• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Analisis dan Pembahasan

Dalam dokumen TESIS. Oleh. Juliamer Damanik /MAG (Halaman 59-72)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Hasil Analisis dan Pembahasan

Hasil pengujian hipotesis diperoleh dengan menggunakan analisa regresi logistik.

Agar tidak mempengaruhi reprensentatif hasil pengolahan data,maka data yang merupaka outlier tidak diturutkan dalam proses analisis, sehinggajumlah sampel yang diolah hanya yang memenuhi syarat batasan operasional yaitu 114 petani dengan menggunakan binary logistik regressionyang dapat dijelaskan sebagai berikut.

Sesuai dengan hipotesis awal, ada tujuh variabel independen yang mempengaruhi keputusan petani melakukan alih fungsi lahan sawah ke lahan kelapa sawit di Kabupaten Rokan Hilir yaitu : tingkat pendidikan (𝑋1), luas lahan (𝑋2), ketersediaan air irigasi (𝑋3), rasio pendapatan (𝑋4), ketersediaan modal (𝑋5), pengetahuan tentang Undang-undang/Peraturan tentang tata kelola lahan (𝑋6) dan frekwensi panen (𝑋7).

Data diolah dengan software SPSS, diperoleh hasil yang tidak sempurna, dimana terdapat beberapa data atau variabel yang multikolinier yaitu variabel 𝑋3 ( ketersediaan air dengan 𝑋4 (rasio pendapatan) dan variabel 𝑋3 (ketersediaan air) dengan frekwensi panen (𝑋7). Dimana dari hasil deteksi dengan metodeVariance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance pada Lampiran 7diperoleh VIF variabel ketersediaan air (𝑋3) 3,833, frekwensi panen(𝑋7) 3,552.

Sedangkan batas maksimal nilai VIF untuk mendeteksi suatu persamaan regresi memiliki multikolinier atau tidak, dengan melihat VIF dari masing – masing variabel,dimana VIF variabel ketersediaan air dan variabel frekwensi panen lebih besar dari 2,77 sebagai batas maksimum VIF. Variabel 𝑋6 (pengetahuan tentang undang-undang) merupakan data outlierskarena datanya tidak bervariasi

(Lampiran 5), sehingga variabel yang dianalisis, yaitu𝑋1( tingkat pendidikan), 𝑋2

(luas lahan ), 𝑋4 (rasio pendapatan) dan 𝑋5 (ketersediaan modal). Hasil pengolahan data untuk 114 petani sampel dengan menggunakan binary logistic regressiondapat dijelaskan sebagai berikut.

Dari hasil uji secara serempak dengan menggunakan Omnibus test, diperoleh Chi-Square 79,863, dimana p < 0,005 (0,00 < 0,05) yang berarti secara serempak

variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yang mengindikasikan bahwa sejumlah variabel independen mampu membedakan petani berkeinginan mengalihfungsikan atau tidak mengalihfungsikan (Lampiran 14).

Hosmer- Lemesshowadalah uji Goodness of Fit test dimana dari hasil pengolahan

data, diketahui nilai Chi-squere sebesar 12,707 pada taraf signifikansi 0,05 adalah sebesar 0,122, oleh karena nilai ini diatas 0,05 maka 𝐻0: K=0 ( 1-β); yang artinya 𝐻0tidak dapat ditolak karena tidak ada perbedaan signifikan antara model dengan nilai observasi (tidak ada perbedaan signifikan distribusi data dengan distribusi logistik), maka persamaan regresi ini dinyatakan fit dan diterima ( Table Hosmer and Lemeshow pada lampiran 14).

Pada Classification Tabledarihasil pengolahan data, menunjukkan bahwa Nilai overal Percentage cukup baik sebesar 87,7 %. Ini menunjukkan bahwa dari hasil observasi secara keseluruhan mampu diprediksi oleh parameter yang dipilh dengan baik. Begitu juga bila dilihat secara detail, tingkat kemampuan parameter yang dipilih untuk memprediksi hasil observasi yang bernilai 1 maupun yang bernilai 0 juga baik. Dimana untuk observasi yang bernilai 1 (yang mengalih fungsikan), 89,1% mampu diprediksi oleh parameter yang dipilih, sedangkan

observasi yang bernilai 0 (yang tidak mengalihfungsikan ), 86,4% mampu di prediksi oleh parameter yang dipilih (Lampiran 14).

Tabel 11. Pengaruh Variabel Independen terhadap Keputusan Petani

No Variabel Sumber : Data Primer diolah ( lampiran 14)

Dari hasil olahan data pada Tabel 11, diperoleh hasil persamaan sebagaiberikut:Zi = Ln ( 𝑝𝑖

1βˆ’π‘ƒπ‘–) = -46,002 – 0,097X1 + 0,660X2 + 5,748X4 + 21,402 X

hanya satu variabel yang signifikan dalam memprediksi keputusan petaniuntuk mengalihfungsikan lahan sawahnya atau tidak :yaitu rasio pendapatan

5 + e

(𝑋4), sedangkan luas lahan (𝑋2), ketersediaan modal (𝑋5) dan tingkat pendidikan (𝑋1) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.

Dari hasil pengolahan data primer pada Tabel 11, dilakukan Uji Parsial (Uji Wald) dengan melihat nilai Ξ² dan exponen Ξ² pada variabel yang signifikan yakni variabel rasio pendapatan.

Pi = ( 0,98 )

ME = 5,748 x 0,98(1-0,98) =0,11

menunjukkan bahwa, rasio pendapatan naik 1, maka peluang untuk alih fungsi lahan naik sebesar 11%.Hal ini menunjukkan bahwa,faktor pendapatan merupakan faktor utama yang mempengaruhi keputusan petani dalam menentukan komoditi usahanya.Walaupun Hanizar (2012) dari hasil penelitiannya di Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara menyimpulkan bahwa faktor pendapatan tidak signifikan mempengaruhi keputusan petani .

Usahatani yang dikelolah petani bukan lagi berorientasi pada produk yang bersifat subsisten (memenuhi kebutuhan rumah tangga) sebagaimana yang selama ini terjadi pada petani tanaman pangan, melainkan sudah memilikijiwakewirausahaan yang berorientasi pada profit usahatani. Nilai signifikan variabel rasio pendapatan 0,00 yang nilainya lebih kecil dari 0,05 yang berarti, faktor rasio pendapatan secara signifikan mempengaruhi keputusan petani untuk mengalihfungsikan lahannya dari lahan sawah ke lahan tanaman kelapa sawit.

Namun secara deskripsi, rata-rata rasio pendapatan adalah 0,68 dengan pengertian secara rata-rata pendapatan petani sawah lebih besar dari petani kelapa sawit. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara hasil penelitian yang dilakukan secara inferensial dengan hasil penelitian yang dilakukan secara deskripsi.

Adapun faktor penyebab tersebut adalah informasi yang diperoleh melalui tanya jawab dengan petani sampel, dimana informasi yang diperoleh dari petani padi sawah (yang tidak mengalih fungsikan) hanya terbatas pada hasilpanen pada saat penelitian, dimana pada saat penelitian dilakukan bulan Pebruari sampai dengan bulanMaret 2016.

Rata-rata hasil produksi padi sawah petani pada musim tanam tersebut cukup bagus bila dibanding dengan musim tanam tahun sebelumnya dengan produksi rata-rata per ha adalah 4.750 kg dan harga GKPRp. 4.000per kg yang juga merupakan harga tertinggi dibanding harga GKP pada tahun sebelumnya terperinci pada Tabel 12.

Tabel 12. Daftar Harga Rata-Rata Gabah Kering Panen (GKP) di Tingkat Petani oleh Pihak Swasta di Kabupaten Rokan Hilir dari Tahun 2009 – 2015.

No Tahun

Harga Gabah Kering Giling ( Rp/Kg )

Sumber: Dinas Pertanian Dan Peternakan KabupatenRokan Hilir, 2015

Sedangkan pada tanaman kelapa sawit yang dikelolah oleh petani yang mengalihfungsikan produksinya hanya dihitung dalam kurung waktu 4 bulan dengan penyesuaian umur tanaman padi yang menjadi pembanding 4 bulan dengan patokan produksi dan harga pada saat penelitian tersebut. Diketahui bahwa harga TBS kelapa sawit cukup berfluktuasi dalam hitungan hari, dimana pada saat penelitian, harga per kg hanya berkisar Rp.1.150sampai dengan Rp.1.300sedangkan bila dilihat rata-rata harga TBS per kg pada Tahun 2010 yang merupakan masa penanaman tanaman kelapa sawit petani yang diteliti, berkisar antara Rp.1.060 sampaiRp.1.800 per kg dimana harga ini cukup memberikan peluang peningkatan pendapatan petani dengan potensi produktivitas 20 sampai 24 ton per ha pertahun. Disamping itu, kalau dilihat dari data harga TBS kelapa

sawit dalam kurung waktu delapan bulan sebelumnya yaitu dimulai dari harga TBS bulam Juli sampai dengan Desember 2015, harga rata-rata hanya mencapai Rp.615 dimana harga tertinggi Rp.900 dan terendah Rp.460 dan khusus pada bulan Agustus,September dan Oktober harga TBS berada pada harga dibawah rata-rata, terperinci pada Tabel 13.

Tabel 13. Daftar Harga Rata-Rata TBS di tingkat Petani dari Tahun 2009 – 2005 (Rp/Kg)

Sumber :Dinas Perkebunan Kabupaten Rokan Hilir, 2015

Dengan harga TBS seperti ini, mengakibatkan pendapatan petani kelapa sawit menurun, yang akhirnya berdampak pada kurangnya perawatan pada tanaman kelapa sawit milik petani.

Kurangnya perawatan akan menimbulkan dampak penurunan produksi enam bulan kedepan. Dimana yang seharusnya melakukan pemanenan buah yang terjadi hasil penyerbukan pada saat itu, tidak dapat memberikan hasil yang maksimal, sehingga akan menurunkan produktivitas kelapa sawit yang terjadi pada saat pelaksanaan penelitian ini.

Selain perawatan, pengaruh iklim juga sangat menentukan produktivitas tanaman kelapa sawit tersebut. Dengan terjadinya anomali iklim, berdampak pada kekeringan, yang mengakibatkan defisit air pada tanaman kelapa sawit, yang akhirnya terjadi penurunan produktivitas seperti yang dijelaskan melalui Tabel 14.

Tabel 14.Dampak Cekaman Kekeringan terhadap Kelapa Sawit

Sumber: Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2015.

Faktor umur tanaman, juga mempengaruhi tingkat produktivitas tanaman kelapa sawit, dimana sesuai dengan batasan operasional sampel yang terpilih untuk petani alih fungsi, adalah petani yang tanaman kelapa sawitnya berumur 5 sampai 8 tahun, dimana umur 5- 8 tahun merupakan umur tanaman yang menunjukkan produksi yang menaik (increasing). Selain itu, umur tanaman 5 – 8 tahun bobot TBS masih berada pada berat 6,7 – 12,7 kg /tandan dan bila di rata-ratakan bobot TBS hanya 9,7 kg per tandan. Dengan bobot TBS yang masih rendah, maka produktivitas juga pasti rendah seperti yang dijelaskan melalui Tabel 15.

Tabel 15. Hubungan Umur Tanaman Terhadap BobotTBS, Jumlah Tandan per pohon dan Produksi perpohom pertahun.

Umur

10 16,0 12,5 200,0

Sumber: Pusat Peneliatan Kelapa Sawit, 2015.

Untuk faktor pendidikan (sign= 0,463), luas lahan (sign= 0,295) dan ketersediaan modal (sign=0,997), ketiganya tidak signifikan mempengaruhi keputusan petani untuk mengalihfungsikan lahan sawahnya.Sedangkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Hanizar (2012) di Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara dengan menggunakan model regresi logit, disimpulkan bahwa faktor pendidikan dan faktor luas lahan berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani, begitu juga modal usaha, dari hasil penelitian yang dilakukan Gargaran (2011) secara signifikan mempengaruhi keputusan petani.

Secara deskriptif, diketahui bahwa petani di Rokan Hilir didominasi oleh petani yang berpendidikan SD sampai SMP dengan persentase 86,6%. Jadi kesimpulan hasil penelitian yang menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan petani terhadap keputusan petani untuk tidakmelakukan atau melakukan alihfungsi lahan sawahnya ternyata tidak berlaku secara umum khususnya bagi petani di daerah Kabupaten Rokan Hilir.

Dengan tidak signifikannya pengaruh faktor pendidikan terhadap keputusan petani, menununjukkan bahwa faktor pendidikan tidak dapat mengkontrol

produksi dan harga usahatani baik padi sawah maupun kelapa sawit. Dimana produktivitas dan harga merupakan unsur penentu untuk suatu pendapatan usahatani.

Begitu juga dengan luas lahan yang ditanami padi sawah, juga tidak secara nyata mempengaruhi keputusan petani untuk mengalihfungsikan lahannya. Dengan demikian kesimpulan hasil penelitian yang dilakukan oleh oleh Hanizar pada Tahun 2012 di Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara yang menyatakan bahwa faktorpendidikan formal petani dan luas lahan sawah yang dimiliki petani secara signifikan mempengaruhi keputusan petani untuk mengalihfungsikan atau tidak mengalihfungsikan lahan sawahnya ke lahan kelapa sawit tidak berlaku secara umum khususnya pada petani sawah di Kabupaten Rokan Hilir.

Untuk faktor ketersediaan modal, menurut Gargaran (2011) dari hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Labuhan Batu, menyimpulkan bahwa modal kerja mempengaruhi keputusan petani secara signifikan untuk mengalih fungsikan atau tidak mengalihfungsikan lahan sawahnya ke lahan kelapa sawit.

Namun dari kesimpulan dari hasil penelitian ini, bahwa faktor ketersediaan modal juga tidak berlaku secara umum termasuk bagi petani di daerah Kabupaten Rokan Hilir. Hal ini terlihat pada hasil wawancara di lapangan, masih ditemukan petani sampel yang tetap menanam padi sawah di lahannya walaupun memiliki kecukupan modal untuk melakukan penanaman kelapa sawit dimana dari 84 orang petani sampel yang memiliki kecukupan modal, terdapat 31 orang yang tidak melakukan alihfungsi (36,90%).Jadi hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh yang signifikan faktor kecukupan modal terhadap keputusan petani untuk

mengalihfungsikan lahannya, tidak berlaku pada petani padi sawah di Kabupaten Rokan Hilir.

Di Kabupaten Rokan Hilir, faktor yang signifikan yang mempengaruhi keputusan petani untuk mengalihfungsikan lahan sawah ke lahan kelapa sawit adalah faktor pendapatan. Hal ini, diakibatkan bahwa petani sawah di Kabupaten Rokan Hilir, merupakan petani yang telah lama berusahatani padi sawah, dengan menghadapi kendala baik faktor alam, resiko kegagalan panen, keterbatasan infrastruktur dan terlebih masalah pemasaran, membuat petani sulit sekali meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Sementara kecamatan lain yang merupakan kecamatan tetangga bagi kecamatan-kecamatan yang menjadi sentra produksi sawah, merupakan daerah sentra pengembangan kelapa sawit, seperti Kecamatan Bagan Sinembah, yang merupakan daerah trasmigrasi Pirsus kelapa sawit, dan berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, membuat petani sawah yang berada di kecamatan sentra padi sawah seperti Kecamatan Rimba Melintang, Bangko Pusaka, dan Kubu, termotivasi untuk menanam kelapa sawit dengan alasan menanam kelapa sawit lebih menguntungkan sehingga faktor pendapatan merupakan faktor yang paling mempengaruhi petani di Kabupaten Rokan Hilir untuk mengalihfungsikan lahan sawahnya ke lahan Kelapa Sawit.Dari Tabel 8, dapat dilihat laju pertumbuhan rumah tangga pertanian dari tahun 2003 sampai 2013 adalah negatif, sedangkan rumah tangga sektor perkebunan laju pertumbuhan positif 54,11 %.

Dari hasil analisis diatas, alasan utama petani untuk alihfungsi lahan adalah faktor pendapatan, dan ini seiring dengan harapan setiap individu untuk dapat mencapai kehidupan sejahtera. Petani padi sawah juga merupakan bagian dari

masyarakat yang mengharapkan kehidupan yang lebih baik, namun seiring dengan perjalanan waktu, petani sawah tidak menunjukkan kehidupan lebih baik.

Di Kabupaten Rokan Hilir, dari hasil informasi yang diperoleh dari petani kegitan alihfungsi ini, sudah mulai pada Tahun 2000 dan terus menunjukkan laju alihfungsi sampai Tahun 2012. Tentu kegiatan alihfungsi ini, merupakan ancaman bagi program ketahanan pangan dengan semakin menurunnya luas areal yang ditanami padi sawah, karena telah beralih ke kebun kelapa sawit.

Untuk merubah kebun kelapa sawit yang ditanam di lahan sawah untuk kembali ke usahatani padi sawah, sungguh tidak mungkin, dan jalan satu-satunya adalah mempertahankan lahan sawah yang ada disamping melakukan percetakan sawahbaru.

Percetakan sawah baru, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan membutuhkan porses yang panjang. Dalam upaya mempertahankan lahan sawah yang masih ada, tentu kembali kepada keputusan petani sebagai pemilik lahan sawah dan juga sebagai subjek pembangunan sebagaimana diamanahkan oleh Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992.

Sesuai dengan faktor yang signifikan mempengaruhi keputusan petani sawah untuk melakukan atau tidak melakukan alihfungsi lahan, adalah faktor pendapatan, maka konsep agribisnis merupakan salah satu acuan yang dapat diterapkan pada usahatani padi sawah.

Adapun konsep agribisnis ini, terdiri dari beberapa subsitem yaitu:

subsistem input yang meliputi ketersediaan sarana produksi ( pupuk, benih, dan alsitan), subsistem usahatani yang merupakan kegiatan usahatani, subsistem pengolahan, subsisten pasar dan subsistem penunjang (Firdaus, 2010).

Pada subbab landasan teori, Soekartawi(1995) menjelaskan bahwa pendapatan atau keuntungan merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya produksi. Sehingga peningkatan pedapatan dapat dilakukan melalui beberapa cara yakni : (1) peningkatan produktivitas melaluipenerapan teknologi, (2) efisiensi penggunaan input usahatani dengan teknologi dan alat mesin pertanian, (3) perbaikan infrastruktur yang mendukung dan (4) kebijakan harga gabah yang berpihak kepada petani.

Dalam upaya mencegah alihfungsi lahan yang terjadi di Rokan Hilir dan Indonesia secara umum, ada beberapa instansi yang terlibat dalam upaya ini, diantaranya dinas yang membidangi pengairan yang bertanggung jawab dalam perbaikan saluran primer dan sekunder. Dinas Perdagangan yang bertanggung jawah dalam hal pemasaran hasil produksi petani, dan steakholder yang lain khusus pada kegiatan off farm, dan perlu kita sadari bahwa permasalahan yang sering terjadi di sektor pertanian adalah pada kegiatan off farm yaitu pada subsistem input seperti kelangkaan pupuk dan harga yang tinggi, sementara pupuk subsidi yang ada hanya dikuasai oleh pengeceryang membuat harga diatas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Begitu juga subsistem pemasaran yang sering menjadi dilema buat petani, dimana pada umumnya petani selalu berada pada posisi tawar yang lemah, yang berdampak kerugian di pihak petani. Untuk meningkatkan posisitawar petani perlu upaya penguatan kelembagaan petani seperti kelompoktani yang bersatu dalam bentuk gapoktan dan koperasi, sehingga petani tidak lagi hanya sebagai penerima harga semata tetapi mampu menjadi pricemakeryang akhirnya dari hasil usaha padi sawah tersebut mampu memberi pendapatan yang lebih baik. sehingga

dalam upaya pemecahan masalah diatas dipelukan suatu power yang mampu mengkoordinasikan seluruh instansi terkait yaitu Bupati/Walikota ditingkat wilayah Kabupaten dan Kota, atau Gubernur ditingkat Propinsi.

Bila sistem agribisnis dapat diterapkan pada usaha padi sawah, maka akan memberikan suatu peluang yang berorientasi pada keuntungan di pihak petani, sehingga upaya menekan alihfungsi lahan sawah melalui peningkatan pendapatan usahatani dapat terwujud, yang akhirnya kekuatiran adanya gangguan ketahanan pangan khususnya beras akibat alihfungsi lahan tidak ada lagi.

Dalam dokumen TESIS. Oleh. Juliamer Damanik /MAG (Halaman 59-72)

Dokumen terkait