• Tidak ada hasil yang ditemukan

: riap rata-rata tahunan berjalan (m 3

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Jabon

NTB tTAB tDB tRB t (8)

Fraksi karbon dalam biomassa adalah sebanyak 0.47 dari total biomassa (IPCC, 2006). Kerapatan kayu jabon berkisar antara 290-560 kg/m3 (Krisnawati et al., 2011). Dalam tulisan ini, nilai kerapatan kayu diasumsikan pada kategori sedang, yaitu 465 kg/m3 (Soerianegara dan Lemmens (1993) dalam Krisnawati et al. (2011).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Jabon

Jenis jabon merupakan jenis cepat tumbuh dengan riap volume rata-rata tahunan sebesar 10.72 m3/ha. Riap rata-rata maksimum tegakan jabon adalah sebesar 11.4 m3/ha. Penelitian yang dilakukan oleh Sudarmo (1957) dalam Krisnawati et al. (2011) menunjukkan bahwa MAI maksimum adalah sebesar 20 m3/ha. Hasil dari model yang dibuat oleh Harbagung (2010) dalam tulisan ini menunjukkan hasil yang lebih kecil. Hal ini dimungkinkan karena model yang dibuat oleh Harbagung (2010) berada pada kualitas tempat tumbuh (bonita) yang berbeda. Selain itu, dalam model yang dibuat oleh Harbagung (2010) kegiatan penjarangan dilakukan tiap tahun dengan intensitas yang cukup tinggi. Hasil dari perhitungan model pertumbuhan jabon disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 2. Simulasi pengelolaan tegakan hutan jabon hingga umur 10 tahun Umur

(Year) N/ha

N penjarangan (N thinning)

Volume kayu berdiri (Stumpage volume) Vol/pohon (vol/tree) Vol penjarangan (Thinning volume) Volume total (Total volume) 1 2061 0 0.0 0.00 0.00 0.00 2 995 1065 18.2 0.02 19.48 37.66 3 659 336 33.0 0.05 16.85 49.86 4 496 162 45.6 0.09 14.94 60.59 5 401 95 56.8 0.14 13.44 70.24 6 340 62 66.9 0.20 12.20 79.06 7 296 43 76.1 0.26 11.14 87.20 8 264 32 84.6 0.32 10.21 94.78 9 240 24 92.5 0.39 9.39 101.88 10 221 19 99.9 0.45 8.66 108.57

Sumber: diolah dari Harbagung (2010)

Tabel 1 menunjukkan bahwa pada awalnya, jumlah pohon yang ditanam adalah sebanyak 2061 pohon/ha atau berjarak tanam 2 x 2 meter. Setelah umur 4 tahun tegakan hutan jabon berjarak tanam hingga 4 x 4 meter. Kegiatan penjarangan dilakukan untuk merangsang perkembangan tajuk dan akan berakibat pada meningkatnya riap diameter. Penjarangan biasanya dilakukan terhadap pohon-pohon yang kurang berkualitas dengan harapan agar pohon-pohon yang berkualitas baik akan semakin baik pertumbuhannya. Model yang disusun oleh Harbagung (2010) dalam tulisan ini menyarankan bahwa penjarangan dilakukan tiap tahun dengan intensitas yang semakin menurun. Intensitas penjarangan yang dilakukan dari tahun ke-2 hingga tahun ke-4 berturut-turut adalah sebesar 52%, 34%, dan 25%. Volume rata-rata per pohon pada tahun ke-5 (pemanenan) adalah sebesar 0.14 m3. Apabila skenario dari pengelolaan hutan tanaman jabon menggunakan model Harbagung (2010) disimulasikan hingga 60 tahun, volume tegakan jabon terus

Prosiding Seminar Nasional Agroforestry 2015 455 meningkat dengan nilai CAI yang semakin menurun (Gambar 1). Apabila tegakan jabon tidak ditebang hingga umur 60 tahun, volume tegakan jabon mencapai 271.5 m3/ha.

Gambar 1. Pertumbuhan volume tegakan jabon hingga umur 60 tahun

Daur optimal ekologis tegakan jabon berdasarkan hasil perhitungan adalah 5 tahun, yaitu pada saat MAI = CAI (Gambar 2). Dalam simulasi ini daur optimal jabon relatif pendek karena jenis jabon termasuk jenis cepat tumbuh. Hasil yang diperoleh menjadi optimal dari segi kelestarian karena kayu jabon dipanen ketika pertumbuhannya mulai menurun. Apabila dibandingkan dengan daur jenis cepat tumbuh yang lain (sengon), daur optimal jabon relatif sama.

Gambar 2. Daur optimal tegakan jabon 0,0 50,0 100,0 150,0 200,0 250,0 300,0 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60

Volume

(m

3

/ha

)

Tahun

(Years)

0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0 16,0 18,0 20,0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Volume

(m3/ha

)

Tahun

(Years)

MAI

CAI

456 Prosiding Seminar Nasional Agroforestry 2015 B. Karbon tersimpan di dalam biomassa

Dinamika biomassa tegakan jabon umur 0-5 tahun dapat disajikan dalam Gambar 3. Proporsi biomassa di atas permukaan tanah dan di biomassa di bawah permukaan tanah berturut-turut adalah sebesar 82% dan 18%. Penelitian lain menunjukkan bahwa proporsi biomassa di atas permukaan tanah dan di bawah permukaan tanah bervariasi, misalnya Indrajaya (Indrajaya, 2012) di hutan alam Kaltim menunjukkan bahwa proporsi AGB dan BGB adalah 89% dan 11%. Selain itu, Hardjana (2010) menemukan bahwa proporsi AGB dan BGB karbon di tegakan Acacia mangium adalah berturut-turut sebesar 86% dan 14%.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rata–rata karbon tersimpan di dalam biomassa di atas permukaan tanah adalah sebesar 9.93 ton/ha, jauh lebih besar daripada di bawah permukaan tanah. Sementara itu, biomassa di bawah permukaan dan nekromassa rata-rata tegakan hutan tanaman jabon berturut-turut adalah sebesar 2.35 dan 0.74 ton/ha. Sehingga, rata-rata jumlah karbon net yang tersimpan dalam biomassa tegakan hutan jabon rata-rata selama 5 tahun adalah sebesar 11.5 ton/ha (Gambar 4).

Gambar 3. Dinamika biomassa tegakan hutan jabon daur 5 tahun

Penelitian lain menunjukkan bahwa karbon tersimpan dalam biomassa tegakan jabon relative rendah dibandingkan dengan jenis yang lain, misalnya mangium di Kaltim yaitu sebesar 50 ton/ha (Hardjana, 2010) dan sengon di Jawa yaitu sebesar antara 60-80 ton/ha pada daur optimal 8 – 5 tahun (Indrajaya, 2011). Perbedaan ini disebabkan oleh intensitas penjarangan yang cukup tinggi pada tegakan jabon, dimana pada tahun ke-5 pohon berdiri per ha hanya 401 pohon. Sementara itu, sebagai pembanding, pada tegakan mangium di Kaltim jumlah pohon/ha pada tahun ke-5 masih ada 1000 pohon (Hardjana, 2010) dan jumlah pohon sengon pada tegakan sengon di Jawa pada tahun ke-5 masih ada 180 – 610 pohon per/ha pada tahun ke-5 (Riyanto and Putra, 2010).

0 20 40 60 80 100 120 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121314151617181920 Ton/ha Tahun TAB RB DB

Prosiding Seminar Nasional Agroforestry 2015 457 Gambar 4. Dinamika cadangan karbon pada tegakan hutan jabon daur 5 tahun C. Rekomendasi

Informasi tentang dinamika cadangan karbon yang tersimpan di dalam suatu tegakan hutan tanaman akan bermanfaat baik baik peneliti, pemerintah, maupun swasta pengusaha hutan tanaman jabon maupun swasta calon pembeli jasa lingkungan karbon. Informasi tentang karbon tersimpan dalam hutan tanaman jabon dapat digunakan untuk menghitung daur optimal finansial Hartman (1976). Daur ini akan menentukan waktu dimana keuntungan yang maksimal dapat diperoleh dengan tidak hanya memperhitungkan kayu sebagai satu-satunya pendapatan yang diperoleh dari hutan tanaman, tetapi juga jasa lingkungan serapan karbon. Penelitian tentang daur optimal Hartman telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti di manca negara (Kooten et al., 1995; Tassone et al., 2004; Galinato and Uchida, 2010; Olschewski and Benitez, 2010).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan:

1. Daur optimal ekologis tegakan jabon adalah 5 tahun dimana nilai MAI = CAI

2. Jumlah berat net biomassa tegakan jabon pada daur optimalnya adalah 122,72 ton/ha dengan proporsi TAB dan RB berturut-turut sebesar 82% dan 18%.

3. Jumlah karbon tersimpan dalam biomassa tegakan jabon adalah sebesar 57 ton/ha pada tahun ke-5. Rata-rata per tahun jumlah karbon tersimpan hingga daur optimal dalam tegakan jabon adalah sebesar 11.5 ton/ha.

4. Jumlah karbon tersimpan dalam biomassa tegakan jabon tergolong rendah karena jumlah pohon/ha dalam simulasi ini termasuk sedikit pada akhir daur akibat dari tingginya intensitas penjarangan.

B. Saran

Simulasi yang dilakukan dalam tulisan ini merupakan perhitungan yang dilakukan berdasarkan model yang dibangun oleh Harbagung (2010). Variasi jarak tanam, kerapatan kayu, kualitas tempat tumbuh, dan tumbuhan bawah yang diusahakan bersama, belum dibuat dalam simulasi ini. Oleh karenanya, diperlukan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan variasi tersebut untuk memperkaya informasi yang ada. Pemerintah daerah dapat memberikan informasi terkait dengan potensi tegakan jabon dalam mitigasi perubahan iklim kepada masyarakat berdasarkan hasil penelitian ini.

0 10 20 30 40 50 60 70 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ton/ha Tahun

458 Prosiding Seminar Nasional Agroforestry 2015 DAFTAR PUSTAKA

Baumert, K.A., Herzog, T., Pershing, J., 2005. Navigating the numbers: Greenhouse gas data and international climate policy. World Resorce Institute.

Brown, S., 1997. Estimating biomass and biomass change of tropical forests: a primer. In. FAO, Rome.

Galinato, G.I., Uchida, S., 2010. The Effect of Temporary Certified Emission Reductions on Forest Rotations and Carbon Supply. Canadian Journal of Agricultural Economics.

Harbagung, 2010. Teknik dan Perangkat Pengaturan Hasil: Sintesa Hasil Penelitian Kuantifikasi Pertumbuhan dan Hasil Tegakan Hutan Tanaman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman, Bogor.

Hardjana, A.K., 2010. Potensi biomassa dan karbon pada hutan tanaman Acacia mangium di PT Surya Hutani Jaya, Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan 7, 237-249. Hartman, R., 1976. Harvesting Decision When a Standing Forest Has Value. Econ Inq 14, 52-58. Indrajaya, Y., 2011. Dinamika karbon hutan tanaman sengon. In, Workshop status riset dan rencana

induk penelitian agroforestry. Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan, Bogor.

Indrajaya, Y., 2012. Cadangan karbon hutan bekas tebangan pembalakan berdampak rendah dan konvensional di Kalimantan Timur: studi kasus di hutan Malinau. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan 9, 21-30.

IPCC, 2006. IPCC Guideline 2006 Guidelines for national green house gas inventories. In. IPCC.

IPCC, 2007. Climate change 2007: Impacts, adaptation, and vulnerability. In: Parry, M., Canziani, O., Palutikof, J., Linden, P.v.d., Hanson, C. (Eds.), Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Inter Governmental Panel on Climate Change. IPCC.

Kooten, G.V., Binkley, C., Delcourt, G., 1995. Effects of carbon taxes and subsidies on optimal forest rotation age and supply of carbon services. American Journal of Agricultural Economics 77, 365-374.

Krisnawati, H., Kallio, M., Kanninen, M., 2011. Anthocephalus cadamba Miq.: Ekologi, Silvikultur, Produktivitas. CIFOR, Bogor.

Olschewski, R., Benitez, P.C., 2010. Optimizing joint production of timber and carbon sequestration of afforestation projects. J Forest Econ 16, 1-10.

Riyanto, H.D., Putra, P.B., 2010. Model pertumbuhan tegakan hutan tanaman sengon untuk pengelolaan hutan. Tekno Hutan Tanaman 3.

Tassone, V.C., Wesseler, J., Nesci, F.S., 2004. Diverging incentives for afforestation from carbon sequestration: an economic analysis of the EU afforestation program in the south of Italy. Forest policy and economics 6, 567-578.

Prosiding Seminar Nasional Agroforestry 2015 459

EFEKTIVITAS INSEKTISIDA HAYATI TERHADAP HAMA TISUK (Hibiscus macrophyllus)

JENIS Podagrica javana SECARA IN VITRO