• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Analisis Kuntitatif a. Deskripsi Data Penelitian

C. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Subjek Penelitian

2. Hasil Analisis Kuntitatif a. Deskripsi Data Penelitian

Deskripsi penelitian yang diperoleh dari prates, pascates dan tindak lanjut dari skala kepuasan hidup (SWLS) dan skala afek positif dan afek negatif (PANAS) pada kelompok ekperimen dan kelompok kontrol. Deskripsi data diolah dengan menggunakan program SPSS 16.0 for windows tersaji dalam tabel berikut:

Tabel. 11. Deskripsi data penelitian Kepuasan hidup (SWLS) Kelompok

Kelompok eksperimen semula terdiri dari 13 subjek, namun sejalannya pelatihan 1 subjek dinyatakan gugur dikarenakan tidak hadir pada pertemuan ketiga. Dengan demikian subjek pada kelompok kontrol dalam penelitian kali ini berjumlah 12 subjek yang terdiri dari 10 subjek berjenis kelamin perempuan dan 2 subjek berjenis kelamin laki-laki. Berdasarkan tabel diatas, semua partisipan dalam penelitian ini mengalami peningkatan pada nilai kepuasan hidup.

Peningkatan angka partisipan dari angka pada saat prates hingga tindak lanjut cukup beragam, antara lain terdapat 8 partisipan mengalami peningkatan >10

angka, 3 partisipan mengalami peningkatan >5 dan 1 partisipan mengalami peningkatan sebesar 10 angka.

Tabel.12. Deskripsi data penelitian Skala Afek (PANAS) Kelompok Eksperimen

Pada tabel diatas, tampak bahwa seluruh partisipan kelompok eksperimen mengalami peningkatan nilai afeksi pada saat dilakukan pengukuran pada tindak lanjut. Terdapat 4 partisipan yang mengalami peningkatan >10 angka dan 5 peserta mengalami peningkatan >20 angka dan sebanyak 4 partisipan mengalami peningkatan > 30 angka. Namun berdasarkan tabel diatas, diketahui pada angka pascates dan tindak lanjut terdapat beberapa partisipan yang mengalami penurunan angka, yakni sejumlah 4 partisipan.

Tabel. 13. Deskripsi data penelitian Kepuasan hidup (SWLS) Kelompok Kontrol

Subjek JK Prates Pascates Tindak Lanjut

Gained Score (Pra-Pasca)

Gained Score (Pra-Tindak Lanjut)

NUA P 16 18 19 2 3

ADS P 12 15 14 3 2

KAR P 16 16 14 0 -2

IYT P 12 11 13 -1 1

PYO L 19 17 14 -2 -5

NOT L 12 13 16 1 4

INN P 14 13 15 -1 1

HRD L 17 13 16 -4 -1

YAK P 15 15 17 0 2

TKN P 15 15 13 0 -2

HRT P 19 16 13 -3 -6

Pada tabel diatas diketahui bahwa kelompok kontrol yang berjumlah 11 orang, yang terdiri atas 3 orang laki-laki dan 8 orang perempuan. Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa terdapat perbedaan yang sangat jelas pada angka kepuasan hidup para partisipan. Angka yang didapatkan pada saat prates dengan angka tindak lanjut, diketahui terdapat 4 partisipan mengalami peningkatan angka afeksi dan 7 partisipan yang mengalami penurunan angka kepuasan hidup.

Tabel.14. Deskripsi data penelitian skala Afek (PANAS) Kelompok Kontrol

Tabel diatas menjelaskan angka afeksi pada kelompok kontrol, terdapat 7 partisipan mengalami peningkatan angka afeksi pada saat tindak lanjut dan 2 partisipan mengalami penurunan angka afeksi.

Tabel.15. Deskripsi Data Penelitian Kepuasan Hidup atau Satisfaction with Life Scale (SWLS)

Tabel deskripsi penelitian di atas menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai mean antara pra-pasca kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok

eksperimen memiliki nilai mean pra-pasca sebesar 11.00 dan mengalami perubahan pada mean saat pra-tindak lanjut yaitu 12.08. Hal ini menunjukkan ada peningkatan kepuasan hidup kelompok eksperimen dari pasca dan dari pra-tindak lanjut. Pada kelompok kontrol nilai mean pada saat pra-pasca sebesar -0,45 kemudian pra-tindak lanjut mengalami perubahan menjadi -0,27.

Perubahan yang terjadi pada kedua kelompok menunjukkan bahwa terjadi perubahan kepuasan hidup pada kedua kelompok. Walaupun pada kelompok kontrol mengalami peningkatan kepuasan hidup antara pra-pasca dan pra-tindak lanjut, maka tidak dapat disimpulkan bahwa kelompok kontrol lebih baik daripada kelompok eksperimen. Jika dilihat pada tabel di atas, angka mean pada kelompok eksperimen tetap berada pada angka positif, sedangkan pada kelompok angka pra-pasca dan tindak lanjut berada pada angka negatif.

Tabel.16. Deskripsi Data Penelitian Afeksi (PANAS)

Kelompok

Klasifikasi

Pra-Pasca Pra-Tindak Lanjut

Eksperimen Minimum 14 15

Maksimum 32 32

Mean 21,33 24

SD 5,78 6,12

Kontrol Minimum -2 -3

Maksimum 6 7

Mean 2,09 2,00

SD 2,50 3,19

Tabel deskripsi penelitian di atas menunjukkan bahwa ada perbedaan pada kedua kelompok saat pra-pasca maupun pra-tindak lanjut. Pada kelompok eksperimen, deskripsi data penelitian afeksi di atas menunjukkan adanya peningkatan angka pra-pasca dan pra-tindak lanjut. Pada saat pra-pasca diperoleh mean 21,33 sedangkan pra-tindak lanjut 24, terjadi peningkatan angka sebesar 2,67. Pada kelompok kontrol terjadi penurunanan angka sebesar 0.09 antara pra-pasca dan pra-tindak lanjut. Pada saat pra-pra-pasca diperoleh hasil mean 2,09 dan pada saat pra-tindak lanjut 2,00. Berdasarkan hasil deskripsi penelitian afeksi dapat disimpulkan bahwa nilai afeksi kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol.

b. Uji Normalitas pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah setiap variable terdistribusi secara normal. Distribusi normal memiliki arti bahwa subjek penelitian tergolong mewakili populasi yang ada. Sebaliknya apabila distribusi tersbut tidak normal, maka dapat disimpulkan bahwa subjek penelitian tidak mewakili keadaan populasi yang sebenarnya, sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasikan pada populasi tersebut (Hadi, 2000). Uji normalitas dilakukan pada variable skala kepuasan hidup (SWLS) dengan menggunakan teknik one sample kolmogrov-smirnov test pada program SPSS 16.00 for Windows. Kaidah uji yang dilakukan adalah jika p> 0,05 maka variabelnya normal. Jika p<0,05 maka variable tidak normal.

Tabel. 17. Uji Normalitas Skala Kepuasan Hidup (SWLS)

Kelompok Perlakuan P Keterangan

Eksperimen dan Kontrol

Prates 0,200; p>0,05 Normal

Berdasarkan tabel diatas diketahui hasil sebaran skor kepuasan hidup penelitian ini mengikuti distribusi secara normal. Pada skala afek positif dan afek negatif (PANAS):

Tabel.18. Uji Normalitas Skala Afek (PANAS)

Kelompok Perlakuan P Keterangan

Eksperimen dan Kontrol

Prates 0,163; p>0,05 Normal

Pada tabel diatas diketahui bahwa hasil sebaran skala afeksi (PANAS) bertistribusi normal. Kaidah uji yang dilakukan, jika p>0,05 maka variabel terdistribusi normal.

c. Uji Homogenitas pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Uji homogenitas dilakukan untuk menentukan apakah frekuensi atau proporsi antara variable dalam satu kelompok yang diujikan tidak berbeda secara signifikan. Kaidah uji yang digunakan, jika p>0,05 maka variansnya homogen.

Jika p<0.05 maka varians tidak homogen. Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan teknik Homogenity of Variance One-Way Anova program SPSS 16.0 for windows. Berikut hasil uji homogenitas pada penelitian kali ini:

Tabel.19. Uji Homogenitas data Penelitian Skala Kepuasan Hidup (SWLS)

Kelompok Levene Statistic P Keterangan

Prates Eksperimen dan Kontrol

0.355 0,558; p>0,05 Homogen

Pada Tabel uji homogenitas pada skala kepuasan hidup (SWLS) menunjukkan nilai Levene Statistic 0,355 dengan p= 0,558 (p>0,05). Dengan demikian dapat diartikan bahwa tidak ada perbedaan varians data pada saat prates kelompok eksperimen dan kontrol pada subjek penelitian atau homogen.

Berikut hasil uji homogenitas skala afek positif dan afek negatif kelompok eksperimen dan kelompok kontrol:

Tabel.20. Uji Homogenitas Data Penelitian Skala Afek (PANAS)

Kelompok Leven Statistic P Keterangan

Prates Eksperimen dan Kontrol

1,920 0,180; P> 0,05 Homogen

Pada tabel hasil uji homogenitas skala afek positif dan afek negatif (PANAS) menunjukkan nilai Levene Statistic 1.920 dengan P = 0,180 (P>0.05). Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan varians data pada saat prates kelompok eksperimen dan kontrol pada subjek penelitian

d. Uji Hipotesa

Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh pelatihan kebersyukuran untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif penderita hipertensi. Para penderita hipertensi yang mendapatkan pelatihan kebersyukuran memiliki tingkat kesejahteraan subjektif lebih tinggi dibandingkan dengan penderita hipertensi yang tidak diberikan intervensi pelatihan kebersyukuran.

Tabel.21. Data Perbandingan Hasil Uji Hipotesis Skala Kepuasan Hidup

Perhitungan T Sig. (p) Kesimpulan

Selisih skor Prates-pascates 9.624 0,000 Signifikan Selisih skor Prates- Tindak

Lanjut

8.149 0,000 Signifikan

Pada tabel hasil uji hipotesis di atas, diketahui bahwa terdapat perbedaan kepuasan hidup yang sangat signifikan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada saat sebelum dan setelah pelatihan kebersyukuran (t = 9.624; p = 0,000, p < 0,01). Selanjutnya, pada saat dilakukan tindak lanjut, terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (t = 8.149; p = 0,000, dan p < 0,01). Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok eksperimen memiliki perbedaan kepuasan hidup yang signifikan setelah diberikan pelatihan kebersyukuran. Dengan demikian pelatihan kebersyukuran berpengaruh terhadap peningkatan kepuasan hidup para penderita penyakit hipertensi.

Berikut ini merupakan hasil uji perbedaan (Independen sampel t-test) selisih skor antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Tabel 22. Data Perbandingan Hasil Uji hipotesis Skala Afek (PANAS)

Perhitungan t Sig. (p) Kesimpulan

Selisih skor Prates-pascates 10.931 0,000 Signifikan Selisih skor Prates- Tindak

Lanjut

1.303 0,000 Signifikan

Hasil uji t-test pada perubahan nilai afeksi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada prates dan pascates yakni t = 10.931, p= 0,000 (p<0,01).

Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan skor afeksi pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebelum dan sesudah diberikan pelatihan kebersyukuran. Pada saat tindak lanjut terdapat perbedaan yang signifikan pula antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (t = 1.303, p = 0,000, p < 0,01). Dengan demikian pelatihan kebersyukuran berpengaruh

signifikan pada skor afeksi pada subjek penelitian hingga masa tindak lanjut berkahir.

3. Hasil Analisis Kualitatif

Analisis kualitatif dilakukan pada kelompok eksperimen berdasarkan hasil observasi dan wawancara selama subjek mengikuti pelatihan kebersyukuran. Tujuan dari analisis kualitatif adalah untuk mengetahui pengalaman dan perilaku peserta selama mengikuti terapi kelompok. Analisis kualitatif ini dilakukan pada seluruh partisipan kelompok eksperimen berikut rincian setiap partisipan:

a. SUK, P, 48 Tahun, hipertensi selama 5 tahun

Subjek SUK adalah seorang ibu rumah tangga berusia 48 tahun. SUK pertama diketahui mengalami tekanan darah tinggi pada saat pengungsian erupsi Merapi tahun 2010. Hal yang dirasakan SUK selama mengalami hipertensi yaitu sering mengalami pusing, pundak tegang, pegal-pegal, sehingga subjek sering merasa terganggu ketika gejala hipertensi mulai terasa. Subjek tidak dapat menyelesaikan tugas rumah, padahal seluruh pekerjaan rumah dan menjaga cucu ditangani subjek sendiri.

Subjek merasa dirinya merupakan orang yang pendiam dan tertutup, sehingga sangat sulit untuk berbagi cerita dengan orang lain. Subjek menyimpan sendiri masalah yang dihadapinya, padahal subjek juga merasa masalah-masalah yang dipendamnya membuat tekanan darahnya menjadi tinggi dan membuat subjek mudah tersinggung. Subjek merasa dirinya mudah marah bila menghadapi anak-anak maupun suami yang tidak menuruti keinginan subjek. Subjek juga menambahkan bahwa tekanan darah tinggi subjek ini sering kambuh secara tiba-tiba.

Ketika ditawarkan untuk mengikuti pelatihan kebersyukuran, subjek bersedia untuk hadir. Subjek mengikuti 3 kali petemuan pelatihan. Subjek cukup kooperatif didalam mengikuti pelatihan. Subjek mengikuti setiap sesi dengan baik. Subjek memang cukup pendiam, subjek hanya berbicara dan menjawab bila ditanya oleh pelatih. Subjek juga terlihat memperhatikan pelatih yang menerangkan pelatihan maupun partisipan lainnya yang bertanya dan memberikan pendapat.

Pada pertemuan kedua klien terlihat lebih menikmati setiap sesinya. Subjek menjelaskan bahwa dirinya menyadari bahwa banyak orang yang mengalami penyakit yang sama dengan subjek. Subjek juga menjelaskan bahwa banyak hal yang dapat dirinya syukuri, seperti anak-anaknya yang sehat dan subjek yang telah memiliki cucu. Subjek juga menjelaskan banyak belajar dan bertukar pengalaman dengan partisipan lainnya.Pertemuan ketiga subjek menjelaskan bahwa dipertemuan ini subjek menjadi lebih memahami bagaimana mengelola kondisi hipertensi yang dimilikinya. Subjek juga menjelaskan bahwa sakit yang dialaminya kini dianggap sebagai bentuk nikmat yang diberikan Allah kepadanya.

Pada saat tindak lanjut, subjek terlihat sedikit pucat, subjek menjelaskan bahwa dirinya 4 hari terakhir mengalami flu dan demam sehingga subjek merasa pusing dan tidak nyaman. Diakhir sesi subjek menjelaskan bahwa dirinya sangat bersyukur dan senang mendapatkan ilmu yang sangat banyak didalam pelatihan ini.

Berdasarkan hasil skala kepuasan hidup (SWLS) dan afeksi (PANAS) yang telah diisi sebelum mengikuti pelatihan kebersyukuran, diketahui bahwa subjek memiliki nilai 11 berada pada kategori sangat rendah. Nilai kepuasan hidup setelah diberikan pelatihan kebersyukuran menjadi 22 dan pada saat tindak lanjut memiliki

nilai yang sama yakni 22. Sedangkan pada skala afeksi (PANAS), saat sebelum pelatihan nilai afeksi positif subjek 27 sedangkan nilai afeksi negatif 33, dengan demikian berarti nilai afek negatif klien lebih tinggi dibandingkan nilai afek positif.

Pada saat setelah diberikan pelatihan kebersyukuran nilai afek positif subjek menjadi 37 dan afek negatif menjadi 21 yang berarti nilai afek positif lebih tinggi. Pada saat tindak lanjut niali afek positif subjek juga lebih tinggi dibandingkan afek negatif dengan nila afek positif 37 dan afek negatif 21. Hal ini menandakan bahwa terjadi perubahan kesejahteraan subjektif pada subjek setelah diberikan pelatihan kebersyukuran.

Grafik.1. Nilai skala Kepuasan Hidup (SWLS) Subjek SUK

0 5 10 15 20 25

Prates Pascates Tindak Lanjut

Grafik.2. Nilai Skala Afeksi (PANAS) Subjek SUK

0 5 10 15 20 25 30 35 40

Prates Pascates Tindak Lanjut

Afek Positif Afek Negatif

b. SRS, P, 47 Tahun, hipertensi selama 6 tahun

Subjek SRS berusia 47 tahun, bekerja sebagai ibu rumah tangga. Subjek merupakan janda, saat ini klien tinggal bersama anak-anaknya. Awal subjek mengetahui dirinya mengalami hipertensi adalah saat suaminya meninggal dunia, subjek yang dahulu mengikuti suami yang bertugas di Kalimantan berpindah ke Cangkringan. Subjek menjelaskan keluhan awal yang dirasakan adalah kepalanya sering pusing, pundak tegang, badan terasa pegal bahkan terkadang hingga mual-mual. Subjek memeriksakan dirinya ke rumah sakit dan mengetahui dirinya mengalami hipertensi. Subjek kaget dan sangat takut, dirinya takut terkena stroke dan meninggal mendadak padahal anak terakhirnya masih ada yang bersekolah.

Subjek sangat takut salah makan dan dapat mengakibatkan naiknya tekanan darahnya. Subjek juga merasa mudah lelah bila beraktivitas, padahal aktivitas yang dilakukannya merupakan aktivitas sehari-hari seperti biasa yakni membereskan rumah maupun memasak.

Selama pelatihan kebersyukuran berlangsung, subjek mengikuti sesi pelatihan dengan sangat antusias. Subjek memperhatikan penjelasan pelatih maupun partisipan lainnya. Subjek sangat kooperatif selama pelatihan. Subjek selalu memberikan umpan balik pada partisipan lainnya. Pelatihan kebersyukuran tersebut meningkatkan rasa syukur subjek dengan menyadari bahwa sangat banyak nikmat yang dimiliki olehnya dibandingkan orang-orang lainnya. Subjek merasa kondisinya lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi partisipan laninya. Subjek juga menjelaskan bahwa dirinya jadi lebih memahami banyak hal kecil yang sering dilupakan untuk disyukuri, seperti kesehatan anak-anaknya, fisik yang sempurna ataupun nikmat tempat tinggal yang telah dimiliki subjek saat ini.

Subjek menceritakan dirinya mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan kebersyukuran ini. Subjek memahami lebih jauh lagi mengenai pengelolaan penyakit hipertensi, sehingga subjek masih dapat menikmati hidupnya sama seperti orang lain yang tidak mengalami hipertensi. Subjek juga menceritakan bahwa anaknya memujinya karena akhir-akhir ini menjadi lebih ceria dan sering berpenampilan rapi saat keluar rumah. subjek juga merasa senang karena mengetahui tekanan darahnya yang turun.

Berdasarkan hasil skala kepuasan hidup (SWLS) dan skala afeksi (PANAS) yang telah diisi sebelum mengikuti pelatihan kebersyukuran, diketahui bahwa subjek memiliki nilai kepausan hidup sebesar 15 (rendah). Nilai kepuasan hidup setelah diberikan pelatihan kebseryukuran naik menjadi 24 dan pada saat tindak lanjut menjadi 26. Sedangkan pada skala afeksi (PANAS), saat sebelum pelatihan mendapatkan nilai afek positif < afek negatif, 27<31. Pada saat setelah mengikuti

pelatihan kebersyukuran nilai afek positif > afek negatif, 32 > 21 dan pada saat tindak lanjut nilai afek positif > afek negatif yakni 34>23. Hal ini menandakan bahwa terjadi perubahan kesejahteraan subjektif pada subjek setelah diberikan pelatihan kebersyukuran.

Grafik.3. Nilai Kesejahteraan Subjektif Subjek SRS

0 5 10 15 20 25 30

Prates Pascates Tindak Lanjut

Grafik.4. Nilai Skala Afeksi (PANAS) subjek SRS

0 5 10 15 20 25 30 35 40

Prates Pascates Tindak Lanjut

Afek Positif Afek Negatif

c. SUJ, P, 58 Tahun, hipertensi selama 4 tahun.

Subjek bekerja sebagai petani, dengan kegiatan sehari-hari mengurusi sawah dan rumah. Hal yang dirasakan subjek selama mengalami hipertensi yaitu sering mengalami pegel-pegel dipunggung, mudah terpancing emosi, mudah panik dan cepat merasakan kelelahan. Subjek juga menjelaskan bahwa dirinya diharuskan meminum obat setiap harinya.

Subjek menjelaskan bahwa dirinya merasakan bahwa dirinya tidak dapat mengurusi sawahnya dengan maksimal. Subjek merasa setelah menderita hipertensi dirinya mudah lelah, sehingga pekerjaannya memakan waktu lebih lama padahal hasil tani merupakan pemasukan utama di keluarganya. Diakui subjek terkadang yang menyulut emosi subjek adalah kanakalan cucu-cucu subjek. Cucu subjek sering berkelahi dan membuat keributan disaat subjek ingin istirahat. Hal-hal seperti inilah yang sering membuat tekanan darah subjek semakin meningkat.

Saat pelatihan berlangsung subjek cukup kooperatif. Subjek mengikuti setiap sesi dengan cukup antusias, walupun sesekali subjek terlihat mengajak partisipan yang duduk di sampingnya mengobrol. Subjek memberikan umpan balik saat ditanya oleh pelatih. Saat tugas menceritakan rasa syukur pada pertemuan kedua, subjek menceritakan dirinya yang terjatuh selama tiga hari kemarin kepalanya sakit. Subjek menceritakan bahwa dirinya sangat bersyukur dengan sakit yang dialaminya, subjek menjelaskan bahwa dirinya dapat beristirahat dari pekerjaannya di sawah maupun beristirahat dari rutinitasnya membereskan rumah. Subjek juga merasa bersyukur dan senang karena sakit tersbut anaknya datang menjenguknya.

Subjek juga menjelaskan bahwa dirinya merasakan manfaat dari pelatihan kebersyukuran ini. Subjek mendapatkan wawasan mengenai kebersyukuran dan penyakit hipertensi. Subjek juga merasa senang dapat mengenal orang-orang baru.

Subjek juga merasakan bahwa sangat banyak nikmat yang dirinya syukuri dibandingkan dirinya mengeluh dan meratapi penyakit yang dialaminya. Subjek sangat bersyukur dapat mengikuti pelatihan kebersyukuran ini.

Berdasarkan skala kepuasan hidup (SWLS) subjek juga mengalami peningkatan nilai kepuasan hidup. Kepuasan hidup subjek pada saat sebelum pelatihan sebesar 14 dan berada pada kategori rendah. Pada saat setelah pelaksanaan pelatihan kebersyukuran kepuasan hidup subjek berada pada nilai 26 dan pada saat tindak lanjut nilai kepuasan hidup subjek berada pada nilai 31.

Skala afeksi (PANAS) pada saat sebelum dilakukan pelatihan kebersyukuran nilai afek negatif < afek positif yakni 26<31, sedangkan setelah pelatihan kebersyukuran nilai afek positif > afek negatif, 40>19 dan pada saat tindak lanjut afek positif > afek negatif, yakni 38 > 24. Hal ini menandakan bahwa terjadi perubahan kesejahteraan subjektif pada subjek setelah diberikan pelatihan kebersyukuran.

Grafik.5. Nilai Kepuasan Hidup (SWLS) subjek SUJ

0 5 10 15 20 25 30 35

Prates Pascates Tindak Lanjut

Grafik.6. Nilai Skala Afek (PANAS) Subjek SUJ

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

Prates Pascates Tindak Lanjut

Afek Positif Afek Negatif

d. NGA, P, 46 tahun, hipertensi selama 4 tahun.

Subjek merupakan ibu rumah tangga, sehari – hari kesibukan subjek mengurusi rumah dan menjaga cucu. Keluhan yang dirasakan klien saat mengalami hipertensi adalah sakit kepala, pundak terasa tegang, leher terasa kaku, bahkan hingga untuk tidurpun kepala dan pundak terasa tidak nyaman. Selain itu subjek merasa bahwa dirinya lebih sensitif, menjadi mudah sedih dan sering merasa cemas.

Saat awal subjek mengetahui bahwa dirinya terkena hipertensi subjek merasa takut, khawatir dan sedih. Subjek teringat peristiwa saat anaknya masih bayi dan didiagnosis terkena kerusakan jantung, saat itu subjek harus bolak-balik memeriksakan anaknya di rumah sakit. Subjek takut bila harus kembali bolak-balik memeriksakan diri kerumah sakit. subjek membayangkan bahwa dirinya pasti akan sangat menderita, diharuskan meminum obat setiap hari dan tidak dapat beraktivitas dengan baik. Hal tersebut diperparah lagi dengan subjek yang merasa dirinya sewaktu-waktu bisa terkena stroke dan akan meninggal.

Saat ditanyakan kesediaan subjek untuk mengikuti pelatihan kebersyukuran, subjek bersedia mengikutinya. Pertemuan pertama subjek datang terlambat, namun dikedua pertemuan selanjutnya subjek datang tepat waktu, begitupula pada saat tindak lanjut subjek datang tepat sesuai jadwal yang ditentukan. Selama berjalannya pelatihan kebersyukuran, subjek mengikuti dengan baik. Subjek memperhatikan dengan seksama dan antusias, sesekali subjek menanyakan hal-hal yang belum dipahami dari penjelasan pelatih.

Subjek menceritakan bahwa dirinya banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman dari partisipan lainnya. Subjek menyadari bahwa banyak orang-orang lain yang memiliki kondisi lebih sulit dibandingkan dirinya. Subjek sangat mensyukuri bahwa anaknya sehat, cucunya sehat dan walaupun dirinya mengalami hipertensi tetap dapat berobat. Subjek juga menjelaskan bahwa dirinya menjadi lebih memahami mengenai pengelolaan penyakit hipertensi sehingga dapat menjaga dan mengelola tekanan darah. Subjek juga merasa sangat senang

mengetahui tekanan darahnya mengalami penurunan sejak sebelum pelatihan kebersyukuran hingga tindak lanjut pelatihan kebersyukuran.

Berdasarkan hasil nilai skala kepuasan hidup (SWLS) subjek mengalami peningkatan pada saat sebelum pelaksanaan pelatihan kebersyukuran dan setelah pelaksaan pelatihan kebersyukuran. Subjek mendapatkan nilai skala kepuasan hidup (SWLS) pada saat sebelum pelaksanaan pelatihan kebersyukuran sebesar 13 yang termasuk dalam kategori sangat rendah. Pada saat setelah pelatihan kebersyukuran subjek mendapatkan nilai 26 dan walaupun nilai tindak lanjut subjek menurun sebanyak 3 poin menjadi sebesar 23. Nilai skala afek (PANAS) yang terbagi atas afek positif dan afek negatif subjek mengalami peningkatan pada afek positif. Pada saat sebelum melaksanakan pelatihan kebersyukuran, subjek mendapatkan nilai 25 sedangkan subjek mendapatkan nilai 31 pada nilai afek negatif, yang berarti afek positif < afek negatif. Sedangkan pada saat setelah pelaksanaan pelatihan kebersyukuran, afek positif subjek lebih tinggi dibandingkan afek negatif subjek, 29 > 21. Pada saat tindak lanjut subjek kembali mengalami peningkatan pada afek positif dan penurunan pada afek negatif. Nilai afek positif subjek bernilai 35 dan afek negatif bernilai 17 dengan demikian afek positif > afek negatif.

Grafik.7. Nilai Kepuasan Hidup (SWLS) subjek NGA

Grafik. Nilai skala Afek (PANAS) subjek NGA

0

e. SUM, P, 43 Tahun, Hipertensi selama 3 tahun

Kegiatan SUM sehari-hari adalah berwiraswasta, Subjek menjual beras hasil panen dari sawahnya sendiri untuk membantu kehidupan keluarganya. Subjek sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Subjek mengalami hipertensi selama 3 tahun, hal ini diketahui subjek saat dirinya memeriksakan diri ke puskesmas.

Kegiatan SUM sehari-hari adalah berwiraswasta, Subjek menjual beras hasil panen dari sawahnya sendiri untuk membantu kehidupan keluarganya. Subjek sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Subjek mengalami hipertensi selama 3 tahun, hal ini diketahui subjek saat dirinya memeriksakan diri ke puskesmas.

Dokumen terkait