4. HASIL PENELITIAN
4.2 Hasil Analisis Penelitian
Partisipan 4 :
Usia 41 tahun, agama Islam, suku Jawa, pendidikan SD, pekerjaan ibu rumah tangga, status paritas P1A3, indikasi mioma uteri, dilakukan histerektomi dengan tindakan medis histerektomi supraservikal.
Partisipan 5 :
Usia 40 tahun, agama Islam, suku Jawa, pekerjaan ibu rumah tangga, status paritas P0A0, indikasi kistoma ovarii, dilakukan histerektomi dengan tindakan histerektomi supraservikal parsial.
Partisipan 6 :
Usia 46 tahun, agama Kristen, suku Jawa, pendidikan SD, pekerjaan wiraswasta/ penjahit, status paritas P1A0, indikasi mioma uteri, dilakukan histerektomi dengan tindakan medis histerektomi sinistra.
Partisipan 7 :
Usia 40 tahun, agama Islam, suku Jawa, pendidikan SD, pekerjaan ibu rumah tangga, status paritas P0A0, indikasi mioma uteri, dilakukan histerektomi suprasevikal, saat dilakukan wawancara partisipan sedang menunggu pemeriksaan USG yang dilakukan sebelum menjalani histerektomi yang dijadwalkan 2 hari setelahnya.
4.2 Hasil analisis penelitian :
Peneliti melakukan analisis transkrip wawancara yang dilengkapi dengan hasil observasi/ fieldnotes dan telaah literatur. Saat konsep – konsep bermunculan dari analisis tersebut, peneliti mengkaitkannya dengan literatur – literatur
Universitas Indonesia
empiris dan teoritis yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data – data yang diperoleh dibandingkan satu dengan lainnya dengan menggunakan metode constant comparative sehingga menghasilkan tema – tema utama yaitu proses kehilangan rahim, persepsi ibu primipara dan terhadap histerektomi, kebutuhan dukungan sosial, bentuk koping yaitu koping yang berfokus pada masalah dan koping yang berfokus pada emosi.
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya maka peneliti telah mengelompokkan satu tema untuk mengidentifikasi persepsi ibu tentang histerektomi. Satu tema untuk mengidentifikasi respon dan perilaku berduka ibu primipara dan nullipara yang mengalami histerektomi yaitu proses kehilangan rahim. Satu tema untuk mengidentifikasi pola koping ibu yang mengalami histerektomi yaitu bentuk koping. Satu tema untuk mengidentifikasi faktor – faktor yang mempengaruhi respon dan koping perempuan yang mengalami histerektomi yaitu kebutuhan dukungan sosial. Tema - tema yang dihasilkan dalam penelitian ini dijelaskan secara terpisah untuk memahami berbagai respon dan koping ibu primipara dan nullipara yang mengalami histerektomi dari setiap partisipan yang telah dilibatkan dalam penelitian ini. Tema-tema tersebut saling terkait dan saling berhubungan antara satu tema dengan tema yang lain, sehingga memperoleh suatu konsep atau teori tentang respon dan koping ibu primipara dan nullipara yang mengalami histerektomi
Universitas Indonesia
Skema 4.1 : Proses Analisa Data Tema 1
Kata Kunci Kategori Tema
Persepsi terhadap histerektomi Interview :
- Sudah tidak mens lagi
- Sudah tidak bisa punya keturunan - Masih bisa
berhubungan dengan suami Observasi & Field Note : - wajah sedih - mata berkaca – kaca - meneteskan air mata Hilangnya kemampuan reproduksi Interview : - Nyeri di bekas operasi - Masih lemas - Capek, kelelahan - pusing Observasi& Fieldnotes : - Wajah meringis - Tampak berhati – hati bergerak - Tampak luka post
operasi di perut Sikap terhadap kondisi fisik yang berat Tinjauan Literatur - Prawirohardjo, 2001, tentang definisi histerektomi - Penelitian Farooqi, 2005. Prosedur pembedahan ini akan mengakibatkan hilangnya kemampuan reproduksi
- Baziad, 2001, tentang efek fisik – fisiologis
dilakukannya histerektomi Studi Dokumentasi - Histerektomi
dilakukan dengan indikasi mioma uteri dan kanker serviks stadium II a - Proses pembedahan histerektomi Observasi & Fieldnotes : - wajah tertunduk - menghindari tatapan Interview: - terkadang saya malu - saya minder, sudah tidak sempurna - tidak seperti wanita lain Perasaan minder
Universitas Indonesia
1. Tema pertama : Persepsi terhadap histerektomi
Berbagai persepsi diungkapkan oleh semua partisipan dalam studi ini tentang histerektomi atau pengangkatan rahim yang telah dilakukan terhadap mereka. Semua partisipan mempersepsikan bahwa kehilangan rahim berarti mereka mengalami hilangnya kemampuan reproduksi. Sebagian besar partisipan mengatakan persepsi mereka bahwa dengan rahim mereka diangkat berarti sudah tidak mendapatkan menstruasi. Beberapa dari mereka juga mengatakan tidak bisa mempunyai keturunan lagi namun mereka masih bisa melakukan aktivitas seksual.
Tiga dari tujuh partisipan terutama dari ibu nullipara juga menyatakan dirinya mempunyai perasaan minder karena pengangkatan rahim ini. Mereka merasa bahwa tanpa mempunyai rahim dirinya merasa tidak sempurna lagi sebagai wanita dan merasa dirinya berbeda dengan wanita lain. Dalam kesempatan itu pula semua partisipan mengungkapkan sikap mereka terhadap kondisi fisik yang berat yang mereka alami pasca pengangkatan rahim. Partisipan mengungkapkan persepsinya mengenai histerektomi/ pengangkatan rahim, dampak yang akan ditimbulkan dengan pengangkatan rahim tersebut. Hal ini terlihat dari perilaku dan ungkapan yang dinyatakan oleh partisipan sebagai berikut :
1). Hilangnya kemampuan reproduksi
Seluruh partisipan secara singkat mengungkapkan persepsinya tentang pengangkatan rahim dengan jawaban yang hampir sama, sambil berbaring ditempat tidur, tampak diwajah mereka raut muka kesedihan, mata berkaca – kaca. Beberapa partisipan menyatakan kalau pengangkatan rahim akan menyebabkan seorang wanita tidak menstruasi lagi dan tidak bisa mempunyai keturunan akan tetapi masih bisa berhubungan badan dengan suaminya. Hal ini terlihat ungkapan yang dinyatakan oleh partisipan sebagai berikut :
“ Saya tau kalo setelah ini tidak mens, tidak bisa hamil, akan tetapi masih bisa berhubungan dengan suami mba“ (P1).
Universitas Indonesia
“Ya nanti sudah tidak punya keturunan lagi, aktivitas dikurangi, tenaga berkurang dan harus lebih berhati - hati“ (P2).
“Ya, kalo untuk hubungan dengan suami masih bisa, tapi sudah tidak bisa punya anak lagi“ ( P3).
“Nanti kalo diangkat rahimnya kan sudah tidak bisa punya anak lagi, anaknya kan baru 1, masa anak cuma punya satu. Saya kan takut, inginnya punya anak lagi” (P4).
“Ya taunya sudah tidak bisa punya anak lagi, karena rahimnya kan sudah diangkat“ ( P5)
”Ya, kalo rahimnya diangkat wis ga bisa punya anak, padahal saya belum punya anak” (P7)
Dari studi literatur diperoleh pendapat Prawirohardjo (2001) bahwa histerektomi merupakan tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat rahim, baik sebagian tanpa serviks uteri atau dengan serviks uteri. Farooqi (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa prosedur pembedahan ini akan mengakibatkan hilangnya kemampuan reproduksi yang sangat dihindari oleh sebagian besar wanita didalam kehidupan mereka. Tindakan histerektomi ini dilakukan pada klien yang mengalami mioma uteri yang cukup besar, mioma multipel, serta pada klien yang mengalami kanker serviks stadium Ia2 sampai stadium II a. Baziad (2001) menambahkan bahwa perubahan fisik yang dapat terjadi pada klien adalah tidak adanya menstruasi dan terjadinya perubahan sensasi saat berhubungan seksual
Studi dokumentasi yang telah dilakukan peneliti juga mendapatkan data yang mendukung tema dalam penelitian ini. Indikasi dilakukannya histerektomi pada enam orang partisipan disebabkan mioma uteri dan satu orang partisipan disebabkan kanker serviks stadium II a.
2). Perasaan Minder
Persepsi ibu terhadap histerektomi secara psikologi yang berupa perasaan minder terlihat dari empat partisipan terutama pada dua partisipan nullipara,
Universitas Indonesia
yang menyatakan bahwa dirinya mempunyai perasaan minder atau malu karena rahimnya telah diangkat. Mereka menganggap bahwa diri mereka sebagai wanita sudah tidak sempurna lagi dan sudah berbeda dengan wanita lainnya. Pada saat proses wawancara, dua dari tujuh partisipan menunjukkan wajah memerah, sesekali wajah menunduk dan terkadang menghindari tatapan dari peneliti. Berikut ungkapan dari beberapa partisipan :
” Ya, udah biasa tapi kadang saya masih malu dengan keadaan saya, saya kan masih muda kok sudah diambil rahimnya ” (P3)
” Ya, saya minder, karena saya sudah tidak seperti wanita lain”(P4)
” Saya sebagai wanita sudah tidak ada gunanya tanpa rahim. Saya punya perasaan minder, kok saya tidak bisa seperti yang lain” (P5)
” Minder mba, saya perempuan kok tidak bisa mempunyai anak seperti wanita kebanyakan” (P7)
Dari studi literatur didukung oleh pendapat dari penelitian Wu, Chang, Yang dan Che (2005) yang menyatakan bahwa wanita yang mengalami histerektomi tidak cukup hanya kehilangan sifat kewanitaannya akan tetapi berdampak pada kesehatan fisik dan mentalnya.
3). Sikap terhadap kondisi fisik yang berat
Persepsi ibu terhadap perubahan fisik pada dirinya dirasakan berat setelah operasi pengangkatan rahim merupakan faktor dari dalam diri partisipan yang dapat mempengaruhi respon dan koping ibu yang mengalami histerektomi. Empat dari tujuh partisipan mengungkapkan bahwa kondisi tubuh pasca operasi pengangkatan rahim berupa nyeri jahitan pada bekas area operasi, badan lemes, pusing serta kelelahan menambah dan memperberat perasaannya yang sedang berduka. Pada saat proses wawancara, dua dari tujuh partisipan dalam keadaan berbaring di tempat tidur, berhati – hati saat bergerak dan tampak luka bekas operasi
Universitas Indonesia
pengangkatan rahim diarea bawah perut. Berikut ungkapan beberapa partisipan sebagai berikut :
”Kelelahan mba, sekarang itu cepat lelah, pegal – pegal dan nyeri terasa di pinggang” (P1)
“ Sekarang cuma rasa nyeri bekas operasi, masih sok pusing, badan kurang fit, masih lemes gitu aj “ (P2)
” Gampang capek mba, kalo makan terlalu kenyang juga ga enak” (P3) “Ya, untuk aktivitas geraknya ya agak berbeda, gak seperti dulu lagi, udah
capek duluan “ (P5)
Reed (2003) menambahkan dalam penelitiannya bahwa perasaan berduka sebagai respon terhadap kehilangan dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang memiliki efek yang kuat pada perasaan berduka adalah status fisiologis individu.
Universitas Indonesia
Skema 4 . 2 : Proses Analisa Data Tema 2
Kata Kunci Kategori Tema
Menolak kehilangan Interview :
- masih belum percaya - secara langsung dah menolak - saya marah ga terima dengan
kejadian ini
- antara percaya dan tidak percaya
- menganggap penyakitnya yang diambil
Observasi & Fieldnotes : - mimik wajah khawatir - mata berkaca – kaca - terlihat bingung, kadang
terdiam
- mengusap air mata Interview :
- Masih ingin mempertahankan rahim
- Menyesal masih ingin punya anak
- Bingung, bener apa ga kalo rahim saya yang diangkat - Siapa tahu masih bisa
dipertahankan Observasi & Fieldnotes : - mimik wajah tampak pasrah - tersenyum ikhlas
- keadaan lebih tenang
Tawar - Menawar
Proses Kehilangan
Interview :
- Saya dah pasrah kalo keadaan saya seperti ini
- Saya cuma berusaha, Allah yang tau semuanya - Saya terima kenyataan
Tinjauan Literatur :
- Kubbler – Ross (1969 dalam Kozier, et al 2004 tentang konsep berduka)
- Penelitian Leppert, Legro,& Kjerulff (2007) tentang distress psikologis yang dialami wanita yang mengalami histerektomi - Penelitian Farooqi (2007) .
Reaksi wanita yang mengalami histerektomi seperti perasaan kehilangan Menerima
kehilangan Observasi & Fieldnote
- mimik wajah marah - dahi berkerut - mata seperti melotot - menggelengkan kepala - suasana tampak tegang - membaca tulisan dipapan
status
Universitas Indonesia
2. Tema kedua : Mengalami proses kehilangan akibat pengangkatan rahim Tidak terkecuali semua partisipan dalam studi ini mengalami berbagai respon kehilangan akibat pengangkatan rahim mereka. Sebagian besar partisipan menunjukkan respon kehilangan seperti denial atau menolak kehilangan, tawar menawar serta menerima kehilangan. Respon ini tampak jelas sekali pada tiga partisipan terutama pada dua partisipan ibu nullipara. Saat diri mereka mengetahui kalau rahimnya akan diangkat bahkan sampai rahimnya telah diangkat, mereka masih menangis tersedu – sedu di atas tempat tidur, berharap kalau sebenarnya hanya penyakitnya saja yang diangkat. Bahkan salah satu partisipan mengatakan kecemasan yang terjadi pada dirinya, karena belum memberikan anak pada suaminya, walaupun saat ini suaminya menerima akan tetapi dia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, dan dirinya pasrah kepada takdir. Hal ini terlihat dari perilaku dan ungkapan yang dinyatakan oleh partisipan sebagai berikut :
1). Menolak kehilangan
Penolakan adalah suatu respon pertama yang dialami oleh seseorang ketika mendapatkan dirinya tidak seperti yang sebenarnya diharapkan. Tiga dari tujuh partisipan menyatakan masih tidak dipercaya dengan apa yang telah dialami karena mereka menganggap bahwa penyakitnya yang diambil dari rahimnya, bukan rahimnya yang diangkat. Adik dari salah satu partisipan yang sedang menunggu partisipan yang terlibat dalam wawancara juga menceritakan ketidakyakinannya kalau yang diangkat itu penyakitnya, bukan rahimnya. Berikut beberapa ungkapan partisipan :
” Sebetulnya udah dikasih tau gitu tapi ga percaya, adik saya kemarin bilang kalo yang diambil penyakitnya bukan kandungannya yang benar yg mana “ (P5).
” Ya, sebenare masih ga percaya, usia saya kan masih muda, kok rahim saya sudah diangkat” (P3)
” Saya masih menolak mba, saya bilang ke dokter kalo masih ingin punya anak, tapi kenyataane harus kayak gini” (P7)
Universitas Indonesia
Marah juga menjadi salah satu respon yang diungkapkan partisipan saat akan dilakukan histerektomi. Salah satu partisipan yang merupakan ibu nullipara sempat marah saat rahimnya akan diangkat. Sebelumnya dia sudah mengatakan menolak dengan apa yang terjadi terhadap dirinya selama ini. Pada saat wawancara, partisipan duduk diatas tempat tidur, wajah partisipan tegang, mata agak melotot, tampak air mata di kedua sudut matanya dan partisipan berbicara dengan nada yang tinggi. Berikut ungkapan dari salah satu partisipan :
”Dalam hati saya menolak. Secara langsung pun saya dah menolak, jangan dulu diambil rahim saya. Kalo emosi sudah dari kemarin-kemarin. Hati ini berontak, tidak terima dengan semuanya” (P5)
Respon menolak kehilangan (denial) diatas didapatkan oleh peneliti sebagai salah satu intisari dari jawaban – jawaban partisipan atas pertanyaan penelitian.”Bagaimana respon dan perasaan berduka ibu primipara dan nullipara ketika mengetahui rahimnya akan diangkat?” dengan pertanyaan penelitian ini, peneliti ingin menggali respon partisipan yang mengalami pengangkatan rahim. Respon ini sejalan dengan konsep berduka menurut Kubbler – Rose (1969, dalam Kozier, et al, 2004) yang membagi respon berduka ke dalam beberapa tahapan, dimana respon denial atau menolak ditunjukkan dengan perilaku menolak untuk percaya dirinya mengalami kehilangan, tidak siap menghadapi masalah – masalah yang akan terjadi, reaksi denial biasanya berlangsung segera 24 jam setelah terjadi kehilangan. Hal ini didukung oleh penelitian Farooqi (2005) yang melaporkan bahwa reaksi wanita yang mengalami histerektomi sama seperti merasakan suatu kehilangan, difase awal berupa perasaan tidak percaya apabila rahimnya telah diangkat, kemudian diikuti reaksi kesedihan hingga terjadi depresi. 2). Tawar Menawar (Bargaining)
Dua orang partisipan menunjukkan respon kehilangannya dengan menyatakan ketidakpercayaannya bahwa mereka telah kehilangan rahim. Dalam hal ini mereka dalam kondisi bargaining atau tawar – menawar
Universitas Indonesia
dengan kondisi yang saat ini sedang mereka alami. Saat dua dari tujuh partisipan akan dilakukan pengangkatan rahim, mereka tetap berusaha melakukan bargaining dengan tetap mencoba berharap kalau rahimnya jangan diangkat. Berikut diungkapkan oleh partisipan :
”Sebetulnya saya masih ingin mempertahankan rahim saya, kalo bisa jangan diambil ” (P1)
”Pertama kalinya ya menyesal. Saya masih pingin punya anak lagi, kalo punya anak sama aja punya harta, daripada punya harta tapi tidak punya anak kan mba” (P4)
Pada saat menceritakan harapannya, dua dari tujuh partisipan yang saat itu didampingi oleh suaminya menunjukkan mimik wajah penuh kekhawatiran, mata tampak berkaca – kaca, sesekali mengusap air mata dikedua sudut matanya. Dua orang partisipan juga mengungkapkan respon ketika akan dilakukan pengangkatan rahim seperti kebingungan, berusaha sabar untuk menerima disertai rasa keraguan dan ketidakpercayaan sebagai bentuk proses penawaran diri. Berikut diungkapkan oleh partisipan :
”Ya, gimana ya mba, saya masih bingung bener apa ga kalo rahim saya yang diangkat, kalo bisa seh jangan dulu diangkat” (P3)
”Saya pinginnya masih mengharap kalau rahim saya tidak diangkat, jadi saya masih bisa memberikan keturunan mba” (P7)
Kategori tawar – menawar (bargaining) dikemukakan dalam konsep berduka oleh Kubbler – Rose (1969, dalam Kozier, et al, 2004) yang membagi respon berduka ke dalam beberapa tahapan, dimana respon bargaining ditunjukkan dengan perilaku belajar menerima kepedihan meskipun disertai kecemasan dan keraguan yang berada dalam tahapan ketiga setelah denial dan anger.
Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Leppert, Legro dan Kjerulff (2007), menyebutkan bahwa wanita yang mengalami
Universitas Indonesia
histerektomi akan mengalami distress psikologis yang meliputi kecemasan, depresi, marah serta kebingungan untuk mencari bantuan dari tenaga profesional untuk masalah emosionalnya. Isu mengenai kehilangan kesuburan pada wanita yang mengalami histerektomi juga menyebabkan kecemasan, ambivalensi serta ketakutan kehilangan kemampuan untuk memiliki anak.
2). Menerima kehilangan
Tahapan terakhir dalam proses berduka adalah menerima kehilangan. Dalam hal ini kategori menerima kehilangan atas pengangkatan rahim adalah berusaha untuk menganggap peristiwa kehilangan karena diangkatnya rahim sebagai suatu kenyataan yang harus mereka terima kenyataannya. Saat dilakukan wawancara, tiga dari tujuh partisipan menunjukkan mimik wajah pasrah, keadaan mereka jauh lebih tenang, sambil sesekali tersenyum dengan ikhlas. Berikut beberapa ungkapan dari partisipan :
”Saya hanya pasrah pada Allah, niatnya mencari obat dan menghilangkan penyakit yang ada. Saya kuatkan hati, tidak ada beban, tidak ada rasa takut (P1)
”Ya, tidak ngapa-ngapain mba. Saya sudah pasrah aja..pokoke wis pasrah aja dengan kondisi saya” (P2)
”Ya, rasane kayak gimana ya. Ya misalnya kayak benda mba, aku punya 5 tapi dah hilang 1, susah mba, sedih banget seh, tapi saya dah pasrah, ya kalo keadaan saya harus begini yang penting pokoknya saya harus semangat”(P6)
Kategori menerima kehilangan (acceptance) dikemukakan dalam konsep berduka oleh Kubbler – Rose (1969, dalam Kozier, et al, 2004) yang membagi respon berduka ke dalam beberapa tahapan, dimana respon acceptance ditunjukkan dengan klien mulai dapat berbagi perasaan tentang kehilangan, menerima kenyataan, kembali beraktivitas seperti biasanya dan mulai memandang masa depan.
Universitas Indonesia
Dalam penelitian ini beberapa respon dari tahap berduka atau kehilangan dari respon awal berupa penolakan tidak terlihat jelas dari beberapa partisipan, sehingga yang sering terlihat hanya respon penerimaan mereka. Hal ini bisa disebabkan oleh waktu ketika partisipan divonis oleh dokter untuk dilakukan histerektomi sudah terjadi dua bulan yang lalu. Dua orang partisipan mengatakan kalau dirinya belum siap untuk menghadapi operasi pengangkatan rahim karena baru pertama kalinya mereka menjalani operasi, sehingga ia menunda sampai benar – benar siap secara mental. Satu partisipan mengatakan kalau dirinya masih menunggu biaya untuk persiapan operasi sehingga harus menunda operasi tersebut. Karena beberapa alasan diatas, sangat dimungkinkan bahwa respon kehilangan terlihat jelas pada saat mereka divonis untuk diangkat rahimnya dua bulan yang lalu atau beberapa waktu yang lalu, sehingga pada saat mereka berada dirumah sakit untuk dilakukan histerektomi, partisipan sudah dalam tahap penerimaan walaupun terkadang respon untuk masih mencoba berharap masih terlihat. Respon kehilangan juga sangat terlihat jelas pada ibu nullipara dibandingkan dengan ibu primipara. Respon denial dan marah tampak jelas pada dua dari tujuh partisipan yang merupakan ibu nullipara. Hal ini dimungkinkan bahwa mereka belum pernah merasakan bagaimana melahirkan seorang anak, menggendong anak, merawat sampai membesarkan anak, mereka masih berharap kalau pengangkatan rahim itu tidak terjadi pada mereka. Saat dilakukan wawancara, tampak sekali kecemasan diwajah kedua partisipan tersebut, pikirannya tampak menerawang jauh. Bahkan satu partisipan sambil beruraian air mata mengatakan kalau suaminya sangat berharap untuk mempunyai anak, walaupun suaminya sekarang tampak mendukung dirinya akan tetapi dia mengatakan tidak tahu apa yang akan terjadi dalam rumah tangganya kelak, dirinya hanya bisa pasrah kepada Allah.
Universitas Indonesia
Skema 4 .3 : Proses Analisa Data Tema 3
Kata Kunci Kategori Tema
Interview :
- Berkumpul dengan tetangga, ngobrol - Bekerja seperti biasa - Merawat dan
menjaga anak - Diskusi dengan
suami - Cerita dengan
keluarga dan teman - Banyak beribadah - Perbanyak sholat
sunat Observasi & Fieldnotes :
- Jarak rumah dengan keluarga berdekatan - Jarak rumah dengan
tetangga dekat - Tetangga datang ke tempat klien - Lingkungan rumah ramai - Klien sering melafalkan asma Allah - Klien sedang melakukan ibadah - Klien sedang membuat kerajinan tangan Interview : - menyalahkan suami dengan kondisinya - penyakit akibat perbuatan suami - menganggap diri yang bersalah - bisa lebih menjaga
kesehatan Koping berfokus masalah Bentuk Koping Koping berfokus emosi Tinjauan Literatur : - Stuart & Sundeen, (2005)
tentang mekanisme koping adaptif
- Lazarus, (2000) tentang, koping yang berfokus pada masalah dan emosi - Penelitian Wang, Lambert,
& Lambert, (2007) tentang penggunaan strategi koping yang tepat
- Penelitian Reis, Engin, Ingec & Bag (2007) tentang respon dan koping wanita dengan histerektomi dari kepercayaan dan perilaku
Observasi & Fieldnotes : - wajah tampak
tegang saat bercerita - mata berkaca – kaca saat melihat suami - tangan mengepal
kuat
Universitas Indonesia
3. Berbagai bentuk koping akibat kehilangan rahim
Pasca mengalami proses kehilangan rahim, semua partisipan dalam studi ini melakukan upaya untuk beradaptasi dengan perubahan kehidupannya setelah kehilangan rahim. Beberapa partisipan beradaptasi dengan memperlihatkan koping – koping adaptif yaitu koping berfokus pada masalah. Disisi lain, partisipan lainnya menunjukkan penyesuaian dengan membentuk koping – koping yang maladaptif yaitu koping – koping mereka masih bersifat emosional (koping berfokus pada emosi). Berikut uraian secara rinci tentang pembentukan koping baik yang adaptif maupun maladaptif dari para