kalau bisa, ia ingin mengirim kembang tanda dukacita. Tak punya rasa percaya ... tak

ada kebanggaan ... hampa. Dan kembali Keenan merenung:

bagaimana hampa bisa menyakitkan? Hampa harusnya ber-arti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa harusnya berber-arti tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit.

Sayup-sayup terdengar lagu dari kaset yang diputar di kamarnya:

“Fare thee well my bright star It was a brief, brilliant miracle dive

that which I looked up to and I clung to for dear life ... your last dramatic scene against a night sky stage.”

Mendadak sesuatu menyusupi hampanya. Rasa sedih. Masa gemilang itu datang, sekejap, dan tak lebih dari se-buah drama besar. Dan Keenan merasa seperti aktor malang yang bermimpi melampaui skenarionya.

Tiba-tiba wajah neneknya di Amsterdam melintas. Keenan teringat hari terakhir mereka bersama, saat Oma memasakkannya sup kacang merah yang mereka nikmati dalam hening. Kesedihan yang mereka berdua simpan dan tak tuntas terungkapkan. Keenan mengkhayalkan bisa kem-bali ke sana malam ini, meninggalkan semuanya tanpa ke-cuali. Namun, kedua kakinya hanya sanggup mengantarkan-nya ke atap itu. Tak bisa lebih jauh lagi. Ingatan akan Oma dan langit malam berbaur. Semuanya lebur dan tampak kabur dari mata yang basah oleh air mata.

Bandung, Oktober 2000 ...

Kugy tak bisa melupakan pagi ini. Untuk pertama kalinya ia pindah mengajar ke saung baru yang dibangun oleh orang-orang kampung. Keberadaan Sakola Alit serta konsistensi Ami dan kawan-kawan akhirnya menarik simpati penduduk sekitar. Berkat gotong-royong warga, satu saung baru di-dirikan. Mereka khawatir kegiatan belajar mengajar di Sakola Alit terganggu karena musim hujan sudah tiba, se-mentara mereka tahu bahwa ada kelas yang selama ini di-jalankan di bawah pohon.

Meski semua anak senang dan bersemangat dengan tem-pat baru mereka, tak urung muka anak-anak pagi itu kusut karena hari ini mereka belajar perkalian dan pembagian. Kugy mengamati anak didiknya yang tampak mutung dan tak bergairah. Ia sendiri mulai ikut putus asa. Belum ber-hasil mendapatkan cara yang lebih kreatif untuk mengajar. Tiba-tiba seorang muridnya, Dadi, berlari ke arah saung dengan tergesa. Wajahnya berseri-seri, tangannya menunjuk ke arah belakang. Tawanya merekah, memampangkan gigi serinya yang ompong. “Bu Ugiiii ... ada Pak Guru Rang-ginang ...,” serunya lantang.

Rangginang? Kugy bertanya dalam hati. Saat ia

me-longok ke arah yang ditunjuk Dadi, sadarlah ia siapa yang dimaksud anak itu. Dan sungguhan Kugy tak siap. “Keenan …,” desisnya.

Sejenak Kugy menunduk, memejamkan mata, berusaha mengumpulkan tenaga dan kekuatan. Dalam sekejap, tawa segar muncul di wajahnya, dan ia pun menyapa dengan ceria, ³+DOR3DN*XUX6HODPDWGDWDQJGLNHODVNX\DQJEDUX´

Keenan tersenyum. Ada kehangatan yang seketika me-menuhi rongga hatinya melihat tawa lebar Kugy yang khas. Keenan menamakannya “tawa pengampun”, karena layaknya

matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dan senantiasa memandikan Bumi dengan sinarnya, tawa itu pun membawa efek yang sama bagi dirinya. Kehangatan yang lahir tanpa pretensi. Tanpa perlu usaha. Pengampunan mur-ni.

Setelah Keenan mendekat, barulah Kugy menyadari perubahan yang terjadi. Keenan tampak lebih kurus. Dan kedua matanya menunjukkan bahwa ia lelah. Kugy pun me-nyadari, perubahan yang sama juga terjadi pada dirinya sendiri.

“Apa kabar, Kecil?” sapa Keenan. “Kamu kok tambah ke-cil ....”

“Pemadam Kelaparan baru naikin harga soalnya, jadi asupan makanan ke badanku agak berkurang,” Kugy ter-kekeh. “Kamu juga kurusan. Kamu baik-baik?”

Keenan mengangkat bahu sambil nyengir. “Lumayan,” jawabnya singkat.

Kehadiran Keenan seketika membawa suasana berbeda. Semua anak merasa Keenan adalah penyelamat yang akan membebaskan mereka dari pelajaran yang memusingkan pagi itu. Pilik langsung menandak-nandak kegirangan sambil EHUWHULDN ³*DPEDU *DPEDU *DPEDU´

.XJ\ PHQJJHOHQJJHOHQJNDQ NHSDOD ³1JJDN QJJDN .D lian tetap harus belajar Matematika ....”

Ucapan Kugy disambut riuh protes.

Keenan mengambil sepotong kapur dan mulai menggam-bar. Dengan cepat, ia menggambar enam layang-layang. “Ayo, dihitung, layang-layangnya ada berapa?”

Anak-anak itu berhitung dari satu sampai enam.

“Sekarang ... Pilik ceritanya harus bagi dua layang-layang ini dengan Dadi,” Keenan menarik garis, “Jadi, Pilik punya berapa, dan Dadi punya berapa?”

Di sudut saung Kugy tersenyum. Tampaknya hari itu ia harus membiarkan kelasnya diambil alih oleh Keenan.

Kelas Kugy bubar agak lebih siang dari biasanya. Persis se-perti kunjungan Keenan sebelumnya, layaknya penggemar bertemu idola, dengan berbagai cara anak-anak itu menahan Keenan lebih lama agar lebih banyak menggambar.

Sebubarnya anak-anak, Kugy dan Keenan gotong royong membereskan saung.

“Kadang-kadang aku berharap kamu jadi pengajar tetap di sini,” kata Kugy.

“Supaya?”

“Ya, supaya anak-anak ada yang mengajarkan menggam-bar, dan sepertinya lewat gambar banyak sekali cara penga-jaran kreatif yang bisa kamu lakukan, yang aku sendiri nggak sanggup ....”

“Oh. Kirain biar kita tiap hari ketemu,” celetuk Keenan jahil.

Kugy tergelak. “Ya, itu boleh juga jadi bonus. Aku nggak keberatan ketemu kamu tiap hari.”

“Saya juga nggak.”

Keduanya terdiam sejenak. Kugy tahu-tahu meletakkan ransel yang tadinya sudah siap disandangkan di bahu. “Kamu ke mana aja sih, Nan?”

“Ada,” sahut Keenan setengah menggumam.

“Kok nggak bilang-bilang kamu pindah tempat kos?” “Ceritanya panjang, Gy.”

“Kamu bisa mulai cerita sekarang,” tegas Kugy sambil duduk bersila.

“Saya udah nggak kuliah lagi dari awal semester. Saya mengundurkan diri,” Keenan bertutur sekenanya.

“Ya, aku tahu. Dari Wanda ...” Kugy menyahut lirih. “Ke-luarga kamu gimana? Mereka setuju?”

“Saya belum ketemu mereka lagi. Ayah saya sangat tidak setuju pastinya.”

Lama Kugy termenung. Segaris senyum lalu membersit di wajahnya. “Kamu berani banget, Nan. Aku salut. Akhirnya, demi melukis kamu mengambil keputusan sebesar itu,” ucapnya tulus.

“Saya nggak melukis lagi.”

Kugy nyaris mencelat dari lantai. “Ke—kenapa?” tanyanya terbata.

“Saya salah selama ini, saya pikir melukis adalah jalan hidup saya, tapi ternyata bukan,” jelas Keenan dengan da-tar.

“Tapi ... bukannya kamu mau pameran? Aku sempat ke-temu Wanda, dan dia cerita kalau kamu lagi konsentrasi melukis, terus kamu bakal keliling-keliling, pindah ke Jakarta ...”

Keenan tersenyum samar. “Dia cuma bercanda. Pameran, galeri, keliling-keliling ... semuanya cuma bercanda.”

“Aku nggak ngerti ...,” Kugy menggelengkan kepala, “mak-sud kamu ... rencana pameran itu nggak pernah ada?”

“Om Hans sejak awal sebetulnya nggak setuju lukisan saya masuk ke Warsita, karena menurutnya karya saya be-lum matang. Tapi karena Wanda yang minta, lukisan saya bisa lolos.”

“Iya ... tapi kan ... lukisan kamu pada akhirnya laku. (PSDWHPSDWQ\D GLEHOL RUDQJ ,WX NDQ EHUDUWL EXNWL NDODX OXNLVDQ NDPX PHPDQJ GLPLQDWL´

“Oleh satu orang tepatnya,” Keenan berkata getir, “Wanda. Dia yang ternyata membeli semua lukisan saya, dan di-sembunyikan di rumahnya. Saya nggak sengaja tahu. Dia yang kelepasan gara-gara mabok waktu ulang tahun Noni.”

Kugy menatapnya tak percaya, “Jadi ... selama ini ...” “Selama ini semuanya nggak lebih dari cerita cewek kaya yang jatuh hati sama seorang pemimpi. Tapi ini bukan salah siapa-siapa kok, Gy,” Keenan tersenyum samar, “saya nggak menyalahkan Wanda, apalagi Om Hans. Saya yang terlalu bego.”

“Bukan berarti kamu harus mengorbankan impian kamu gitu aja dong, Nan. Masa cuma gara-gara seorang Wanda kamu jadi berhenti melukis ...,” protes Kugy tak tertahan-kan.

“Ini bukan masalah Wanda,” potong Keenan keras, “kamu bisa bayangin? Saya sudah mengundurkan diri dari sekolah, saya sudah keluar dari rumah. Dengan naif dan yakinnya saya merasa bisa membuktikan sama keluarga saya, sama orang-orang, kalau saya mampu mandiri dari melukis—”

³<D NDOR JLWX EXNWLNDQ GRQJ´ .XJ\ EDODV PHPRWRQJ “Kenapa malah berhenti?” Kugy menatap Keenan tak me-ngerti, “Nan, kamu adalah pelukis paling hebat yang aku tahu. Terserah Om Hans mau ngomong apa, Wanda punya motivasi apa, kolektor-kolektor itu punya penilaian apa ... buatku, kamu melukis dengan seluruh jiwa kamu, dan itu \DQJ SHQWLQJ´

“Gy ... kalau saya memang pelukis yang sehebat yang kamu kira, udah dari dulu-dulu Om Hans langsung melolos-kan lukisan saya. Nggak usah pakai dibujuk-bujuk sama Wanda segala. Dan kalau memang saya pelukis yang sebagus yang kamu kira, waktu pameran katalog barunya Warsita sudah pasti ada yang membeli lukisan saya. Nggak perlu Wanda yang sampai pura-pura beli.”

“Jadi, cuma gara-gara penilaian satu galeri, dan sekelom-pok orang yang entah siapa, kamu mengorbankan semua mimpi kamu. Gitu?” Nada bicara Kugy kian meruncing.

Dalam dokumen perahu kertas (Halaman 193-200)