AKSESI RAMBUTAN PENDAHULUAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data curah hujan di tiga lokasi percobaan menunjukkan bahwa curah hujan di Aripan (Solok) hampir merata sepanjang tahun dengan intensitas sedang (Gambar 14). Curah hujan di Subang menunjukkan perbedaan yang sangat tegas antara musim hujan dengan musim kemarau. Hujan hampir tidak turun sama sekali pada musim kemarau. Data curah hujan menunjukkan bahwa Cipaku (Bogor) memiliki curah hujan yang sangat tinggi (Lampiran 2).
Periode awal berbunga di KP Aripan terjadi pada saat peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Jumlah hari hujan sebelum memasuki periode berbunga di KP Aripan adalah 12 hari atau dengan jumlah hari kering sebanyak 18 hari. Periode kering ini diduga sudah mampu menghentikan pertumbuhan vegetatif dan merangsang pembungaan rambutan di KP Aripan. Menurut Poerwanto dan Susila (2013), cekaman kekeringan pada tanaman buah-buahan dapat menghentikan pertumbuhan vegetatif dan merangsang pembungaan, bahkan pada buah yang sudah tua dapat meningkatkan akumulasi gula. Stres air tidak langsung menyebabkan tanaman berbunga, tetapi merangsang pembungaan. Tanaman akan berbunga ketika sudah berada pada kondisi optimum setelah pembungaannya diinduksi oleh stres air. Inisiasi pembungaan rambutan di KP Cipaku terjadi selama musim hujan. Rambutan mulai berbunga di Cipaku pada bulan Nopember
28
2013, pada bulan Oktober hanya terdapat 11 hari kering atau dengan jumlah hari hujan sebanyak 19 hari hujan.
Pembungaan pada rambutan ternyata tidak selalu tergantung kepada curah hujan. Awal pembungaan di KP Subang terjadi pada saat musim kemarau telah berlangsung selama dua bulan sebelum muncul bunga, dan awal muncul bunga juga terjadi pada saat musim kemarau, jumlah hari hujan pada bulan awal pembungaan di Subang hanya enam hari dengan rata-rata curah hujan 51 mm per bulan. Sebulan sebelum berbunga, jumlah hari hujan hanya satu hari. Menurut Feng et al. (2012), inisiasi pembungaan selain dipengaruhi oleh faktor lingkungan juga dipengaruhi oleh keberadaan beberapa gen sebagai faktor internal. Dalam beberapa tahun terakhir, gen Flowering Locus T (FT) sering dipelajari karena mempunyai efektifitas yang luas dalam merangsang awal berbunga pada tanaman. Gen FT diduga merupakan komponen utama dari hormon yang merangsang pembungaan.
Gambar 14. Hubungan curah hujan dengan inisiasi pembungaan dan umur panen di tiga lokasi (KP Aripan-Solok, KP Cipaku-Bogor, dan KP Subang). Hasil analisis ragam terhadap panjang malai aksesi Binjai, Padang Bulan, dan Lebak Bulus berbeda nyata dengan Rapiah dan Sinyonya. Aksesi Binjai mempunyai panjang malai terpanjang, yaitu 27.96 cm. Rata-rata panjang malai terpendek terdapat pada aksesi Rapiah yaitu 20.05 cm. Peubah lebar malai tidak berbeda nyata pada kelima aksesi yang diuji. Lebar malai terlebar terdapat pada aksesi Binjai, yaitu 22.47 cm, dan rata-rata lebar malai terkecil terdapat pada aksesi Rapiah 13.74 cm (Tabel 7).
Umur panen tidak berbeda nyata pada kelima aksesi rambutan. Umur panen paling lama terdapat pada aksesi Binjai, yaitu 147 hari, sedangkan umur panen paling singkat adalah aksesi Lebak Bulus 127 hari. Jumlah buah per tandan tidak berbeda nyata antaraksesi, jumlah buah per tandan terbanyak terdapat pada aksesi Padang Bulan, sebanyak 22 buah per tandan, sedangkan jumlah buah per tandan paling sedikit terdapat pada aksesi Lebak Bulus sebanyak 14 buah per tandan.
29 Bobot kulit buah aksesi Binjai berbeda nyata dengan empat aksesi lainnya. Bobot kulit buah tertinggi terdapat pada aksesi Binjai, yaitu 28.02 g dan terendah pada aksesi Rapiah 5.64 g. Bobot biji aksesi Binjai berbeda nyata dengan aksesi Sinyonya, sedangkan aksesi Sinyonya juga berbeda nyata dengan Rapiah, Lebak Bulus, dan Padang Bulan. Bobot biji tertinggi terdapat pada aksesi Binjai 6.63 g, dan bobot biji terendah pada aksesi Rapiah 1.52 cm. Bobot aril aksesi Binjai berbeda nyata dengan keempat aksesi lainnya. Bobot aril tertinggi pada aksesi Binjai 29.96 g dan terendah pada aksesi Rapiah 5.31 g.
Bobot per buah aksesi Binjai berbeda nyata dengan Padang Bulan, Rapiah, Sinyonya dan Lebak Bulus. Bobot per buah paling berat terdapat pada aksesi Binjai 58.10 g, dan aksesi yang memiliki bobot per buah paling ringan adalah Rapiah 12.85 g. Persentase edible portion aksesi Binjai juga berbeda nyata dengan keempat aksesi lainnya. Aksesi Binjai memiliki persentase edible portion tertinggi yaitu 49%, sedangkan persentase edible portion terendah adalah pada aksesi Sinyonya yaitu 30%. Rendahnya persentase edible portion aksesi sinyonya disebabkan karena aksesi Sinyonya memiliki aril yang sangat tipis, sangat berair (juicy), dan arilnya susah dipisahkan dari biji atau disebut juga tidak mengelotok. Tabel 7. Rata-rata panjang malai, lebar malai, umur panen, jumlah buah per
tandan, bobot kulit, bobot biji, bobot aril, bobot per buah dan edible portion lima aksesi rambutan.
Peubah KT
Aksesi Sinyonya Binjai
Padang Bulan Rapiah Lebak Bulus KK (%) Panjang malai (cm) 31.61* 24.38 b 27.96 a 27.14 a 20.05 b 27.11 a 14.22 Lebar malai (cm) 31.34 19.62 a 22.47 a 17.78 a 13.74 a 19.82 a 29.45 Umur panen (hari) 174.27 133.33 a 146.67 a 132.67 a 130.00 a 126.67 a 11.36 Jumlah buah per
tandan (buah)
30.59 16.81 a 15.10 a 22.37 a 19.52 a 14.84 a 33.33 Bobot kulit (g) 0.13* 20.93 a 28.02 a 10.98 b 5.64 b 13.01 b 18.99 Bobot biji (g) 0.13* 4.52 b 6.63 a 1.59 c 1.52 c 1.79 c 22.76 Bobot aril (g) 0.11* 11.79 b 24.96 a 9.19 b 5.31 b 11.12 b 16.67 Bobot per buah
(g)
0.19* 38.53 b 58.10 a 22.20 b 12.85 b 26.28 b 14.09
Edible portion
(%)
0.01* 0.30 b 0.49 a 0.42 b 0.42 b 0.42 b 14.91 Keterangan: Angka-angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda
nyata pada taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan). Data bobot kulit, bobot biji, bobot aril, dan bobot per buah ditransformasi dengan rumus log(x+1). KT = kuadrat tengah, KK = koefisien keragaman.
Rambutan aksesi Binjai dan Sinyonya ternyata lebih cocok ditanam di KP Subang, terbukti dengan tingginya rata-rata bobot per buah kedua aksesi di KP Subang. Aksesi Binjai mempunyai rata-rata bobot per buah 112.82 g dan Sinyonya 47.47 g. Rata-rata bobot per buah yang rendah umumnya dijumpai di KP Cipaku, (Gambar 15).
30
Gambar 15. Rata-rata bobot per buah lima aksesi rambutan di Aripan, Subang dan Cipaku.
Rata-rata persentase edible portion lima aksesi rambutan hampir sama di KP Aripan dan KP Subang. Rata-rata bobot per buah dan edible portion yang paling rendahterdapat di KP Cipaku. Diduga hal ini disebabkan karena tingginya curah hujan sejak awal berbunga sampai panen. Aksesi Sinyonya mempunyai persentase
edible portion rendah karena arilnya sangat tipis, sangat berair dan tidak dapat dipisahkan dari biji (Gambar16).
Gambar 16. Rata-rata edible portion lima aksesi rambutan di KP Aripan, KP.Subang dan KP.Cipaku.
Umur panen di KP Aripan berkisar antara 141-145 hari, rata-rata umur panen di KP Cipaku 118 hari, sedangkan di KP Subang berkisar antara 127-130 hari (Gambar 17). Perbedaan umur panen diduga disebabkan perbedaan lokasi penanaman. Menurut Sparks dan Menzel (2002), setiap derajat perbedaan lintang menyebabkan perbedaan umur berbunga dan umur panen selama empat hari.
31 Secara geografis, KP Aripan yang terletak di Kabupaten Solok Sumatera Barat berada pada posisi 00° 32‟ 14‟‟ sampai 01° 46‟45” Lintang Selatan (LS). KP Cipaku (Bogor) terletak pada posisi 6°30‟30”LS sampai 6°41‟00”LS, sedangkan KP Subang terletak pada posisi 6º 11' sampai 6º 49' LS. Teori perbedaan posisi lintang ternyata tidak sesuai dengan perbedaan awal berbunga di ketiga lokasi, karena berdasarkan posisi lintang seharusnya awal berbunga dimulai dari KP Aripan, kemudian KP Cipaku dan terakhir KP Subang.
Jumlah buah per tandan terbanyak ditemukan di KP Aripan yaitu sebanyak 20-27 buah per tandan, sedangkan yang paling sedikit di KP Cipaku yaitu 11 buah per tandan. Curah hujan yang tinggi di KP Cipaku diduga menyebabkan tingginya kerontokan buah. Menurut Weerakkody dan Peiris (1997), curah hujan yang tinggi menurunkan jumlah buah per tanaman pada tomat karena menyebabkan buah menjadi rontok.
Gambar 17. Rata-rata umur panen dan jumlah buah per tandan di Aripan, Cipaku, dan Subang. Error bar menunjukkan standar error.
Rata-rata panjang malai di ketiga lokasi terlihat sama. Lebar malai terlebar ditemukan di KP Subang, yaitu 20.9 cm, sedangkan di KP Aripan dan KP Cipaku tidak berbeda (Gambar 18).
Gambar 18. Rata-rata panjang dan lebar malai rambutan di Aripan, Cipaku, dan Subang. Error bar menunjukkan besarnya standar error
Rata-rata bobot kulit buah rambutan terberat ditemukan di KP Cipaku, yaitu 22.89 g, dan rata-rata bobot kulit buah paling ringan terdapat di KP Aripan, yaitu 11.01 g. Rambutan di KP Cipaku memiliki rata-rata bobot biji paling berat yaitu 4.09 g, sedangkan yang paling ringan adalah di KP Aripan 2.75 g. Rata-rata bobot aril terberat terdapat di KP Subang yaitu 14.86, antara KP Aripan dan KP Cipaku
32
tidak berbeda. Bobot kulit dan bobot biji terkait dengan persentase porsi buah yang dapat dimakan, semakin berat kulit buah dan biji, maka porsi yang dapat dimakan dari buah tersebut semakin sedikit (Gambar 19).
Gambar 19. Rata-rata bobot kulit, bobot aril, dan bobot biji rambutan di Aripan, Cipaku, dan Subang. Error bar menunjukkan standar error.
Rata-rata bobot per buah di KP Aripan sama dengan di Subang dan terendah di KP Cipaku sebesar 17.26 g (Gambar 20). Menurut Higashi et al
(1999), variasi bobot per buah disebabkan oleh faktor fisiologis, faktor genetik dalam perkembangan buah, dan faktor lingkungan. Faktor genetik dalam perkembangan buah meliputi jumlah sel yang membelah selama fase proliferasi, dan lama fase perkembangan sel, tetapi tidak diketahui secara pasti faktor yang memengaruhi ukuran dan bobot per buah. Faktor lingkungan yang berpengaruh meliputi cahaya, suhu, dan ketersediaan hara. Faktor lingkungan memengaruhi aksi dari faktor genetik.
33
Gambar 20. Rata-rata bobot per buah dan edible portion rambutan di Aripan, Cipaku, dan Subang. Error bar menunjukkan standar error.
Persentase edible portion terlihat tidak berbeda di ketiga lokasi. Edible portion merupakan salah satu karakter penting dalam pemuliaan rambutan, aksesi yang memiliki bagian yang dapat dimakan paling tinggi lebih diminati oleh konsumen. Karakter ini merupakan salah satu kriteria yang digunakan untuk menyeleksi kandidat aksesi unggul mangga (Buyan dan Kobra 2007; Sukartini et al. 2012).
SIMPULAN
Perbedaan posisi lintang dan curah hujan tidak terkait dengan inisiasi pembungaan pada tanaman rambutan. Rambutan aksesi Binjai mempunyai bobot per buah dan persentase edible portion paling tinggi diantara aksesi lain yang diuji. Jumlah buah per tandan terbanyak terdapat di KP Aripan.
34