• Tidak ada hasil yang ditemukan

JAWA TENGAH, INDONESIA)

C. Jenis Data

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Kegiatan

Berdasarkan hasil observasi lapang dan pengamatan, diperoleh informasi dan beberapa kegiatan mengenai Teknik Pengamanan Hutan di RPH Kepoh BKPH Selogender KPH Randublatung Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah.

426 Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5 1. Pengamanan Hutan Jati Terhadap Pencurian Kayu

Upaya perlindungan dan pengamanan terhadap hasil hutan adalah kegiatan dalam rangka mencegah dan membatasi kerusakan hasil hutan serta menjaga hak-hak negara atas hasil huta (Sila dan Nuraeni, 2009).

Jumlah penduduk yang semakin besar, sulitnya lapangan pekerjaan yang menimbulkan pengangguran tak kentara, meningkatnya konsumsi pangan, kepemilikan lahan yang semakin mengecil, meningkatnya kebutuhan kayu bakar dan kayu pertukangan merupakan faktor-faktor terhadap tingkat pencurian di kawasan hutan (Perhutani, 2008).

Pengamanan hutan dilaksanakan di lokasi atau petak-petak yang rawan akan pencurian kayu dan kerusakan hutan lainnnya. Dalam pengamanan hutan yang ada di RPH Kepoh BKPH Selogender ini masih sedikit jumlah personel polisi teritorial dari Perhutani dan hal ini menjadi salah satu kendala yang harus ditangani serius oleh pihak Perhutani. Berikut daftar petak-petak rawan pencurian BKPH Selogender KPH Randublatung disajikan dalam (Tabel 1).

Tabel 1. Daftar Petak-Petak Rawan Pencurian BKPH Selogender KPH Randublatung bulan September 2014.

BKPH RPH Petak Luas Baku

(Ha) Jenis Tanaman Tahun Tanaman Kelas Hutan

Selogender Kepoh 66B 19.90 Jati 1986 KU II

73A 7.70 Jati 1977 KU III

73D 10.80 Jati 1980 KU III

76A 15.30 Jati 1982 KU III

78A 39.60 Jati 1978 KU III

83 32.60 Jati 1969 KU IV 85C 21.00 Jati 1932 KU VIII 87A 31.40 Jati 1952 KU VI 89A 54.90 Jati 1957 KU V 91 33.90 Jati 1975 KU III 10 Petak 267.10

Kuwojo 102B 18.10 Jati 1933 KUVII

114B 40.10 Jati 1958 KUV

115A 32.40 Jati 1966 KUIV

115B 12.40 Jati 1965 TJBK

117A 19.80 Jati 1974 KUIII

117B 6.80 Jati 1970 KUIV

117C 2.30 Jati 1974 TBPTH

118A 36.90 Jati 1962 KUV

123B 11.50 Jati 1981 TJBK

124B 12.00 Jati 1944 MR

124C 14.50 Jati 1977 KUIII

125A 35.20 Jati 1938 KUVII

126D 3.20 Jati 1982 KUIII

104A 51.50 Jati 1953 KUV

14 petak 296.70

Selogender 92 24.50 Jati 1972 KUIV

93 25.70 Jati 1969 KUIV

94 33.50 Jati 1963 KUIV

Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5 427

BKPH RPH Petak Luas Baku

(Ha) Jenis Tanaman Tahun Tanaman Kelas Hutan 96 28.70 Jati 1944 KUVI 97 24.10 Jati 1951 KUVI

98A 53.20 Jati 1941 KUVII

106 25.00 Jati 1970 KUIV

107A 26.80 Jati 1931 KUVIII

107B 8.60 Jati 1968 KUIV

108A 41.00 Jati 1977 KUIII

108B 3.80 Jati 1957 KUV

109 22.10 Jati 1961 KUV

110 53.90 Jati 1967 KUIV

112A 27.50 Jati 1936 KUVII

15 petak 446.80

Jumlah BKPH 39 petak 1.010,60

Sumber : Perhutani (2008)

Pencurian kayu di BKPH Selogender mengalami fluktuasi dari tahun 2012, 2013 sampai 2014. Untuk mengatasi masalah pencurian kayu yang masih sering terjadi dilakukan pengamanan hutan yang lebih intensif dengan cara melakukan patroli pada petak-petak yang rawan tindak pencurian kayu. Dibawah ini data kerugian kehilangan pohon tahun 2012, 2013 dan 2014 disajikan dalam (Gambar 1).

Gambar 1. Grafik Kerugian Pohon Tahun 2012, 2013 dan 2014 BKPH Selogender (Perhutani, 2013 dan data lapangan, 2014).

Berdasarkan data di lapangan pada bulan Agustus 2014 pencurian pohon yang terjadi 2 pohon dengan perkiraan dalam kubikasi 2 kubik, pada bulan September 2014 pencurian pohon yang terjadi sebanyak 5 pohon dengan perkiraan kubikasi 5 kubik dan harga per kubik adalah 1,6 juta. Berdasarkan data Agustus-September 2014 tersebut rata-rata pencurian adalah 4 batang pohon/bulan dengan perkiraan kerugian 48 batang/tahun atau Rp 76.800.000/tahun.

0 10000 20000 30000 40000 50000 60000

Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sep Okt Nop Des Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014

428 Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5 2. Perencanaan Strategi Pengamanan Hutan

Perencanaan strategi pengamanan hutan dapat dilakukan dengan tindakan preemtif, preventif dan represif. Pada dasarnya prinsip pengamanan hutan adalah mencegah adanya gangguan keamanan hutan. Oleh karena itu tindakan preemtif dan preventif menjadi prioritas yang harus dilaksanakan. Adapun tindakan-tindakan tersebut dilakukan dengan menggunakan pola pendekatan-pendekatan yang mendukung terciptanya kondisi yang kondusif di masyarakat yaitu :

a. Tindakan Preemtif. Tindakan preemtif diutamakan dengan pendekatan komunikasi kepada masyarakat dengan melibatkan stakeholder lainnya untuk berperan serta di dalamnya. Tindakan preemtif dapat dilakukan oleh siapa saja mulai dari Mandor,KRPH sampai Administratur. Tindakan preemtif diprioritaskan dengan kegiatan pembinaan, penyuluhan dan komunikasi yang bertujuan merubah niat seseorang, sekelompok orang atau masyarakat yang semula negatif menjadi positif dengan memberikan penyadaran kepada masyarakat akan arti penting fungsi dan manfaat hutan sehingga masyarakat mau menjaga dan mengamankan potensi sumber daya hutan yang ada.

b. Tindakan Preventif. Tindakan preventif merupakan tindakan yang bertujuan mencegah terjadinya gangguan keamanan hutan yang disebabkan oleh manusia. Gangguan kemanan hutan terjadi karena 2 faktor yaitu niat dan kesempatan.

c. Tindakan Represif. Tindakan represif merupakan upaya terakhir yang terpakasa dilakukan secara selektif guna mempertahankan eksistensi sumber daya hutan yang ada melalui tindakan baik sendiri maupun kolektif bekerja sama dengan kepolisian, instansi terkait dan masyarakat dengan mengoptimalkan penegakan supremasi hukum dalam penyelesaian perkara. Tindakan represif ini disamping memberikan sanksi kepada pelaku gangguan keamanan hutan, juga bertujuan memberikan efek jera kepada seseorang, sekelompok orang atau masyarakat agar tidak mengulangi perbuatannya mengganggu eksistensi sumber daya hutan.

3. Pendekatan Penanganan Pencurian Kayu

Berdasarkan SOP No. Dok : RDB/SOP/SOD-08 (Perhutani, 2011), pendekatan penanganan pencurian kayu dilakukan dengan cara :

a. Pendekatan sosial

Pendekatan sosial dilakukan sebagai salah satu upaya pencegahan tindakan pencurian kayu karena program-program sosial yang dilakukan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan sehingga tingkat ketergantungan terhadap hutan semakin berkurang. Bentuk-bentuk pendekatan sosial tersebut antara lain :

1) Sharing produksi

2) Bantuan modal usaha kepada masyarakat desa hutan dalam bentuk PKBL. 3) Bantuan bibit misalnya ; buah-buahan, palawija seperti jagung, padi dll

4) Memberikan akses pemanfaatan kawasan hutan melalui program tumpangsari dan PLTD ( Pemanfaatan Lahan Dibawah Tegakan ).

5) Bantuan-bantuan sosial lainnya misalkan ; pasar murah b. Pendekatan Polisional

Tindakan polisional merupakan alternative terakhir dalam kegiatan penanganan pencurian kayu. Meskipun demikian tindakan ini dalam prakteknya selalu diupayakan dihindari, beberapa hal yang dilakukan untuk mengurangi tindakan polisional ini antara lain :

1) Ditingkat KPH dilakukan analisis dan klasifikasi sehingga jumlah senjata api yang digunakan dapat dikurangi secara bertahap.

2) Tidak mengguanakan senjata api berstandart Polri.

3) Memperbesar rasio jumlah senjata terhadap personil yang berhak menggunakan dari 1 : 1 menjadi 1 : 3

Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5 429 1. Pendekatan sosial kemasyarakatan

a. Tiap petugas Perhutani harus menyatu, membaur serta peduli terhadap masyarakat sekitar hutan.

b. Cara bertindak antara lain : mengadakan silaturohmi baik formal maupun non formal, menghadiri acara yang dilakukan masyarakat, berlaku santunan menghargai masyarakat.

c. Penyuluhan tentang perlindungan hutan kepada masyarakat sekitar hutan.

2. Melaksanakan program PHBM secara konsekuen dan konsisten dengan cara melibatkan masyarakat secara partisipatif dalam penanganan pencurian kayu misalnya dengan patroli bersama.

3. Patroli rutin. Regu patroli melakukan perondaan/menjelajah hutan untuk melakukan pencegahan terhadap pencurian kayu dengan sasaran petak dan waktu yang rawan pencurian.

4. Dalam hal tertangkap tangan, petugas melakukan tindakan pertama di tempat kejadian pencurian : Mengamankan lokasi kejadian, menangkap pelaku, meggeledah pelaku, mengumpulkan data dan mengamankan barang bukti, mencatat saksi dan melaporkan kepada pihak yang berwajib dan atau atasan langsung.

Penanganan Strata B dilakukan dengan : 1. Pendekatan sosal kemasyarakatan

a. Tiap petugas Perhutani harus menyatu, membaur serta peduli terhadap masyarakat sekitar hutan.

b. Cara bertindak antara lain : mengadakan silaturihmi baik formal maupun non formal, menghadiri acara yang dilakukan masyarakat, membantu memecahkan kesulitan yang dihadapi masyarakat, berlaku santun dan menghargai masyarakat.

c. Penyuluhan tentang perlindungan hutan kepada masyarakat sekitar hutan.

2. Melaksanakan program PHBM secara konsekwen dan konsisten dengan cara melibatkan masyarakat secara partisipatif dalam penanganan pencurian kayu misalnya dengan patroli bersama

3. Patroli rutin. Regu patroli melakukan perondaan/menjelajah hutan untuk melakukan pencegahan terhadap pencurian kayu dengan sasaran petak dan waktu yang rawan pencurian.

4. Dalam tertangkap tangan, petugas melakukan tindakan pertama di tempat kejadian pencurian : mengamankan lokasi kejadian, menangkap pelaku, menggeledah pelaku, mengumpulkan dan mengamankan barang bukti, mencatat saksi dan melaporkan kepada pihak yang berwajib.

5. Apabila petugas patroli tidak mampu mengendalikan kejadian pencurian, selanjutnya meminta bantuan dari regu Pamswakarsa dari BKPH yang terdekat melalui Asper / KBKPH 6. Regu Pamswakarsa BKPH khususnya Ring I yang terdekat bersam Regu Pamswakarsa BKPH

yang meminta bantuan selanjutnya melakukan tindakan pertama di tempat kejadian pencurian.

Penanganan Srata C :

1. Pendekatan Sosial kemasyarakatan

a. Tiap petugas Perhutani harus menyatu, membaur serta peduli terhadap masyarakat sekitar hutan.

b. Cara bertindak antara lain : mengadakan silaturihmi baik formal maupun non formal, menghadiri acara yang dilakukan masyarakat, membantu memecahkan kesulitan yang dihadapi masyarakat, berlaku santun dan menghargai masyarakat.

430 Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5

2. Melaksanakan progran PHBM secara konsekwen dan consisten dengan cara melibatkan masyarakat secara partisipatif dalam penanganan pencurian kayu misalnya dengan patroli bersama.

3. Patroli rutin. Regu patroli melakukan perondaan/menjelajah hutan untuk melakukan pencegahan terhadap pencurian kayu dengan sasaran petak dan waktu yang rawan pencurian.

4. Dalam hal tertangkap tangan, petugas melakukan tindakan pertam di tempat kejadian pencurian : Mengamankan lokasi kejadian, menangkap pelaku, meggeledah pelaku, mengumpulkan data dan mengamankan barang bukti, mencatat saksi dan melaporkan kepada pihak yang berwajib dan atau atasan langsung.

5. Apabila petugas patroli tidak mampu mengendalikan kejadian pencurian, selanjutnya meminta bantuan dari Regu Pamswakarsa dari BKPH khususnya Ring I yang terdekat dan atau petugas Polri melalui Asper/ BKPH.

6. Regu Pamswakarsa BKPH yang terdekat dan atau petugas Polri bersama regu Pamswakarsa BKPH yang meminta bantuan selanjutnya melakukan tindakan pertama di tempat kejadian pencurian (Perhutani, 2011).

4. Pelaksanaan Pengamanan Hutan a. Penjagaan

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat serah terima penjagaan : 1. Mengisi buku mutasi jaga dan serah terima tugas.

2. Mengisi buku daftar inventaris yang di pos penjagaan dan menyerahkan barang inventaris tersebut kepada petugas jaga baru dalam keadaan utuh.

3. Jumlah petugas jaga baru yang akan menggantikan harus dalam keadaan lengkap.

4. Menyerahkan atau menerima barang bukti hasil kegiatan pengamanan hutan berupa kayu dan hasil hutan lainnya, apabila pada pergantian jaga.

5. Membersihkan ruang penjagaan sehingga pos dalam keadaan bersih dan tertata rapi.

6. Setelah serah terima penjagaan oleh petugas lama yang harus dilakukan adalah memberikan informasi kepada petugas jaga baru tentang situasi keamanan hutan terakhir pada saat sebelum pergantian jaga berlangsung termasuk karakteristik kejadian yang menonjol.

b. Patroli Tunggal Mandiri

Patroli Tunggal Mandiri (PTM) adalah suatu kegiatan pengamanan hutan pada suatu daerah yang sangat rawan/rawan tertentu, yang bersifat kontinyu (terus menerus), mobile/dinamis(bergerak mengikuti gerak kerawanan), dan mandiri (tanpa menunggu perintah). Kegiatan pengamanan tunggal merupakan operasi pengamanan hutan dan hasil hutan berupa patroli/perondaan yanng dilaksanankan oleh jajaran Perum Perhutani sendiri. Sasaran PTM diprioritaskan di dalam wilayah jangkauan (covering area) sekitar 350-400 ha, dengan personil 5-6 orang. (Perum Perhutani, 2006).

c. Patroli Rutin

Patroli adalah menjelajah atau berkeliling dalam wilayah kawasan hutan yang menjadi tanggung jawabnya dengan maksud untuk melakukan tugas pengamanan hutan. Patroli hutan adalah kegiatan pengamanan hutan yang dilakukan dengan cara mengawasi daerah-daerah yang rawan akan pencurian kayu (Hamonangan, 2013).

5. Gangguan Keamanan Hutan

Penyebab gangguan keamanan hutan secara garis besar dapat dikategorikan : a. Eksternal (Luar Perhutani) :

1) Faktor sosial, ekonomi dan pendidikan masyarakat desa sekitar hutan yang sangat rendah 2) Nilai kayu khususnya jati sangat tinggi dengan kebutuhan yang semakin meningkat 3) Modus operasi dan sindikat pencuri kayu yang terorganisir

4) Kesadaran masyarakat terhadap kelestarian hutan dan fungsi-fungsinya rendah 5) Persepsi yang belum sama dari instansi/aparat tentang pentingnya kelestarian hutan

Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5 431 6) Adanya anggapan dari sebagian masyarakt bahwa mencuri kayu bukan merupakan tindak

kejahatan

7) Adanya oknum aparat dan penadah yang terlibat dalam sindikasi pencurian kayu b. Internal (Lingkup Perum Perhutani)

1) Keterbatasan personil (kualitas dan kuantitas) 2) Keterbatasan sarana dan prasarana serta anggaran 3) Luas dan penyebaran kawasan hutan

4) Adanya oknum aparat yang melakukan tindakan tidak terpuji 5) Penerapan disiplin kepegawaian yan belum konsisten

6) Kepedulian dan kemauan yan sebagian pimpinan KPH yang belum sungguh-sungguh (Perhutani, 2006).

6. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi dilakukan rutin setiap bulan untuk melihat kemajuan kegiatan kontrol untuk melihat kinerja yang dilakukan oleh petugas Perhutani dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Sedangkan evaluasi dilakukan untuk membandingkan hasil yang diperoleh antara rencana dan realisasi serta menentukan langkah-langkah perbaikan yang perlu dilakukan. Monitoring dan evaluasi ini dilakukan terhadap rencana dan strategi pengamanan hutan serta gangguan keamanan hutan yang telah terjadi (Perum Perhutani, 2008).

B. Pembahasan

1. Gangguan Keamanan di RPH Kepoh BKPH Selogender

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 (Departemen Kehutanan, 1999), Perlindungan hutan dan kawasan hutan merupakan usaha untuk mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, daya-daya alam, hama, serta penyakit. Perlindungan dan pengamanan hutan menjadi prioritas yang harus dilaksanakan untuk mencegah terjadinya gangguan keamanan hutan.

2. Perlindungan dan Pengamanan Terhadap pencurian Kayu

Pencurian yang terjadi di RPH Kepoh dilakukan masyarakat desa sekitar hutan baik perorangan maupun kelompok dan menurut KRPH Kepoh sendiri untuk tindak pencurian yang dilakukan oleh sekelompok orang, diduga melibatkan oknum-oknum tertentu (Sumber : Radi Prescom, 2014). Luas RPH Kepoh adalah 857,2 ha dengan jumlah 3 orang Polter sebagai petugas keamanan ditambah satu orang KRPH sebenarnya cukup sulit untuk menguasai wilayah dengan keadaan tersebut apabila dilakukan secara intensif yaitu 1 x 24 jam untuk melakukan patroli di wilayahnya.

3. Sistem Pengamanan Hutan

Pengamanan hutan dilaksanakan dengan sistem pengamanan hutan secara swakarsa terpadu yang dilaksanakan oleh seluruh jajaran karyawan Perum Perhutani. Pengamanan hutan dilakukan secara rutin terus menerus menyesuaikan kebutuhan pengamanan hutan. Regu Patroli berada di tingkat BKPH dengan jumlah 8 – 12 orang yang dikoordinir oleh KRPH. Dalam sistem pengamanan ini dilakukan penggabungan personil antara RPH, BKPH atau KPH jika terjadi tindak kejahatan hutan dengan jumlah yang besar. Dalam upaya pengamanan hutan Perhutani juga bekerjasama dengan LMDH, LSM, dll.

LMDH/PHBM adalah sistem pengelolaan hutan yang dilakukan bersama antara Perhutani, masyarakat desa hutan dan pihak-pihak yang terkait (stake holder) dilakukan dengan jiwa berbagi untuk mewujudkan fungsi hutan supaya lestari. Guna terciptanya keamanan hutan yang kondusif pelaksanaan PHBM/LMDH tetap didukung dengan strategi pengamanan hutan yang bersifat preemtif, preventif maupun represif (Perum Perhutani, 2008).

432 Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5 4. Pelaksanaan Teknik Pengamanan

Pencurian kayu di RPH Kepoh tergolong cukup rawan. Hal ini dapat dilihat dengan ditemukannya beberapa kejadian pencurian kayu saat praktikan mengamati pengamanan hutan. Pencurian kayu dapat menimbulkan penurunan potensi hutan yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kelestarian hutan.

Pengamanan hutan yang dilaksanakan di RPH dilaksanakan dengan tindakan preemtif dan preventif. Tindakan preemtif, yaitu tindakan yang mengutamakan komunikasi kepada masyarakat dengan melibatkan stake holder lainnya untuk berperan serta di dalamnya. Tindakan ini dapat dilakukan oleh siapa saja mulai dari mandor, KRPH sampai dengan Administratur. Komunikasi sosial yang dilakukan biasanya 2 kali dalam sebulan.

5. Penanganan Pasca Gangguan Keamanan Hutan

Dampak terjadinya gangguan keamanan hutan adalah menurunnya potensi sumber daya hutan yang dapat mengancam kelestarian hutan itu sendiri. Mekanisme penanganan gangguan keamanan hutan adalah sebagai berikut :

a. Pelaporan kejadian gangguan keamanan hutan (Laporan HA)

Setiap kejadian gangguan keamanan hutan wajib dilaporkan oleh seorang KRPH selama 1 x 24 jam. Laporan kejadian gangguan keamanan hutan dibuat oleh KRPH dengan diketahui oleh Asper/KBKPH dan harus segera dilaporkan kepada Wakil Adm/KSKPH. Laporan berisi jenis gangguan keamanan hutan, kronologis kejadiannya, penyebab dan kerugian akibat gangguan keamanan hutan tersebut. Laporan mengikuti blangko yang berlaku di Perhutani. b. Pengumpulan data dan informasi kerusakan/kerugian

Asper bersama KRPH mengumpulkan data tentang penyebab terjadinya gangguan keamanan hutan dan juga kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh gangguan keamanan tersebut, yakni dengan menghitung jumlah pohon yang hilang/rusak/mati kemudian menghitung kerugiannya.

c. Sketsa lokasi dan pemetaan

Selanjutnya Asper bersama KRPH mengukur luas lokasi kejadian gangguan keamanan hutan dan membuat sketsa lokasi kejadian sebagai bahan lampiarn laporan kejadian (Laporan Huruf A) kepada Wakil Adm/KSKPH.

6. Analisis tingkat kerusakan

Selanjutnya berdasarkan data kerugian akibat pohon yang hilang/rusak/mati dibandingkan dengan keluasannya maka akan diperoleh data potensi terkini yang terjadi pada petak kejadian tersebut. Selanjutnya Asper/KBKPH melaporkan kepada Wakil Adm/KSKPH apabila terjadi perubahan kelas hutan pada petak tersebut.

7. Penanganan pasca gangguan keamanan hutan

a. Berdasarkan kondisi potensi petak terkini maka Asper/KBKPH mengusulkan perbaikan pada petak tersebut sesuai dengan tingkat kerusakannya. Penanganan pasca kejadian gangguan keamanan hutan dapat berupa penyulaman maupun rehabilitasi kembali petak tersebut. b. Selanjutnya berdasarkan laporan Asper/KBKPH tersebut Kasi PSDH mengusulkan

penanganan rehabilitasi pasca gangguan keamanan hutan kepada Administratur/KKPH. Rekomendasi yang diberikan tergantung tingkat keparahan akibat gangguan keamanan hutan yang terjadi, yaitu :

c. Apabila tingkat keparahan akibaat gangguan keamanan hutan rendah/sedang maka rekomendasi yanng diberikan berupa penyulaman atau kerapatan tegakan.

d. Apabila tingkat keparahan kebakaran hutan tinggi maka rekomendasinya penanaman kembali (rehabilitasi).

e. Berdasarkan laporan perubahan kelas hutan dari Asper/KBKPH, khususnya penurunan potensi petak akibat phon yang hilang/rusak/mati di lokasi terjadinnya gangguan keamanan hutan, maka Administratur/KKPH mengusulkan rencana penanganan yang telah disusun Kasi PSDH kepada Biro Perencanaan. Setelah mendapat persetujuan maka selanjutnya

Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5 433 mengeluarkan surat perinntah kepada Asper/KBKPH untuk melakukan rehabilitasi pada petak yang mengalami gangguan keamanan hutan tersebut.

8. Monitoring dan Evaluasi Gangguan Keamanan Hutan

a. Kegiatan patroli dan pengawasan oleh petugas Perhutani dilakukan secara rutin pada seluruh kawasan hutan dan diprioritaskan pada lokasi-lokasi yang rawan gangguan keamanan hutan. Laporan hasil monitoring dilaporkan rutin setiap hari, baik ada ataupun tidak ada gangguan keamanan hutan.

b. Pelaporan hasil monitoring setiap hari dilakukan oleh petugas monev di masing-masing pos pengamanan yang ada di BKPH.

c. Sedangkan laporan kejadian (Huruf A) dibuat setiap ada kejadian gangguan keamanan hutan oleh KRPH. Setiap laporan disertai dengan penjelasan penyebab gangguan keamanan hutan, nilai kerugian dan sket lokasi kejadian gangguan keamanan hutan.

d. Selanjutnya setiap bulan KRPH dan Asper membuat laporan hasil monitoring dan evaluasi terhadap kejadian gangguan keamanan hutan dengan membandingkannya terhadap target penurunan tingkat gangguan keamanan hutan yang telah disusun oleh KRPH dan Asper/KBKPH.

e. Selanjutnya evaluasi tersebut dilaporkan kepada Administratur/KKPH untuk dibuat rekapitulasi dan dianalisa oleh Wakil Adm./KSKPH untuk diambil tindak lanjut penanganan kejadian gangguan keamanan hutan tersebut dan kemudian dilaporkan ke Unit.

f. Administratur/KKPH membuat laporan evaluasi kinerja Asper/KBKPH, KRPH dan LMDH sebagai bahan evaluasi untuk ditindaklanjuti oleh Asper/KBKPH dan KRPH serta LMDH (Perhutani, 2008).

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian di RPH Kepoh BKPH Selogender KPH Randublatung Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah pada Agustus-September 2014, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan upaya pengamanan hutan di RPH Kepoh dilakukan melalui teknik pengamanan secara preventif dengan cara patroli dan secara preemtif melalui komunikasi sosial.

2. Jumlah kerugian pencurian kayu di BKPH Selogender pada tahun 2012 Rp 65.000.000/tahun, pada tahun 2013 Rp 61.651.000/tahun dan kerugian tahun 2014 Rp 76.800.000/tahun.

3. Kendala-kendala BKPH Selogender dalam pengamanan hutan terdiri dari faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yaitu pencurian langsung oleh masyarakat sekitar hutan. Faktor internal yaitu jumlah Polisi Teritorial yang kurang serta sarana dan prasarana yang minim.