Bank Perkreditan Rakyat atau yang disingkat BPR adalah salah satu lembaga keuangan yang bergerak di bidang jasa UMKM. BPR merupakan lembaga perbankan di bawah pengawasan Bank Indonesia dan Otorisasi Jasa Keuangan (OJK). BPR tidak langsung berdiri begitu saja, tetapi melalui tahapan- tahapan selama bertahun-tahun. Berawal dari keinginan membantu para petani, pegawai, dan buruh untuk melepaskan diri dari jerat renternir yang memberikan kredit dengan bunga tinggi, lembaga perkreditan rakyat mulai didirakan. Secara singkat pendirian BPR adalah sebagai berikut:
1) Abad ke-19
Pada abad ke-19 ini merupakan masa jaya kaum rentenir, mereka memberikan pinjaman uang kepada petani, pegawai dan buruh dengan bunga yang sangat tinggi yang membuat kehidupan mereka bertambah buruk dan semakin terjerat dalam utang yang semakin besar. Sehingga untuk menyelamatkan mereka dari jeratan kaum rentenir, sekitar tahun 1916-1930 didirikanlah lembaga-lembaga keuangan dalam bentuk Lumbung Desa, Bank Tani, Bank Desa dan Bank Dagang Desa.
2) Pasca Kemerdekaan
Setelah kemerdekaan Indonesia, dari tahun 1930-1945 didirikan pula lembaga keuangan seperti Bank Pasar, Ordonasi Badan Kredit Desa, Bank Karya Produksi Desa (BKPD) dan Bank Pasar Kosgoro.
3) Awal 1970
Melihat perkembangan perbankan yang semakin pesat, maka pemerintah mengeluarkan Undang-Undang tentang perbankan sekitar tahun 1967, yaitu Undang-Undang No. 14 tahun 1967 akan tetapi Undang-Undang ini masih belum berpihak kepada BPR dan bank kecil lainnya. Hal ini karena di dalam Undang-Undang tersebut hanya mengatur tentang Bank Umum, Bank Pembangunan dan Bank Asing. Dengan adanya Undang-Undang tersebut, mengakibatkan BPR tidak mendapatkan tempat dalam masyarakat dan sulitnya untuk mengetahui posisinya dalam dunia perbankan. Pada awal tahun 1970 didirikan Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP) oleh Pemerintah Daerah.
4) Paket Kebijakan Oktober 1988 (PAKTO 1988)
Pada tahun 1988 pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Oktober 1988 (PAKTO 1988) melalui Keputusan Presiden RI No.38 yang menjadi momentum awal pendirian BPR baru. Kebijakan tersebut memberikan kejelasan mengenai keberadaan dan kegiatan usaha Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Dengan dikeluarkannya Undang-Undang No.7 tentang Perbankan tahun 1992 (UU No.7/1992 tentang Perbankan) BPR diberikan landasan hokum yang jelas sebagai salah satu jenis Bank Umum. Sesuai UU No.7/1992 tentang Perbankan, lembaga keuangan bukan bank yang telah memperoleh izin usaha dari Menteri Keuangan dapat menyesuaikan kegiatan usahanya sebagai bank. Selain itu, dinyatakan juga bahwa lembaga-lembaga keuangan kecil seperti Bank Desa, Lumbung Desa, Bank Pasar, Bank Pegawai, LPN, LPD, BKD, BKK, KURK, LPK, BKPD, dan lembaga-lembaga lainnya yang dipersamakan dengan itu dapat diberikan status sebagai BPR dengan memenuhi persyaratan dan tata cara yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
5) PP No.71/1992
PP No.71/1992 memberikan jangka waktu sampai dengan 31 Oktober 1997 bagi lembaga-lembaga keuangan tersebut untuk memenuhi persyaratan menjadi BPR, sampai batas jangka waktu yang ditetapkan, tidak seluruh lembaga keuangan tersebut dapat sikukuhkan sebagai BPR karena tidak dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan. BPR yang didirikan setelah PAKTO 1988 maupun lembaga keuangan yang dikukuhkan menjadi BPR sesuai dengan PP
No.71/1992, pada ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Perbankan dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai otoritas pengawas bank. Landasan Hukum BPR UU No.7/1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No.10/1998. Dalam UU tersebut secara tegas disebutkan bahwa BPR adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Kegiatan usaha BPR terutama ditujukan untuk melayani usaha-usaha kecil dan masyarakat di daerah pedesaan. Bentuk hukum BPR dapat berupa Perseroan Terbatas, Perusahaan Daerah, atau Koperasi.
5.2 Hasil Pembahasan Penelitian 5.2.1 Deskripsi Responden
Populasi dalam penelitian ini adalah BPR yang berada di Kabupaten Badung. Berdasarkan data dari OJK Denpasar tahun 2018 jumlah BPR yang berada di Kabupaten Badung sebanyak 51 BPR. Teknik yang digunakan dalam penentuan sampel penelitian ini adalah teknik sampling jenuh yaitu teknik penentuan sampel yang semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2014:122).
Dari 51 BPR di Kabupaten Badung yang dijadikan sampel, masing-masing BPR diberikan 2 kuesioner dan dikirm langsung ke masing-masing BPR. Responden dalam penelitian ini yaitu kepala bagian kredit dan kasir. Rincian pengiriman dan penerimaan kuesioner disajikan pada Tabel 5.1 sebagai berikut:
Tabel 5.1
Rincian Pengiriman dan Penerimaan Kuesioner
Keterangan Jumlah
Kuesioner yang disebar 102
Kuesioner yang tidak kembali 0
Kuesioner yang diolah 102
Tingkat pengembalian kuesioner 100%
Sumber : data diolah (2018)
Tabel 5.1 menujukkan bahwa jumlah kuesioner yang disebarkan kepada responden sebanyak 102 kuesioner. Dari jumlah kuesioner yang disebarkan semua kuesioner kembali dan kuesioner diolah sebagai data primer dalam penelitian ini.
5.2.2 Analisis Statistik Deskriptif
Statistik dalam penelitian ini disajikan untuk memberikan informasi mengenai karakteristik variabel-variabel penelitian, antara lain minimum, maksimum, mean, dan standar deviasi. Pengukuran rata-rata (mean) merupakan cara paling umum digunakan untuk mengukur nilai sentral dari suatu distribusi data, sedangkan standar deviasi merupakan perbedaan nilai data yang diteliti dengan nilai rata-ratanya. Hasil statistik deskriptif dapat dilihat pada Tabel 5.2 yaitu sebagai berikut:
Tabel 5.2
Hasil Uji Statistik Deskriptif
Sumber: Lampiran 3, data diolah (2018)
Maka dapat diketahui gambaran mengenai distribusi data yaitu sebagai berikut:
1. Lingkungan Pengendalian (X1) memiliki nilai minimum 42 dan nilai maksimumnya adalah 55. Mean (nilai rata-rata) untuk lingkungan pengendalian adalah 48,80 dengan standar deviasinya 3,050.
2. Penilaian Risiko (X2) memiliki nilai minimum 31 dan nilai maksimumnya adalah 40. Mean (nilai rata-rata) untuk penilaian risiko adalah 35,67 dengan standar deviasinya 2,591.
3. Aktivitas Pengendalian (X3) memiliki nilai minimum 31 dan nilai maksimumnya adalah 40.
Mean (nilai rata-rata) untuk aktivitas pengendalian adalah 35,01 dengan standar deviasinya
2,437.
4. Informasi dan komunikasi (X4) memiliki nilai minimum 30 dan nilai maksimumnya adalah 40. Mean (nilai rata-rata) untuk informasi dan komunikasi adalah 35,18 dengan standar deviasinya 2,328.
5. Pemantauan (X5) memiliki nilai minimum 31 dan nilai maksimumnya adalah 40. Mean (nilai rata-rata) untuk pemantauan adalah 35,03 dengan standar deviasinya 2,662.
6. Efisiensi Penyaluran Kredit (Y) memiliki nilai minimum 40 dan nilai maksimumnya adalah 50. Mean (nilai rata-rata) untuk efisiensi penyaluran kredit adalah 44,78 dengan standar deviasinya 2,997.
5.2.3 Uji Instrumen
Pengujian instrumen penelitian menggunakan uji validitas dan uji reabilitas dengan menggunakan bantuan program Statiscial Package for Social Science (SPSS) 16.0 sebagai berikut:
1) Uji Validitas
Uji Validitas merupakan pengujian instrumen penelitian sebagai suatu derajat ketepatan alat ukur penelitian tentang inti atau arti sebenarnya yang diukur. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pernyataan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Dasar pengambilan keputusan valid atau tidaknya butir-butir pernyataan dalam kuesioner adalah apabila total nilai dari pearson correlation untuk masing-masing butir pernyataan menunjukkan nilai diatas 0,30 maka dapat dinyatakan valid (Ghozali,2016:53). Adapun hasil uji validitas dapat ditunjukkan pada Tabel sebagai berikut:
Tabel 5.3
Hasil Uji Validitas Variabel Dependen dan Independen
Variabel Item Pernyataan Koefisien Korelasi Keterangan Efisiensi Penyaluran Kredit Y.1 0,648 Valid Y.2 0,652 Valid Y.3 0,667 Valid Descriptive Statistics 102 42.00 55.00 48.8039 3.05085 102 31.00 40.00 35.6765 2.59154 102 31.00 40.00 35.0196 2.43725 102 30.00 40.00 35.1863 2.32818 102 31.00 40.00 35.0392 2.66225 102 40.00 50.00 44.7843 2.99712 102 X1 X2 X3 X4 X5 Y Valid N (listwise)
Y.4 0,569 Valid Y.5 0,594 Valid Y.6 0,560 Valid Y.7 0,515 Valid Y.8 0,597 Valid Y.9 0,614 Valid Y.10 0,549 Valid Lingkungan Pengendalian X1.1 0,601 Valid X1.2 0,659 Valid X1.3 0,557 Valid X1.4 0,418 Valid X1.5 0,595 Valid X1.6 0,418 Valid X1.7 0,444 Valid X1.8 0,496 Valid X1.9 0,626 Valid X1.10 0,441 Valid X1.11 0,604 Valid Penilaian Risiko X2.1 0,617 Valid X2.2 0,680 Valid X2.3 0,639 Valid X2.4 0,595 Valid X2.5 0,617 Valid X2.6 0,598 Valid X2.7 0,444 Valid X2.8 0,674 Valid Aktivitas Pengendalian X3.1 0,677 Valid X3.2 0,620 Valid X3.3 0,624 Valid X3.4 0,506 Valid X3.5 0,734 Valid X3.6 0,620 Valid X3.7 0,561 Valid X3.8 0,537 Valid Informasi & Komunikasi X4.1 0,491 Valid X4.2 0,562 Valid X4.3 0,676 Valid X4.4 0,486 Valid X4.5 0,552 Valid X4.6 0,532 Valid X4.7 0,560 Valid X4.8 0,605 Valid Pemantauan X5.1 0,697 Valid X5.2 0,611 Valid
X5.3 0,769 Valid X5.4 0,639 Valid X5.5 0,640 Valid X5.6 0,577 Valid X5.7 0,651 Valid X5.8 0,660 Valid
Sumber: Lampiran 4, data diolah (2018)
Berdasarkan Tabel diatas instrumen-instrumen pada setiap variabel dalam penelitian ini memiliki nilai person correlation diatas 0,30 sehingga dapat disimpulkan bahwa, seluruh butir pernyataan dalam instrumen dalam penelitian ini adalah valid atau dapat dinyatakan layak digunakan sebagai alat ukur.
2) Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas merupakan alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2016:47). Dalam pengujian ini, penelitian mengukur reliabelnya lebih besar dari 0,70, suatu variabel atau konstruk dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,70 (Ghozali, 2016:48). Adapun hasil dari uji reliabilitas dapat ditunjukkan pada Tabel 5.4 sebagai berikut:
Tabel 5.4 Hasil Uji Reliabilitas
No. Variabel Cronbach’s Alpha Keterangan
1. Efisiensi penyaluran
kredit 0,799 Reliabel
2. Lingkungan
pengendalian 0,745 Reliabel
3. Penilaian resiko 0,745 Reliabel
4. Aktivitas pengendalian 0,758 Reliabel
5. Informasi dan
komunikasi 0,769 Reliabel
6. Pemantauan 0,806 Reliabel
Sumber: Lampiran 5, data diolah (2018)
Berdasarkan Tabel 5.4 nilai Cronbach’s Alpha untuk setiap variabel lebih dari 0,70. Dengan demikian, dapat sinyatakan bahwa seluruh variabel telah memenuhi syarat reliabilitas atau dapat dikatakan reliabel sehingga dapat digunakan untuk melakukan penelitian.
5.2.4 Uji Asumsi Klasik 1) Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual dalam penelitian ini memiliki distribusi normal atau tidak. Uji normalitas menggunakan metode One-Sample Kolmogorov-Smirnov (K-S). Jika tingkat signifikannya > 0,05 maka data berdistribusi normal. Hasil pengujian normalitas dapat dilihat pada Tabel 5.5 sebagai berikut:
Hasil Uji Normalitas
Sumber: Lampiran 6, data diolah (2018)
Berdasarkan Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa nilai Komogorov-Smirnov (K-S) adalah 0,626 dan nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,828. Nilai tersebut menunjukkan bahwa secara statistik nilai Asymp. Sig (2-tailed) lebih besar dari 0,05 hal ini berarti residual dalam penelitian berdistribusi normal.
2) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Pada model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya korelasi antar sesama variabel bebas dapat dilihat dari nilai tolerance dan nilai variance inflation factor (VIF). Jika nilai tolerance lebih dari 10 persen atau 0,1 dan VIF kurang dari 10 (tolerance > 0,1 atau VIF < 10), maka dikatakan tidak multikolinearitas. Hasil pengujian multikolinearitas dapat dilihat pada Tabel 5.6 sebagai berikut:
Tabel 5.6
Hasil Uji Multikolinearitas
Sumber: Lampiran 6, data diolah (2018)
Berdasarkan Tabel 5.6 nilai tolerance variabel bebas lebih dari 10 persen atau 0,1 yang ditunjukkan dengan nilai tolerance lingkungan pengendalian sebesar 0,555, penilaian risiko sebesar 0,748, aktivitas pengendalian sebesar 0,564, informasi dan komunikasi sebesar 0,701, dan pemantauan sebesar 0,705. Sedangkan nilai VIF < 10 yang ditunjukkan dari nilai VIF lingkungan pengendalian sebesar 1,803, penilaian risiko sebesar 1,338, aktivitas pengendalian sebesar 1,773, informasi dan komunikasi sebesar 1,426 dan pemantauan sebesar 1,419. Jadi dapat dikatakan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas dalam penelitian ini.
3) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi kesamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik adalah
One-Sample Kolmo gorov -Smirno v Test
102 .0000000 2.65808662 .062 .062 -.058 .626 .828 N Mean Std. Deviation Normal Parametersa,b
Absolute Posi ti ve Negative Most Extreme Di fferences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)
Unstandardiz ed Resi dual
Test distribution i s Normal. a.
Calculated from data. b. Coefficientsa 31.240 5.021 6.222 .000 .050 .119 .051 .422 .674 .555 1.803 .055 .121 .047 .452 .652 .748 1.338 .116 .148 .095 .785 .434 .564 1.773 .069 .033 .222 2.058 .042 .701 1.426 .069 .029 .258 2.389 .019 .705 1.419 (Constant) X1 X2 X3 X4 X5 Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients
t Sig. Tolerance VIF
Collinearity Statistics
Dependent Variable: Y a.
tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji ini dapat dianalisis melalui uji absolute residual terhadap variabel independen dengan melihat tingkat signifikansi, jika tingkat signifikansi berada diatas 0,05 maka model regresi ini bebas dari masalah heteroskedastisitas. Hasil pengujian heteroskedastisitas dapat dilihat pada Tabel 5.7 sebagai berikut.
Tabel 5.7
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Model t Sig.
Constant 0,305 0,761
Lingkungan Pengendalian 1,147 0,254
Penilaian Risiko -0,861 0,391
Aktivitas Pengendalian 0,217 0,829
Informasi dan Komunikasi -0,463 0,644
Pemantauan -0,698 0.487
Sumber: Lampiran 6 (data diolah, 2018)
Berdasarkan hasil pengujian yang ditunjukkan pada Tabel 5.7 tingkat signifikansi berada diatas 0,05 dimana nilai signifikansi lingkungan pengendalian sebesar 0,254, penilaian risiko sebesar 0,391, aktivitas pengendalian sebesar 0,829, informasi dan komunikasi sebesar 0,644 dan pemantauan sebesar 0,487. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam model regresi ini tidak terdapat heteroskedastisitas.
5.2.5 Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengukur pengaruh antara lebih dari satu variabel bebas terhadap variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan, variabel terikatnya adalah efisiensi penyaluran kredit. Hasil analisis regresi linier berganda pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.8 sebagai berikut.
Tabel 5.8
Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Sumber: Lampiran 7, data diolah (2018)
Berdasarkan Tabel 5.8 maka persamaan regresi dari hasil tersebut adalah sebagai berikut: EPK = 31,240 + 0,050 X1 + 0,055 X2 + 0,116 X3 + 0,069 X4 + 0,069 X5
Keterangan:
EPK : Efisiensi Penyaluran Kredit X1 : Lingkungan Pengendalian X2 : Penilaian Risiko
X3 : Aktivitas Pengendalian X4 : Informasi dan Komunikasi X5 : Pemantauan
Interpretasi persamaan di atas adalah sebagai berikut:
Coefficientsa 31.240 5.021 6.222 .000 .050 .119 .051 .422 .674 .555 1.803 .055 .121 .047 .452 .652 .748 1.338 .116 .148 .095 .785 .434 .564 1.773 .069 .033 .222 2.058 .042 .701 1.426 .069 .029 .258 2.389 .019 .705 1.419 (Constant) X1 X2 X3 X4 X5 Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients
t Sig. Tolerance VIF
Collinearity Statistics
Dependent Variable: Y a.
1) Nilai konstanta α sebesar 31,240 artinya adalah jika variabel lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan dianggap konstan (tetap atau tidak ada perubahan), maka efisiensi penyaluran kredit sebesar 31,240. 2) Nilai koefisien β1 sebesar 0,050 artinya jika nilai variabel lingkungan pengendalian meningkat
sebesar satu satuan maka nilai efisiensi penyaluran kredit meningkat sebesar 0,050 dengan asumsi variabel lain tetap konstan.
3) Nilai koefisien β2 sebesar 0,055 artinya jika nilai variabel penilaian risiko meningkat sebesar satu satuan maka nilai efisiensi penyaluran kredit meningkat sebesar 0,055 dengan asumsi variabel lain tetap konstan.
4) Nilai koefisien β3 sebesar 0,116 artinya jika nilai variabel aktivitas pengendalian meningkat sebesar satu satuan maka nilai efisiensi penyaluran kredit meningkat sebesar 0,116 dengan asumsi variabel lain tetap konstan.
5) Nilai koefisien β4 sebesar 0,069 artinya jika nilai variabel informasi dan komunikasi meningkat sebesar satu satuan maka nilai efisiensi penyaluran kredit meningkat sebesar 0,069 dengan asumsi variabel lain tetap konstan.
6) Nilai koefisien β5 sebesar 0,069 artinya jika nilai variabel pemantauan meningkat sebesar satu satuan maka nilai efisiensi penyaluran kredit meningkat sebesar 0,069 dengan asumsi variabel lain tetap konstan.
5.2.6 Uji Kelayakan Model
1) Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R2)
Analisis koefisien determinasi dilakukan untuk mengukur seberapa besar variabel bebas mampu menjelaskan perubahan variabel terikat. Nilai koefisien determinasi adalah berkisaran antara 0 sampai 1 (0≤R2≤1). Hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat pada Tabel 5.9 berikut.
Tabel 5.9
Hasil Uji Koefisien Determinasi
Sumber: Lampiran 7, data diolah (2018)
Berdasarkan Tabel 5.9 dapat dilihat bahwa nilai adjusted R2 pada model sebesar 0,172. Nilai adjusted R2 tersebut berarti variasi naik turunnya efisiensi penyaluran kredit, 17,2 persen dipengaruhi atau mampu dijelaskan oleh lingkungan pengendalian (X1), penilaian risiko (X2), aktivitas pengendalian (X3), informasi dan komunikasi (X4), dan pemantauan (X5), sedangkan sisanya sebesar 82,8 persen ditentukan oleh variabel lain di luar lingkungan pengendalian, penilaian resiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan yang tidak dilibatkan didalam penelitian ini.
2) Uji Simultan (Uji Statistik F)
Uji simultan atau uji statistik F digunakan untuk mengetahui apakah seluruh variabel independen yang dimasukkan dalam model secara simultan mempengaruhi variabel dependen. Kriterianya yaitu jika nilai signifikansi ≤ 0,05 maka model penelitian dikatakan fit dengan data amatan sehingga layak dipakai sebagai model observasi. Hasil uji F dapat dilihat pada Tabel 5.10 berikut. Model Summaryb .462a .213 .172 2.72643 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constant), X5, X1, X2, X4, X3 a. Dependent Variable: Y b.
Tabel 5.10 Hasil Uji F
Sumber: Lampiran 7, data diolah (2018)
Berdasarkan Tabel 5.10 dapat dilihat bahwa pada model memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai α = 0,05. Ini berarti bahwa ada pengaruh lingkungan pengendalian (X1), penilaian risiko (X2), aktivitas pengendalian (X3), informasi dan komunikasi (X4), dan pemantauan (X5) secara simultan terhadap efisiensi penyaluran kredit. Berdasarkan hasil tersebut, maka model regresi dikatakan fit atau layak digunakan menguji data selanjutnya.
3) Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji statistik t pada dasarnya digunkan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh dari variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan berdasarkan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil uji t dapat dilihat pada Tabel 5.11 berikut
.
Tabel 5.11 Hasil Uji t
Sumber : Lampiran 7, (data diolah 2018)
Berdasarkan Tabel 5.11, dapat diketahui hasil signifikansi uji statistik t yaitu sebagai berikut:
1) Hasil uji t terhadap variabel lingkungan pengendalian (X1) menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,050 dengan tanda koefisien adalah positif (+) dan nilai signifikansi sebesar 0,674 > 0,05. Hal ini berarti variabel lingkungan pengendalian (X1) tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi penyaluran kredit pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung, yang berarti hipotesis pertama (H1) ditolak.
2) Hasil uji t terhadap variabel penilaian risiko (X2) menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,055 dengan tanda koefisien adalah positif (+) dan nilai signifikansi sebesar 0,652 > 0,05. Hal ini berarti variabel penilaian risiko (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi penyaluran kredit pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung, yang berarti hipotesis kedua (H2) ditolak.
ANOVAb 193.647 5 38.729 5.210 .000a 713.608 96 7.433 907.255 101 Regression Residual Total Model 1 Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), X5, X1, X2, X4, X3 a. Dependent Variable: Y b. Coefficientsa 31.240 5.021 6.222 .000 .050 .119 .051 .422 .674 .555 1.803 .055 .121 .047 .452 .652 .748 1.338 .116 .148 .095 .785 .434 .564 1.773 .069 .033 .222 2.058 .042 .701 1.426 .069 .029 .258 2.389 .019 .705 1.419 (Constant) X1 X2 X3 X4 X5 Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients
t Sig. Tolerance VIF
Collinearity Statistics
Dependent Variable: Y a.
3) Hasil uji t terhadap variabel aktivitas pengendalian (X3) menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,116 dengan tanda koefisien adalah positif (+) dan nilai signifikansi sebesar 0,434 > 0,05. Hal ini berarti variabel aktivitas pengendalian (X3) tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi penyaluran kredit pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung, yang berarti hipotesis ketiga (H3) ditolak.
4) Hasil uji t terhadap variabel informasi dan komunikasi (X4) menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,069 dengan tanda koefisien adalah positif (+) dan nilai signifikansi sebesar 0,042 < 0,05. Hal ini berarti variabel informasi dan komunikasi (X4) berpengaruh positif dan signifikan terhadap efisiensi penyaluran kredit pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung, yang berarti hipotesis keempat (H4) diterima.
5) Hasil uji t terhadap variabel pemantauan (X5) menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,069 dengan tanda koefisien adalah positif (+) dan nilai signifikansi sebesar 0,019 < 0,05. Hal ini berarti variabel pemantauan (X5) berpengaruh positif dan signifikan terhadap efisiensi penyaluran kredit pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung, yang berarti hipotesis kelima (H5) diterima.
5.2.7 Pembahasan Hasil Penelitian
1) Pengaruh Lingkungan Pengendalian terhadap Efisiensi Penyaluran Kredit pada BPR di Kabupaten Badung
Hipotesis pertama adalah untuk mengetahui apakah lingkungan pengendalian berpengaruh positif terhadap efisiensi penyaluran kredit. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa hasil signifikansi lingkungan pengendalian sebesar 0,674 lebih besar dari α 0,05. Hal ini berarti lingkungan pengendalian tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi penyaluran kredit, maka hipotesis pertama (H1) ditolak.
Lingkungan pengendalian merupakan pondasi dari semua komponen pengendalian internal lainnya yang menyediakan disiplin dan struktur. Selain itu juga semakin tinggi lingkungan pengendalian yang diterapkan maka akan semakin efisien kredit yang disalurkan. Tetapi hasil penelitian ini menyatakan bahwa lingkungan pengendalian tidak berpengaruh terhadap efisiensi penyaluran kredit, hal ini disebabkan dimana terlalu banyaknya aturan dari batasan yang diterapkan oleh BPR dapat mengakibatkan karyawan dalam melakukan pekerjaannya dibawah tekanan, yang bisa menyebabkan tidak produktifnya individu dalam organisasi, sehingga kinerja karyawan menjadi rendah dan kredit yang disalurkan tidak efisien. Dengan aturan dan proses terlalu ketat yang dibuat oleh BPR maka akan menyulitkan calon debitur didalam mengurusi syarat-syarat perkreditan, sehingga calon debitur lebih enggan mengambil kredit di BPR tersebut.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Purnamadewi (2010) dan tidak mendukung Wahyuni (2015) dan Saraswati (2014).
2) Pengaruh Penilaian Risiko terhadap Efisiensi Penyaluran Kredit pada BPR di Kabupaten Badung
Hipotesis kedua adalah untuk mengetahui apakah penilaian risiko berpengaruh positif terhadap efisiensi penyaluran kredit. Berdasarkan hasil pengujian dari variabel penilaian risiko yang menunjukkan nilai signifikansinya sebesar 0,652 dimana lebih besar dari nilai α yaitu 0,05 dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,055. Sehingga menunjukkan bahwa penilaian risiko tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi penyaluran kredit pada BPR di Kabupaten Badung, maka hipotesis kedua (H2) ditolak. Hal ini disebabkan belum optimalnya tujuan pelaporan keuangan dalam identifikasi, analisis dan pengelolaan risiko suatu entitas yang tidak sesuai dengan penyusunan laporan keuangan yang disajikan.
Selain itu BPR kurang dalam menganalisa kredit, yang seharusnya dilakukan penggolongan kolektibilitas terhadap kredit yang jatuh tempo berdasarkan kriteria lancar, kurang lancar, diragukan dan macet. Dan karyawan kurang memperhatikan penilaian risiko
yang mungkin ditimbulkan dalam penyaluran kredit, sehingga tidak mampu meminimalkan terjadinya kredit bermasalah.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Maharani (2014), Sarawati (2014) dan tidak mendukung Sukadanayasa (2016) dan Sari (2015).
3) Pengaruh Aktivitas Pengendalian terhadap Efisiensi Penyaluran Kredit pada BPR di Kabupaten Badung
Hipotesis ketiga adalah untuk mengetahui apakah aktivitas pengendalian berpengaruh positif terhadap efisiensi penyaluran kredit. Berdasarkan hasil analisis, nilai dari signifikansi aktivitas pengendalian sebesar 0,434 yang lebih besar dari nilai α yaitu 0,05 dan nilai koefisien regresi sebesar 0,116, sehingga menunjukkan bahwa aktivitas pengendalian tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi penyaluran kredit, maka hipotesis ketiga (H3) yang menyatakan aktivitas pengendalian berpengaruh positif terhadap efisiensi penyaluran kredit pada BPR di Kabupaten Badung ditolak. BPR di Kabupaten Badung belum optimal di dalam menerapkan aktivitas pengendalian, dimana aktivitas pengendalian merupakan kebijakan dan prosedur yang membantu memastikan bahwa perintah manajemen belum dilaksanakan dengan baik. Aktivitas pengendalian seharusnya efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pengendalian itu sendiri tetapi belum di terapkan oleh karyawan BPR tersebut. Aktivitas pengendalian meliputi persetujuan dari atasan, pemberian wewenang, verifikasi dan pemisahan fungsi atau tugas yang cukup. Selain itu kurangnya penerapan pemisahan tugas dalam posisi, sehingga karyawan dapat berbuat kecurangan dan menyembunyikan kekeliruan dan ketidakberesan. Pemisahan fungsi-fungsi seperti administratif operasional dan fungsi-fungsi penyimpanan mutlak dilakukan oleh BPR.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Maharani (2014), Saraswati (2014) dan tidak mendukung Suardikha (2016) dan Sukadanayasa (2016).
4) Pengaruh Informasi dan Komunikasi terhadap Efisiensi Penyaluran Kredit pada BPR di Kabupaten Badung
Hipotesis keempat adalah untuk mengetahui apakah informasi dan komunikasi berpengaruh positif terhadap efisiensi penyaluran kredit. Berdasarkan hasil analisis, nilai dari