• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN ANALISA

Dalam dokumen laporan motor bakar (Halaman 33-48)

HASIL DAN ANALISA 3.1 PRAKTEK 1

(PENYETELAN PLATINA PADA MOTOR BENSIN KONVENSIONAL)

 Langkah-langkah :

A. Lepas distributor, dengan cara :

1) Lepas distributor cap/tutup distributor. 2) Lepas kabel negatif coil yang ke distributor 3) Lepaskan baut pengikat distributor

4) Angkat distributor secara perlahan.

5) Usaplah oli yang ada pada poros distributor dengan kain.

B. Penyetelan platina, dengan cara : 1) Top kan mesin silinder 1.

Buka cop delco dan Cara memposisikan top mesin bisa di baca di Cara Mengetahui Top mesin (TDC=Top Dead Center).

2) Posisikan platina pada nok puncak (Nok Delko).

Biasanya saat top posisi ebonit/kaki platina belum mencapai puncak nok delko, jadi tambah putaran mesin untuk mencapai posisi puncak nok delko.

3) Kendorkan Baut pengikat platina.

Pengendoran baut platina jangan terlalu kendor, cukup setengah putaran atau sperempat putaran saja.

4) Stel platina sesuai spesifikasi mobil.

Pergunakan obeng minus untuk menyetel platina, tiap2 delko sudah dilengkapi tempat untuk menyetel celah platina (berupa nok/coakan), (stel dengan celah 0.45mm).

Kencangkan baut platina dan pasang kembali cop delco

C. Pemasangan Distributor

1) Jangan lupa menyetel celah platina sebelum memasang distributor. 2) Setelah platina telah distel, putarlah pully poros engkol menunjukan saat

pengapian silinder 1 atau 4, untuk saat pengapian silinder 1 cek pada push rod, jika semua push rod silinder 1 semuanya dapat berputar maka itu menunjukan kalau saat pengapian silinder 1, kalau tidak dapat berputar maka itu saat pengapian silinder 4, misal kita pilih saat pengapian silinder 1(5 derajat engkol, lihat coakan pada pully tepat di angka 5)

3) Tepatkan coakan pada pompa oli kearah vertikal

4) Sebelum memasang arahkan rotor ke silinder 2 atau angka 1 pada tutup distributor, lalu putar berlawanan arah jarum jam satu gigi, agar pemasangan dapat sempurna menunjukan ke silinder 2.

5) Pasang distributor perlahan sampai pemasangannya benar benar sempurna dan rotor menunjukan ke silinder 2/ke angka 1 pada tutup distributor.Bila pemasangan belum tepat ulang sampai tepat.

6) Setelah terpasang sempurna, putarlah oktan selektor ke netral (segaris dengan tanda pada distributor ), lalu pasang baut distributor tapi tidak sampai kencang.

7) Pasang kembali kabel negatif coil kedistributor, Ingat, pasang selalu isolator yang berwarna putih.

8) On kan kunci kontak

9) Ambil kabel tegangan tinggi dari ignition coil lalu DEKATKAN (tidak ditempelkan) dengan massa.

10) Geser geser bodi distributor sampai pada kabel tegangan tinggi tadi keluar percikan bunga api.

11) kencangkan baut pengikat distributor tetapi jangan sampai bodi distributor bergeser sedikitpun.

12) OFF kan kunci kontak

13) Pasang kembali distributor cap dan jangan lupa rotor telah terpasang.

D. Pengecekan celah platina menggunakan Dwell Tester Langkah-langkah :

1) Sebelumnya pastikan celah platina sudah tepat menurut anda, jika belum silahkan setel terlebih dahulu. Kira-kira celahnya 0,40 mm.

2) Hidupkan mesin, kemudian pasang dwell tester. Biasanya ada 3 macam warna kabel :

Kabel merah : dihubungkan ke terminal positif baterai Kabel hitam : massa

Kabel kuning/hijau : dihubungkan ke minus koil

3) Setelah itu putar selector pemilih jumlah silinder, sesuaikan dengan jumlah silinder mesin mobil yang anda periksa.

4) Baca besar sudut dwell pada dwell tester. Dan cocokkan dengan spesifikasi yang ada. Pada kendaraan 4 silinder khusunya toyota seri k spesifikasinya adalah 46 - 58 derajat. Untuk motor 6 silinder adalah 36 - 38 derajat.

5) Jika sudah sesuai, lepaskan kembali kabel yang dihubungkan tadi. Dan lakukan pemeriksaan yang selanjutnya.

6) Jika belum sesuai dengan spesifikasi, lepaskan kabel dwell tester dari baterai, massa, dan minus koil, kemudian matikan mesin dan stel sudut dwell dengan cara merubah celah platina. Untuk memperbesar sudut dwell caranya adalah dengan memperkecil celah platina, dan untuk memperkecil sudut dwell caranya adalah memperbesar celah platina. HASIL SUDUT DWELL : 50˚, Berarti sudah memenuhi spesifikasi. E. Penyetelan Timing Pengapian

1) Pastikan octane selector pada distributor tepat pada posisi tengah 2) Kendorkan baut distributor dengan kunci T 12

3) Hidupkan mesin dan pastikan putaran idle sudah tepat. 4) Arahkan cahaya timing light kea rah coakan pada pulley

5) Putar distributor hingga tanda timing di pulley tepat pada tanda timing di mesin.

6) Apabila tanda timing sudah tepat, kencangkan baut distributor. Hal yang harus diperhatikan dengan saat pengencangan baut distributor tidak boleh menyentuh bodi.

Hasil Timing Pengapian : 5˚ sebelum TMA 3.2 PRAKTEK 2

(CARA MENDETEKSI KERUSAKAN EFI SECARA MANUAL/JEMPER)

Langkah-langkah :

1) Diagnostic Normal Mode (DNM)

Pada Diagnostic Normal Mode, yang dibutuhkan hanyalah menjumper diagnostic box dengan melihat sticker yang ditempel terbalik di DLC. Pasanglah kabel tersebut pada kode TE1 dan E1

Kondisi mesin saat mendeteksi bisa dalam kodisi kunci kontak "ON", bisa pada kondisi mesin mobil hidup.

Diagnostic akan mendeteksi kerusakan melalui kedipan lampu pada indikator "check engine" pada spedometer. Diagnostic Normal Mode ini akan memonitor 15 items dimobil.

2) Diagnosis Test Code :

Biasanya dalam Diagnosis Normal Mode banyak item penyebab mobil mogok total tidak terdeteksi, sehingga kita beralih untuk mengecek mobil dengan cara Diagnosis Test Code, karena dalam keadaan kondisi

mesin Mati. Diagnosis Test Code ini mencangkup 3 kode penting yang akan dicek secara langsung :

 Kode 22 : Temperatur Engine Coolant tetap pada suhu 80 derajat celcius (apakah mobil overheating atau tidak?)

 Kode 31 : Waktu pengapian tetap pada 5 derajat sebelum TMA dan tekanan absolut manifold tetap pada 46,7 Kpa. (Apakah pengapian mobil normal?)

 Kode 41 : Throttle position tetap pada 0 derajat (apakah sensor-sensor yang ada dithrottle Body dalam keadaan normal yang biasanya berguna untuk mengatur udara masuk)

Jika salah satu dari kode ini terdeteksi ketika kita melakukan Diagnosis On Board maka secara otomatis ECU akan mengubah mobil ke mode Fail Safe. Dan sama seperti komputer yang dapat dijalankan melalui Safe Mode. Mobil tetap dapat dijalankan melaui Safe Mode untuk melihat lebih dalam lagi kerusakan apa yang terjadi dalam mobil.

Pastikan sebelum Diagnostic Test Code dimualai, Throttle Valve tertutup, seluruh switch aksesories mobil dalam kondisi OFF, dan transmisi pada posisi Park/Netral. Kode yang harus dijumper untuk Diagnostic Test Code ini adalah TE1, TE2, dan E1 kemudian kunci kontak diputar ke posisi ON (Mesin mobil jangan dinyalakan dulu). Setelah menjumpai Troubel Code pada saat Diagnosis, kemudian nyalakan mesin dan coba test jalan sebentar. Pada saati ini, ECU telah mengoperasikan Fail Safe Mode, jika kecepatan mobil sekitar 5 Km/Jam (3 mph) atau kurang. kode troubel diagnosisi 42 (Sinyal Kecepatan Kendaraan) akan dimunculkan dan ini normal.

Untuk kembali ke Normal Mode setelah pengetesan, silahkan matikan mesin dan cabut kabel jumper. Setelah memperbaiki bagian yang bermasalah dari trouble code tersebut, ECU akan tetap menyimpan DTC tersebut pada memorinya, dan untuk menghapus DTC pada memori dengan cara mencabut sekering EFI pada Fuse Box atau mencabut kabel negative baterai selama kurang lebih 10 detik. ECU akan kembali ke Normal Mode.

3.3 PRAKTEK 3

(MENDETEKSI KERUSAKAN EFI DENGAN SCANNER) Langkah-langkah :

1. Lakukan pemeriksaan pada oli mesin 2. Lakukan pemeriksaan pada air dingin

3. Hidupkan mesin hingga mencapai suhu kerja (hingga kipas pendingin menyala)

4. Matikan mesin

5. Pasang engine scanner

6. Check apakah sudah conect atau tidak (lampu chek harus berkedip) 7. Hidupkan mesin

8. Tekan tombol power

9. Pilih menu start, Pilih carbrium

10.Tunggu sampai muncul logo semua mobil (pilih Toyota) 11. Pilih Toyota – 17 Rectangle, lalu klik engine, akan muncul

Read Trouble CodeClear Trouble CodeRead Data Stream 1) Read Data Stream

2) Read Trouble Code

(TUNE UP MESIN DIESEL)

1) Pemeriksaan Rpm menggunakan Tachometer Digital. Langkah-langkah :

1. Hidupkan mesin.

2. Hidupkan tachometer, lalu arahkan ke flywell dari mesin diesel. 3. Amati dan baca hasilnya.

HASIL :

 Rpm terendah : 700 Rpm  Rpm tertinggi : 950 Rpm

2) Pemeriksaan dan Penyetelan Nozel. Langkah-langkah :

1. Pasang injector/nozel pada tester. 2. Tutup kran saluran tekan ke manometer.

3. Lakukan pengetesan bentuk penyemprotan dengan menggerakkan tuas dalam langkah penuh dengan cepat dan kuat.

 A B C : bentuk jelek  D : bentuk baik

 Sudut penyemprotan yang baik adalah 4˚ 5. Tes kebocoran

 Buka kran saluran tekan ke manometer. Gerakkan tuas tester sampai manometer menunjukkan tekanan >80 bar, pertahankan tekanan ini selama 20 detik, lihat dan amati kebocoran pada ujung nozel.

 A : ada kebocoran  B : tidak ada 6. Tes tekanan penyemprotan

 Gerakkan tuas tester dalam langkah penuh dengan kuat dan cepat, baca tekanan pada manometer.

 Hasilnya : 10,3 Mpa 3) Pemeriksaan Glowplug/busi pijar.

Langkah-langkah :

1. Lepaskan glowplug dari mesin

2. Gunakan pengisi daya baterai 10-12 Ampere

4. Pasang kabel positif dari pengisi daya, kemudian tempelkan ke ujung busi pijar.

5. Amati apakah busi berpijar/tidak berpijar dalam jangka beberapa detik, antara 6-8 detik.

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum ini maka, dapat disimpulkan bahwa :

1. Motor dibedakan dari proses kerjanya yaitu motor 4 tak dan motor 2 tak. Sedangkan berdasarkan penyalaan bahan bakarnya motor juga dibedakan menjadi 2 yaitu motor bensin dan motor diesel.

2. Untuk motor bensin menggunakan bahan bakar bensin (premium), sedangkan untuk motor diesel menggunakan bahan bakar solar atau minyak diesel.

3. Bagian-bagian motor bakar terdiri dari silinder, piston, karbulator, governer dan magnet roda gila.

4. Untuk praktek yang diujikan yaitu, Scanner, mendeteksi kerusakan EFI secara manual/jemper, Penyetelan platina, dan Tune up mesin diesel. 4.2 Saran

1. Untuk Laboratorium

Sebaiknya alat-alat dan mesin yang ada di dalam laboratorium lebih di lengkapi dan disusun dengan rapi, agar praktikum lebih mudah untuk mengamati dan mengambil gambar.

DAFTAR PUSTAKA

Arismunandar, 2005.Penggerak Mula Motor Bakar torak. Tiga Serangkai. Jakarta file://D:/TUGAS/semester VI/praktek motor bakar/komponen utama motor bakar

motor bakar.htm

file://D:/TUGAS/semester VI/praktek motor bakar/AUTOMOTIVE CARA KERJA MOTOR BENSIN DAN DIESEL.htm

http://tugassekolahkuliah.blogspot.co.id/2015/10/makalah-mesin-2-tak-dan-4- tak.html http://sabiqptm.blogspot.co.id/2014/05/makalah-motor-bensin.html http://zallesmana.blogspot.co.id/p/bagian-bagian-utama-motor-bakar- bagian_27.html https://www.bersosial.com/threads/mengenal-bagian-bagian-mesin-diesel.23143/ http://ekorudianta.blogspot.com/2015/06/makalah-motor-bakar-satu.html

Okasatria, N dan Agus Budi Jatmiko. 2002. Motor Bakar. Perpustakaan UI : Jakarta.

Dalam dokumen laporan motor bakar (Halaman 33-48)

Dokumen terkait