• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT. Gunung Garuda adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pembuatan baja. PT. Gunung Garuda didirikan pada tahun 1986 dan terletak di Jalan Imam Bonjol 4, Warung Bongkok Desa Suka Danau Kecamatan Cikarang Barat Kabupaten Bekasi Jawa Barat. PT. Gunung Garuda merupakan perusahaan pertama yang memproduksi baja di Asia Tenggara.

Proses pembentukan baja dari biji besi hingga menjadi bentuk yang diinginkan konsumen adalah diawali dengan peleburan, pengelasan dan pemotongan. Peleburan baja dilakukan di ruang Bahara, produk dari ruang Bahara adalah baja batangan. Selanjutnya baja batangan dibawa ke ruang Beam Plan I dan Beam Plan II untuk melewati tahap pengelasan menjadi produk baja batangan berbentuk IWF, Habin, T-Beam, dan lain-lain. Produk dari ruang Beam Plan I dan Beam Plan II dapat dijual langsung kepada konsumen. Proses pemotongan dilakukan di ruang Steel Service Center (SSC) yang melayani desain dan pembuatan model baja sesuai permintaan konsumen. Produk yang dihasilkan dari Steel Service Center adalah Angle, King Cross, Queen Cross, H-Beam dan lain-lain. Produk baja dari PT. Gunung Garuda digunakan untuk bangunan seperti supermarket, rumah sakit, apartemen,dan lain-lain; tower; jembatan; kapal dan lain-lain.

PT. Gunung Garuda dipimpin oleh seorang direktur yang membawahi setiap ketua departemen. Departemen tersebut adalah, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Humas (Public Relation) dan Departemen Produksi. Fasilitas yang disediakan perusahaan adalah klinik yang buka setiap hari kerja, masjid, dan kantin. Karyawan juga mendapatkan fasilitas kesejahteraan berupa jaminan sosial tenaga kerja jika karyawan mengalami kecelakaan atau sakit. Perusahaan juga memiliki kerjasama dengan Rumah Sakit Daerah Cikarang sebagai fasilitas kesehatan pekerja.

Karakteristik Contoh Usia

Rata-rata umur contoh adalah 36 tahun. Usia contoh dikategorikan menjadi dua yaitu dewasa muda (19-29 tahun), dewasa madya (30-49 tahun) (WNPG 2004). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar contoh (85,7%) berusia 30 sampai 49 tahun yang merupakan usia dewasa madya. Sebagian kecil contoh (14,3%) berumur 19 sampai 29 tahun yang merupakan usia dewasa muda.

Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan usia Jumlah Contoh Kategori Usia (th) n % 19-29 6 14,3 30-49 36 85,7 Total 42 100,0 Pendidikan

Pendidikan merupakan sumberdaya yang penting untuk memperoleh informasi dan menambah pengetahuan seseorang. Tingkat pendidikan dibagi menjadi empat yaitu tidak sekolah, SD, SMP dan SMA. Tingkat pendidikan lebih dari separuh (61,9%) contoh adalah SMA dan sebagian kecil (2,4%) contoh tidak sekolah.

Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan pendidikan Jumlah Contoh Tingkat Pendidikan n % Tidak Sekolah 1 2,4 SD 3 7,1 SMP 12 28,6 SMA 26 61,9 Total 42 100,0 Besar Keluarga

Besar keluarga menggambarkan keseluruhan jumlah anggota keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan anak-anak. Besar keluarga menjadi dua kategori yaitu keluarga kecil dan keluarga sedang. Keluarga kecil adalah keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga kurang atau sama dengan empat orang. Keluarga sedang adalah keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga antara lima sampai tujuh orang (Hurlock 1991).

Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga Jumlah Contoh Besar Keluarga n % Kecil 39 92,5 Sedang 3 7,5 Total 42 100

Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 2 sampai 5 orang, dengan rata-rata sebanyak 3 orang. Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa sebagian besar contoh (92,5%) memiliki keluarga kecil dan sebagian kecil contoh (7,5%) memiliki keluarga sedang.

Lama Kerja

Lama kerja dalam penelitian ini adalah lamanya contoh menjadi karyawan di PT. Gunung Garuda. Contoh bekerja di perusahaan berkisar antara 2 sampai 19 tahun, dengan rata-rata lama kerja selama 13 tahun. Lama kerja dikategorikan menjadi menjadi tiga yaitu <5 tahun, 5-10 tahun, >10 tahun (Hardinsyah & Briawan 1990). Berikut adalah sebaran contoh berdasarkan lama kerja .

Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan lama kerja Jumlah Contoh Lama Kerja (th) n % <5 8 19,0 5-10 1 2,4 >10 33 78,6 Total 42 100,0

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar contoh (78,6%) bekerja di PT. Gunung Garuda selama lebih dari 10 tahun. Sebagian kecil contoh (2,4%) bekerja di PT.Gunung Garuda selama 5 sampai 10 tahun.

Jam Kerja

Jam kerja contoh per hari dikategorikan menjadi dua yaitu: 8 sampai 10 jam dan lebih dari 10 jam. Waktu istirahat yang diberikan perusahaan dalam satu hari adalah satu sampai satu setengah jam. Jam kerja contoh setiap hari berkisar antara 8 sampai 12 jam, dengan rata-rata 10 jam perhari. Berdasarkan Tabel 9, dapat dilihat bahwa sebagian besar (81,0%) contoh bekerja selama 8 sampai 10 jam, dan kurang dari separuh (19,0%) contoh bekerja lebih dari 10 jam. Contoh yang bekerja lebih dari 10 jam adalah contoh yang mendapat lembur kerja. Berikut adalah sebaran contoh berdasarkan jam kerja.

Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan jam kerja Jumlah Contoh Jam Kerja (jam)

n %

8-10 34 81,0

>10 8 19,0

Total 42 100,0

Upah

Upah contoh merupakan upah yang berasal dari perusahaan. Upah contoh per bulan berkisar antara Rp.1.800.000 sampai Rp.3.200.000, dengan rata-rata sebesar Rp. 2.300.000. Upah dari perusahaan berada diatas batas Upah Minimum Regional (UMR) untuk daerah Kabupaten Bekasi sebesar Rp.980.589 per kapita per bulan (Wikipedia Indonesia 2008).

Upah contoh dikategorikan menjadi dua yaitu Rp.1.000.000-Rp.2.000.000 dan >Rp.2.000.001. Berdasarkan Tabel 10 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh (64,3%) contoh memiliki upah per bulan sebesar Rp.1.000.000-Rp.2.000.000 dan kurang dari separuh (35,7%) contoh memiliki upah per bulan sebesar >Rp.2000.001.

Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan upah Jumlah Contoh Kategori Upah (Rp/bln) n % 1.000.000-2.000.000 27 64,3 >2.000.001 15 35,7 Total 42 100,0 Pengetahuan Gizi

Proporsi terbesar (59,5%) contoh memiliki pengetahuan gizi sedang dan proporsi terkecil (14,3%) contoh memiliki pengetahuan gizi kurang. Pengetahuan gizi dan kesehatan akan berpengaruh terhadap pola konsumsi pangan. Pengetahuan tentang gizi dan kesehatan yang semakin baik dapat mempengaruhi jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi sehingga dapat memenuhi kecukupan gizi dan mempertahankan kesehatan individu (Suhardjo 1989). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan tidak terdapat hubungan (r=0,012; p=0,939) antara pengetahuan gizi contoh terhadap tingkat konsumsi energi. Berikut adalah sebaran contoh berdasarkan pengetahuan gizi.

Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan pengetahuan gizi Jumlah Contoh Kategori Pengetahuan Gizi

n %

Kurang 6 14,3

Sedang 25 59,5

Baik 11 26,2

Konsumsi Pangan

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman (Undang-Undang Pangan 1996).

Tubuh membutuhkan zat-zat dari makanan untuk pemeliharaan tubuh, perbaikan sel dan jaringan yang tergantung pada usia, jenis kelamin dan beban kerja. Berdasarkan Tabel 12, rata-rata konsumsi energi contoh pada kelompok usia 19 tahun sampai 29 tahun adalah 2424 Kal lebih rendah dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi yaitu 2543 Kal. Namun konsumsi energi pada kelompok usia 30 tahun sampai 49 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi. Rata-rata tingkat konsumsi energi kelompok usia 19 tahun sampai 29 tahun dan kelompok usia 30 tahun sampai 49 tahun berada pada kategori normal yaitu diatas 90 persen dari Angka Kecukupan Gizi. Sebagian besar konsumsi energi contoh berasal dari bahan pangan sumber karbohidrat yaitu nasi, dalam bentuk nasi putih, nasi uduk dan nasi goreng. Kebutuhan zat-zat gizi bagi tenaga kerja yang paling utama adalah kebutuhan akan karbohidrat yang akan diubah menjadi energi, karena tenaga kerja lebih banyak menggunakan energi untuk kerja otot (Tresnaningsih 1990).

Tabel 12 Sebaran rata-rata konsumsi energi dan zat gizi contoh berdasarkan kelompok usia

Kelompok Usia

Energi dan Zat Gizi 19-29

(n=6) 30-49 (n=36) Energi Konsumsi (Kal) Kecukupan (Kal/hr)

Tingkat Konsumsi (%AKG)

2424 2543 94 2569 2536 101 Protein Konsumsi (g) Kecukupan (g/hr)

Tingkat Konsumsi (%AKG)

45,16 59,83 74 47,63 64,76 73 Zat Besi Konsumsi (mg) Kecukupan (mg/hr)

Tingkat Konsumsi (%AKG)

11,86 13,00 91 12,07 13,00 93 Vitamin A Konsumsi (RE) Kecukupan (RE/hr)

Tingkat Konsumsi (%AKG)

656,36 600,00 109 602,67 600,00 100

Konsumsi protein contoh kelompok usia 19 tahun sampai 29 tahun dan 30 tahun sampai 34 tahun belum mencukupi Angka Kecukupan Gizi tahun 2004. Rata-rata tingkat konsumsi protein pada semua kelompok umur berada pada kategori kurang. Hal ini karena jumlah konsumsi pangan sumber protein contoh baik dari sumber protein hewani maupun protein nabati masih kurang. Sumbangan protein hewani diperoleh dari daging ayam, daging sapi, ikan dan telur, sedangkan dari protein nabati dieroleh dari tempe, tahu dan kacang-kacangan.

Rata-rata konsumsi zat besi contoh baik pada kelompok usia 19 tahun sampai 29 tahun maupun 30 tahun sampai 34 tahun belum mencukupi Angka Kecukupan Gizi. Bahan makanan yang mengandung zat besi antara lain adalah hati, daging dari bahan pangan sumber hewani dan kacang kedelai, kacang tanah, kacang panjang, serat sayuran hijau dari bahan pangan asal nabati. Selain kandungan zat besi yang ada dalam bahan makanan, perlu juga diperhatikan adalah faktor-faktor lain yang mempengaruhi absorpsi zat besi, antara lain jenis makanan itu sendiri. Zat besi yang berasal dari tumbuhan yang dapat diabsorpsi hanya sedikit dan bahan makanan asal hewani dapat diabsorpsi dengan cukup tinggi (Anwar 1998). Konsumsi zat besi contoh berasal dari daging ayam, daging sapi, ikan, telur sayuran hijau dan kacang-kacangan.

Rata-rata konsumsi vitamin A contoh pada kelompok usia 19 tahun sampai 29 tahun dan pada kelompok umur 30 sampai 49 tahun telah mencukupi Angka Kecukupan Gizi tahun 2004. Sumbangan vitamin A diperolah dari daging sapi, daging ayam, ikan, telur, sayuran, buah, dan kacang-kacangan. Menurut Almatsier (2002) daging, unggas, ikan dan telur merupakan pangan hewani yang mengandung vitamin A. Sedangkan bahan nabati seperti buah-buahan (orange), sayuran berdaun hijau, akar dan umbi-umbian mengandung provitamin A.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar (81,0%) tingkat konsumsi energi contoh berada pada kategori normal, dan proporsi terkecil (4,8%) tingkat konsumsi energi contoh berada pada kategori kelebihan dan defisit tingkat sedang. Soekirman (2002) mengungkapkan bahwa kekurangan konsumsi energi dari kecukupan yang diperlukan dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan dan bila terus berlanjut dapat mengakibatkan seseorang menjadi kurus. Proporsi terbesar tingkat konsumsi protein contoh adalah termasuk kategori defisit tingkat sedang dengan persentase sebesar 38,1 persen. Sedangkan proporsi terkecil tingkat konsumsi protein contoh adalah pada

kategori normal dengan persentase sebesar 7,1 persen. Khumaidi (1989) menyatakan bahwa salah satu ukuran kuantitas konsumsi pangan adalah konsumsi energi dan protein. Pada umumnya jika kecukupan energi dan protein sudah terpenuhi dari beragam jenis pangan, maka kecukupan zat gizi lainnya dapat terpenuhi.

Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan tingkat konsumsi energi dan protein Tingkat Konsumsi Energi Tingkat Konsumsi Protein Kategori Tingkat Konsumsi n % n %

Defisit Tingkat Berat 0 0,0 15 35,7

Defisit Tingkat Sedang 2 4,8 16 38,1

Defisit Tingkat Ringan 4 9,5 8 19,0

Normal 34 81,0 3 7,1

Kelebihan 2 4,8 0 0,0

Total 42 100,0 42 100,0

Zat besi dan Vitamin A adalah zat gizi yang termasuk dalam zat gizi mikro. Berdasarkan Tabel 14 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh (66,7%) contoh memiliki tingkat konsumsi zat besi dengan kategori baik dan sisanya (33,3%) contoh memiliki tingkat konsumsi zat besi dengan kategori kurang. Berdasarkan hasil recall konsumsi pangan, pangan hewani yang mengandung zat besi yang sering dikonsumsi contoh adalah daging, ikan, telur dan ayam. Sedangkan pangan nabati yang banyak dikonsumsi adalah tahu dan tempe. Tabel 14 Sebaran contoh berdasarkan tingkat konsumsi zat besi dan vitamin A

Tingkat Konsumsi Zat Besi

Tingkat Konsumsi Vitamin A Kategori Tingkat

Konsumsi Zat Besi dan

Vitamin A n % n %

Kurang 14 33,3 13 31,0

Baik 28 66,7 29 69,0

Total 42 100,0 42 100,0

Proporsi terbesar tingkat konsumsi vitamin A contoh adalah berada pada kategori baik dengan persentase sebesar 69,0 persen. Sedangkan proporsi terkecil tingkat konsumsi vitamin A contoh berada pada kategori kurang dengan persentase sebesar 31,0 persen. Menurut Almatsier (2002), vitamin A berpengaruh terhadap kekebalan tubuh pada manusia. Retinol berpengaruh terhadap pertumbuhan dan dan diferensiasi limfosit B. Di samping itu kekurangan vitamin A dapat menurunkan respon antibodi yang bergantung pada sel-T.

Status Gizi

Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan (absorpsi), dan utilisasi (utilization) zat gizi (Riyadi 2001). Status gizi contoh dihitung berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks Massa Tubuh contoh berkisar antara 17 sampai 36,9, dengan rata-rata IMT sebesar 24,6.

Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar contoh memiliki status gizi gemuk dengan persentase sebesar 47,6 persen dan proporsi terkecil contoh memiliki status gizi kurus dengan persentase sebesar 11,9 persen. Pada umumnya contoh dengan status gizi gemuk bekerja pada bagian kontrol mesin sehingga aktivitas lebih rendah dibandingkan contoh yang bekerja pada bagian lain seperti bagian mekanik dan pencetakan sehingga tubuh contoh lebih banyak menyimpan cadangan energi dan mempengaruhi berat badan. Menurut Robergs dan Roberts (1997), peningkatan cadangan energi di dalam tubuh khusunya dalam jaringan adiposa akan meningkatkan berat badan. Jika hal ini terjadi secara terus menerus akan memicu terjadinya kegemukan. Berikut adalah sebaran contoh berdasarkan status gizi.

Tabel 15 Sebaran contoh berdasarkan status gizi Jumlah Contoh Status Gizi n % Kurus 5 11,9 Normal 17 40,5 Gemuk 20 47,6 Total 42 100,0 Suhu Tubuh

Suhu tubuh ditentukan oleh keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas. Panas di dalam tubuh di hasilkan oleh gerak otot, asimilasi makanan dan semua proses vital yang mendukung laju metabolisme basal. Panas tubuh hilang oleh radiasi, konduksi serta penguapan air melalui pernapasan dan pengeluaran keringat melalui kulit. Sejumlah kecil panas juga dibuang melalui urin dan feses (Ganong 1992).

Tabel 16 Sebaran contoh berdasarkan suhu tubuh sebelum dan setelah bekerja Jumlah Contoh

Sebelum Bekerja Setelah Bekerja

Suhu Tubuh (0C) n % n % 33,5-35,0 18 42,9 4 9,5 35,1-36,7 24 57,1 38 90,5 Total 42 100,0 42 100,0

Suhu tubuh sebelum kerja contoh berkisar antara 33,50C sampai 36,40C, dengan rata-rata sebesar 35,00C. Sedangkan suhu tubuh setelah kerja berkisar antara 34,60C sampai 36,70C, dengan rata-rata sebesar 35,70C. Berdasarkan pengukuran suhu tubuh sebelum bekerja, lebih dari separuh (57,1%) suhu tubuh contoh adalah antara 35,10C sampai 36,70C. Sebagian besar (90,5%) suhu tubuh contoh setelah bekerja adalah antara 35,10C sampai 36,70C. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan tidak terdapat hubungan (r=0,186; p=0,238) antara suhu tubuh sebelum bekerja terhadap suhu tubuh setelah bekerja.

Peningkatan suhu tubuh antara sebelum kerja dan setelah kerja terjadi pada sebagian besar (83,3%) contoh dan hanya 7,1 persen contoh tidak mengalami perubahan suhu tubuh antara sebelum kerja dan setelah kerja. Perubahan suhu tubuh contoh diduga karena aktivitas otot yang terjadi pada tubuh contoh selama bekerja dan perubahan suhu ruang dari suhu normal menjadi suhu tinggi. Peningkatan suhu tubuh contoh diduga mempengaruhi ekskresi keringat dan keluhan pusing contoh selama bekerja. Berikut adalah sebaran contoh berdasarkan perubahan suhu tubuh antara sebelum kerja dan setelah kerja.

Tabel 17 Sebaran contoh berdasarkan perubahan suhu tubuh antara sebelum dan setelah bekerja

Jumlah Contoh Perubahan suhu tubuh

n %

Menurun 4 9,5

Konstan 3 7,1

Meningkat 35 83,3

Total 42 100,0

Gangguan Kesehatan Akibat Kerja

Pekerjaan apapun memiliki risiko untuk mendapatkan gangguan kesehatan atau penyakit yang timbul akibat kerja jika tidak terdapat keseimbangan antara kapasitas kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja. Pekerjaan yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seseorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat kerja. Kondisi lingkungan kerja misalnya panas, bising, debu, zat-zat kimia dan lain-lain dapat merupakan beban tambahan terhadap pekerja. Beban tambahan tersebut secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau penyakit akibat kerja (Buchori 2007).

Gangguan kesehatan yang umumnya dialami contoh pada setiap ruang kerja adalah pusing, banyak mengeluarkan keringat dan pegal. Menurut Hendra

(2003), gangguan kesehatan atau keluhan subyektif yang umumnya dirasakan oleh contoh yang bekerja di lingkungan panas adalah kulit terasa panas, pegal dan banyak berkeringat. Berikut adalah sebaran contoh berdasarkan gangguan kesehatan akibat kerja.

Tabel 18 Sebaran contoh berdasarkan suhu ruang kerja dan gangguan kesehatan akibat kerja

Jumlah Contoh

Suhu Ruang 320C Suhu Ruang 340C Suhu Ruang 380C Gangguan Kesehatan n % n % n % Pusing 8 72,7 13 61,9 6 60,0 Pegal 10 90,9 18 85,7 9 90,0 Banyak berkeringat 10 90,9 20 95,2 9 90,0 Kram 3 27,3 7 33,4 1 10,0 Gatal-gatal 5 45,5 8 38,1 4 40,0

Penyakit kulit akibat kerja atau yang didapat sewaktu melakukan pekerjaan banyak penyebabnya. Agen sebagai penyebab penyakit kulit tersebut antara lain berupa agen-agen fisik, kimia maupun biologis. Kebanyakan agen terdapat dalam pekerjaan industri (Bergqvist dan Wahlber 1994, diacu dalam Anies 2005). Kurang dari separuh contoh mengalami gatal-gatal dan kram akibat panas. Gatal-gatal yang dialami contoh diduga karena contoh mengidap biang keringat. Penyakit yang pernah diderita contoh selama tiga bulan terakhir adalah alergi kulit, batuk, biang keringat, maag, sakit mata, sariawan, gejala tifus, wasir dan rematik.

Suhu Ruang Kerja

Berdasarkan data suhu ruang kerja, ruang SSC dan Workshop memiliki suhu ruang 320C, ruang Beam Plan 1 (BP 1) dan Beam Plan 2 (BP 2) memiliki suhu ruang sebesar 340C, ruang bahara memiliki suhu ruang sebesar 380C. Suhu ruang kerja tersebut termasuk suhu ruang tinggi. Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja (1999), iklim kerja yang dianjurkan bagi tenaga kerja yang termasuk ke dalam kategori beban kerja berat adalah 25,90C. Iklim kerja adalah perpaduan antara suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin di suatu ruang kerja. Ruang bahara merupakan ruang peleburan baja, ruang Beam Plan I dan Beam Plan II adalah ruang pengelasan baja. Ruang SSC dan Workshop adalah ruang pemotongan dan pembentukan baja sesuai permintaan konsumen.

Tabel 19 Sebaran ruang kerja berdasarkan suhu ruang

Ruang Kerja Suhu Ruang (0C)

Steel Service Center (SSC) 32

Beam Plan 1 & Beam Plan 2 34

Bahara 38

Penerapan Gizi Kerja

Penerapan gizi kerja dapat dilakukan di perusahaan. Penerapan gizi kerja di perusahaan, dapat dilaksanakan dan dipantau dari segi berikut ini: (1) Ada tidaknya kantin (ruang makan) di perusahaan, (2) Kualitas penyelenggaraaan makan bagi tenaga kerja, (3) Ada tidaknya usaha peningkatan penyelenggaraan makan di perusahaan. Penerapan gizi kerja di perusahaan juga mewujudkan pembinaan hubungan perburuhan yang diarahkan kepada terciptanya kerja sama yang serasi antara tenaga kerja dan perusahaan. Masalah dan keadaan gizi tenaga kerja perlu diketahui sebelum menyadari betapa pentingnya memperhatikan aspek gizi bagi tenaga kerja (Riyadi 2006).

Gizi kerja yang diterapkan oleh perusahaan adalah penyediaan kantin, pemberian makan, pemberian snack dan penyediaan air mineral. Seluruh contoh mendapatkan makan dari perusahaan. Makanan disajikan dalam bentuk nasi bungkus dan diberikan kepada contoh ketika contoh istirahat kerja. Frekuensi dan waktu pemberian makan oleh perusahaan kepada contoh bervariasi yaitu satu kali pada saat siang; dan dua kali pada saat siang dan malam. Contoh yang mendapatkan makan dua kali adalah contoh yang lembur kerja. Contoh diberi makan siang pada pukul 12.00 WIB dan makan malam pada pukul 18.00 WIB. Selain mendapatkan makan, contoh yang lembur kerja mendapatkan snack pada malam hari yaitu pukul 23.00 WIB. Snack yang diberikan pada contoh berupa puding, kue dan roti.

Pemenuhan kebutuhan gizi pada hari kerja pada umumnya dilakukan di tempat kerja, terutama pada waktu makan siang. Penyediaan makan siang merupakan salah satu usaha perusahaan untuk memenuhi kebutuhan gizi contoh pada hari kerja. Umumnya menu makan siang sama seperti makan malam. Sistem penyediaan makan dilakukan secara pesan antar (delivery), yaitu pihak kantin yang telah bekerjasama dengan perusahaan mengantarkan makanan ke ruang kerja. Berikut adalah sebaran menu makan siang selama recall 2x24 jam dan rata-rata konsumsi energi serta zat gizi yang disediakan perusahaan bagi pekerja.

Tabel 20 Sebaran menu makan siang selama recall 2x24 jam dan rata-rata konsumsi energi serta zat gizi

Rata-rata Konsumsi Energi dan Zat Gizi

Hidangan Jenis Makanan Porsi

(g) Energi (Kal) Protein (g) Besi (mg) Vit.A (RE) Makanan Pokok Nasi 400 712 8,40 2,00 0,00 Lauk Pauk Ayam goreng Ikan mas balado

30 30 55 50 1,80 2,32 0,15 1,15 27,41 29,28 Sayur Sop sayuran

Tumis kangkung 48 35 15 14 0,30 0,45 0,14 0,22 139,40 43,35 Buah Apel Semangka 89 101 23 25 0,12 0,45 0,12 0,18 4,70 81,0 Total 893 13,82 3,95 326,04

Kualitas makanan yang disediakan perusahaan terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah. Secara kuantitatif makan siang yang dikonsumsi contoh pada saat makan siang rata-rata memenuhi 35,2 persen energi dari angka kecukupan energi contoh per hari. Direktorat Bina Gizi Masyarakat (1992) diacu dalam Aziiza (2008) menyatakan bahwa pembagian makan sebaiknya 30 persen untuk makan pagi, 40 persen untuk makan siang, dan 30 persen untuk makan malam. Konsumsi contoh pada saat makan siang belum mencukupi 40 persen kecukupan energi contoh perhari. Hal ini diduga karena contoh tidak menghabiskan makanan karena faktor kebosanan.

Konsumsi pangan contoh diluar perusahaan yaitu pada waktu pagi dan malam. Sarapan pagi contoh umumnya berupa nasi uduk, bubur ayam dan mie goreng. Sarapan pagi contoh menyumbang energi sebesar 18,2 persen dari kecukupan energi contoh per hari. Terdapat beberapa contoh yang tidak sarapan pagi pada saat recall konsumsi pangan. Khomsan (2002) menyatakan sarapan pagi bermanfaat untuk menyediakan karbohidrat untuk meningkatkan kadar gula darah. Dengan kadar gula darah yang terjamin normal, maka gairah dan konsentrasi kerja bisa lebih baik. Sarapan pagi akan memberikan kontribusi penting zat gizi yang diperlukan tubuh seperti protein, lemak, vitamin dan mineral. Ketersediaan zat gizi ini bermanfaat unuk berfungsinya proses fisiologis tubuh.

Konsumsi energi contoh pada waktu malam dan selingan memenuhi energi 47,1 persen dari kecukupan energi per hari. Makan malam contoh berupa nasi, lauk pauk, sayur, buah dan makanan sepinggan seperti bakso dan nasi goreng. Makanan selingan contoh berupa roti, kue, teh manis, kopi dan

gorengan. Berikut adalah persentase kecukupan energi contoh berdasarkan waktu makan.

Persentase Kecukupan Energi Contoh Berdasarkan Waktu Makan

0 10 20 30 40 50 Pagi Siang (Perusahaan) Malam dan Selingan Waktu Makan Pe rs e n ta s e Energi (Kal/hr)

Gambar 3 Grafik persentase kecukupan energi contoh berdasarkan waktu makan.

Perusahaan menyediakan air minum di setiap ruang kerja. Lebih dari separuh (61,9%) contoh minum air mineral antara 800 sampai 2000 ml per hari. Menurut Riyadi (2006), dalam lingkungan kerja yang panas dan pada pekerjaan

Dokumen terkait