ANALISIS HASIL PENELITIAN
C. Hasil dan Analisis
Kemiskinan merupakan masalah global yang dihadapi oleh semua negara baik negara maju apalagi negara berkembang, baik masyarakat kota maupun masyarakat pedesaan. Berbagai telaah, kajian maupun seminar telah dilakukan di berbagai negara, tetapi kemiskinan tetap menjadi masalah besar sampai sekarang. Berbagai kebijakan pun telah ditempuh oleh berbagai pemerintahan yang ada, namun kemiskinan tetap ada.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dengan pendapatan menengah juga mengahadapai masalah kemiskinan. Berbagai kebijakan telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengatasi kemiskinan yang ada. Anggaran pemerintah pusat maupun daerah setiap tahun selalu ditingkatkan untuk membenahi berbagai sektor khususnya sektor pendidikan dan kesehatan, laju pertumbuhan ekonomi juga didorong untuk tumbuh agar memiliki kemampuan untuk menyerap Angkatan kerja yang ada. Ada dana BOS untuk mendukung Pendidikan, ada pemberian beasiswa
bagi masyarakat miskin, ada dana des, ada jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin, ada dana desa dan sebagainya, yang semuanya mengarah bagaimana agar kemiskinan menurun di Indonesia.
Kemiskinan memang menurun di Indonesia, tetapi jumlah penduduk miskin tetap besar, yang jika tidak diatasi segera bisa menimbulkan masalah keamanan nasional. Setiap orang menginginkan kebutuhan palin mendasar (makan, minum dan tempat tinggal) bisa terpenuhi. Orang akan melakukan apapun untuk bisa memenuhi kebuhan dasarnya, baik itu legal maupun illegal. Hal itu tentu saja akan berdampak pada kemanan nasioanal. Oleh karena itu, pemerintah memang harus melakukan berbagai kebijakan untuk mengatasi masalah kemiskinan.
Penelitian ini berusaha untuk meneliti lebih lanjut, tentang faktor apa saja yang sebenarnya mempengaruhi kemiskinan rata-rata provinsi di Indonesia. Variabel bebas yang diambil adalah pendapatan per kapita riil rata-rata penduduk provinsi, sanitasi, APMSMA dan rasio gini. Pendapatan per kapita diambil sebagai salah satu variabel bebas karena garis kemiskinan yang digunakan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) menggunakan garis kemiskinan makanan dan garis kemiskinan bukan makanan yang dihitung berdasar rata-rata pengeluaran per kapita per bulan. Variabel sanitasi digunakan sebagai pendekatan atas variabel pengeluaran pemerintah untuk kesehatan karena semakin maju perekonomian suatu negara kebutuhan akan sanitasi yang layak dan berkelanjuatn semakin meningkat, masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan. Digunakannya variable APMSMA, karena rata-rata lowongan kerja yang ditawarkan dalam dunia keja minimal lulusan SMA sehingga APMSMA diambil sebagai variabel pendekatan untuk pengeluaran sektor Pendidikan. Yang terakhir, variabel rasio gini, merupakan alat untuk mengukur ketimpangan dalam distribusi pendapatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel PDRB per kapita berpengaruh negatif terhadap kemiskinan rata-rata provinsi di Indonesia. Hal tersebut bisa terjadi karena menurunnya pendapatan per kapita penduduk menyebabkan kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan menjadi menurun, daya beli turun. Turunnya daya beli masyarakat menyebabkan kemiskinan akan bertambah dan sebaliknya jika pendapatan per kapita masyarakat naik, daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan semakin besar, mereka akan merasa semakin kaya dengan meningktanya daya beli sehingga kemiskinan akan menurun Oleh karena itu, pemerintah jika menginginkan kemiskinan menurun, maka tingkatkan daya beli masyarakat (pendapatan masyarakat ditingkatkan) bisa secara riil atau nominal. Untuk meningkatkan pendapatan secara riil, paling tidak pemerintah menjaga agar tidak terjadi kenaikan harga-harga barang secara umum atau menjaga stabilitas harga. Janagan sampai terjadi gejolak harga yang menyebabkan masyarakat semakin melemah daya belinya. Kalau pemerintah mempunyai kemampuan, maka pemerintah menaikan gaji pegawainya dan meningkatkan bantuan sosial baik jenisnya maupun jumlah nominalnya dengan tetap menjaga harga-harga stabil sehingga kenaikan gaji ataupun bantuan social bisa dirasakan dampak positifnya oleh msyarakat.
Variabel sanitasi ternyata juga berdampak negatif bagi kemiskinan rata-rata provinsi di Indonesia. Sanitasi yang dimaksud dalam variabel ini adalah persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap layanan sanitasi layak dan berkelanjutan untuk 40 persen masyarakat bawah. Artinya, semakin besar persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap layanan sanitasi layak dan berkelanjutan maka, semakin besar rata-rata kemampuan masyarakat dalam menjaga kesehatannya. Kesehatan yang tetap terjaga menjadikan seseorang tepa memiliki kemampuan untuk bekerja mencari nafkah sehingga dia mempunyai kemapuan untuk memenuhi
kebutuhan hidup mianimal menutup kebutuhan paling mendasar. Dengan demikian kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar tetap terjaga sehingga kemiskinan bisa menurun. Agar masyarakat bawah memiliki akses terhadap layanan sanitasi, pemerintah perlu menggalakkan kebijakan pembangunan sanitasi umum, khususnya di daerah miskin, maupun daerah-daerah pelosok yang sering tidak terjangkau banyak pihak. I samping itu juga, masyarakat diberikan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan dengan menggunakan sanitasi yang layak dan berkelanjutan.
Variabel APMSMA berpengaruh negatif terhadap kemiskinan rata-rata provinsi di Indonesia. Artinya, semakin banyak murid SMA dan sederajat yang sekolah dibanding dengan jumlah penduduk usia sekolah SMA dan sederajat maka, akan semakin menurun persentase penduduk miskin. Hal ini bisa terjadi karena angkatan kerja yang lulus SMA/sederajat lebih mudah mencari pekerjaan dibanding lulusan di bawah SMA dan sederajat. Seperti diketahui, rata-rata lowongan pekerjaan yang ada minimal lulusan SMA sehingga semakin banyak murid yang lulus SMA dan sederajat kemampuan untuk memperoleh pekerjaan akan lebih besar dari pada yang lulus di bawah SMA dan sederajat. Oleh karena itu, program belajar 12 tahun perlu digalakkan betul-betul agar bisa meningktakan lagi ke program wajib belajar 15 tahun sehingga nanti diharapkan rata-rata penduuk Indonesia adalah lulusan SMA, bukan lulusan SD seperti saat ini. Rata-rata Usia sekoleh di Indonesia hanya 8 tahun, artinya SMP belum lulus.
Rasio Gini atau koefisien gini berpengaruh positif terhadap kemiskinan rata-rata provinsi di Indonesia. Dengan demikian, jika rasio gini semakin kecil berarti ketimpangan pendapatan semakin kecil. Gap si kaya dan si miskin yang semakin kecil menimbulkan kehidupan yang harmonis, tidak akan memunculkan kecemburuna social karena satu sam lain selisih pendapatannya tidak besar. Hal ini akan menumbulkan irama kehidupan yang harmonis antar
anggota masyarakat sehingga kebersamaan akan terjaga, kebahagiaan dan ketentraman akan tercipta dengan sendirinya dan kemiskian akan menurun dengan sendirinya. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah agar selalu berusaha untuk menurunkan ketimpangan pendapatan yang ada dengan berbagai kebijakan. Kalau semua masyarakat diperlakukan dengan adil, maka tujuan pemerintah sesuai amanat UUD 1945 bisa tercapai yaitu masyarakt adil dan Makmur, bukan hanya sekedar jargon politik.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN