• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI KALIMANTAN TENGAH

HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil Kabupaten Katingan

Kabupaten Katingan adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah dengan luas wilayah 17.500 Km2

Salah satu prioritas pembangunan di Kabupaten Katingan adalah pengembangan pertanian dalam arti luas, termasuk di dalamnya adalah pembangunan peternakan. Pengembangan peternakan di Kabupaten Katingan masih berskala kecil ataupun usaha rumah tangga, sementara lahan yang tersedia sangat cocok untuk usaha ini. Melihat potensi yang ada sangat berpeluang untuk pengembangan peternakan terutama sapi potong. Perkembangan populasi ternak di Kabupaten Katingan dari tahun 2003 – 2007 disajikan pada Tabel 1.

, terdiri atas 11 (sebelas) kecamatan serta 145 (seratus empat puluh lima) desa dan 7 (tujuh) kelurahan yang memiliki sumber daya alam yang potensial untuk pengembangan baik sektor kehutanan, perkebunan, pertambangan, pertanian secara umum dan sektor perikanan.

Tabel 1. Populasi ternak di Kabupaten Katingan tahun 2003-2007

No. Jenis Ternak Populasi

2003 2004 2005 2006 2007 1. Sapi Potong 4.158 4.328 4.331 4.792 5.132 2. Kerbau 198 213 233 240 252 3. Kambing 478 524 524 573 586 4. Domba 198 211 251 265 273 5. Babi 5.113 5.259 5.613 5.935 6.324 6. Ayam Potong 32.452 32.730 32.730 32.987 33.012 7. Ayam Buras 117.542 117.692 117.716 11.820 12.326 8. Ayam Petelur - - - - - 9. Itik 5.798 6.085 6.085 6.375 6.985 10. Entok 1.865 1.916 2.687 2.875 2.995

(Sumber data : Dinas Pertanian Kabupaten Katingan 2008)

Berdasarkan daya dukung lahan dan sumber daya yang dimiliki, kabupaten Katingan mampu menampung kurang lebih 76.000 ekor sapi. Menurut laporan dari Dinas Pertanian Kabupaten Katingan (2009), daerah yang berpotensi untuk

pengembangan sapi potong adalah Kecamatan Katingan Tengah, Pulau Malan, Tewang Sanggalang Garing dan Kecamatan Marikit.

Profil Lokasi Penelitian

Luas Kelurahan Pendahara, Desa Buntut Bali dan Tumbang lahang masing-masing adalah 155 km2, 136 km2 dan 16.000 ha. Dimanfaatkan pada berbagai kegiatan usahatani, adapun luas lahan yang telah diusahakan disajikan pada Tabel 2. Lahan yang tersedia baik yang sudah diusahakan maupun yang belum berpotensi untuk pengembangan usahatani terutama ternak sapi.

Tabel 2 Tataguna lahan di Kelurahan Pendahara, Desa Buntut Bali dan Desa Tumbang Lahang

No. Peruntukan Lahan Kelurahan/Desa

Pendahara (ha) Buntut Bali (ha) T. Lahang (ha) 1. Lahan Sawah

- Sawah tadah hujan - Sawah Lebak

1.075 200 75 125

900

2. Lahan bukan sawah a. Lahan Kering

- Padang penggembalaan - Perkebunan

- Pekarangan - Ladang + Tegal

- Sementara tidak diusahakan - Hutan rakyat b. Lahan lainnya - Rawa/sungai 25.6 43 44.5 723 5.163.2 4.342.5 11 585 72 103 + 28 12.426 150 25 1.200 1.400 8.300 5.000

Sumber: UPTD Kec. Tewang Sanggaling Garing (2008); UPTD Kec. Pulau Mulan (2008); Monografi Desa Tumbang Lahang (2006)

Berdasarkan kondisi biofisik lingkungan (sumberdaya lahan dan iklim), tipe batuan dan mineral yang mendominasi ke tiga tempat tersebut adalah aluvial muda (recent alluvial) dengan landform berupa dataran yang sewaktu-waktu dapat tergenang. Pada beberapa lokasi dijumpai batuan kuarsit dan secara umum jenis batuan endapan yang terdapat di wilayah ini umumnya bersifat masam (Puslittanak 1996).

Kondisi topografi secara umum adalah merupakan dataran (flat) dengan kelas kelerengan < 2%. Ketinggian tempat ketiga lokasi penelitian berada pada kisaran 0-700 meter diatas permukaan laut. Hal ini menjadikan kawasan ini memiliki rejim suhu panas (isohyperthermic) dan rejim kelembaban yang lembab (udic). Suhu udara maksimum rata-rata berkisar antara 30-32oC dan suhu minimum 25oC dengan suhu rata-rata tahunan 27o

Berdasarkan sistem lahan skala 1:250.000, jenis tanah yang terdapat pada tiga tempat penelitian didominasi ordo Entisols dengan group besar Tropofluvents

dan Fluvaquents (Gambar 3). Jenis tanah ini secara geografis terdapat di sepanjang jalur sungai Katingan dimana terdapat Kelurahan Pendahara dan Desa Buntut Bali, menuju ke atas Desa Tumbang Lahang (Bhermana 2009). Jenis-jenis tanah aluvial ini berasal dari endapan baru yang berlapis-lapis dengan kandungan bahan organik yang tidak beraturan berdasarkan kedalamannya dan terbentuk pada jalur aliran sungai (Hardjowigeno 1987). Tanah-tanah ini memiliki nilai C- organik > 0.2% dengan pH tanah 4.0-4.5. Kondisi drainase tergolong buruk karena sebagian besar jenuh air dengan kandungan lempung hasil endapan sungai. Di wilayah Pendahara pada beberapa tempat di bagian sebelah Timur dijumpai gambut tipis hingga kedalaman 0-25 cm, sedangkan diwilayah Tumbang Lahang pengaruh tanah-tanah berpasir yang berasal dari jenis tanah Placaquods terdapat di bagian sebelah Barat dengan kandungan pasir < 60%. Komposisi kimia tanah secara umum tanah ordo Entisol pada ketiga wilayah ini memiliki tekstur lempung liat berpasir; reaksi tanah masam, C organik sangat rendah, N dan C/N sedang, Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Kejenuhan basa (KB) rendah, P

C (Puslittanak 1996). Berdasarkan zona agroklimat wilayah ini masuk ke dalam zona B1 dengan jumlah bulan basah (>200 mm/bulan) antara 7 – 9 bulan dan bulan kering (<100 mm/bulan) kurang dari 2 bulan (Oldeman et al. 1980).

2O5 total

sedang, P2O5 tersedia sangat rendah, K2

Tanah-tanah Aluvial yang terdapat pada ketiga wilayah desa tersebut secara umum merupakan tanah yang subur karena mengandung cukup hara akibat adanya endapan sungai. Hal ini memungkinkan untuk pengembangan pertanian O sangat rendah dan kejenuhan Aluminium (Al) tinggi (Hartomi et al. 2000).

termasuk peternakan melalui pengembangan kawasan HMT sebagai pakan ternak dan kawasan penggembalaan (pasture).

Gambar 3 Peta sumberdaya lahan lokasi penelitian.

Menurut Direktorat Perluasan Areal dan Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air (2009) perluasan areal untuk pengembangan HMT dilakukan melalui pembersihan lahan, pengolahan tanah, pemupukan dan penanaman. Berdasarkan

Tumbang Lahang

Buntut Bali

konsep evaluasi lahan, faktor kendala utama yang perlu diperhatikan dalam upaya pengembangan kawasan HMT (seperti: rumput gajah, Setaria, leguminosa, dan lain-lain) dan kawasan penggembalaan (pasture) pada wilayah ini meliputi drainase, bahaya banjir, dan kesuburan tanah (Balittanah 2003; Puslittanak 1994). Hal ini dapat diatasi melalui perbaikan dan pembuatan sistem tata air yang sesuai dengan lokasi dan pemupukan berimbang.

Sebagai sumber air untuk peternakan dan pertanian berasal dari sungai dan rawa-rawa serta air hujan, dimana ketersediaan air juga tergantung dengan musim. Namun melihat bulan basah sampai 9 bulan pertahunnya, air nampaknya tidak begitu menjadi masalah.

Sarana dan Prasarana Pendukung

Prasarana jalan lebih banyak didominasi jalan tanah sehingga kalau musim hujan jalan becek, beberapa titik tergenangi air, bahkan kadang sulit dilalui oleh kendaraan. Prasarana jalan sangat penting di lokasi ini karena untuk membantu pemasaran hasil-hasil pertanian dan perkebunan, seperti durian, pisang, rotan, karet, serta pasokan kebutuhan bahan pokok dari luar.

Kelembagaan pendukung mempunyai peranan penting untuk memajukan kegiatan pertanian. Beberapa kelembagaan yang ada di Kelurahan Pendahara, Desa Buntut Bali dan Desa Tumbang Lahang disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Kelembagaan pendukung kegiatan pertanian di Kelurahan Pendahara, Desa buntut Bali dan Desa Tumbang Lahang

No. Kelembagaan pendukung kegiatan pertanian

Pendahara Buntut Bali Tumbang Lahang 1. Kelompok Tani 12 6 8 2. Lembaga ekonomi - Bank - KUD - 1 - - - - 3. Pasca panen - Penggilingan padi - Kios saprodi - - - - - -

Sumber: UPTD Kec. Tewang Sanggaling Garing (2008); UPTD Kec. Pulau Malan (2008); UPTD Kec. Katingan Tengah (2008)

Keadaan Penduduk dan Mata Pencaharian

Penduduknya sebagian besar adalah penduduk asli suku Dayak Ngaju dan sedikit pendatang dari luar, seperti suku Jawa, Banjar, bahkan Madura. Struktur penduduk berdasarkan kelompok umur dan tingkat pendidikan disajikan pada Tabel 4. Rata-rata tingkat pendidikan penduduk di lokasi penelitian relatif rendah, yaitu didominasi tamatan SD. Tingkatan pendidikan sangat mempengaruhi terhadap kemajuan pembangunan pertanian di daerah tersebut. Sebagian besar penduduk mata pencahariaannya adalah bertani, seperti tanam padi, kebun karet, rotan, dll. Adopsi teknologi masih sangat rendah, mereka melakukan kegiatan pertanian masih secara tradisional secara turun temurun.

Tabel 4 Struktur penduduk berdasarkan usia produktif, pendidikan, dan pekerjaan di Kelurahan Pendahara, Desa Buntut Bali dan Desa Tumbang Lahang

No. Uraian Pendahara Buntut

Bali*) Tumbang Lahang 1. Usia produktif (<15 – 60) 1 974 1 522 2. Pendidikan: - Tidak sekolah - Tidak tamat SD - Tamat SD/SLTP - Tamat SLTA 54 197 855 342 (Total 2 859) 21 227 (SD) 70 (SLTP) 45 3. Pekerjaan (per KK): - Petani - Pekebun - Peternak - Penangkap ikan

- Lain-lain (jasa, pedagang, PNS,TNI/Polri): 509 36 40 12 196 Total KK: 793 1 225 (secara umum) 46 (PNS) 356 (Swasta) 33 (Buruh) Total Orang: 1 614

Sumber: UPTD Kec. Tewang Sanggaling Garing (2008); UPTD Kec. Katingan Tengah (2008) *) Tidak ada data

Selain mata pencahariannya dari sektor tanaman pangan dan perkebunan, peternakan juga dikembangkan terutama ternak sapi dan babi. Adapun data populasi ternak di ketiga wilayah tersebut disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Populasi ternak di Kelurahan Pendahara (2008), Desa Buntut Bali dan Tumbang Lahang pada tahun 2010

No. Jenis ternak Pendahara Buntut Bali Tumbang

lahang 1. Sapi Potong 209 150 488 2. Babi 110 105 151 3. Kambing 12 0 30 4. Ayam Buras 450 350 550 5. Itik 13 20 85

Sumber: UPTD Kec. Tewang Sanggaling Garing (2008); UPTD Kec, Pulau Malan; UPTD Kec. Katingan Tengah (2008)

Populasi sapi yang ada di Kelurahan Pendahara sebagian besar adalah sapi Katingan dan sebagian kecil Sapi Bali, demikian pula populasi sapi yang ada di Desa Tumbang Lahang campuran antara Sapi Katingan dengan sapi lain (Sapi Bali dan PO). Adapun untuk sapi yang ada di Buntut Bali populasinya hanya Sapi Katingan. Pemasaran ternak berkisar pada wilayah tersebut terkecuali pada hari- hari tertentu seperti hari Raya Qurban pemasaran sapi sampai keluar daerah. Kebanyakan yang dijual adalah sapi-sapi jantan dalam bentuk hidup tidak dipotong karena di ketiga lokasi tersebut tidak ada rumah pemotongan hewan. Harga jual sapi jantan berkisar antara Rp6 000 000,- - Rp10 000 000,-.

Profil Peternak Responden Sumberdaya Manusia (SDM)

Umur responden sebagian besar dalam usia produktif (15-55 tahun) (Tabel 6), dengan demikian mayoritas responden masih relatif kuat untuk melaksanakan kegiatan on farm, off farm maupun non farm. Terlebih lagi adanya dukungan tenaga kerja dari keluarga baik istri maupun anak yang sebagian besar juga dalam usia produktif. Umur yang demikian mempunyai pengaruh terhadap masukan- masukan inovasi teknologi yang akan diberikan (Azizi & Hikmah 2008).

Tabel 6 Responden dan keluarga berdasarkan struktur umur

No. Kisaran umur (Tahun) Suami (%) Istri (%) Anak (%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. < 15 15 – 25 26 – 35 36 – 45 46 – 55 > 55 0 0 0 26.1 50.6 23.3 0 0 27.3 41.8 21.8 9.1 11.1 37.1 37.0 14.8 0 0

Pendidikan merupakan salah satu tolak ukur yang berpengaruh terhadap perilaku petani dalam mengakses informasi, teknologi, modal maupun pasar. Rata-rata tingkat pendidikan responden sebagian besar adalah SD 38.9%, SLTP 16.7%, SLTA 33.3%, bahkan ada yang sarjana (S1) (Tabel 7). Walaupun tingkat pendidikan didominasi SD namun pengalaman bertani/beternak mereka cukup lama seusia umur para responden, karena umumnya mereka memelihara ternak secara turun temurun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan mempunyai hubungan positif dengan tingkat adopsi inovasi teknologi (Azizi & Hikmah 2008; Sumarno 2010).

Tabel 7 Tingkat pendidikan responden

No. Tingkat pendidikan Jumlah (%)

1. 2. 3. 4. 5. 6. Buta huruf SD tidak tamat SD tamat SLTP SLTA S1 0 0 38.9 16.7 33.3 11.1

Kegiatan Usahatani dan Model Pengelolaan

Kegiatan responden pada umumnya adalah bertani dan sekaligus usaha sambilannya adalah berdagang dari hasil pertanian mereka (Tabel 8). Responden sebagian besar (77.8%) menanam padi, terutama padi lokal atau padi ladang yang berumur 6 bulan. Padi yang dihasilkan tidak untuk dijual melainkan untuk kebutuhan hidup selama 1 tahun.

Tabel 8 Pekerjaan utama responden

No. Jenis pekerjaan Jumlah (%)

1. 2. 3. 4. 5.

Tani + Dagang (hasil pertanian) Buruh tani

PNS + tani Swasta + tani

Pegawai swasta (perusahaan)

77.8 0 11.1 11.1 0

Selain padi mereka mengusahakan pula tanaman perkebunan dan hortikultura sebagaimana disajikan pada Tabel 9. Tanaman perkebunan dan hortikultura pada umumnya adalah warisan dari orang tua atau leluhur mereka.

Tabel 9 Jenis tanaman yang diusahakan oleh responden

No. Jenis tanaman

Perkebunan Jumlah (%) Hortikultura Jumlah (%) 1. 2. 3. Karet Rotan Kelapa Sawit 20 10 0 Durian Pisang Langsat Rambutan 100 100 50 85

Penghasilan responden selain dari kegiatan usahatani tanaman pangan dan perkebunan, juga memelihara ternak terutama sapi dengan skala kepemilikan 2-34 ekor dan babi 2-4 ekor. Ternak dan tanaman tidak dalam satu kegiatan yang terpadu (non integrated farming) tetapi secara mix farming dimana masing- masing subsistem produksi tidak saling mendukung. Output yang biasanya berupa hasil samping dari subsistem produksi, misalnya subsistem produksi ternak, tidak dijadikan input bagi subsistem produksi yang lain (tanaman). Sehingga dengan demikian belum ada pemanfaatan hasil samping dari komoditas dalam rangka menuju efisiensi usahatani.

Manajemen pengelolaan usahatani merupakan tradisi turun temurun. Ternak (sapi) dipelihara secara ekstensif, dilepas dalam ranch dengan rata-rata luasan < 1 ha untuk 2 – 7 ekor sapi atau dibiarkan di lepas di hutan. Tidak ada pemeliharaan ternak secara khusus, pakan terbatas hanya di dalam ranch yang

berupa rumput alam yang tumbuh di dalamnya. Penyediaan air minum dilakukan dengan membuat kolam di dalam ranch, 3 – 10 hari peternak datang untuk mengontrol dan memberi air minum, selebihnya hanya mengandalkan air hujan.

Tanaman perkebunan (karet) atau lebih tepatnya disebut hutan karet dan hortikultura (durian, langsat) relatif tanpa memerlukan perawatan, karena umumnya adalah tanaman yang berasal dari leluhurnya. Mereka hanya menunggu saat panen dan menjualnya. Tanaman karet merupakan tanaman perkebunan andalan masyarakat Dayak. Produksi karet umumnya bagi hasil antara pemilik (40%) dengan penyadap (60%). Karet disadap setiap 2 hari sekali dan dalam 1 bulan ada 12 hari kerja. Tidak terkecuali juga pada budidaya tanaman padi, tidak memerlukan perawatan khusus karena mereka menanam padi ladang, setelah ditanam ditinggal untuk melakukan kegiatan usaha lainnya hingga tiba saatnya panen. Kegiatan lainnya yang mendatangkan penghasilan adalah mencari hasil hutan berupa rotan. Rotan banyak tumbuh di sekitar pemukiman dan menjadi mata pencaharian masyarakat sekitarnya. Rotan dijual dalam bentuk bahan baku, bukan dalam bentuk barang jadi.

Kontribusi Komoditas bagi Pendapatan Peternak

Besarnya kontribusi komoditas terhadap pendapatan keluarga dilakukan analisis finansial berdasarkan informasi dari responden yang memiliki kegiatan usahatani secara campuran (mix farming) tanaman perkebunan, hortikultura, tanaman pangan dan ternak sapi selama kurun waktu 1 tahun. Komoditas yang diikutsertakan dalam penghitungan analisa finansial adalah dikhususkan pada komoditas yang memberikan kepastian pendapatan pada setiap tahunnya. Hasil kontribusi per komoditas terhadap pendapatan keluarga disajikan pada Tabel 10 dan Gambar 4.

Tanaman karet masih menjadi andalan bagi masyarakat Dayak karena lebih dari setengahnya (56-57%) kontribusi pendapatan keluarga disuplai dari komoditas ini. Ternak sapi menempati posisi kedua sebagai penyumbang terbesar bagi pendapatan keluarga (18-28%) dibandingkan dengan komoditas lainnya. Widjaja dan Firmansyah (2002) melaporkan kontribusi ternak sapi pada usahatani sayuran sebesar 11.3%, sedangkan Priyanto et al. (2001) melaporkan sebesar

13.14% - 19.31%. Kontribusi lebih besar lagi dilaporkan oleh Paat et al. (1992) yaitu 15.0% - 48.0% terhadap total pendapatan keluarga.

Tabel 10 Pendapatan tahunan per KK pada kegiatan usahatani di lokasi penelitian

Komoditas Rata-rata

Pendahara Buntut Bali T. Lahang

1. Padi Luas (ha) 1.3 0.91 1.2

Produksi GKG (ton/ha) 1.2 1.4 1.1

Harga/kg (Rp.) 5 000 5000 5 000

Pendapatan/ tahun 7 800 000 6370000 6600000

2. Sapi Jantan (ekor) 2.3 2.2 2.4

Betina (ekor) 3.2 3.1 7.2

Harga sapi/ekor (Rp.) 3 500 000 3500000 3500000 Pendapatan/ tahun 11 200 000 10 500000 24500000

3. Karet Luas (ha) 2.0 1.35 2.75

Produksi (kg/ha) 35 35 35

Harga/kg (Rp.) 8500 8500 8500

Pendapatan/ tahun 34272000 23133600 47124000

4. Rotan Luas (ha) 1.2 2.0 2.8

Produksi (ton/ha) 2.1 2.1 2.1

Harga/kg (Rp.) 1000 1000 1000

Pendapatan/ tahun 2520000 4200000 5880000

5. Durian Jumlah pohon 10.9 11.5 5.5

Produksi (butir/pohon) 67.1 33.1 53.6

Harga/butir (Rp.) 3500 3500 3500

Pendapatan/ tahun 2559865 2332275 1031800

6. Langsat Jumlah pohon 9.5 16.4 9.2

Produksi (kg/pohon) 97.3 91.3 100.7

Harga/butir (Rp.) 2500 2500 2500

Pendapatan/ tahun 2310875 3743300 2316100 Asumsi-asumsi:

Tanaman karet: - Tanaman karet sudah berproduksi untuk jenis klon lokal 35 kg/hari

- Penyadapan setiap 2 hari, jadi ada 12 hari kerja dalam 1 bulan

- Pembagian hasil 60% penyadap dan 40% yang punya karet Ternak sapi: - Satu induk melahirkan 1 anak dalam 1 tahun

Gambar 4 Kontribusi variasi komoditas dalam % terhadap pendapatan keluarga responden per tahun di lokasi penelitian sapi lokal.

Sumberdaya Genetik Sapi Katingan

Sebagian besar jenis sapi yang dipelihara di lokasi penelitian adalah sapi Katingan (80-90%), sisanya adalah sapi Bali (Pendahara dan Tumbang Lahang) dan sapi PO (Tumbang Lahang). Tidak ada nama khusus untuk penyebutan sapi Katingan, mereka sering menyebut hanya dengan nama sapi lokal, tetapi ada yang memberi sebutan sapi Itah, ada juga yang menyebut sapi Helu (sapi jaman dahulu). Asal usul sapi tidak diketahui secara pasti, kebanyakan mereka memperoleh sapi secara turun temurun dari para orang tua atau leluhur mereka. Kalaupun dari hasil membeli juga dari sekitar lokasi tersebut. Oleh karena itu Sapi Katingan sangat jarang dijumpai di luar wilayah pemeliharaan sekarang ini. Keberadaan Sapi Katingan banyak dijumpai di sepanjang DAS Katingan, terutama di Kelurahan Pendahara, Desa Buntut Bali dan Desa Tumbang Lahang. Ketiga lokasi tersebut merupakan pusatnya Sapi Katingan di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Beberapa lokasi yang lain di Kabupaten Katingan dilaporkan juga ada sapi Katingan, namun tidak sebanyak di tiga lokasi tersebut. Selain di Kabupaten Katingan, di Kabupaten Gunung Mas di temukan pula sapi yang serupa, namun dari hasil penelusuran sapi tersebut sudah sulit dijumpai bahkan dikhawatirkan sudah tidak ada lagi.

Keberadaan Sapi Katingan dipastikan lebih dari 150 tahun, hal ini berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa responden yang berusia hampir 60- 90 tahun, dimana menurut informasi mereka sapi-sapi lokal tersebut sudah ada

sejak mereka masih kecil yang dibudidayakan oleh orang tua mereka, bahkan sudah ada di era kakek mereka. Menurut responden ciri spesifik dari Sapi Katingan adalah tanduk sapi betina melengkung ke depan dan warna bulu sapi bervariasi, namun yang sering dilaporkan adalah warna merah dan hitam.

Sejauh ini keberadaan Sapi Katingan relatif terjaga dari segi populasinya. Hal ini juga bisa dilihat dari komposisi antara jantan dan betina relatif masih ideal khusus untuk di Kelurahan Pendahara, yaitu dengan perbandingan 1 : 5.5 dari pengamatan terhadap 250 ekor sapi. Secara alami populasi sapi terjaga karena keberadaannya sangat diperlukan untuk kegiatan-kegiatan ritual, perkawinan, dan lain-lain yang ada kaitannya dengan kegiatan adat istiadat. Sapi jantan terutama dengan warna bulu putih paling disukai oleh peternak demikian juga dengan warna merah, sehingga sapi dengan warna bulu tersebut mempunyai harga yang lebih mahal.

Manajemen pemeliharaan dilakukan secara ekstensif tradisional, yaitu ada tiga model pemeliharaan: (1) sapi dilepas bebas dalam ranch yang dibatasi dengan kawat-kawat berduri (Gambar 5), (2) sapi dilepas bebas di hutan dan (3) sapi dilepas bebas tetapi tali kekang diikat pada tali yang dibentangkan di antara pohon-pohon besar (Gambar 6), namun ikatan tali kekang tersebut bisa bergerak sehingga sapi hanya berkeliaran sebatas di sekitar tali yang dibentangkan.

Gambar 5 Pemeliharaan sapi secara ekstensif di dalam ranch di Desa Tumbang Lahang.

Gambar 6 Tali yang dibentangkan diantara pepohonan besar untuk menautkan tali kekang sapi yang bisa bergerak (tanda panah) di Desa Buntut Bali.

Walaupun dengan manajemen pemeliharaan yang ekstensif tradisional, dan tidak pernah ada kontrol terhadap penyakit khususnya penyakit cacing, namun dari hasil pemeriksaan contoh kotoran di 11 titik ranch tidak ditemukan adanya cacing yang patogen, bahkan hanya cacing-cacing yang pada umumnya sering ditemukan seperti Strongyle dan Paramphistomum dengan jumlah telur pergramnya yang rendah (0 – 180 epg) (Tabel 11).

Tabel 11 Hasil pemeriksaan kotoran sapi lokal di 11 titik ranch di Desa Buntut Bali dan Kelurahan Pendahara

No. Lokasi Jenis cacing dan jumlah telur (epg)

Strongyle Fasciola Paramphistomum

1. 5 titik ranch di

Desa Pendaharan 1 40 0 0 3 10 – 180

2. 6 titik ranch di

Desa Buntut Bali 3 10 - 80 0 0 0 0

Sapi Katingan termasuk jenis sapi yang daya reproduksinya tinggi, kemampuan beranak menurut responden bisa mencapai lebih dari 10 kali. Berdasarkan pengamatan di lapangan dijumpai sapi yang sudah beranak sampai 11 kali (2 ekor) dan 12 kali (2 ekor). Kinerja teknologi budidaya Sapi Katingan oleh masyarakat Dayak disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12 Kinerja budidaya Sapi Katingan berdasarkan informasi responden di Kelurahan Pendahara, Desa Buntut Bali, dan Desa Tumbang Lahang

Uraian Kinerja Teknologi

1. Jenis sapi Sapi Katingan dominan, sapi lokal lain: Sapi Bali dan Sapi PO

2. Pakan Hijauan makanan ternak (HMT) alam yang

tersedia di dalam ranch.

Pakan tambahan (konsentrat) hampir tidak pernah diberikan

Mineral yang kadang-kadang diberikan adalah garam dapur

3. Skala usaha 2 – 34 ekor/KK

4. Manajemen pemeliharaan Ekstensif tradisional, dilepas di dalam ranch dan di hutan dengan rata-rata luasan ranch < 1 ha untuk 2-7 ekor sapi.

Tanpa ada tempat berteduh (kandang), siang dan malam sapi di padang gembalaan.

Air minum sehari-hari disediakan di kolam/tempat minum.

5. Manajemen reproduksi Kawin alam, Sapi Katingan betina dan jantan dicampur bersama-sama. Penggunaan pejantan untuk mengawinkan di dalam ranch yang sama 3- 4 kali.

Umur kawin pertama diperkirakan rata-rata 2 tahun. Beranak pertama rata-rata umur 3-3.5 tahun. Dikawinkan kembali 40-45 hari setelah beranak. Kalau tidak jadi diulang lagi setiap 24 hari sekali.

Pola 1 induk 1 anak dalam 1 tahun sudah diterapkan (Gambar 7).

Masa produksi anak bisa mencapai 11-12 kali bahkan bisa lebih.

6. Manajemen Kesehatan hewan

Kontrol terhadap kesehatan hewan (penyakit) sangat terbatas

Penanganan penyakit masih sangat mengandalkan petugas dinas

Pengobatan alternatif (tradisional) belum dikenal Hampir semua peternak tidak tahu pengendalian dan pengobatan penyakit

7. Produktivitas ternak Angka kematian anak pra sapih rendah (< 2%) Angka kebuntingan > 50% (pengamatan lapangan dengan jumlah induk terbatas)

Kejadian penyakit penting 0%

8. Pengolahan limbah Kotoran belum dimanfaatkan dikarenakan manajemen pemeliharaan ekstensif tradisional

Waktu mengawinkan ternak setelah melahirkan cukup bervariasi, namun yang paling sering dilakukan adalah 40-45 hari setelah lahir, dan kalau tidak jadi diulangi lagi 1-3 kali dengan selang waktu 24 hari. Khusus untuk ternak yang sudah sering melahirkan biasanya sekali dikawinkan menjadi bunting. Pola seperti ini cukup logis dilakukan karena involusi uterus menurut Bastidas et al. (1984) rata-rata terjadi sekitar 33.0 + 1.0 hari. Namun demikian banyak peternak di tiga lokasi penelitian (Pendahara, Buntut Bali dan Tumbang Lahang) yang mengawinkan sapinya pada 24 hari setelah melahirkan dan kalau tidak jadi diulang lagi setiap 24 hari.

Gambar 7 Manajemen reproduksi 1 induk 1 anak 1 tahun (20 responden).

Kearifan Lokal Budidaya Sapi Katingan

Pemeliharaan sapi yang dilakukan secara ekstensif tradisional dimana sapi dilepas hidup bebas di padang gembalaan yang tidak selalu berupa padang rumput melainkan seperti hutan, membuat sapi-sapi Katingan berubah agak liar. Sapi agak jinak hanya kepada orang yang biasa memelihara (pemiliknya), sedangkan pada orang yang tidak biasa dikenal biasanya sapi lari dan sulit dipegang, tidak terkecuali terhadap pemiliknya sendiri yang jarang menengok, sapi-sapi tersebut tetap agak liar. Munculnya permasalahan tersebut nampaknya membuat peternak, khususnya para peternak tempo dulu menggunakan ilmu menjinakkan sapi. Beberapa desa mempunyai cara yang berbeda dalam hal menjinakkan sapi.

9 bln 10-20 hari 40 hari 24 hr 24 hr 24 hr Dikawinkan 9 bln 10-20 hari Lahir Ulangan kawin 1-3 kali @ 24 hari Lahir Jarak beranak (CI): 12 – 13 bulan

Masyarakat Dayak mengenal tanaman hutan yang diberi nama tanaman

Karabayan. Daun tanaman inilah yang digunakan untuk menjinakkan sapi-sapi

Dokumen terkait