• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

4.1.2 Hanyut Aku

Hanyut aku, kekasihku!

Hanyut aku!

Ulurkan tanganmu, tolong aku.

Sunyinya sekelilingku!

Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati, Tiada air menolak ngelak.

Dahagaku kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku Sebabkan diammu.

Langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam.

Tenggelam dalam malam.

Air di atas mendidih keras.

Bumi di bawah menolak ke atas.

Mati aku, kekasihku, mati aku!

Hanyut aku, kekasihku!

Interpretasi yang timbul dari baris pertama ini adalah sebuah keadaan yang sangat gawat. Hanyut merupakan suatu keadaan yang genting yang mampu membahayakan nyawa seseorang. Penulis menyampaikan bahwa ada keadaan yang sangat genting dalam hidupnya dan ia memberitahukan keadaan tersebut kepada kekasihnya. Peneliti dapat temukan bahwa hal ini merupakan curahan hati seorang Amir Hamzah dalam keadaan tertekan namun tidak tahu harus bagaimana menghadapi keadaan tersebut.

Hanyut Aku!

Pada baris ini ada penegasan dari keadaan genting tersebut. Hal ini ditandai dengan adanya simbol (!).

Ulurkan tanganmu, tolong aku.

Baris ini merupakan suatu penyampaian terhadap seseorang agar memberi simpati kepada penulis. Ada rasa tidak sanggup yang peneliti maknai dalam diri penulis menghadapi keadaan yang ia hadapi. Secara umum jika seseorang sudah menggunakan istilah ulurkan tangan merupakan bentuk pengharapan agar orang lain setidaknya memberikan perhatian kepada dirinya.

Sunyinya sekelilingku!

Pada baris ini penulis mencoba untuk menarik simpati orang lain dan mungkin juga kekasihnya dengan menunjukkan keadaan yang ia hadapi. Mencoba membawa orang lain untuk mengetahui sekelilingnya dan apa yang ia rasakan sehingga rasa simpati orang lain itu timbul dan tindakan yang orang lain berikan ialah sesuai dengan yang ia harapkan.

Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati

Kesunyian yang penulis sampaikan dalam baris ini. Yang menjadi catatan kesunyian yang ia temukan ialah karena tidak ada orang yang memberi simpati kepada diri dan keadaannya. Hal inilah yang membuat ia kecewa dan frustasi.

Tidak adanya kesejukan yang mampu meredakan hatinya yang kecewa dan marah pada saat yang ia harapkan.

Tiada air menolak ngelak

Makna yang timbul dari baris ini adalah tidak ada suatu hal yang mampu meredakan kemarahan dalam dirinya, sebagaimana air yang mampu mematikan dan meredakan api atau panas. Api atau panas ini adalah masalah yang ia hadapi.

Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku

Interpretasi yang timbul dari baris ini adalah kembali pada keadaan yang menarik simpati orang lain. Dengan menggunakan kata hauskan bisikmu, penulis berharap agar keadaan di masa lalu yang identik dengan rasa senang dan bahagia kembali yang ia jalani.

Sebabkan diammu

Langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam

Ini adalah hubungan sebab akibat dari keadaan yang terjadi. Sikap diam, tidak peduli atau apapun itu yang sepadan dengan keadaan tersebut dalam episode hidup manusia selalu menghasilkan suatu masalah karena sikap diam pada dasarnya membuat seseorang tidak mampu bertindak.

Tenggelam dalam malam

Air di atas mendidih keras

Bumi di bawah menolak ke atas

Baris ini dapat diinterpretasikan bahwa kesendirian yang dihadapi oleh penulis. Malam yang identik dengan sepi dan kesendirian dimana setiap orang tenggelam dengan istirahat dan mimpi-mimpi orang lain. Penulis menyampaikan bahwa dalam malam pun ia tetap hanyut dalam masalah-masalah yang ia hadapi, semakin tenggelam karena tidak ada teman untuk berbagi.

Hal ini semakin menambah rasa frustasi yang penulis rasakan. Orang lain tidak memberikan ia waktu untuk menyampaikan untuk menyampaikan keluh kesahnya karena orang lain juga memiliki masalah yang harus dihadapi di dunia ini.

Mati aku, kekasihku, mati aku!

Dari baris penutup ini, terlihat bahwa penulis tidak dapat menghadapi masalah yang ia hadapi sehingga ia pasrah dengan keadaan tersebut. Ada rasa takut dan geram ketika baris ini mengingat si penulis sudah berusaha agar orang lain memahami keadaannya.

Dalam puisi ini dikemukakan tema spiritual dimana penulis merasakan hasrat kerinduan dan kecintaannya pada sang kekasih (Hanyut aku, kekasihku!/Hanyut aku/…), karena itu ia meminta agar kekasihnya mengulurkan tangannya, menyelamatkan ia dari kehanyutannya. Penulis merasakan kesendirian, tiada yang peduli dan dapat menenangkan hatinya. Hanya kesunyian yang mendalam yang membanjiri dunia batinnya. Bahkan hasrat itu semakin kuat dan menolak untuk pergi dari jiwa si penulisnya yang semakin terhanyut.

Kehanyutan si penulis disebabkan karena ia begitu haus akan cinta kasih dari kekasihnya, haus akan bisikan pujaannya. Tetapi kehanyutan yang peneliti temukan disini tidak berhubungan secara tradisional terhadap bentuk air, namun lebih identik terhadap hanyut yang menyesakkan dan perih sebagaimana hanyut dalam kobaran api (terbakar) atau juga gumpalan asap.

Hal ini sangat menarik dari seorang Amir Hamzah yang karya-karyanya begitu menarik perhatian pembacanya. Hanyut dalam masalah yang membuat

batin dan fisiknya terkuras. Hal ini semakin parah akan keadaan tersebut yang harus ia hadapi sendiri. Kemudian yang ia kasihi hanya diam. Karena itulah si penulis merasa seakan-akan ia mati dikarenakan diamnya sang kekasih.

Kini si penulis tidak lagi terhanyut, namun telah tenggelam karena hasrat yang telah menyerkapnya sehingga ia semakin tenggelam. Tenggelam dalam hasrat kerinduannya akan cinta, kasih, dan bisikan sang kekasih.

Proses yang disampaikan oleh penulis disini yaitu dari hanyut menjadi tenggelam. Harapan yang ia sampaikan terhadap orang lain terkhusus yang dicintai agar peduli atau setidaknya memberikan respon terhadap keadaannya. Hal inilah yang semakin menguatkan Amir Hamzah dalam memilih judul Hanyut Aku sebagai judul puisinya.

Amir Hamzah menggunakan kata-kata umum yang dapat dengan mudah dimengerti. Amir Hamzah menggunakan kata-kata seperti hanyut, menyerkap, menindih, tenggelam, dan mati sebagai medan makna keriuhan yang seakan mematikan. Kata-kata ini sebagai kunci untuk menggambarkan dari pengalaman dan guncangan yang dirasakan oleh Amir Hamzah.

Bahasa kiasan yang terpapar sangat jelas dalam puisi ini dengan menyamakan benda dengan manusia. Benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir dan sebagainya seperti manusia.

langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam

Tenggelam dalam malam

Air di atas menindih keras

Bumi di bawah menolak ke atas

Dalam puisi ini melukiskan kesunyian dan kesendirian yang dirasakan oleh penyair.

Dokumen terkait