• Tidak ada hasil yang ditemukan

mencakup:

1. Kemampulabaan yang meningkat 2. Alokasi sumber daya yang lebih efisien 3. Identifikasi masalah pada tahap awal, dan 4. Komunikasi yang lebih baik" (2006:24)

Selain itu, pemeriksaan operasional memiliki tujuan untuk menilai sasaran dan rencana, serta menilai struktur organisasi. Hal tersebut dilakukan dengan cara menilai efektivitas, efisiensi dan ketaatan objek yang di periksa dalam mengelola dan mempeitanggung jawabkan pelaksanaan aktivitas atau program.

Tujuan umum pemeriksaan operasional menurut Sukrisno Agoes adalah:

1. Untuk menilai kineija (performance) dari manajemen dan berbagai fiingsi dalam perusahaan.

2. Untuk menilai apakah berbagai sumber daya

(manusia, mesin, dana, harta lainnya) yang dimil^i

perusahaan telah digunakan secara efisien dan

ekonomis.

3. Untuk menilai efektivitas perusahaan dalam mencapai tujuan (Objective) yang telah ditetapkan oleh top management.

4. Untuk dapat memberikan rekomendasi kepada top management untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam penerapan pengendalian intern, sistem pengendalian manajemen, serta prosedur operasional perusahaan dalam rangka meningkatkan efisiensi, keekonomisan, dan efektivitas dari kegiatan operasi perusahaan. (2004:1)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan operasional bertujuan menghasilkan perbaikan dalam pengelolaan aktivitas objek yang diterima dengan membuat rekomendasi tentang cara-cara pelaksanaan yang lebih efektif dan efisien. hal tersebut dilakukan dengan menilai ketaatan pada ketentuan yang berlaku, efisiensi dan efektivitas objek yang diperiksa dalam mengelola serta mempertanggungjawabkan pelaksanaan aktivitas atau program

17

2.1.4. Tahapan Pemeriksaan Operasional

Pemeriksaan operasional merupakan suatu pekeijaan yang besar bagi pelaksananya. Pemeriksaan operasional perlu memiliki suatu kerangka kerja yang jelas agar d^at dilaksanakan dengan memadai, tanpa kerangka ketja yang baik pemeriksa akan menghad^i kesulitan dalam pelaksanaan tugasnya. Maka dalam pemeriksaan operasional diperlukan tahap-tahap untuk mempermudah pelaksanaannya.

Tahapan-tahapan dalam pemeriksaan operasional menurut Alvin A. Arens, Randal J. Elder dan Mark Beasley yang dialih bahasakan oleh Ford Lumbon Gaol dalam bukunya Audit dan Pelayanan Keamanan, Pendekatan Terpadu adalah sebagai berikut:

Tiga tahapan dalam pemeriksaan Operasional adalah:

1. Perencanaa

2. Pengumpulan dan Evaluasi Bahan Bukti 3. Pelaporan dan Tindak Lanjut (2006:503) Adapun uraian lebih lanjut adalah sebagai berikut:

1. Tahap Perencanaa

Tahapan perencanaan merupakan suatu proses memformulasikan apa yang akan dilakukan, bagaimana, dimana, kapan dilakukan dan siapa yang menjalankannya. Dengan perencanaan dan studi mengenai area yang di audit akan membantu mengidentifikasikan pekerjaan audit dan mengurangi terbuangnya waktu dengan sia-sia serta menghindarkan teijadinya kesalahan di awal audit.

Tahap ini memberi kemungkinan untuk diselenggarakan pelaksanaan pemeriksaan secara teratur, bertujuan untuk mengenali

kegiatan objek yang akan diperiksa dengan mengunpulkan data, menyusun, mengikhisarkan, menilai, dan menggunakan data tersebut dalam penyusiman program pemeriksaan secara sederhana.

2. Tahap Pengumpulan dan Evaluasi Bahan Bukti

Tahap ini dilaksanakan hanya atas bagian yang menurut penilaian paling sesuai permasalahannya dan bagi masa yang akan datang akan memberikan manfaat yang paling besar jika ada perbaikan.

Walaupun pemeriksaan sudah memiliki bayangan yang cukup kuat tentang letak permasalahannya, namun tet^ belum dapat mengeluarkan kesimpulannya semata-mata hanya dengan beranjak dari tahap perencanaan saja. Auditor mengumpulkan berbagai bukti audit digunakan dalam pengambilan keputusan. Keputusan utama para auditor adalah menentukan jenis dan jumlah bukti audit yang tepat untuk dikumpulkan agar dapat memberikan keyakinan yang memadai bahwa berbagai komponen dalam laporan keuangan serta dalam keseluruhan l^oran lainnya telah disajikan secara wajar.

Pada tahap ini seorang pemeriksa operasional melakukan kegiatan

pengujian dokumen-dokumen, tanya jawab dengan fungsi-fungsi

organisasi dan melakukan pengamatan atas jalannya operasi perusahaan. Dalam melakukan evaluasi dan pengujian tersebut diperlukan adanya berbagai norma, kriteria atau standar lain yang objektif sehingga dapat ditemukan adanya penyimpangan, pemborosan, penyalahgunaan dan kelalaian lainnya.

19

3. Tahap Pelaporan dan Tindak Lanjut

Pada tahap ini dilakukan laporan hasil audit, yang akan dijadikan media untuk menyampaikan permasalahan serta temuao bedkut rekomendasi yang terdapat dalam suatu unit yang diperiksa.

Penyampaian ini biasanya kepada manajemen dari unit yang diperiksa dan hendaknya manajemen mengetahui temuan-temuan serta rekomendasi yang dihasilkan dari proses audit tersebut.

Laporan yang dibuat haruslah jelas, singkat, tetapi lenglap. Nada pada laporan haruslah konstrukif, mengingat tujuan pemeriksaan operasional adalah untuk membantu pimpinan dalam mencari pemecahan masalah untuk memperbaiki organisasinya.

Tindak lanjut yang dilakukan pihak manajemen berupa peningkatan pengendalian terhadap fimgsi dan organisasi yang dinilai lemah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia perusahaan. Tindak lanjut yang dilakukan oleh manajemen berdasarkan temuan-temuan yang direkomendasikan oleh pemeriksa operasional harus berorientasi pada masa yang akan datang.

2.2. Efisensi

2.2.1 Pengertian Efisiensi

Menurut Anthony Dearden yang dialih bahasakan oleh Erlangga (2006; 174) efisiensi didefinisikan sebagai:

Efisiensi adalah rasio output terhadap input, atau jumlah output per unit input. Pusat Tanggung Jawab A

lebih efisien daripada Pusat Tanggung Jawab B jika (1) menggunakan jumlah sumber daya yang lebih sedikit daripada Pusat Tanggung Jawab B, namun memproduksi jumlah output yang sama, atau (2) menggunakan jumlah sumber daya yang sama namun memproduksi jumlah output yang lebih besar

Menurut IBK Bayangkara (2008:13) efisiensi dapat didefinisikan sebagai:

"Efisiensi merupakan ukuran proses yang menghubungkan antara input dan output dalam operasional perusahaan".

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip oleh sutris (2010) definisi dari efisiensi adalah:

Efisien adalah tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga, biaya), mampu menjalankan tugas dengan tepat dan cermat, berdaya guna, bertepat guna

Dari definisi di atas disimpulkan bahwa efisiensi berhubungan dengan bagaimana perusahaan melakukan operasinya, sehingga dicapai optimalisasi penggunaan sumber daya yang dimiliki. Efisiensi berhubungan dengan metode keija, dalam hubungannya dengan konsep input-proses-output. Bfesiensi adalah rasio antara output dan input. Seberapa besar output yang dihasilkan dengan menggunakan sejumlah tertentu input yang dimiliki perusahaan, metode keija yang baik akan dapat memandu proses operasi berjalan dengan mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang dimiliki perusahaan.

21

2.2.2 Fungsi dan tujuan efisiensi

Efisiensi dalam ilmu ekonomi digunakan pada sejumlah konsep yang terkait pada kegunaan pemaksimalan serta pemanfaatan seluruh sumber daya dalam proses produksi barang dan jasa. Fungsi efisiensi dalam suatu perusahaan yaitu untuk menghemat biaya (cost), sedangkan tujuannya yaitu untuk meminimalkan kerugian atau penghamburan sumberdaya yang dimiliki agar laba yang dihasilkan perusahaan maksimal. Efisiensi menganggap bahwa tujuan-tujuan yang benar telah ditentukan dan berusaha untuk mencari cara-cara yang paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Efisiensi hanya dapat dievaluasi dengan penilaian-penilaian relative, membandingkan antara masukan dan keluaran yang diterima. (Aguswibisono.com)

Setiap perusahaan pasti mengenal istilah efisiensi, kata tersebut merujuk pada ukuran keberhasilan yang dinilai dan segi besamya sumber/biaya untuk mencapai hasil dari kegiatan yang dijalankan. Untuk menc^ai kata efisiensi manajemen perusahaan hams melakukan berbagai macam usaha untuk meminimumkan

biaya yang dibutuhkan agar dapat menghasilkan dan mencapai manfaat untuk saat ini dan masa yang akan datang. Mengencangkan ikat pinggang adalah hal paling utama yang dilakukan sebagian besar perusahaan dalam menyelamatkan perusahaan, dengan menerapkan program efisiensi di segala bidang. Sudah barang tentu penerapan program tersebut hams dilakukan secara bertahap.

Langkah paling sederhana adalah dengan pemberitahuan jauh-jauh hari sebelum diberlakukan program efisiensi tersebut.

Biasanya yang ada dalam benak jajaran pimpinan perusahaan adalah bagaimana mengurangi pengeluaran, apa pun bentuknya. Menekan pos-pos pengeluaran yang dianggap tidak penting atau tidak perlu bagi operasional perusahaan dianggap paling mudah untuk diberlakukan dalam sebuah perusahaan. Proses efisiensi membutuhkan pemahaman yang tepat tentang penyebab teijadinya pemborosan, jika dihubungkan dengan manajemen berdasarkan aktivitas. Oleh karena itu, pengendalian terhadap penggunaan sumber daya hams dimulai dari permintaan atas aktivitas di samping juga pada pelaksanaan aktivitas tersebut.

Efisiensi biaya seringkali dianggap sebagai kebijakan yang tidak menyenangkan, karena perusahaan harus mengencangkan ikat pinggang, tetapi harus disadari efisiensi bukanlah kebijakan yang mempersulit diri, tet^i menghilangkan pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu, sehingga perusahaan tetap d^at beijalan secara efektif dan memperoleh hasil yang optimal, (vibizmanagement.com) 2.2.3 Prosedur yang Dilakukan sebagai Tes Efisiensi

Penggunaan biaya produksi yang efisien tidak dapat teijadi sendirinya namun diperlukan adanya suatu perencanaan dan pengendalian yang memadai dalam penggunaanya Adanya suatu pengendahan yang memadai akan sangat membantu manajemen dalam melakukan pengendalian atas seluruh aktivitas yang ada

23

dalam perusahaan, termasuk untuk menilai efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan.

Sarana manajemen yang digunakan untuk mengukur efisiensi biaya adalah dengan pembuatan anggaran. Lazimnya penyusunan biaya atau anggaran berdasarkan pengalaman masa lalu dan taksif-taksiran pada masa yang akan datang, maka ini dapat menjadi

pedoman kerja bagi setiap bagian dalam perusahaan untuk

menjalankan kegiatannya. Tujuan yang paling utama dari anggaran adalah untuk pengawasan luar, yaitu untuk membatasi sumber-sumber daya keseluruhan yang tersedia untuk suatu instansi dan untuk mencegah pengeluaran-pengeluaran bagi hal-hal atau aktivitas-aktivitas yang tidak dibenarkan oleh undang-undang.

Dengan anggaran biaya, perusahaan bisa mengetahui sejauh mana usaha yang akan dic^ai pada periode mendatang. Apabila perusahaan menganggap bahwa biaya produksinya selalu melebihi dari anggaran yang dibuat, maka perusahaan akan mengambil langkah-langkah agar biaya produksinya tidak melebihi dari yang dianggarkan.

Dari data tersebut hams dievaluasi dan dicarikan jalan altematif untuk setidaknya mengurangi biaya yang melebihi anggaran tersebut. Karena pada dasamya biaya produksi itu selalu mengikuti faktor-faktor yang menjadikan pembahan atas biaya tersebut, atau dapat disimpulkan bahwa biaya produksi dapat bersifat tetap dan bersifat variabel. (syafiizalhelmi.blogspot.com)

2.2.4 Efisiensi Biaya Produksi

Untuk memperoleh harga yang kompetitif, pengendaliaii harus meminimunikan biaya-biaya yang teijadi dalam produks.

Efisiensi biaya produksi adalah sesuatu yang mutlak dan harus menjadi budaya keija pada setiap bagian yang terlibat dalam proses produksi. Dalam hal ini pengendalian harus semaksimal mungkin mampu menekan pemborosan ( aktivitas tidak bemilai tambah ) yang teijadi. Perhatian kusus harus diberikan terhadap supervisi pabrik dan tenagakerja tidak langsung, dukungan dan keterlibatan pekeija, kesiapan mesin dan peralatan, fasilitas pendukung yang efektif dan berbagai hal lain yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung.

Maksud dari dilaksanakannya pengendalian biaya produksi adalah untuk mengetahui apakah biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan telah digimakan secara efisien atau tidak efisien.

pengendalian biaya produksi yaitu proses membandingkan biaya produksi sesungguhnya dengan biaya produksi anggaran atau aktual.

Pengertian Efisiensi Menurut Vincent Gasperz yang ditetjemahkan oleh Kisdarto dalam buku Manajemen Produktivitas Total (Strategi Peningkatan Bisnis Global) adalah sebagai berikut;

"Efisiensi adalah ukuran yang menunjukan bagaimana biaya sumber-sumber daya digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan output". (2000:12)

25

Definisi di atas menyatakan bahwa efisiensi meruapakan ukuran baiknya penggunaan biaya dalam proses produksi untuk menghasilkan output.

Sedangkan pengertian efisiensi menurut Sulastiningsih dan Zulkifli dalam bukunya "Akuntansi Biaya" dilengkapi dengan isu-isu kontemporer adalah sebagai berikut:

"Efisiensi (Efficiency) adalah jumlah dari masukan yang dipakai untuk mencapaiu tingkat tujuan tertentu."

(1999:287)

Dengan demikian efisiensi biaya produksi merupakan ukuran baiknya biaya sesungguhnya mencapai biaya anggaran atau standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Biaya produksi yang dilakukan akan memberikan suatu basil berupa selisih. Selisih merupakan suatu ukuran yang menyatakan efisiensi biaya produksi.

Sebagaimana disebutkan menurut Henry Simamora dalam buku "Akuntansi manajemen", pengukuran efisiensi sebagai berikut:

"Satu-satimya cara mengukur efisiensi adalah dengan membandingkan biaya actual dengan standar atau tolok ukur biaya lainnya". (1999:301)

Jadi pengukuran efisiensi dilakukan dengan cara pengendalian biaya yaitu suatu proses membandingkan antara biaya terpakai dengan biaya anggaran karena dari selisih yang timbul dapat dilakukan penilaian efisiensi atau tidak efisiensinya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan.

Pengukuran efisiensi menurut Henry Simamora dalam buku"

Akuntansi basis pengambilan keputusan bisnis" diuraikan sebagai

berikut:

"Perusahaan yang mempunyai sistem penentuan biaya

Dokumen terkait