• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Analisis Angket Sexual Self-Disclosure

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Lampiran 2 Hasil Analisis Angket Sexual Self-Disclosure

3) Menyusun skala sexual self-disclosure sesuai dengan hasil dari hasil analisis angket.

Tabel 1. Komponen Sexual Self-Disclosure

No. Tema Umum Komunikasi Seksual Komponen 1. Sentuhan fisik (80 responden) Perilaku seksual

Kode pada perilaku seks (49 responden) Hasrat seksual (45 responden)

Istilah/ gurauan/ pengandaian untuk perilaku seks (22 responden)

Menunjukkan/ menyentuh daerah sensitive (17 responden)

Istilah dan pengandaian tertentu pada fisik pasangan (6 responden)

Menggunakan istilah tertentu pada alat kelamin (6 responden)

Keintiman pasangan lain (1 responden) Hubungan seksual (35 responden) Melakukan phone seks/ Chatting seks (5 responden)

2. Gaya/ teknik berhubungan seks (35 responden)

Peningkatan kualitas hubungan Teknik membangkitkan gairah seksual

(20 responden)

Fantasi seks (10 responden) Penggunaan alat pengaman saat berhubungan seks (4 responden)

Merencanakan hal baru dalam hubungan ( 2 responden)

responden)

Kepuasan dan tidakpuasan seks (30 responden)

Hal-hal seksual yang disukai dan tidak disukai pasangan (18 responden)

Kekurangan & kelebihan fisik pasangan (34 responden) .

Mengungkapkan perasaan cinta dan kasih sayang (21 responden)

Memuji fisik pasangan (17 responden)

3. Kesehatan organ seksual (10 responden) Pandangan/Nilai terhadap

seksualitas Menstruasi pada perempuan (8

responden)

Batasan perilaku seks (7 responden) Membahas hal yang berkaitan dengan pornografi (6 responden)

Kehamilan (5 responden)

Larangan dalam suatu hubungan (3 responden)

Fenomena seksual (3 responden) Seks bebas (2 responden)

Seks menurut pandangan agama (1 responden)

Pendidikan seks (1 responden)

4. Pengalaman seksual (37 responden) Pengalaman seksual Keperawanan (10 responden)

Masturbasi (2 responden) Mimpi basah (1 responden)

c. Skala Sexual Self-Disclosure

Tujuan skala Sexual Self-Disclosure adalah untuk mengukur apakah seseorang mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas pada pasangannya. Skala Sexual Self-Disclosure disusun sendiri oleh peneliti yang terdiri dari komponen perilaku seksual, peningkatan kualitas hubungan, pandangan/ nilai seksualitas, dan pengalaman seksual.

Skala Sexual Self-Disclosure diukur menggunakan skala Likert dengan empat pilihan jawaban, yaitu: Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Dalam metode penskalaan Likert, isi pernyataan dibedakan menjadi dua kategori: (1) pernyataan favorable, yaitu pernyataan yang mengidentifikasikan perilaku yang diuji; dan (2) pernyataan unfavorable, yaitu pernyataan yang tidak mengidentifikasikan perilaku yang diuji. Sistem penilaian skala Sexual Self-Disclosure yaitu, untuk item yang bersifat favorable

skor 1=Sangat Tidak Sesuai; 2=Tidak Sesuai; 3=Sesuai; 4=Sangat Sesuai. Sebaliknya, untuk item yang bersifat unfavorable skor 1=Sangat Sesuai; 2=Sesuai; 3=Tidak Sesuai; dan 4=Sangat Tidak Sesuai.

Tabel 2. Blue Print Try Out Skala Sexual Self-Disclosure Komponen Uraian Isi Sub.

Konsep Nilai persentasi /item Jumlah 1. Perilaku seksual 1-10 1 (2,5 %) 25 % (10) 2. Peningkatan Kualitas Hubungan 11-20 1 (2,5 %) 25 % (10) 3. Nilai/ Pandangan terhadap seksualitas 21-30 1 (2,5 %) 25 % (10) 4. Pengalaman Seksual 31-40 1 (2,5 %) 25 % (10) Jumlah 100 %

F. Uji Coba Alat Ukur 1. Subjek

Uji coba dilakukan pada kriteria subjek dewasa usia 18 – 40 tahun, dan memiliki status relasi menikah, sedang berpacaran, pernah berpacaran, maupun bertunangan. Peneliti menyebarkan angket yang terdiri dari 40 item kepada 40 orang subjek, yakni 20 orang subyek laki-laki dan 20 orang subjek perempuan. Hal ini dilakukan karena individu yang sedang menjalani sebuah hubungan akan memberikan pernyataan yang sesuai dengan hal yang sebenarnya terjadi dalam hubungan mereka saat ini, sehingga akan memvalidasi angket yang diberikan.

2. Pelaksanaan Uji Coba

Peneliti melakukan uji coba terhadap skala sexual self-disclosure

untuk mengukur validitas dan reliabilitas item-item pada skala. Uji coba dilakukan pada tanggal 1 - 8 Desember 2014. Subyek diminta mengisi angket secara pribadi dengan memberikan respon dengan merating (1=Sangat Tidak Setuju, sampai dengan 4=Sangat Setuju) pada setiap pernyataan. Hasil uji coba dianalisis menggunakan SPSS.

3. Seleksi Item

Seleksi item dilakukan dengan melihat daya beda atau daya diskriminasi. Berdasarkan hasil perhitungan Rit, terdapat kriteria item yang lolos dan item yang gugur. Item gugur yaitu item yang berada dibawah 0.30. Sedangkan item yang memiliki Rit ≥ 0.30 dinyatakan lolos seleksi.

Dari 40 item yang diuji cobakan, terdapat 23 item yang lolos dan 17 item yang gugur. Kemudian, peneliti kembali melakukan analisis reliabilitas terhadap 23 item yang telah lolos seleksi. Hasilnya menunjukkan 2 item kembali gugur dan 1 item digugurkan dikarenakan item dalam komponen tersebut sudah terwakili oleh item lain (lampiran 3). Berdasarkah hasil olah data SPSS, Skala Sexual Self-Disclosure terdiri dari 20 item yang bersifat favorable dan merupakan item terbaik yang lolos dari 40 item yang diuji cobakan. Skala ini terdiri dari komponen perilaku seksual, peningkatan kualitas hubungan, pandangan/ nilai seksualitas, dan pengalaman seksual. Keempat komponen ini sedikit berbeda dari

komponen dalam sexual self-disclosure yakni pikiran, perasaan, perilaku, dimana komponen perasaan kurang ditemukan dalam skala yang dibuat oleh peneliti. Akan tetapi, keempat komponen tersebut merupakan hasil yang ditemukan melalui hasil survey dan sudah mencakup apa yang ingin diteliti oleh peneliti.

Tabel 3. Distribusi Final Skala Sexual Self-Disclosure

Komponen Item

Perilaku seksual 4,5,9,11,20 = 5 item Peningkatan Kualitas Hubungan 3,6,10,12,15,17 = 6 item Nilai/ Pandangan terhadap seksualitas 1,7,13,16,18,19 = 6 item Pengalaman Seksual 2,8,14 = 3 item

Tabel 4. Blue Print Skala SSD Setelah Try Out Komponen Uraian Isi Sub.

Konsep Nilai persentasi /item Jumlah 1. Perilaku seksual 1-5 1 (5 %) 25 % (5) 2. Peningkatan Kualitas Hubungan 6-11 1 (5 %) 30 % (6) 3. Nilai/ Pandangan terhadap seksualitas 12-17 1 (5 %) 30 % (6) 4. Pengalaman Seksual 18-20 1 (5 %) 15 % (3) Jumlah 100 %

G. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas Skala

Validitas tes ialah mengukur sifat-sifat psikologis yang diukur dalam sebuah penelitian (Kerlinger, 2004). Selain itu, validitas digunakan untuk mengetahui apakah skala menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya (Azwar, 1999).

a) Skala Gaya Kelekatan (The Experiences in Close Relationship Revised)

Skala ECR-R yang digunakan dalam penelitian ini merupakan skala yang dikembangkan dari luar negeri, maka untuk memvalidasi isi skala ini diperlukan metode penerjemahan. Melalui metode ini diharapkan responden dapat memahami skala yang diberikan sehingga dapat memberikan respon-respon jawaban serupa dengan skala aslinya.

Metode terjemahan yang digunakan adalah Back-translation. Adapun langkah-langkah dalam melakukan back-translation, yakni seseorang yang menguasai ilmu Psikologi dan yang ahli berbahasa Inggris menerjemahkan skala ECR-R dalam bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, pada penelitian ini ialah Bapak C. Siswa Widyatmoko, M. Psi. Selanjutnya, sebanyak 36 item pada skala ECR- R bahasa Indonesia tersebut diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris oleh penerjemah kedua yang tidak tahu tentang skala aslinya. Hal ini agar skala yang diterjemahkan tetap memiliki makna yang sama dengan skala aslinya. Penerjemah kedua ialah seseorang yang

pernah tinggal di luar negeri yang berbahasa Inggris minimal 2 tahun. Hasil terjemahan bahasa Inggris didiskusikan dan dibandingkan dengan skala ECR-R asli. Apabila sesuai, maka item-item skala dapat digunakan. Kemudian, melakukan try out terhadap skala ECR-R pada karakteristik subjek yang diinginkan, yaitu individu dewasa. Try out

dilakukan dengan memberikan skala pada subjek untuk melihat apakah subjek memahami item pada skala. Apabila terdapat item yang kurang dipahami, maka akan dilakukan perbaikan sesuai dengan yang dipahami oleh subjek. Proses penerjemahan dengan metode back translation sampai dengan try out skala merupakan validasi isi dari skala yang digunakan dalam penelitian ini.

Dalam usaha untuk melihat validitas ECR-R asli, beberapa peneliti telah melakukan penelitian yakni mengukur validitas ECR-R dan RQ (Relationship Questionnaire). Hasilnya, ECR-R dan RQ mengukur dimensi kelekatan yang sama, dimana dimensi anxiety pada ECR-R dan RQ memiliki hubungan rata-rata yang positif r(80)= .69 p < 0.001 dan dimensi avoidant memiliki hubungan r(80)= .45 p < 0.001. Kemudian, item pada ECR-R dan RQ dicek dengan metode semantik diferensial yang digunakan pada Diary untuk mengukur persepsi dalam hubungan. Hasilnya, item semantik difensial yang digunakan pada pengukuran metode Diary memiliki dimensi yang sama dengan pengukuran ECR-R dan RQ (Sibley & Liu, 2005).

b) Skala Sexual Self-Disclosure

Untuk skala Sexual Self-Disclosure peneliti menggunakan validitas isi. Validitas isi dilakukan dengan menyesuaikan item-item dalam skala dengan aspek-aspek yang diukur dan kesesuaian dengan

blue print. Penilaian dilakukan secara kualitatif dan judgmental yang dilakukan oleh seorang ahli, yang dalam penelitian ini adalah Dosen Pembimbing Skripsi.

2. Reliabilitas Skala

Menurut Kerlinger (2004) sebuah pengukuran bisa bersifat stabil, relatif, dan dapat diramalkan, atau bisa jadi tidak stabil, tidak relatif, dan tidak dapat diandalkan. Oleh karena itu sebuah pengukuran dapat dikatakan reliabilitas apabila memiliki stabilitas, mampu dipercaya, mampu diprediksi, dan akurat sebagai instrumen dalam penelitian. Azwar (1999) menyatakan bahwa reliabilitas berfungsi untuk menunjukkan konsistensi atau keterpercayaan hasil ukur. Pada penelitian ini untuk menentukan reliabilitas skala digunakan koefisien alpha (α) dari Cronbach. a) Skala Gaya Kelekatan (The Experiences in Close Relationship

Revised)

Sibley & Liu (2005) melakukan test-retest pada stabilitas skala ECR-R selama 3 minggu. Hasilnya, skala ECR-R memiliki stabilitas yang tinggi. Walaupun telah diketahui reliabilitas skala aslinya, namun koefisien reliabilitas untuk subjek penelitian ini tetap diperlukan. Hal ini dikarenakan subjek yang dijadikan dasar pengujian reliabilitas alat

ukur yang asli berbeda dengan kelompok subjek dalam penelitian ini. Oleh karena itu, perlu diuji reliabilitas skala yang sesuai dengan subjek dalam penelitian. Hasilnya, skor alpha cronbach pada skala gaya kelekatan adalah 0.864. Hal ini menunjukkan bahwa skala yang digunakan memiliki reliabilitas yang tinggi.

Tabel 5. Reliabilitas Skala ECR-R Cronbach's

Alpha N of Items

.864 36

b) Skala Sexual Self-Disclosure

Berdasarkan hasil perhitungan alpha cronbach ditunjukkan bahwa pada skala sexual self-disclosure terdapat perbedaan terhadap perhitungan antara keseluruhan item yang baik maupun kurang baik yakni 0.853 dengan perhitungan item yang baik atau final 0.916. Hal ini menunjukkan bahwa item-item yang telah direvisi semakin menunjukkan alpha cronbach yang lebih tinggi dibanding dengan item-item yang masih memiliki item baik dan kurang baik. Dengan demikian, 20 item-item yang sudah lolos seleksi merupakan item yang baik dan reliabel.

H. Metode Analisa Data 1. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

Uji Normalitas digunakan untuk melihat apakah data penelitian berasal dari populasi yang sebarannya normal. Jika nilai p > 0,05 maka disimpulkan bahwa data memiliki sebaran data yang normal, sedangkan jika data memiliki nilai p < 0,05 maka disimpulkan bahwa data tidak memiliki sebaran data yang normal (Santoso, 2010).

b. Uji Linearitas

Uji linearitas digunakan untuk melihat apakah model yang dibangun mempunyai hubungan linear atau tidak. Asumsi ini menyatakan bahwa hubungan antar variabel yang diukur mengikuti garis lurus. Jadi, peningkatan atau penurunan kuantitas di satu variabel akan diikuti secara linier oleh peningkatan atau penurunan kuantitas di variabel lain. Jika p < 0,05 maka terdapat hubungan yang linear antar variabel. Sebaliknya, apabila p > 0,05 maka terdapat hubungan yang tidak linear atau hubungan antar variabel tersebut lemah (Santoso, 2010).

2. Uji Hipotesis a. Uji Korelasi

Uji korelasi digunakan untuk melihat kecenderungan pola dalam suatu variabel berdasarkan kecenderungan variabel lain. Jadi, ketika satu variabel memiliki kecenderungan untuk naik maka

kecenderungan variabel naik juga akan naik. Sebaliknya jika satu variabel memiliki kecenderungan untuk turun maka variabel lain juga akan turun (Santoso, 2010). Pada teknik korelasi, koefisien korelasi bergerak dari -1 sampai +1 untuk menunjukkan hubungan antar variabel memiliki korelasi negatif atau positif. Jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel sama besar atau mendekati besarnya kenaikan kuantitas dari suatu variabel dalam satuan SD, maka korelasi kedua variabel akan mendekati 1. Sedangkan jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel sama besar atau mendekati besarnya penurunan kuantitas dari suatu variabel dalam satuan SD, maka korelasi kedua variabel akan mendekati -1 (Santoso, 2010).

43

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Persiapan Penelitian

Sebelum melakukan penelitian, peneliti mempersiapkan alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian. Pada skala gaya kelekatan, peneliti menggunakan metode back translation. Dalam metode ini, skala ECR-R dalam bahasa Inggris diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh ahli. Skala ECR-R diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris oleh penerjemah. Penerjemah kedua ialah seseorang yang pernah tinggal di luar negeri minimal 2 tahun dan yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu (America, British, Canada). Kemudian, melakukan try out terhadap skala ECR-R pada karakteristik subjek yang diinginkan, yaitu individu dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Try out dilakukan dengan tujuan untuk melihat apakah subjek memahami item pada skala.

Dalam upaya mempersiapkan skala sexual self-disclosure, peneliti terlebih dahulu melakukan survey mengenai bagaimana komunikasi tentang seksual yang ada pada dewasa berpacaran. Survey dilakukan melalui on line

yakni menyebarkan angket melalui sebuah link dan of line yakni menyebarkan angket kepada responden berupa paper dan pencil. Adapun yang mengisi secara on line yaitu 78 responden dan secara of line yaitu 33 responden, dimana 1 responden mengembalikan angket kosong. Total responden yang dianalisis berjumlah 110 yang terdiri dari 52 responden laki-laki dan 58

responden perempuan. Selanjutnya, peneliti melakukan analisis yang menggunakan prinsip kualitatif untuk mendapatkan indikator dan item pada

sexual self-disclosure. Peneliti menyusun skala sexual self-disclosure

berdasarkan hasil analisis yang menggunakan prinsip kualitatif. Kemudian, peneliti melakukan try out terhadap skala sexual self-disclosure untuk usaha validitas dan reliabilitas skala. Setelah itu, skala dapat digunakan untuk penelitian.

B. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilakukan dari tanggal 12 - 30 Desember 2014. Pengambilan data dilakukan dengan cara menyebarkan skala kepada 104 subjek, yakni 52 orang laki-laki dan 52 orang perempuan dewasa yang sedang berpacaran. Untuk menjaga kerahasian data subjek dan memberikan kenyamanan kepada subjek dalam mengisi skala, peneliti memberikan waktu kepada subjek untuk mengisi secara pribadi. Hal ini dilakukan pula untuk mengurangi faking good

maupun faking bad pada subjek. C. Data Demografik Subjek

Tabel 6. Kategori Subjek Berdasarkan Usia

Usia (tahun) Jumlah Persentase

18 3 2.88 % 19 1 0.96 % 20 4 3.84 % 21 22 21.15 % 22 33 31.73 % 23 16 15.4 % 24 6 5.77 % 25 9 8.65 % 26 3 2.88 % 27 2 1.93 % 28 2 1.93 %

29 1 0.96 %

30 1 0.96 %

32 1 0.96 %

Total 104 subjek 100 %

Subjek dalam penelitian ini rata-rata adalah dewasa awal dengan rentang usia 18-32 tahun. Subjek terbanyak dalam penelitian ini adalah usia 22 tahun (31.73 % ) sedangkan subjek paling sedikit adalah usia 19 tahun, 29 tahun, 30 tahun, dan 32 tahun dengan masing-masing persentase 0.96 %. Tabel 7. Kategori Subjek Berdasarkan Lama Hubungan Berpacaran

Lama Hubungan Berpacaran Jumlah Persentase ≥ 1 tahun 38 36.53 % 2 tahun 25 24.03 % 3 tahun 15 14.42 % 4 tahun 16 15.39 % 5 tahun 6 5.77 % 6 tahun 2 1.93 % 7 tahun 2 1.93 % Total 104 subjek 100 %

Subjek yang terlibat dalam penelitian ini memiliki status lama hubungan berpacaran ≥ 1 – 7 tahun. Status hubungan berpacaran paling banyak dalam penelitian ini ialah empat tahun (15.39 %) sedangkan status hubungan paling sedikit ialah 7 tahun (1.93 %).

D. Deskripsi Data Penelitian

Berdasarkan rumus rating scale Azwar (2004) dengan menggunakan

mean dan standar deviasi, maka deskripsi data penelitian kategori skala gaya kelekatan dan skala sexual self-disclosure, sebagai berikut:

1) Skala Gaya Kelekatan

Skor maksimal subjek : 7 x 36 = 252 Skor minimal subjek : 1 x 32 = 32

Rumus Mean Teoritis

µ = ½ (skor maksimal item+ skor minimal item)K µ = ½ (7+1)36= 144

Rumus Satuan Standar Deviasi

σ = (1/6( skor maksimal subjek – skor minimal subjek) σ = 1/6 (252-32)= 37

Keterangan : K : total item µ : mean teoritis

σ : satuan standar deviasi

Rumus Kategori Skor

Rendah : x < µ -1.0(σ)

Sedang : (µ-1.0(σ)) ≤x < (µ+1.0(σ)) Tinggi : (µ+1.0(σ)) ≥ x

Kategori Skor Gaya Kelekatan Subjek

Rendah : 144- (1.0x(37))= 107 maka Rendah : 37 - 106 Sedang : 144+(1.0x(37))= 181 maka Sedang : 107 - 180 Tinggi : 181-252 maka Tinggi : 181 – 252

Tabel 8. Skor Subjek Pada Skala Gaya Kelekatan Gaya Kelekatan Kategori Total Rendah (Secure) Sedang (Secure -Insecure) Tinggi (Insecure) Laki-laki 12 23.08 % 40 76.92 % 0 0 % 100 % Perempuan 24 46.15 % 28 53.85 % 0 0 % Total 36 34.62 % 68 65.38 % 0 0 %

2) Skor Sexual Self-Disclosure

Skor maksimal subjek: 4 x 20 = 80 Skor minimal subjek: 1 x 20 = 20

Mean Teoritik SSD

µ= ½ (4+1)20= 50

Standar Deviasi SSD

σ= 1/6 (80-20)= 10

Kategori Skor Gaya Kelekatan Subjek

Rendah : 50- (1.0x(10))= 40 maka Rendah : 10 - 39 Sedang : 50+(1.0x(10))= 60 maka Sedang : 40 - 59 Tinggi : 80 maka Tinggi : 60 – 80 Tabel 9. Skor Subjek Pada Skala Sexual Self-Disclosure

Sexual Self- Disclosure

Kategori Total

Rendah Sedang Tinggi Laki-laki 5 9.61 % 33 63.46 % 14 26.93 % 100 % Perempuan 12 23.08 % 33 63.46 % 7 13.46 % Total 17 16.34 % 66 63.46 % 21 20.20 %

Berdasarkan data di atas, pada skala gaya kelekatan, skor terbanyak baik subjek laki-laki dan perempuan yakni berada pada skor sedang, yakni 65.38 %. Hal ini menunjukkan bahwa subjek pada penelitian ini cenderung memiliki gaya kelekatan yang kadang merasa aman (secure) dan kadang merasa tidak aman dengan pasangannya (insecure). Menariknya adalah tidak seorang pun subjek yang tergolong memiliki skor tinggi pada kategori gaya kelekatan (insecure). Pada skala sexual self-disclosure, skor terbanyak baik subjek laki-laki dan perempuan berada pada skor sedang yakni 63.46 %. Hal ini menunjukkan bahwa subjek cenderung dapat mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan topik seksual pada pasangan.

E. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

Tabel 10. Uji Normalitas

Kolmogorov-Smirnova Sig.

Gaya_kelekatan .200*

SSD .025

Berdasarkan hasil analisis kolmogorov-smirnov dengan menggunakan SPSS 16.0 for Windows diperoleh nilai signifikansi pada gaya kelekatan sebesar 0.200. Hal ini menunjukkan bahwa nila p > 0.05 sehingga disimpulkan data berdistribusi normal. Kemudian, pada sexual self-disclosure, nilai signifikansi yang diperoleh yaitu 0.025 atau p < 0.05 sehingga disimpulkan data tidak berdistribusi normal.

Menurut Santoso (2010), sebuah data yang tidak memiliki distribusi normal disebabkan karena adanya Outlier yakni titik yang berada jauh dari keadaan subjek lainnya. Beberapa hal yang dapat menyebabkan munculnya outlier yakni,

(i) Kesalahan entri data.

(ii) Keadaan tertentu yang mengakibatkan error pengukuran yang cukup besar (misalnya subjek yang tidak kooperatif dalam penelitian sehingga mengisi tes tidak dengan sungguh-sungguh). (iii) Keadaan istimewa dari subjek yang menjadi outlier.

Dalam penelitian ini, kemungkinan outlier berasal dari keadaan subjek, baik subjek yang tidak kooperatif maupun keadaan istimewa dari subjek. Akan tetapi, outlier dalam penelitian ini cukup banyak. Hal ini juga didukung oleh beberapa observasi dari subjek penelitian yang mengatakan bahwa subjek bingung dalam merespon skala sexual self-disclosure karena tidak pernah melakukan perilaku seksual pada pasangan. Kemungkinan lain, subjek bersikap tidak kooperatif karena merasa tidak nyaman memberikan respon yang sebenarnya, sehingga subjek cenderung melakukan social desirability, yakni memberikan respon positif yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku tetapi tidak sesuai dengan keadaan subjek yang sebenarnya. Hal ini dapat terjadi dikarenakan topik dalam skala ini memiliki karakteristik yang sensitif bagi beberapa kalangan, khususnya dewasa di Indonesia.

b. Uji Linearitas

Hasil uji Lineritas antara gaya kelekatan dan sexual self- disclosure memiliki signifikansi 0.341. Hal ini menunjukkan bahwa gaya kelekatan dan sexual self-disclosure memiliki hubungan yang tidak linier karena signifikansinya lebih besar dari 0.05. Akan tetapi, apabila dilihat dari baris deviation from linearity yang merupakan bagian yang tidak mengikuti garis linier, antara gaya kelekatan dan

sexual self-disclosure memiliki hubungan yang linier karena signifikansinya lebih besar dari 0.05, yakni 0.363. Hal ini dikarenakan ada sebagian data yang mengikuti pola hubungan yang tidak linier. Sebaliknya, jika deviation from linearity juga signifikan maka hubungan antar variabel sepenuhnya mengikuti pola linier (Santoso, 2010).

Tabel 11. Uji Linieritas

ANOVA Table Sig. SSD * Gaya_kelekatan Between Groups (Combined) .366 Linearity .341

Bagan 2. Scatter Plot Hubungan Gaya Kelekatan dan Sexual Self- Disclosure

Berdasarkan grafik pada scatter plot di atas, dapat dilihat bahwa data tampak memiliki jarak yang relatif dekat dengan garis. Namun, terlihat pula beberapa outlier sehingga data menjadi tampak tidak linier. Kesimpulannya, data memiliki hubungan yang linier namun lemah.

2. Uji Hipotesis

Tabel 12. Uji Hipotesis

Correlations Gaya_kelekatan SSD Spearman' s rho Gaya_keleka tan Correlation Coefficient -.117 Sig. (1-tailed) .119 SSD Correlation Coefficient -.117 1.000 Sig. (1-tailed) .119

Pada uji hipotesis penelitian ini, teknik yang digunakan adalah teknik korelasi Spearman. Hal ini dikarenakan hasil data tidak normal pada skala sexual self-disclosure dan tidak menunjukkan hubungan yang linier antar variabel. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa antara gaya kelekatan dan sexual self-disclosure memiliki korelasi yang negatif namun sangat lemah, yakni -0.117 dengan sigfikansi sebesar 0.119.

Hasil hipotesis penelitian memiliki arah yang negatif, namun hasil ini hanya berlaku di dalam sampel penelitian. Artinya, tingginya skor gaya kelekatan (bahwa seseorang memiliki kelekatan insecure) diikuti oleh rendahnya skor sexual self-disclosure yakni menunjukkan seseorang tidak mampu mengkomunikasikan hal-hal terkait seksual dengan pasangan, dan sebaliknya. Akan tetapi, hasil ini tidak dapat digeneralisasikan pada populasi karena signifikanasi kedua variabel lebih besar daripada taraf signifikansi dalam populasi (p > 0.05). Kesimpulannya, hipotesis dalam penelitian ini memiliki korelasi negatif, sangat lemah, dan tidak signifikan. Maka, hipotesis penelitian ditolak.

F. Analisis Tambahan

Dalam penelitian ini, peneliti juga menganalisis berdasarkan data demografik subjek, yakni dengan membedakan tingkat gaya kelekatan dan

sexual self-disclosure berdasarkan jenis kelamin. Peneliti menggunakan uji beda untuk melihat perbedaan gaya kelekatan dan sexual self-disclosure antara laki-laki dan perempuan. Subjek laki-laki sebanyak 52 orang dan subjek perempuan sebanyak 52 orang.

Hasil penelitian terhadap variabel gaya kelekatan antara subjek laki- laki dan perempuan menunjukkan signifikansi sebesar 0.007 atau < 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan gaya kelekatan antara subjek laki-laki dan perempuan. Berdasarkan data dalam penelitian ini, ditunjukkan bahwa laki-laki lebih memiliki skor tinggi pada skala gaya kelekatan (76.92 %) dibandingkan perempuan (53.85 %). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Monteoliva dkk (2012) yang menemukan bahwa laki-laki dan perempuan yang sama-sama memiliki kelekatan dismissive, namun memiliki perbedaan dalam mengekpresikan perasaan. Laki-laki memiliki sikap yang negatif dalam mengekpresikan perasaannya pada pasangan, sedangkan perempuan memiliki sikap yang positif dalam mengekpresikan perasaannya pada pasangan. Selain itu, ditemukan bahwa perempuan menunjukkan kenyamanan yang lebih baik dalam hal keterbukaan dan lebih nyaman dengan hubungan yang mereka jalani dibandingkan dengan laki-laki (Hazan & Shaver, 1987).

Pada variabel sexual self-disclosure, nilai signifikansi antara subjek laki-laki dan perempuan sebesar 0.009 atau < 0.05, sehingga disimpulkan terdapat perbedaan sexual self-disclosure antara subjek laki-laki dan perempuan. Berdasarkan data pada penelitian ini, ditunjukkan bahwa laki-laki lebih mampu dalam melakukan sexual self-disclosure (26.93 %) dibandingkan perempuan (13.46 %). Hal ini dapat dikarenakan perempuan lebih bersikap pasif dalam hal seksualitas (Deutsch, 1930; dalam Kartono, 2006). Hasil ini

Dokumen terkait