II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kerangka Teoritis
2.1.1 Hasil Belajar
Hasil belajar adalah hasil yang dapat kita lihat setelah kita melakukan pembelajaran, suatu proses belajar mengajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan dari proses belajar mengajar tersebut. Hasil belajar merupakan dampak dari pengajaran, hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Dimyati dan Mudjiono (2009: 20) hasil belajar merupakan:
Suatu puncak proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengajaran dan dampak pengiring. Kedua dampak tersebut bermanfaat bagi guru dan siswa.
Menurut Dimyati dan Mudjiono, 2009: 3 Pengertian hasil belajar dapat dilihat dari dua sisi yaitu:
Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar, sedangkan dari sisi siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar.
Dengan berakhirnya suatu proses pembelajaran, maka siswa memperoleh hasil belajar. Hasil belajar merupakan dampak dari pengajaran yang dapat bermanfaat bagi guru dan siswa. Manfaat hasil belajar bagi guru adalah
8 sebagai evaluasi tindakan mengajar agar guru dapat menyampaikan
pembelajaran dengan lebih baik sedangkan bagi siswa hasil belajar adalah puncak proses belajar, untuk menilai hasil pembelajaran dan usaha dalam belajar yang selama ini telah mereka lakukan. Hasil belajar siswa merupakan suatu hal yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menyerap atau memahami suatu materi yang disampaikan. Dengan kata lain, hasil belajar merupakan bukti adanya proses belajar- mengajar antara guru dan siswa. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Djamarah dan Zain (2006: 105) sebagai berikut:
1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi , baik secara individual maupun kelompok. 2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran yang telah
dicapai, baik secara individual maupun kelompok.
Hasil belajar yang bisa diperoleh siswa setelah pembelajaran dapat berupa informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif. Gagne (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2009: 10)
menyatakan kelima hasil belajar tersebut merupakan kapabilitas siswa. Kapabilitas siswa tersebut berupa:
1. Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemilihan informasi verbal memungkinkan individu berperanan dalam kehidupan.
2. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelek ini terdiri dari diskriminasi jamak, konsep konkret dan definisi, dan prinsip.
3. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
9 4. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian
gerak jasmani dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.
Informasi non verbal dikenal atau dipelajari dengan cara penginderaan terhadap objek-objek dan peristiwa-peristiwa secara langsung. Informasi fakta dan pengetahuan verbal dikenal atau dipelajari dengan cara
mendengarkan orang lain dan dengan jalan membaca. Semuanya itu penting untuk memperoleh konsep-konsep. Selanjutnya, konsep-konsep itu penting untuk membentuk prinsip-prinsip. Kemudian prinsip-prinsip itu penting di dalam pemecahan masalah atau di dalam kreativitas. Menurut Bloom dalam Sardiman (2004: 23-24) bahwa ada tiga ranah hasil belajar, yaitu:
a) Kognitif: Knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan,
merencanakan, membentuk bangunan baru), evaluation (menilai), application (menerapkan).
b) Affective: Receiving (sikap menerima), responding (memberi respon), Valuing (menilai), organization (organisasi),
characterization (karakterisasi).
c) Psychomotor: initiatory level, pre-routine level, routinized level.
Hasil belajar siswa memiliki tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dijadikan sebagai penilaian hasil belajar siswa. Diketahui bahwa dengan belajar, maka kemampuan siswa meningkat. Belajar dan peningkatan kemampuan berjalan secara beriringan, semakin sering siswa belajar maka kemampuan yang dimiliki siswa akan semakin meningkat. Ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa akan berfungsi dengan baik.
10 Berdasarkan rumusan Bloom (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2009: 23-28) ranah kognitif terdiri dari 6 jenis perilaku sebagai berikut :
1. Remember, mencakup ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan.
2. Understand, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna hal
yang dipelajari.
3. Apply, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah
untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru.
4. Analyze, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam
bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
5. Evaluate, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang
beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.
6. Create, mencakup kemampuan menbentuk suatu pola baru.
Menurut Slameto, 1991: 131 hasil belajar dari ranah kognitif mempunyai hirarki atau tingkatan dalam pencapaiannya. Adapun tingkat-tingkat yang dimaksud adalah:
(1) informasi non verbal, (2) informasi fakta dan pengetahuan verbal, (3) konsep dan prinsip, dan (4) pemecahan masalah dan kreatifitas.
Ranah kognitif memiliki enam jenis perilaku yaitu mengingat, mengerti, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan, seluruh kemampuan ini sebaiknya dimiliki oleh siswa karena dengan memiliki kemampuan ini akan meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam
pencapaiannya ranah kognitif juga memiliki beberapa tingkatan yaitu informasi non verbal, informasi fakta dan pengetahuan verbal, konsep dan prinsip, dan pemecahan masalah dan kreatifitas yang akan didapat siswa apabila siswa menguasai enam prilaku dalam ranah kognitif. Selain ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor juga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Dari pengertian hasil belajar yang telah dikemukakan
11 oleh para ahli di atas, maka hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah proses belajar meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil belajar tersebut bisa berbentuk pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Oleh karena itu seseorang yang melakukan aktivitas belajar akan memperoleh perubahan dalam dirinya dan
memperoleh pengalaman baru, maka individu itu dikatakan telah belajar. Untuk menilai dan mengukur keberhasilan siswa dipergunakan tes hasil belajar. Terdapat beberapa tes yang dilakukan guru, diantaranya: uji blok, ulangan harian, tes lisan saat pembelajaran berlangsung, tes mid semester dan tes akhir semester. Hasil dari tes tersebut berupa nilai-nilai yang pada akhirnya digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran yang terjadi. Tes ini dibuat oleh guru berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Hasil belajar setiap siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Bahan mentah hasil belajar terwujud dalam lembar-lembar jawaban soal ulangan atau ujian dan yang berwujud karya atau benda. Semua hasil belajar tersebut merupakan bahan yang berharga bagi guru dan siswa. Bagi guru, hasil belajar siswa di kelasnya berguna untuk melakukan perbaikan tindak mengajar atau evaluasi. Bagi siswa, hasil belajar tersebut berguna untuk memperbaiki cara-cara belajar lebih lanjut.
12 2.1.2 Lembar Kerja Siswa
LKS merupakan salah satu media instruksional edukatif berbasis cetakan. LKS digunakan sebagai perangkat pembelajaran menjadi pendukung buku dalam pencapaian kompetensi dasar siswa. LKS diperlukan guna
mengarahkan proses belajar siswa, dimana pembelajaran yang berorientasi kepada peserta didik, maka dalam serangkaian langkah aktivitas siswa harus berkenaan dengan tugas-tugas dan pembentukan konsep. Sutrisno (2011) menyatakan bahwa LKS berperan sebagai pendamping dari buku teks pelajaran. Sehingga di dalam LKS tidak perlu terdapat rangkuman materi pelajaran karena materi pelajaran sudah ada di buku teks, soal-soal yang disajikan bukan merupakan soal pilihan ganda, tetapi soal-soal yang mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Pada tahun 1991 badan American Education Reform menyatakan bahwa soal-soal pilihan ganda tidak dapat digunakan untuk mnguji kemampuan berpikir tingkat tinggi, kemampuan problem solving, kreativitas, dan sikap inisiatif. Jenis soal pilihan ganda hanya dapat melatih kemampuan berpikir tingkat rendah seperti menghafal (Lynn, 1991: 1).
Dengan adanya LKS, partisipasi aktif peserta didik sangat diharapkan, sehingga dapat memberikan kesempatan lebih luas dalam proses konstruksi pengetahuan dalam dirinya. LKS dapat digunakan sebagai pengajaran sendiri, mendidik siswa untuk mandiri, percaya diri, disiplin, bertanggung jawab dan dapat mengambil keputusan. Hal ini didukung oleh pendapat Trianto (2007:73) bahwa :
13 LKS adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan
kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah. Lembar kegiatan ini dapat berupa panduan untuk latihan pengembangan aspek kognitif maupun panduan untuk pengembangan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan eksperimen atau demonstrasi.
LKS yang digunakan oleh guru dapat berbentuk berstruktur atau tidak berstruktur. Jika LKS yang digunakan adalah LKS berstruktur maka dalam proses pembelajaran guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator, namun jika LKS yang digunakan tidak berstruktur maka guru harus
menjelaskan maksud isi LKS tersebut. Ahliswiwite (2007:6) menyatakan bahwa ada dua macam LKS yang dikembangkan dalam pembelajaran di sekolah, yaitu:
1. LKS Tak Berstruktur.
LKS tak berstruktur adalah lembaran yang berisi sarana untuk materi pelajaran, sebagai alat bantu kegiatan peserta didik yang dipakai untuk menyampaikan pelajaran. LKS merupakan alat bantu menga-jar yang dapat dipakai untuk mempercepat
pembelajaran, memberi dorongan belajar pada tiap individu, berisi sedikit petunjuk, tertulis atau lisan untuk mengarahkan kerja pada peserta didik.
2. LKS Berstruktur.
LKS berstruktur memuat informasi, contoh dan tugas-tugas. LKS ini dirancang untuk membimbing peserta didik dalam satu
program kerja atau mata pelajaran, dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan pembimbing untuk mencapai sasaran pembelajaran. Pada LKS telah disusun petunjuk dan
pengarahannya, LKS ini tidak dapat menggantikan peran guru dalam kelas. Guru tetap mengawasi kelas, memberi semangat dan dorongan belajar dan memberi bimbingan pada setiap siswa.
14 LKS digunakan untuk menuntun siswa belajar mandiri dan dapat menarik kesimpulan pokok bahasan yang diajarkan. Penyajian bahan pelajaran umumnya dapat mendorong siswa mengembangkan kreativitas dalam belajar. Dengan demikian mampu mendorong siswa secara aktif
mengembangkan dan menerapkan kemampuannya. Ahliswiwite (2007:5) dinyatakan bahwa tujuan dan manfaat menggunakan media belajar LKS adalah:
1. Mengaktifkan peserta didik dalam mengembangkan konsep. 2. Mengaktifkan peseta didik dalam proses belajar mengajar. 3. Melatih peserta didik untuk menemukan dan mengembangkan
keterampilan proses.
4. Membantu guru dalam menyusun rencana pembelajaran. 5. Sebagai pedoman guru dan peserta didik untuk menambah
informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.
6. Membantu peserta didik memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari melalui kegiatan belajar mengajar.
7. Membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.
Sebelum merancang sebuah LKS terdapat hal-hal yang harus dilakukan oleh guru yaitu melakukan analisis kurikulum dan kebutuhan dan
menentukan judul LKS sesuai dengan SK dan KD. Hal ini diungkapkan oleh Depdiknas (2008:23) dalam Rusdi (2008: 40) bahwa langkah-langkah persiapan LKS dijelaskan dalam sebagai berikut:
1. Analisis kurikulum. Analisis ini dilakukan dengan memperhatikan materi pokok, pengalaman belajar siswa, dan kompetensi yang harus dicapai siswa.
2. Menyusun peta kebutuhan LKS. Peta kebutuhan LKS berguna untuk mengetahui jumlah kebutuhan LKS dan urutan LKS.
3. Menentukan judul-judul LKS. Judul LKS harus sesuai dengan KD, materi pokok dan pengalaman belajar.
15 LKS merupakan salah satu media pembelajaran yang cukup efektif untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa di sekolah. LKS dapat membantu siswa menemukan dan mengembangkan konsep, dan menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis. LKS merupakan alat bantu mengajar yang dapat dipakai untuk
mempercepat pembelajaran, memberi dorongan belajar pada tiap individu, berisi sedikit petunjuk, tertulis atau lisan untuk mengarahkan kerja pada peserta didik. Dengan adanya LKS yang baik maka diharapkan hasil belajar siswa akan semakin baik.