HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Sekolah
B. Analisis Data Penelitian
2. Hasil Analisis Keterampilan Menulis Puisi Siswa
Data yang ditampilkan oleh penulis merupakan data asli dari responden.
Penulis tidak mengubah sama sekali data yang telah dikirimkan oleh responden.
1) Analisis siswa 1 (Rayhan) MIPA 2
Di seluruh dunia dihantui akan kekhawatiran Dan aku pun juga ikut merasakannya
Oleh virus yang bentuknya sangat kecil Yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang Semua orang mengeluh
Akan rasa ketakutan dengan virus ini Hebatnya kau wahai virus corona Sampai sampai banyak negara yang memberlakukan lockdown wilayahnya Hanya untuk menghindarimu
Seberapa kuatnya dirimu Sebesar apapun jabatanmu Bahkan sekaya apapun dirimu
Tidak dapat menghindari virus sekecil ini Virus ini merupakan ciptaan tuhan
Yang hanya menunjukan Sedikit Kekuasaan dan kebesarannya Agar manusia dapat sadar Bahwa tuhan itu tidak tidur
Mengambil semua hartamu, kekuasaanmu Dan jabatanmu hanya sekejap dengan virus ini
Apakah dengan adanya virus ini kita akan taat kepada tuhan kita? Akankah kita menjauhi perbuatan maksiat yang dilarangnya? Semoga kita semua sadar dengan adanya virus Dan secepatnya hilang dari bumi tercinta ini
Berdasarkan aspek penilaian keterampilan menulis puisi yang diambil teorinya dari Burhan Nurgiantro, maka Rayhan mendapatkan skor tujuh untuk tema. Terbukti dari unsur yang terkandung dari setiap larik mengarah pada tema yang dimaksud. Seperti pada kutipan berikut,
“Hebatnya kau wahai virus corona”
Selanjutnya, skor empat untuk bait. Terbukti Rayhan membuat puisi lebih dari tiga bait atau lebih dari yang ditentukan oleh peneliti. Seperti pada kutipan berikut ini, /Di seluruh/ sampai /mata telanjang/ bait pertama, selanjutnya /semua orang/ sampai /menghindarimu/ bait kedua, /seberapa
57
kuat/ sampai /sekecil ini/ bait ketiga, /virus ini/ sampai /virus ini/bait keempat, dan /apakah/ sampai /tercinta ini/ adalah bait kelima.
Aspek penilaian diksi, Rayhan mendapat skor enam untuk diksi yang digunakan di dalam puisi tersebut. Terbukti diksi yang dipilih sangatlah tepat seperti semua orang rasakan. Berikut kutipannya “Di seluruh dunia dihantui akan kekhawatiran” kalimat tersebut menggambarkan seluruh manusia merasakan ketakutan yang luar biasa akibat adanya virus covid-19.
Aspek penilaian majas, Rayhan mendapat skor enam. Terbukti terdapat majas yang digunakan yaitu metafora “kekuasaannya dan kebesarannya”. Sebagaimana diketahui bahwa majas metafora adalah membandingkan dua objek yang berbeda namun memiliki sifat yang serupa.
Pada kutipan itu, peserta didik memakai /kekuasaan dan kebesarannya/
untuk menggambarkan kekuasaan dan kebesaran tuhan dalam mengatur segala kehidupan di muka bumi dan alam semesta.
Aspek yang
Covid datang ditahun 2019 hingga kini
Rakyat menyepelekan dia, tidak mematuhi perintah Semua yang di perintah hanya dianggap angin lalu Banyak korban yang terkena virus covid
Mereka bekerja baik siang maupun malam Dan menyimpan lelah dalam diri Mereka rela tak bertemu keluarga
58
Hanya untuk menyelamatkan banyak jiwa
Mereka rela berkorban untuk menyelamatkan jiwa Semangat mereka tidak pernah hilang
Mari bantu mereka untuk menyelamatkan dunia Dengan mematuhi protokol yang di perintahkan
Berdasarkan aspek penilaian keterampilan menulis puisi yang diambil teorinya dari Burhan Nurgiantro, maka Anisa mendapatkan skor tujuh untuk tema. Terbukti dari judul yang digunakan oleh Anisa Maharani adalah “Pelawan Covid” dan setiap unsur yang terkandung dari setiap larik mengarah pada tema yang dimaksud. Seperti pada kutipan “Covid datang ditahun 2019 hingga kini”
Selanjutnya, skor empat untuk bait. Terbukti Anisa membuat puisi dengan tiga bait sesuai dengan yang ditentukan oleh peneliti, dan dari bait pertama hingga bait ketiga masih berkaitan. Seperti pada kutipan berikut, /covid datang/ sampai /virus covid/ bait pertama, /mereka/ sampai /banyak jiwa/ bait kedua, dan /mereka rela/ sampai /perintahkan/ bait ketiga.
Aspek penilaian diksi, Anisa mendapat skor enam untuk diksi.
Terbukti pilihan kata yang digunakan di dalam puisi tersebut lazim yang terjadi pada saat pandemi seperti sekarang ini. Berikut kutipannya “Mereka rela tak bertemu keluarga, Hanya untuk menyelamatkan banyak jiwa”, kalimat tersebut mengungkapkan bahwa banyak tenaga kesehatan yang rela berkorban tenaga, waktu, pikirannya bahkan kesehatan dan keluarganya hanya untuk menyelamatkan pasien covid-19.
Aspek penilaian majas, Anisa mendapat skor enam. Terbukti ada majas yang digunakan, yaitu majas personifikasi “perintah hanya dianggap angin lalu”. Sebagaimana diketahui bahwa majas personifikasi merupakan gaya bahasa yang digunakan seolah-olah benda tersebut selayaknya manusia. Pada kutipan itu, peserta didik memakai /angin lalu/ untk menggambarkan perbandingan kondisi masyarakat yang “tidak bisa”
diberitahu akan bahaya virus tersebut. Oleh karena itu, kata “tidak bisa”
59
yang mewakili fenomena yang terjadi di masyarakat menjadi suatu keadaan yang coba dibandingkan dengan kondisi tersebut.
Aspek yang
3) Analisis Siswa 3 (Bachtiar) MIPA 1 Keadilan...
Itu hanya sebuah perkataan Tetapi Keadilan...
Tidak bisa si jual belikan
Kaulah yang menentukan,,,, Siapa yang salah dan yang benar
Kaulah yang menunjukkan kebenaran Dan juga menghukum yang salah Sayang seribu sayang..
Di Indonesia tidak demikian
Hanya berduitlah yang akan selalu benar Dan yang tidak berduit akan selalu disalahkan Indonesiaku...
Kapan kau selalu menerapkan keadilan Tanpa mementingkan jumlah uang Semoga keadilan indonesia bisa membaik...
Berdasarkan aspek penilaian keterampilan menulis puisi yang diambil teorinya dari Burhan Nurgiantro, maka Bachtiar mendapatkan skor satu untuk tema. Terbukti dari judul yang digunakan oleh Bachtiar Yusuf adalah “Keadilan” dan unsur yang terkandung dari setiap larik tidak
60
mengarah pada tema yang telah ditentukan oleh peneliti. Seperti kutipan berikut “Kapan kau selalu menerapkan keadilan”
Selanjutnya, skor empat untuk bait. Terbukti walaupun Bachtiar membuat puisi yang melenceng dari tema yang ditentukan, tetapi Bachtiar Yusuf membuat puisi dengan empat bait, dan dari bait pertama hingga keempat masih berkaitan satu sama lain. seperti pada kutipan berikut ini, /keadilan/ sampai /belikan/ adalah bait pertama, /kaulah/ sampai /yang salah/
bait kedua, /sayang/ sampai /disalahkan/ bait ketiga, dan /Indonesiaku/
sampai /membaik/ bait keempat.
Aspek penilaian diksi, Bachtiar mendapat skor enam untuk diksi.
Terbukti pilihan kata yang digunakan di dalam puisi tersebut lazim yang terjadi pada saat pandemi seperti sekarang ini. Berikut kutipannya “Mereka rela tak bertemu keluarga, Hanya untuk menyelamatkan banyak jiwa”,
Aspek penilaian majas, Bachtiar mendapat skor enam. Terbukti terdapat majas yang digunakan, yaitu majas metafora
“Kaulah yang menunjukkan kebenaran Dan juga menghukum yang salah”.
Sebagaimana diketahui bahwa majas metafora adalah membandingkan dua objek yang berbeda namun memiliki sifat yang serupa.
Pada kutipan itu peserta didik memakai /menunjukkan kebenaran dan juga menghukum yang salah/ untuk menggambarkan tuhanlah yang menunjukkan kebenaran dan tuhan pula yang menghukum yang melakukan kesalahan.
61
Nilai 17
X 100 25
= 68 – Cukup
4) Analisis siswa 4 (Vania) MIPA 1 PANDEMI COVID-19
lihatlah mereka
yang diserang tanpa sadar yang berniat tertawa bersama akhirnya terkurung di dalam sebuah kamar
hanya terdiam menikmati sinar
harus terisolasi dan akhirnya termenung menikmati kesendirian di dalam kamar dan hanya bisa berdoa dapat sembuh
ingin ku kembali ke masa lalu
dan berharap virus ini kembali pulang ku peluk mereka dengan rasa rinduku dan tak akan ku biarkan mereka menghilang.
Berdasarkan aspek penilaian keterampilan menulis puisi yang diambil teorinya dari Burhan Nurgiantro, maka Vania mendapatkan skor tujuh untuk tema. Terbukti dari judul yang digunakan oleh Vania Lystia Putri adalah “PANDEMI COVID-19” dan setiap unsur di dalam baitnya yang terkandung dari setiap larik mengarah pada tema yang telah ditentukan oleh peneliti. Seperti pada kutipan berikut “dan berharap virus ini kembali pulang”
Selanjutnya, skor empat untuk bait. Terbukti Vania membuat puisi dengan tiga bait sesuai dengan yang ditentukan oleh peneliti, dan dari bait pertama hingga bait ketiga masih berkaitan dan mengarah pada tema yang dimaksud. Berikut kutipannya, /lihatlah/ sampai /kamar/ bait pertama, /hanya/ sampai /sembuh/ bait kedua, dan /ingin/ sampai /menghilang/ bait ketiga.
62
Aspek penilaian diksi, Vania mendapat skor enam untuk diksi.
Terbukti pilihan kata yang digunakan di dalam puisi tersebut yang diungkapkan oleh penulis sama seperti yang dirasakan oleh semua orang.
Berikut kutipannya “ingin ku kembali ke masa lalu” masa lalu yang terdapat di dalam puisi tersebut maksudnya adalah kehidupan yang normal seperti sediakala sebelum adanya virus covid-19 yang mengubah segala-galanya.
Aspek penilaian majas, Vania mendapatkan skor enam. Terbukti terdapat majas hiperbola yang digunakan di dalam puisi yang dibuat.
Berikut kutipannya “yang diserang tanpa sadar”. Seperti diketahui bahwa majas hiperbola merupakan gaya bahasa yang digunakan saat membandingkan sesuatu dengan sesuatu lain yang tidak masuk akal. Pada kutipan itu, peserta didik memakai /diserang/ untuk menggambarkan betapa ganasnya virus corona tersebut terhadap siapapun.
Aspek yang
5) Analisis siswa (Ahmad) MIPA 1 Pandemi belum berakhir
Berita penyakit yang membuat pikiran ku ambigu Sangat banyak tersebar di berbagai media
Pada akhirnya aku libur dua minggu Dengan kondisi tidak apa apa Liburku terus menerus diperpajang
63
Dari kasus pertama hingga vaksin sudah ada Tugas tugas berjejer dengan panjang
Dan aku harus terus mengerjakan yang ada
Sampai saat ini pandemi belum juga berakhir Sampai pulang kampung harus menjadi mimpi lagi Banyak yang pulang kampung tanpa mikir mikir
Dan mengakibatkan jalan ramai lagi
Di Negara lain kasus semakin memanas Dari situ bisa menjadi pembelajaran Puasa saat ini tidak terlalu panas
Lalu orang orang berbelanja dan menyebabkan kerumunan
pandemi membuat semua orang sengsara tidak pandang bulu dari jabatannya
dari orang kaya yang punya banyak sarana sampai orang bawah juga terkena semuanya
pandemi bukan hanya menyerang dalam segi penyakit pandemi juga menyerang ekonomi
dari orang yang yang melanggar jadi sakit dan orang orang baik juga ikut terbasmi
vaksin memang membuat perlidungan dari garda terdepan hingga rakyat biasa kita harus saling berpegangan tangan
agar covid tidak bisa menyerang kita semua
Berdasarkan aspek penilaian keterampilan menulis puisi yang diambil teorinya dari Burhan Nurgiantro, maka Ahmad mendapatkan skor tujuh untuk tema. Terbukti dari judul yang digunakan oleh Ahmad Ravialy Vanevy adalah “Pandemi belum berakhir” dan setiap unsur yang terkandung dari setiap larik mengarah pada tema yang telah ditentukan oleh peneliti.
Berikut kutipannya “Sampai saat ini pandemi belum juga berakhir”
Selanjutnya, skor empat untuk bait. Terbukti Ahmad membuat puisi dengan lebih dari tiga bait, dan dari bait pertama hingga bait terakhir masih berkaitan. Berikut kutipannya, /berita/ sampai /apa/ bait pertama, /liburku/
sampai /ada/ bait kedua, /sampai/ sampai /lagi/ bait ketiga, /Di Negara/
sampai /kerumunan/ bait keempat, /pandemi/ sampai /semuanya/ bait kelima, /pandemi/ sampai /terbasmi/ bait keenam, dan /vaksin/ sampai /semua/ bait ketujuh.
64
Aspek penilaian diksi, Ahmad mendapat skor empat untuk diksi.
Terbukti pilihan kata yang digunakan di dalam puisi yang diungkapkan oleh penulis tersebut kurang tepat. Berikut kutipannya
“Di Negara lain kasus semakin memanas Dari situ bisa menjadi pembelajaran Puasa saat ini tidak terlalu panas
Lalu orang orang berbelanja dan menyebabkan kerumunan”
Pilihan kata atau diksi yang digunakan masih sangat berantakan, hal tersebut dibuktikan dengan “kasus yang semakin panas” dan dibandingkan dengan “puasa saat ini tidak terlalu panas”. Tentu itu adalah hal yang berbeda.
Aspek penilaian majas, Ahmad Ravialy Vanevy mendapatkan skor enam. Terbukti terdapat majas hiperbola di dalam puisinya tersebut. berikut kutipannya “di negara lain kasus semakin memanas”. Seperti diketahui bahwa majas hiperbola merupakan gaya bahasa yang digunakan saat membandingkan sesuatu dengan sesuatu lain yang tidak masuk akal. Pada kutipan itu, peserta didik memakai /memanas/ untuk menggambarkan kasus corona di negara lain semakin naik, belum ada tanda-tanda penurunan kasus.
Aspek yang
6) Analisis siswa 6 (Marah Jacky) MIPA 1 Corona
65
corona datang menyerang dunia menyerang tanpa permisi entah kapan ia akan pergi corona, pandemi dunia
.
dokter dan perawat datang
datang untuk menyelamatkan dunia
negara negara berjuang dengan cara masing² demi menghilangnya corona dari muka bumi
.
dunia sedang sakit dunia sedang bersedih corona mengubah semua cepatlah pergi corona.
Berdasarkan aspek penilaian keterampilan menulis puisi yang diambil teorinya dari Burhan Nurgiantro, maka Marah Jacky mendapatkan skor tujuh untuk tema. Terbukti dari judul yang digunakan oleh Marah Jacky adalah “Corona” dan setiap unsur yang terkandung dari setiap larik mengarah pada tema yang telah ditentukan oleh peneliti. Berikut kutipannya
“corona datang menyerang dunia”
Selanjutnya, skor empat untuk bait. Terbukti Marah Jacky membuat puisi dengan tiga bait, dan dari bait pertama hingga ketiga masih berkaitan.
Berikut kutipannya, /corona/ sampai /dunia/ bait pertama, /dokter/ sampai /muka bumi/ bait kedua, /dunia/ sampai /corona/ bait ketiga.
Aspek penilaian diksi, Marah Jacky mendapat skor enam untuk diksi. Terbukti pilihan kata yang digunakan di dalam puisi tersebut menggambarkan situasi saat ini. Berikut kutipannya “corona, pandemi dunia”. Virus corona telah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO sejak tahun 2020.
Selanjutnya majas, Marah Jacky mendapatkan skor enam. Terbukti terdapat majas personifikasi di dalam puisi yang dibuatnya. Berikut kutipannya “dunia sedang sakit”. Sebagaimana yang diketahui, majas personifikasi adalah membandingkan manusia dengan benda mati, seolah-olah benda tersebut bersikap selayaknya manusia. Pada kutipan itu, peserta didik memakai /sakit/ untuk menggambarkan perbandingan kondisi atau keadaan dunia dengan situasi yang memprihatinkan yakni “sedih”. Oleh karena itu kata “sedih” yang mewakili fenomena dunia kekinian menjadi suatu keadaan yang coba dibandingkan dengan kondisi tersebut.
66
kau virus yang berbahaya, Mengancam kesehatan manusia, Membuat kami jera,
Kau telah memakan banyak korban, kau juga telah menyebar dimana-mana, Kau bikin kegiatan manusia jadi susah, Kau juga memutuskan tali saudara, Cepatlah kau pergi, Kami ingin kau pergi,
karena mu banyak yang mati, semoga kita terlindungi.
Berdasarkan aspek penilaian keterampilan menulis puisi yang diambil teorinya dari Burhan Nurgiantro, maka Intan mendapatkan skor tujuh untuk tema. Terbukti dari judul yang digunakan oleh Intan Melinda Wulandari adalah “Corona” dan setiap unsur yang terkandung dari setiap larik mengarah pada tema yang telah ditentukan oleh peneliti. Berikut kutipannya, “kau virus yang berbahaya”
Selanjutnya, skor empat untuk bait. Terbukti Intan membuat puisi dengan tiga bait, dan bait pertama sampai bait ketiga saling berkaitan.
Berikut kutipannya, /corona/ sampai /jera/ bait pertama, /kau/ sampai /saudara/ bait kedua, dan /cepatlah/ sampai /terlindungi/ bait ketiga.
67
Aspek penilaian diksi, Intan mendapat skor enam untuk diksi.
Terbukti pilihan kata yang digunakan di dalam puisi tersebut menggambarkan situasi saat ini. Berikut kutipannya “Kau telah memakan banyak korban, kau juga telah menyebar dimana-mana,”. Seperti yang diketahui, virus corona sudah banyak memakan korban jiwa, tidak memandang usia, harta, dan jabatan. Virus corona hampir menyerang seluruh dunia, tanpa terkecuali.
Selanjutnya majas, Intan mendapat skor enam. Terbukti terdapat majas personifikasi di dalam puisi Intan Melinda Wulandari. Berikut kutipannya “kau juga memutuskan tali saudara”. Sebagaimana yang diketahui, majas personifikasi adalah membandingkan manusia dengan benda mati, seolah-olah benda tersebut bersikap selayaknya manusia. Pada kutipan itu, peserta didik memakai /memutuskan tali/ untuk menggambarkan perbandingan kondisi atau keadaan dengan situasi yang memprihatinkan yakni “hubungan” keluarga menjadi terputus semenjak adanya virus corona. Oleh karena itu kata “hubungan” yang mewakili fenomena kekinian menjadi suatu keadaan yang coba dibandingkan dengan kondisi tersebut.
68
Dua tahun lalu tahun yang istimewa Aku sangat menikmati setiap detiknya Setiap detiknya dengan orang berharga Yang sebelumnya berharga
Entah dari mana kau datang Meredupkan hidup yang terang Mengacaukan jalinan hubungan Menghancurkan jalan pikiran
Kehadiranmu sangat mengubah diri Kekecewaan yang selalu menghampiri Membantu menempa jiwa dan badan Aku bukan lagi aku yang kemarin Meski begitu kau tetap tidak diharapkan Membunuh dengan langsung atau perlahan Dosamu terlalu banyak untuk dimaklumkan COVID, menghancurkan dan menguatkan
Berdasarkan aspek penilaian keterampilan menulis puisi yang diambil teorinya dari Burhan Nurgiantro, maka Alfin mendapatkan skor tujuh untuk tema. Terbukti tema yang digunakan oleh Alfin Noor Hasan tentang covid. Setiap unsur yang terkandung dari setiap larik mengarah pada tema yang telah ditentukan oleh peneliti. Berikut kutipannya “COVID, menghancurkan dan menguatkan”
Selanjutnya, skor empat untuk bait. Terbukti Alfin membuat puisi dengan lebih dari tiga bait, dan bait pertama sampai bait terakhir saling berkaitan. Berikut kutipannya, /dua/ sampai /berharga/ adalah bait pertama, /entah/ sampai /pikiran/ bait kedua, /kehadiran/ sampai /kemarin/ bait ketiga, /meski/ sampai /menguatkan/ bait keempat.
Aspek penilaian diksi, Alfin mendapat skor empat untuk diksi.
Terbukti pilihan kata yang digunakan di dalam puisi tersebut kurang tepat.
Berikut kutipannya “Setiap detiknya dengan orang berharga, Yang sebelumnya berharga”. Maksud dari kalimat tersebut belum jelas dan belum diketahui maknanya.
Selanjutnya majas, Alfin mendapatkan skor enam untuk majas.
Terbukti terdapat majas antitesis pada puisi Alfin Noor Hasan. Berikut kutipannya “meredupkan hidup yang terang”. Sebagaimana yang diketahui, majas antitseis adalah pasangan kata yang maknanya bertentangan atau berlawanan. Pada kutipan itu peserta didik memakai /meredupkan hidup yang terang/ untuk meggambarkan perbandingan kondisi setelah virus
69 corona datang yakni “mematikan”. Oleh karena itu, kata “mematikan” yang mewakili fenomena dunia setelah virus corona tersebut hadir.
Aspek yang
Ketika tuhan menciptakan makhluk yang tidak diinginkan semesta, itu berarti tuhan mempunyai alasan.
Tuhan hanya perlu menciptakan makhluk yang kecilnya memang tidak sekecil atom, tapi bisa membuat semesta terdiam dari biasanya, meskipun sebentar.
Sudah Berhari hari, berminggu minggu, berbulan bulan dan kita telah sampai di tahun yang kita harapkan telah usai dari segala permasalahan, yang ternyata malah pupus nya harapan.
Suatu saat nanti di tahun berikutnya, tanpa kita sadari kita telah melupakan pion2 penting dari hidup kita.. keluarga,teman,sahabat,ataupun orang tua yang mungkin meninggalkan kita duluan.
Sampai saat dimana kita akan belajar melupakan semuanya dan menjalani hidup normal yang baru.
-Jakarta2021
70
Berdasarkan aspek penilaian keterampilan menulis puisi yang diambil teorinya dari Burhan Nurgiantro, maka Dira mendapatkan skor tujuh untuk tema. Terbukti judul yang digunakan oleh Dira adalah “Ketika tuhan punya alasan”. Setiap unsur yang terkandung dari setiap larik mengarah pada tema yang telah ditentukan oleh peneliti. Berikut kutipannya, “Sampai saat dimana kita akan belajar melupakan semuanya dan menjalani hidup normal yang baru.”
Selanjutnya, skor empat untuk bait. Terbukti Dira membuat puisi dengan lebih dari tiga bait, dan bait pertama sampai bait terakhir saling berkaitan. Berikut kutipannya, /Ketika/ sampai /alasan/ adalah bait pertama, /Tuhan/ sampai /sebentar/ bait kedua, /sudah/ sampai /harapan/ bait ketiga, /suatu/ sampai /duluan/ bait keempat, /sampai/ sampai /baru/ bait kelima.
Aspek penilaian diksi, Dira mendapat skor enam untuk diksi.
Terbukti pilihan kata yang digunakan di dalam puisi tersebut sangat baik.
Berikut kutipannya “Ketika tuhan menciptakan makhluk yang tidak diinginkan semesta, itu berarti tuhan mempunyai alasan”. Maksud dari kalimat tersebut adalah, Allah menciptakan sesuatu pasti mempunyai alasan, seperti cobaan, atau kutukan.
Selanjutnya majas, Dira mendapatkan skor enam. Terbukti terdapat majas antitesis di dalam puisi Dira. Berikut kutipannya “ketika tuhan menciptakan makhluk yang tidak diinginkan semesta”. Sebagaimana yang diketahui, majas antitseis adalah pasangan kata yang maknanya bertentangan atau berlawanan. Pada kutipan itu peserta didik memakai /menciptakan/ tetapi /tidak diinginkan/ untuk meggambarkan perbandingan virus corona diciptakan oleh tuhan tetapi seluruh dunia “menolaknya”. Oleh karena itu, kata “menolaknya” yang mewakili fenomena dunia pada saat
71
Diksi
Majas
Nilai 23
X 100 25
= 92 – Baik Sekali
10) Analisis siswa 10 (Michell) MIPA 2
Bosan ku menatap layar Menatap layar digital Menyapa tanpa raga Hanya memandang layar kaca
Tak bisa ke taman
Tak bisa bertemu teman Keluh kesahku tak berarti Semua orang berusaha untuk bertahan
Bila tiba saatnya nanti
Kan kuucapkan terimakasih Pada para penyelamat Yang berkorban tanpa lelah
Berdasarkan aspek penilaian keterampilan menulis puisi yang diambil teorinya dari Burhan Nurgiantro, maka Michell mendapatkan skor tujuh untuk tema. Terbukti tema yang digunakan oleh Michell masih berkaitan dengan pandemi. Setiap unsur yang terkandung dari setiap larik mengarah pada tema yang telah ditentukan oleh peneliti. Berikut kutipannya, “Menyapa tanpa raga” kalimat tersebut menggambarkan pada saat pandemi semua kegiatan dibatasi, menyapa salah satunya hanya boleh menggunakan sosial media.
Selanjutnya, skor empat untuk bait. Terbukti Michell membuat puisi dengan lebih dari tiga bait, dan bait pertama sampai bait terakhir saling
Selanjutnya, skor empat untuk bait. Terbukti Michell membuat puisi dengan lebih dari tiga bait, dan bait pertama sampai bait terakhir saling