HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil dan Interpresi Penampang
Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan perangkat lunak RES2DINV untuk mendapatkan penampang 2D, selanjutnya setiap penampang diinterpretasikan. Untuk menginterpretasikan bawah permukaan yang sesuai dengan kedalamannya dilakukan dengan membaca nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan dalam pengukuran di lapangan. Nilai resistivitas menggambarkan kemampuan daya hantar listrik pada batuan. Sedangkan nilai chargeability menunjukkan kemampuan suatu mineral untuk menyimpan arus listrik. Semakin besar nilainya, maka semakin banyak mineral logam yang terkandung di dalamnya. Untuk mengetahui nilai resistivitas dan chargeability suatu material ditunjukkan berdasarkan color bar.
Hasil penampang 2D menggunakan RES2DINV menghasilkan pemodelan 2D resistivitas dan Induced Polarization. Hasil penampang yang diperoleh menunjukkan jarak dan posisi elektroda pada skala horizontal, sedangkan pada skala vertikal menunjukkan ketinggian atau kedalaman.
4.2.1 Lintasan 01
Pada penelitian ini, lintasan pertama dengan total panjang bentangan adalah 94 meter. Lokasi elektroda pertama terletak pada koordinat 9°52'09.05"S dan 124°25'44.32"E dan lokasi elektroda terakhir pada titik 94 meter terletak pada koordinat 9°52'11.98"S dan 124°25'44.86"E. Pada lintasan ini terlihat bentuk topografinya bahwa morfologinya berupa perbukitan yang bergelombang dengan bagian timur lebih tinggi dari pada
44
bagian barat. Data yang telah diolah menggunakan software RES2DINV menghasilkan penampang seperti pada gambar 4.2, maka dapat diketahui jenis batuan dan keberadaan mineral yang berada di titik lokasi penelitian tersebut.
Gambar 4.2 Penampang Lintasan 01
Data resistivitas dan Induced Polarization yang kemudian dikorelasikan dengan data geologi lokasi penelitian sehingga dapat memberikan interpretasi jenis batuan dan mineral. Pada lintasan pertama, dengan kedalaman penampang mencapai 18,2 meter. Pada penampang resistivitas terlihat ada 2 lapisan batuan dengan resistivitas rendah dan tinggi. Pada lapisan pertama didominasi oleh warna merah dengan resistivitas tinggi sebesar 11,9 – 29,5 Ωm yang berada pada jarak 3 – 9 meter. Pada lapisan ini dengan kedalaman 0,5 – 3,7 meter dan ketebalan
±3,2 meter diduga terdapat lapisan batuan lempung karbonatan, batu gamping. Sedangkan pada lapisan kedua dengan resistivitas rendah sebesar
1,9 – 4,8Ωm didominasi warna biru pada jarak 37 – 47 meter. Pada lapisan kedua dengan kedalaman 2,5 – 8 meter dan ketebalan ±6 meter, lapisan ini diduga merupakan batuan lempung.
Dari penampang 2D chargeability terlihat lapisan dengan nilai chargeability sedang berkisar antara 6 – 8,4 msec yang didominasi oleh warna hijau. Kemudian penampang chargeability dan penampang resistivitas dikorelasikan untuk mengetahui batuan yang mengandung mineral. Berikut ini adalah tabel interpretasi keberadaan mineral pada lintasan pertama:
Tabel 4.2 Pendugaan Sebaran Mineral Lintasan 01 Resistivitas meter. Lokasi elektroda pertama terletak pada koordinat 9°52'10.55"S dan 124°25'33.06"E dan lokasi elektroda terakhir pada titik 94 meter terletak pada koordinat 9°52'13.58"S dan 124°25'32.66"E. Pada lintasan ini terlihat bentuk topografinya berupa perbukitan. Data yang telah diolah menggunakan software RES2DINV menghasilkan penampang seperti pada gambar 4.3, maka dapat diketahui jenis batuan dan keberadaan mineral yang berada di titik lokasi penelitian tersebut.
46
Gambar 4.3 Penampang Lintasan 02
Pada gambar 4.3 terlihat pada range resistivitas >3,3 dan Induced Polarization sangat beda dengan lintasan 03, hal tersebut bisa dikarenakan terjadinya perbedaan nilai lingkungan sekitarnya. Namun dari pola resistivitas dan Induced Polarization menunjukkan pola yang sama.
Pada lintasan kedua ini, penampang 2D resistivitas memiliki nilai 1,2 – 3,3 Ωm dan rentang nilai chargeability sebesar 0,15 – 4,3 msec.
Berdasarkan penampang resistivitas didapatkan bahwa lapisan tersebut didominasi nilai resistivitas rendah 2,5 – 3,6 Ωm pada jarak 8 – 20 meter, diinterpretasikan merupakan batu lempung di kedalaman 0,5 – 4 meter dengan ketebalan ±3,5 meter. Pada lapisan kedua didominasi nilai resistivitas rendah dengan nilai 2,6 – 3,6 Ωm diinterpretasikan sebagai batu lempung dengan sisipan batupasir pada kedalaman 4 – 11,5 meter dengan ketebalan ±7 meter.
Berdasarkan penampang 2D chargeability terlihat tidak terdapat mineral di dalamnya dikarenakan nilai chargeability yang rendah. Maka dari itu pada lintasan 02 tidak terindikasi adanya mineral.
Tabel 4.3 Pendugaan Sebaran Mineral Lintasan 02 Resistivitas
Pada pengukuran lintasan ketiga, dengan panjang lintasan 94 meter.
Pada pengukuran ini menggunakan metode geolistrik konfigurasi Wenner-Schlumberger untuk mengetahui mineral di lokasi penelitian. Posisi koordinat lokasi penelitian berada pada titik awal 9°52'11.79"S dan 124°25'25.06"E, sedangkan titik terakhir lintasan berada pada koordinat 9°52'14.32"S dan 124°25'25.88"E. Lokasi lintasan 03 berada di dekat tambang mangan, morfologi daerah penelitian berupa perbukitan yang bergelombang dengan bagian barat lebih tinggi daripada bagian timur.
48
Gambar 4.4 Penampang Lintasan 03
Berdasarkan penampang 2D resistivitas dan Induced Polarization didapatkan rentang nilai resistivitas sebesar 0,67 – 177 Ωm, sedangkan nilai chargeability sebesar 1,2 – 38 msec. Pada penampang resistivitas dengan jarak 23 – 41 meter didominasi oleh warna merah terdapat singkapan pada penampang dengan nilai resistivitas yang tinggi 22,1 – 177 Ωm. Lintasan tersebut berada di kedalaman 0,5 – 3,7 meter dengan ketebalan lapisan ±3,2 meter, diduga merupakan batuan lempung karbonatan, batu pasir dan batu gamping. Kemudian nilai resistivitas sedang 11 – 22,1 Ωm. Lapisan tersebut pada jarak 71 – 87 meter dengan kedalaman 0,5 – 5 meter dengan ketebalan lapisan ±4,5 meter. Diduga merupakan batuan lempung karbonatan, sisipan pasir.
Berdasarkan pada penampang 2D Induced Polarization terdapat nilai chargeability yang tinggi sebesar 20,3 – 38 msec pada jarak 23 – 41 meter di kedalaman 0,5 – 3,7 meter dengan ketebalan ±3,2 meter. Pada
penampang tersebut, diduga terindikasi mineral mangan (Mn). Berikut ini ditampilkan tabel berupa korelasi antara nilai resistivitas dan nilai chargeability.
Tabel 4.4 Pendugaan Sebaran Mineral Lintasan 03 Resistivitas
Dari model penampang 2D resistivitas dan chargeability pada lintasan 03 dapat diambil kesimpulan bahwa diduga terdapat mineral mangan (Mn). Mineral mangan bersifat konduktif dan memiliki resistivitas yang rendah sampai sedang dan nilai chargeability yang cukup tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian pada lintasan 03 pendugaan mineral mangan memiliki nilai resistivitas >10 Ωm dan nilai chargeability >20 msec.
Keberadaan mineral mangan diduga ditemukan pada kedalaman 0 – 5 meter.
Adanya keberadaan batu lempung karbonatan merupakan lingkungan terjadinya proses mineralisasi mangan dan pembentukan mineral mangan berasosiasi dengan batu gamping menandakan bahwa pembentukannya dihasilkan dari proses pelapukan dan erosi batuan asal. Oleh sebab itu, hasil interpretasi lintasan 03 sesuai dengan korelasi data yang ada, berada di dekat tambang mangan.
50
4.2.4 Lintasan 04
Pada pengukuran lintasan keempat memiliki panjang lintasan 94 meter.
Posisi koordinat lokasi penelitian berada pada titik awal 9°52'14.19"S dan 124°25'21.90"E, sedangkan titik akhir elektroda berada pada koordinat 9°52'15.41"S dan 124°25'24.75"E. Lokasi lintasan 04 memiliki bentuk morfologinya berupa perbukitan yang menurun ke bagian timur.
Gambar 4.5 Penampang Lintasan 04
Pada gambar 4.5 bahwa penampang resistivitas memiliki range nilai resistivitas sebesar 0,93 – 7,0 Ωm, sedangkan nilai chargeability dengan range 0,22 – 6,4 msec. Pada penampang resistivitas didominasi oleh warna hijau, dengan nilai resistivitas sedang 2,2 – 4,0 Ωm tersebar merata merata pada jarak 4 - 76 meter di kedalaman 0,5 – 18 meter yang merupakan batuan lempung dengan sisipan batu pasir. Terdapat juga nilai resistivitas sedang didominasi warna merah 6,3 – 7,0 Ωm pada jarak 66 – 72 meter di kedalaman 0,5 – 2 meter diduga merupakan batuan lempung karbonatan.
Dari penampang 2D chargeability lintasan 04 terlihat lapisan dengan nilai chargeability sedang berkisar antara 3,8 – 5,5 msec yang didominasi oleh warna kuning. Kemudian penampang resistivitas dan chargeability dikorelasikan. Berikut ini adalah tabel interpretasi keberadaan mineral pada lintasan keempat:
Tabel 4.5 Pendugaan Sebaran Mineral Lintasan 04 Resistivitas
Pada lintasan kelima, bentangan panjang lintasan sama dengan lintadan yang lain yaitu 94 meter. Lokasi elektroda pertama terletak pada koordinat 9°52'08.74"S dan 124°25'18.67"E, sedangkan elektroda terakhir berada pada koordinat 9°52'11.61"S dan 124°25'19.55"E. Pada lintasan ini terlihat bentuk morfologinya berupa perbukitan menurun ke bagian timur. Data yang telah diolah menggunakan software RES2DINV menghasilkan penampang seperti pada gambar 4.6, maka dapat diketahui keberadaan mineral yang berada di suatu batuan di titik lokasi penelitian tersebut.
52
Gambar 4.6Penampang Lintasan 05
Berdasarkan penampang lintasan 05, didapatkan rentang nilai resistivitas sebesar 0,62 – 17,5 Ωm, sedangkan nilai chargeability sebesar 0,54 – 15,6 msec.
Pada penampang 2D resistivitas terdapat nilai resistivitas yang tinggi berwarna merah 10,9 – 17,5 Ωm pada jarak 14 – 80 meter di kedalaman 0,5 – 6 meter. Lapisan tersebut diduga merupakan batuan lempung karbonatan, batu pasir dan batu gamping. Pada jarak 31 – 33 meter dan di kedalaman 3,7 – 8 meter dengan nilai resistivitas 4,2 – 5,6 Ωm diduga merupakan batuan lempung karbonatan.
Dari penampang 2D chargeability lintasan 05, terlihat lapisan dengan nilai chargeability sedang berkisar antara 7 – 9,14 msec yang didominasi oleh warna hijau. Setelah semua data diolah, penampang resistivitas dan chargeability dikorelasikan. Berikut ini adalah tabel keberadaan mineral di lintasan 05:
Tabel 4.6 Pendugaan Sebaran Mineral Lintasan 05