ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
B. HASIL PENELITIAN
3. Hasil Analisa Tambahan
a. Gambaran HLC (Internal, Powerful Others, Chance) dan Compliance Berdasarkan Usia
Untuk melihat gambaran internal HLC berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 32 berikut :
Tabel 32
Gambaran Internal HLC Berdasarkan Usia
19-29 30-39 40-49 50-59 60-69 70-79 Total
N 23 22 8 2 4 1 60
Mean 24.48 23.77 21.38 26.00 22.75 26.00 23.77
Berdasarkan tabel 32 di atas dapat dilihat bahwa internal HLC yang rendah terdapat pada usia 40-49 tahun dengan rata-rata 21,38 sedangkan internal HLC yang tinggi terdapat pada usia 50-59 tahun dan 70-79 tahun dengan rata-rata 26,00.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan internal HLC ditinjau dari usia subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 33
Hasil Uji Anova Internal HLC Berdasarkan Usia IHLC
Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Between Groups 76.506 5 15.301 1.750 .139
Within Groups 472.228 54 8.745
Total 548.733 59
Berdasarkan tabel 33, maka dapat dilihat bahwa nilai F = 1,750 dengan nilai signifikansi (p) = 0,139. Hasil tersebut tidak signifikan (p > 0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan internal HLC ditinjau dari usia.
Untuk melihat gambaran powerful others HLC berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 34 berikut :
Tabel 34
Gambaran Powerful Others HLC Berdasarkan Usia
19-29 30-39 40-49 50-59 60-69 70-79 Total
N 23 22 8 2 4 1 60
Mean 25.65 25.59 24.38 28.00 25.00 28.00 25.53
Berdasarkan tabel 34 di atas dapat dilihat bahwa powerful others HLC yang rendah terdapat pada usia 40-49 tahun dengan rata-rata 24,38 sedangkan powerful others HLC yang tinggi terdapat pada usia 50-59 tahun dan 70-79 dengan rata-rata 28,00.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan powerful others HLC ditinjau dari usia subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 35
Hasil Uji Anova Powerful Others HLC Berdasarkan Usia PHLC
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 30.523 5 6.105 .275 .925
Within Groups 1200.411 54 22.230
Total 1230.933 59
Berdasarkan tabel 35, maka dapat dilihat bahwa nilai F = 0,275 dengan nilai signifikansi (p) = 0,925. Hasil tersebut tidak signifikan (p > 0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan powerful others HLC ditinjau dari usia.
Untuk melihat gambaran chance HLC berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 36 berikut :
Tabel 36
Gambaran Chance HLC Berdasarkan Usia
19-29 30-39 40-49 50-59 60-69 70-79 Total
N 23 22 8 2 4 1 60
Mean 23.00 20.14 20.13 24.00 25.00 25.00 21.78
Berdasarkan tabel 36 di atas dapat dilihat bahwa chance HLC yang rendah terdapat pada usia 30-39 tahun dan 40-49 tahun dengan rata-rata yang hampir sama yaitu 20,14 dan 20,13 sedangkan chance HLC yang tinggi terdapat pada usia 60-69 tahun dan 70-79 tahun dengan rata-rata 25.00.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan chance HLC ditinjau dari usia subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 37
Hasil Uji Anova Chance HLC Berdasarkan Usia CHLC
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 179.761 5 35.952 1.206 .319
Within Groups 1610.422 54 29.823
Total 1790.183 59
Berdasarkan tabel 37, maka dapat dilihat bahwa nilai F = 1,206 dengan nilai signifikansi (p) = 0,319. Hasil tersebut tidak signifikan (p > 0.05) yang berarti tidak terdapat perbedaan chance HLC ditinjau dari usia.
Untuk melihat gambaran compliance berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 38 berikut:
Tabel 38
Gambaran Compliance Berdasarkan Usia
19-29 30-39 40-49 50-59 60-69 70-79 Total
N 23 22 8 2 4 1 60
Mean 48.04 47.86 43.75 52.50 48.25 49.00 47.58
Berdasarkan tabel 38 di atas dapat dilihat bahwa compliance yang rendah terdapat pada usia 40-49 dengan rata-rata 43,75 sedangkan compliance yang tinggi terdapat pada usia 70-79 dengan rata-rata 49,00.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan compliance ditinjau dari usia subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 39
Hasil Uji Anova Compliance Berdasarkan Usia COMPLIANCE
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 176.286 5 35.257 1.329 .266
Within Groups 1432.297 54 26.524
Total 1608.583 59
Berdasarkan tabel 39, maka dapat dilihat bahwa nilai F = 1,329 dengan nilai signifikansi (p) = 0,266. Hasil tersebut tidak signifikan (p > 0,05) yang berarti tidak ada perbedaan compliance ditinjau dari usia.
b. Gambaran HLC (Internal, Powerful Others, Chance) dan Compliance Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Untuk melihat gambaran internal HLC berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 40 berikut:
Tabel 40
Gambaran Internal HLC Berdasarkan Tingkat Pendidikan
SD SMP SMA D3 Total
N 8 10 41 1 60
Mean 24.63 23.20 23.90 17.00 23.77
Berdasarkan tabel 40 di atas dapat dilihat bahwa internal HLC yang rendah terdapat pada tingkat pendidikan D3 dengan rata-rata 17.00 sedangkan internal HLC yang tinggi terdapat pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar dengan rata-rata 24,63.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan internal HLC ditinjau dari tingkat pendidikan subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 41
Hasil Uji Anova Internal HLC Berdasarkan Tingkat Pendidikan IHLC
Sum of
Squares Df Mean Square F Sig.
Between Groups 55.649 3 18.550 2.107 .110
Within Groups 493.085 56 8.805
Total 548.733 59
Berdasarkan tabel 41, maka dapat dilihat bahwa nilai F = 2,107 dengan nilai signifikansi (p) = 0,110. Hasil tersebut tidak signifikan (p > 0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan internal HLC ditinjau dari tingkat pendidikan.
Untuk melihat gambaran powerful others HLC berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 42 berikut:
Tabel 42
Gambaran Powerful Others HLC Berdasarkan Tingkat Pendidikan
SD SMP SMA D3 Total
N 8 10 41 1 60
Mean 26.13 26.50 25.39 17.00 25.53
Berdasarkan tabel 42 di atas dapat dilihat bahwa powerful others HLC yang rendah terdapat pada tingkat pendidikan D3 dengan rata-rata 17,00 sedangkan powerful others HLC yang tinggi terdapat pada tingkat pendidikan SMP dengan rata-rata 26,50.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan powerful others HLC ditinjau dari tingkat pendidikan subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 43
Hasil Uji Anova Powerful Others HLC Berdasarkan Tingkat Pendidikan PHLC
Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Between Groups 85.802 3 28.601 1.399 .253
Within Groups 1145.131 56 20.449
Total 1230.933 59
Berdasarkan tabel 43, maka dapat dilihat bahwa nilai F = 1,399 dengan nilai signifikansi (p) = 0,253. Hasil tersebut tidak signifikan (p > 0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan powerful others HLC ditinjau dari tingkat pendidikan.
Untuk melihat gambaran chance HLC berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 44 berikut:
Tabel 44
Gambaran Chance HLC Berdasarkan Tingkat Pendidikan
SD SMP SMA D3 Total
N 8 10 41 1 60
Mean 23.63 21.10 21.73 16.00 21.78
Berdasarkan tabel 44 di atas dapat dilihat bahwa chance HLC yang rendah terdapat pada tingkat pendidikan D3 dengan rata-rata 16,00 sedangkan chance HLC yang tinggi terdapat pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar dengan rata-rata 23,63.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan chance HLC ditinjau dari tingkat pendidikan subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 45
Hasil Uji Anova Chance HLC Berdasarkan Tingkat Pendidikan CHLC
Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Between Groups 65.360 3 21.787 .707 .552
Within Groups 1724.824 56 30.800
Total 1790.183 59
Berdasarkan tabel 45, maka dapat dilihat bahwa nilai F = 0,707 dengan nilai signifikansi (p) = 0,552. Hasil tersebut tidak signifikan (p > 0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan chance HLC ditinjau dari tingkat pendidikan.
Untuk melihat gambaran compliance berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 46 berikut:
Tabel 46
Gambaran Compliance Berdasarkan Tingkat Pendidikan
SD SMP SMA D3 Total
N 8 10 41 1 60
Mean 49.63 48.70 47.12 39.00 47.58
Berdasarkan tabel 46 di atas dapat dilihat bahwa compliance yang rendah terdapat pada tingkat pendidikan D3 dengan rata-rata 39,00 sedangkan compliance yang tinggi terdapat pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar dengan rata-rata 49,63.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan compliance ditinjau dari tingkat pendidikan subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 47
Hasil Uji Anova Compliance Berdasarkan Tingkat Pendidikan COMPLIANCE
Sum of
Squares Df Mean Square F Sig.
Between Groups 128.218 3 42.739 1.617 .196
Within Groups 1480.365 56 26.435
Total 1608.583 59
Berdasarkan tabel 47, maka dapat dilihat bahwa nilai F = 1,617 dengan nilai signifikansi (p) = 0,196. Hasil tersebut tidak signifikan (p > 0,05) yang berarti tidak ada perbedaan complaince ditinjau dari tingkat pendidikan.
c. Gambaran HLC (Internal, Powerful Others, Chance) dan Compliance Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Untuk melihat gambaran internal HLC berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel 48 berikut:
Tabel 48
Gambaran Internal HLC Berdasarkan Jenis Pekerjaan
SD SMP Total
N 38 22 60
Mean 23.34 24.50 23.77
Berdasarkan tabel 48 di atas dapat dilihat bahwa internal HLC yang rendah terdapat pada pekerjaan bertani dengan rata-rata 23,34 sedangkan internal HLC yang tinggi terdapat pada pekerjaan wiraswasta dengan rata-rata 24,50.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan internal HLC ditinjau dari jenis pekerjaan subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 49
Hasil Uji Anova Internal HLC Berdasarkan Jenis Pekerjaan IHLC
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 18.681 1 18.681 2.044 .158
Within Groups 530.053 58 9.139
Total 548.733 59
Berdasarkan tabel 49, maka dapat dilihat bahwa nilai F = 2,044 dengan nilai signifikansi (p) = 0,158. Hasil tersebut tidak signifikan (p > 0,05) yang berarti tidak ada perbedaan internal HLC ditinjau dari jenis pekerjaan.
Untuk melihat gambaran powerful others HLC berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel 50 berikut:
Tabel 50
Gambaran Powerful Others HLC Berdasarkan Jenis Pekerjaan
SD SMP Total
N 38 22 60
Mean 25.53 25.55 25.53
Berdasarkan tabel 50 di atas dapat dilihat bahwa powerful others HLC yang rendah terdapat pada pekerjaan bertani dengan rata-rata 25,53 sedangkan powerful others HLC yang tinggi terdapat pada pekerjaan wiraswasta dengan rata-rata yang tidak begitu jauh berbeda yaitu 25,55.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan powerful others HLC ditinjau dari jenis pekerjaan subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 51
Hasil Uji Anova Powerful Others HLC Berdasarkan Jenis Pekerjaan PHLC
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups .005 1 .005 .000 .988
Within Groups 1230.928 58 21.223
Total 1230.933 59
Berdasarkan tabel 51, maka dapat dilihat bahwa nilai F = 0 dengan nilai signifikansi (p) = 0,988. Hasil tersebut tidak signifikan (p > 0,05) yang berarti tidak ada perbedaan powerful others HLC ditinjau dari jenis pekerjaan.
Untuk melihat gambaran chance HLC berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel 52 berikut:
Tabel 52
Gambaran Chance HLC Berdasarkan Jenis Pekerjaan
SD SMP Total
N 38 22 60
Mean 21.39 22.45 21.78
Berdasarkan tabel 52 di atas dapat dilihat bahwa chance HLC yang rendah terdapat pada pekerjaan bertani dengan rata-rata 21,39 sedangkan chance HLC yang tinggi terdapat pada pekerjaan wiraswasta dengan rata-rata 22,45.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan chance HLC ditinjau dari jenis pekerjaan subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 53
Hasil Uji Anova Chance HLC Berdasarkan Jenis Pekerjaan CHLC
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 15.650 1 15.650 .512 .477
Within Groups 1774.533 58 30.595
Total 1790.183 59
Berdasarkan tabel 53, maka dapat dilihat bahwa nilai F = 0,512 dengan nilai signifikansi (p) = 0,477. Hasil tersebut tidak signifikan (p > 0,05) yang berarti tidak ada perbedaan powerful others HLC ditinjau dari jenis pekerjaan.
Untuk melihat gambaran compliance berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel 54 berikut:
Tabel 54
Gambaran Compliance Berdasarkan Jenis Pekerjaan
SD SMP Total
N 38 22 60
Mean 47.76 47.27 47.58
Berdasarkan tabel 54 di atas dapat dilihat bahwa compliance yang rendah terdapat pada pekerjaan wiraswasta dengan rata-rata 47,27 sedangkan compliance yang tinggi terdapat pada pekerjaan bertani dengan rata-rata 47,76.
Selanjutnya, dilakukan uji Anova untuk melihat apakah terdapat perbedaan compliance ditinjau dari jenis pekerjaan subjek, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 55
Hasil Uji Anova Compliance Berdasarkan Jenis Pekerjaan COMPLIANCE berarti tidak ada perbedaan compliance ditinjau dari jenis pekerjaan.
d. Hubungan HLC (Internal, Powerful Others, Chance) dengan Masing-Masing Aspek Compliance
Tabel 56
Hasil Korelasi HLC dengan Masing-Masing Aspek Compliance No. HLC
p = 0,921
Berdasarkan tabel 56 terlihat bahwa internal HLC berkorelasi secara signifikan dengan aspek-aspek compliance yaitu aspek attitude toward patient involvement (r = 0,409 dan p = 0,001), aspek treatment beliefs (r = 0,416 dan p = 0,001), dan aspek intentions to adhere (r = 0,470 dan p = 0,000), sedangkan pada aspek pain beliefs (r = 0,013 dan p = 0,921) dan aspek attitude toward information (r = -0,48 dan p = 0,717) tidak berhubungan secara signifikan. Pada powerful others HLC juga terdapat korelasi yang signifikan dengan aspek-aspek compliance yaitu aspek attitude toward patient involvement (r = 0,525 dan p = 0,000), aspek treatment beliefs (r = 0,533 dan p = 0,000), dan aspek intentions to adhere (r = 0,440 dan p = 0,000), sedangkan pada aspek pain beliefs (r = 0,096 dan p = 0,467) dan aspek attitude toward information (r = 0,060 dan p = 0,649) tidak berhubungan secara signifikan. Selanjutnya, pada chance HLC tidak diperoleh hubungan yang signifikan dengan semua aspek-aspek compliance).
C. PEMBAHASAN
Penelitian ini disusun untuk melihat hubungan antara health locus of control dan compliance pada masyarakat pedesaan. Seluruh data dikumpulkan
dari 60 subjek penelitian yang merupakan masyarakat pedesaan yang bertempat tinggal di Kecamatan Berastagi Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga hipotesa penelitian di terima. Hipotesa penelitian yang pertama yaitu terdapat hubungan yang positif antara internal HLC dan compliance pada masyarakat pedesaan (r = 0,415). Hipotesa penelitian yang kedua yaitu terdapat hubungan yang positif antara powerful others HLC dan compliance pada masyarakat pedesaan (r = 0.545) dan hipotesa penelitian yang ketiga yaitu tidak terdapat hubungan yang signifikan antara chance HLC dan compliance pada masyarakat pedesaan (r = -0,111).
Molassiotis et al (dalam Armstrong, 2007) menyatakan bahwa health locus of control merupakan suatu faktor yang berhubungan dengan kepatuhan (compliance) terhadap rangkaian perawatan medis. Berdasarkan hasil penelitian ini, keyakinan individu bahwa kesehatan mereka dikendalikan oleh diri mereka sendiri (internal) berkaitan dengan kepatuhan individu tersebut dalam menjalani pengobatan. Hal tersebut konsisten dengan beberapa penelitian sebelumnya.
Individu yang memiliki orientasi internal HLC cenderung mengutamakan pentingnya menjaga kesehatan (Wallhagen; Strawbridge; Kaplan; Richard, 1994) karena mereka lebih mengetahui masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan mereka dan berusaha untuk menyembuhkannya melalui pengobatan.
Sejalan dengan pernyataan Bane et al; Takaki & Yano, McDonald-Miszczak (dalam Armstrong 2007) bahwa individu yang dikelompokkan memiliki internal locus of control lebih berperilaku sehat dan lebih memiliki pengetahuan mengenai masalah kesehatan mereka. Begitu juga dengan kepatuhan terhadap layanan medis
(compliance) lebih berhubungan dengan individu yang memiliki internal HLC (Lewis, Morisky, & Flynn, 1978). Selain itu juga ditemukan bahwa internal HLC dihubungkan dengan berbagai macam perilaku sehat, diantaranya kepatuhan terhadap saran medis (Strickland, Wallston & Wallston, Lau, dalam Reeh dan Reilly, 1995).
Selanjutnya, keyakinan positif mengenai pentingnya pengobatan dihubungkan dengan powerful others HLC (Bane et al; Takaki & Yano, McDonald-Miszczak dalam Armstrong 2007). Individu yang memiliki skor yang tinggi pada powerful others HLC meyakini bahwa kesehatan mereka ditentukan oleh dokter, bidan, keluarga ataupun puskesmas. Dalam penelitian sebelumnya, individu yang memperoleh skor tinggi pada dimensi ini dinyatakan lebih compliance terhadap instruksi medis (Howat et al.; Snyder; McDonald-Miszcak et al. Dalam Armstrong 2007). Pernyataan dari beberapa penelitian sebelumnya juga mendukung hasil penelitian ini.
Keyakinan bahwa kesehatan ditentukan oleh kesempatan, takdir dan keberuntungan dihubungkan dengan ketidakpatuhan terhadap medis dalam beberapa populasi. Snyder (2006) menemukan bahwa keyakinan kesehatan yang tergantung pada takdir berhubungan terbalik dengan status kesehatan dan juga berhubungan terbalik dengan pengetahuan mengenai masalah kesehatan. Jika seseorang meyakini bahwa kesehatan mereka disebabkan oleh takdir, maka mereka menjadi tidak patuh dengan pengobatan karena mereka menganggap tidak membutuhkan pengobatan tersebut.
Selain itu, beberapa faktor psikososial seperti locus of control, kepribadian, jaringan sosial, sosialisasi, level pertumbuhan dan perkembangan individu juga dapat membantu menjelaskan pemahaman mengenai ketidakpatuhan individu terhadap pengobatan medis (Nyatanga dalam Armstrong, 2007).
Ketidakpatuhan individu terhadap medis juga dapat berkaitan dengan health locus of control. Oleh karena itu, pelayanan kesehatan (seperti: dokter atau bidan) perlu memahami alasan-alasan psikososial individu yang non-compliance melalui orientasi keyakinan kesehatan individu (internal, powerful others atau chance) untuk mencegah penyimpangan terhadap rangkaian pengobatan medis.
Subjek dalam penelitian ini merupakan masyarakat pedesaan yang memiliki tingkat perekonomian yang tergolong rendah karena sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai petani dan pengetahuan mereka tentang kesehatan juga rendah. Akan tetapi, sebagian besar subjek memiliki kendali internal yang sangat tinggi dalam hal kesehatan. Hal ini terlihat dari hasil penelitian yaitu sebesar 63,33 % subjek memiliki internal HLC yang sangat tinggi.
Pernyataan ini tentu saja bertolak belakang dengan peneliti terdahulu yang telah mengungkapkan bahwa individu dengan status sosial ekonomi yang rendah (pendapatan dan tingkat pendidikan rendah) cenderung memiliki skor eksternal yang tinggi, sedangkan individu dengan status sosial ekonomi yang tinggi cenderung memiliki skor internal yang tinggi (Kuwahara, Nishino, Ohkubo, Tsuji, Hisamichi & Hosokawa 2004). Perbedaan ini dikarenakan oleh pengalaman seseorang yang berbeda terhadap penyakit akan menentukan kendali kesehatan individu. Ditemukan bahwa pengalaman atau sejarah penyakit mempengaruhi
keyakinan, pengalaman negatif seperti kendali yang rendah, mengakibatkan berkembangnya keyakinan kendali eksternal yang tinggi (chance & powerful others) dan keyakinan kendali internal yang rendah (Wallston & Wallston dalam Iskandarsyah, 2006). Masyarakat di daerah ini jarang menderita penyakit kronis dan jarang berinteraksi dengan pelayanan kesehatan. Peneliti mengetahui informasi ini dari beberapa warga setempat dan bidan di puskesmas itu. Sehingga, kendali internal masyarakat tersebut dalam mengontrol kesehatan mereka lebih tinggi.
Hasil penelitian tambahan menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan internal HLC, powerful others HLC, chance HLC, dan compliance HLC ditinjau dari segi usia, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan. Hasil tersebut tidak konsisten dengan penelitian yang menyatakan bahwa seseorang menjadi lebih berorientasi secara internal seiring dengan bertambahnya usia dan mencapai puncaknya pada usia dewasa madya (Milgram; Ryckman & Malikiosi dalam Schultz & Schultz, 1994). Selain itu, juga ditemukan bahwa locus of control menjadi semakin eksternal dari masa dewasa hingga tua, yaitu terjadi peningkatan keyakinan bahwa chance dan powerful othetrs mempengaruhi kehidupan (Sarafino dalam Iskandarsyah, 2006). Hal ini berbeda disebabkan karena jumlah subjek penelitian yang tidak seimbang dan penyebaran dalam pengambilan sampel yang tidak merata baik dari segi usia, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan.
Sedangkan perbedaan HLC dan compliance ditinjau dari jenis kelamin tidak dapat diukur karena jumlah subjek yang tidak seimbang dimana jumlah perempuan jauh lebih sedikit dari pada jumlah laki-laki dalam penelitian ini.
Selanjutnya hasil penelitian tambahan mengenai hubungan HLC dan aspek-aspek compliance diperoleh bahwa internal HLC berkorelasi secara signifikan dengan aspek-aspek compliance yaitu aspek attitude toward patient involvement (r = 0,409 dan p = 0,001), aspek treatment beliefs (r = 0,416 dan p = 0,001), dan aspek intentions to adhere (r = 0,470 dan p = 0,000), sedangkan pada aspek pain beliefs (r = 0,013 dan p = 0,921) dan aspek attitude toward information (r = -0,48 dan p = 0,717) tidak berhubungan secara signifikan. Masyarakat pedesaan yang mengikuti penelitian ini jarang menderita penyakit kronis, itu sebabnya pain beliefs masyarakat tidak berpengaruh terhadap internal HLC, karena pain belief yang maladaptif dapat berupa keyakinan individu bahwa penyakit yang dialaminya konstan dan permanen, individu juga menyalahkan penyakit yang dideritanya dan meyakini bahwa penyakitnya merupakan suatu masalah yang membingungkan dan pelik (Williams & Thorn dalam Tavoli, Montazeri, Roshan , Tavoli & Melyani, 2008).
Pada powerful others HLC juga terdapat korelasi yang signifikan dengan aspek-aspek compliance yaitu aspek attitude toward patient involvement (r = 0,525 dan p = 0,000), aspek treatment beliefs (r = 0,533 dan p = 0,000), dan aspek intentions to adhere (r = 0,440 dan p = 0,000), sedangkan pada aspek pain beliefs (r = 0,096 dan p = 0,467) dan aspek attitude toward information (r = 0,060 dan p
= 0,649) tidak berhubungan secara signifikan. Aspek attitude toward information berhubungan dengan penyampaian informasi dari dokter kepada pasien mengenai diagnosa penyakit dan pengobatan (Pendleton dalam Jackson, 2004). Powerful others HLC tidak berhubungan dengan aspek compliance tersebut dapat
disebabkan karena masyarakat jarang sakit dan jarang berobat ke puskesmas sehingga mereka juga jarang mendapat informasi dari dokter atau bidan di puskesmas. Hal ini menyebabkan tidak ada kaitan aspek tersebut dengan keyakinan mereka bahwa orang lain yang mengontrol kesehatannya. Selanjutnya, pada chance HLC tidak diperoleh hubungan yang signifikan dengan semua aspek-aspek compliance). Hasil tersebut sudah konsisten dengan hasil penelitian terdahulu yang telah diuraikan sebelumnya.