• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.3. Hasil Analisis Data

28 54,9 Perempuan 23 45,1 Usia terdiagnosa <5 tahun 12 23,5 5-10 tahun 24 47,1 >10 tahun 15 29,4 FAB L1 49 96,1 L2 2 3,9 L3 0 0 Hb awal <8 g/dl 19 37,3 8-12 g/dl 22 43,1 >12 g/dl 10 19,6 Leukosit awal <20.000/mm3 36 70,6 20.000-50.000/mm3 8 15,7 >50.000/mm3 7 13,7 Trombosit awal <20.000/mm3 13 25,5 20.000-100.000/mm3 28 54,9 >100.000/mm3 10 19,6 Remisi Ya 16 31,4 Tidak 35 68,6

5.1.3. Hasil Analisis Data

Sebelum pengolahan data dilakukan, terlebih dahulu dilakukan perhitungan sampel. Salah satu syarat pengolahan dengan Chi Square adalah sampel harus lebih dari atu sama dengan 30. Apabila jumlah sampel tidak memadai, maka pengolahan data dengan Fischer’s Exact Test.

Tabel 5.3. Hubungan Antara FAB pada Saat Terdiagnosa dengan Remisi

FAB Remisi Induksi Total p

Ya Tidak

L1 14(28,6) 35(71,4) 49(100) 0.094

L2 2(100) 0(0) 2(100)

Total 16(31,4) 35(68,6) 51(100)

p value = 0,094. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara FAB pada saat terdiagnosa dengan remisi.

Tabel 5.4. Hubungan Antara Kadar Hb pada Saat Terdiagnosa dengan Remisi

Kadar Hb Remisi Induksi Total p

Ya Tidak

<8 g/dl 4(21,1) 15(78,9) 19(100) 0.086 8-12 g/dl 6(6,9) 16(72,7) 22(100)

>12 g/dl 6(60) 4(40) 10(100)

Total 16(31,4) 35(68,6) 51(100)

p value = 0,086. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara kadar Hb pada saat terdiagnosa dengan remisi.

Tabel 5.5. Hubungan Antara Kadar Leukosit pada Saat Terdiagnosa dengan Remisi

Kadar Leukosit Remisi Induksi Total p

Ya Tidak <20.000/mm3 14(38,9) 22(61,1) 36(100) 0.200 20.000-50.000/mm3 1(12,5) 7(87,5) 8(100) >50.000/mm3 1(14,3) 6(85,7) 7(100) Total 16(31,4) 35(68,6) 51(100)

p value = 0,200. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara kadar leukosit pada saat terdiagnosa dengan remisi.

Tabel 5.6. Hubungan Antara Kadar Trombosit pada Saat Terdiagnosa dengan Remisi

Kadar Trombosit Remisi Induksi Total p

Ya Tidak <20.000/mm3 4(30,8) 9(69,2) 13(100) 0,799 20.000-100.000/mm3 8(28,6) 20(71,4) 28(100) >100.000/mm3 4(40) 6(60) 10(100) Total 16(31,4) 35(68,6) 51(100)

p value = 0,799. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara kadar trombosit pada saat terdiagnosa dengan remisi.

5.2. Pembahasan

Dari data demografi jenis kelamin, didapatkan bahwa jumlah pasien laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Namun, perbedaan jumlah ini tidak tampak mencolok antara jumlah pasien laki-laki (28 pasien) dengan jumlah pasien perempuan (23 pasien).

Berdasarkan kelompok umur, pasien LLA pada kisaran umur 5-10 tahun (24 pasien) merupakan pasien terbanyak dalam penelitian ini, kemudian diikuti dengan pasien kelompok umur >10 tahun (15 pasien) dan kelompok umur <5 tahun (12 pasien).

Dari hasil penelitian, juga dapat terlihat keberhasilan dalam terapi. Pasien yang berhasil mencapai masa remisi setelah dilakukan terapi induksi hanya 16 pasien (31,4%). Sedangkan sisanya, 35 pasien (68,6%), gagal mencapai masa remisi setelah dilakukan terapi induksi.

Berdasarkan distribusi hematologi, kebanyakan pasien yang datang ke RS HAM dengan kadar hemoglobin 8-12g/dl, kadar leukosit <20.000/mm3 dan kadar trombosit antara 20.000-100.000/ mm3. Kemudian dilanjutkan dengan kadar Hb <8g/dl, kadar leukosit >50.000/ mm3, dan kadar trombosit <20.000/ mm3. Hanya sebagian kecil pasien yang datang berobat dengan kadar Hb>12 dan kadar trombosit >100.000/ mm3. Hal ini mungkin disebabkan pada kadar Hb>12 dan kadar trombosit >100.000/ mm3, manifestasi klinis yang muncul belum begitu

parah dibandingkan yang lain. Pasien kebanyakan datang dengan keluhan epitaxis yang sering berulang dan sukar dihentikan.

Pada perbandingan klasifikasi FAB awal terdiagnosa dengan remisi, pengolahan data dengan menggunakan metode Fischer’s Exact Test sehingga didapat nilai p adalah 0,094. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara klasifikasi FAB pada saat terdiagnosa dengan remisi.

Pada perbandingan kadar Hb awal terdiagnosa dengan remisi, pengolahan data dengan menggunakan metode Chi Square sehingga didapat nilai p adalah 0,086. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara kadar Hb pada saat terdiagnosa dengan masa remisi.

Pada perbandingan kadar leukosit awal terdiagnosa dengan remisi, pengolahan data juga dengan menggunakan metode Chi Square kemudian didapat nilai p adalah 0,200. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara kadar leukosit pada saat terdiagnosa dengan remisi.

Pada perbandingan kadar trombosit awal terdiagnosa dengan remisi, pengolahan data juga dengan menggunakan metode Chi Square lalu didapat nilai p adalah 0,799. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara kadar trombosit pada saat terdiagnosa dengan remisi.

Menurut Advani (1999), rendahnya jumlah leukosit serta tingginya kadar Hb dan platelet menunjukkan faktor prognostik yang baik. Akan tetapi, pada penelitian ini tidak ditemukannya keterkaitan hubungan karena keberhasilan terapi juga sering dikaitkan dengan usia anak, keadaan umum berupa hepatomegali, splenomegali, maupun kelainan genetik (Shuster, et al., 1990). Selain itu, keberhasilan terapi juga dapat dihubungkan dengan perkembangan suatu negara. Pada negara yang maju, keberhasilan terapi LLA sangat tinggi, sekitar 85% ( Assumpcao, et al., 2013 ), sedangkan di negara berkembang atau negara yang berpendapatan rendah masih sangat tertinggal. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan tentang penyebab kanker, peran ilmu kesehatan masyarakat dalam pencegahan maupun keterlambatan dalam diagnosa ( Howard, et al., 2007).

kombinasi antara obat kemoterapi dapat menganggu hemostatis pada pasien LLA selama pengobatan. Oleh karena itu, pasien LLA sering mengalami pendarahan yang berujung pada trombositopenia, sehingga pasein LLA yang dalam masa pengobatan, sering mendapatkan transfusi trombosit yang berulang. Menurut Corazza et al (2006) dalam Rofinda (2012), transfusi trombosit yang berulang dapat menyebabkan terjadinya aloimunisasi yang akan membentuk aloantibodi, sehingga terjadilah proses penghancuran trombosit itu sendiri.

Adapun penyebab lain berupa jumlah sampel penelitian yang memenuhi syarat penelitian juga berpengaruh. Hal ini didukung dengan kurangnya tingkat kesadaran masayarakat dalam kepedulian pengobatan. Sehingga banyak ditemukan pasien yang pulang atas permintaan sendiri. Selain itu, pada saat pengambilan data, sistem birokrasi yang kurang baik, menyebabkan kurang lengkapnya data pasien. Selain sampel penelitian, faktor prognostik lain juga sangat bepengaruh terhadap tercapainya remisi, seperti jenis kelamin, usia terdiagnosa, maupun unsur genetik.

BAB 6

KESIMPULAN dan SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari proses dan hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh penulis, dapat diambil beberapa kesimpulan,berupa:

1. Dengan menggunakan metode Chi Square dan Fischer’s Exact Test

disimpulkan bahwa tidak adanya hubungan antara status hematologi anak penderita LLA sebagai faktor prognostik dengan remisi (p>0,05).

2. Insidensi tertinggi pada anak berusia 5-10 tahun, L1, Hb awal 8-12g/dl, leukosit <20.000 mm3, dan trombosit antara 20.000-100.000/mm3.

3. Tidak adanya hubungan antara status leukosit sebagai faktor prognostik pada LLA.

4. Tidak adanya hubungan antara sel blas sebagai faktor prognostik pada LLA. 5. Tidak adanya hubungan antara status hemoglobin sebagai faktor prognostik pada LLA.

6. Tidak adanya hubungan antara status platelet sebagai faktor prognostik pada LLA.

7. Pasien yang mencapai remisi dari Januari 2009 hingga Juni 2014 adalah 16 pasien (31,4%).

5.2. Saran

Setelah penulis menyelesaikan keseluruhan proses penelitian, maka dapat diungkapkan beberapa saran yang mungkin bermanfaat bagi semua pihak yang berhubungan dengan penelitian ini, yaitu:

1. Kepada pihak rumah sakit dan tenaga kesehatan yang berperan supaya lebih memperhatikan kelengkapan isi rekam medis karena penyakit LLA adalah penyakit yang memerlukan follow up yang panjang.

2. Kepada tenaga kesehatan yang mengurus rekam medis, agar dapat meningkatkan sistem birokrasi yang telah ada, terutama dalam menyusun dan menyimpan rekam medis sesuai pada tempatnya, walaupun sistem yang sekarang

3. Penelitian ini masih sangat sederhana, data yang diperoleh hanya terbatas pada RSUP. H. Adam Malik. Selain itu, jumlah sampel yang sedikit ini belum dapat digunakan untuk penelitian epidemiologi. Oleh karena itu, masih diperlukannya penelitian yang lebih besar dari ini.

Dokumen terkait